
Pagi ini ku izin kepada Brydean untuk datang terlambat, sebelum berangkat ke kantor aku sudah mengirimkan kotak kecil itu menggunakan ojek online. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi, yang kini ku masih berada di dalam perjalanan tidak lupa untuk mendengarkan lagu di spotify seraya mengemudi mobil. Anggap saja sebagai self healing dari pelarian yang tengah terjadi.
Sial-sial-nya ku bertemu dengan cinta semu
Tertipu tutur dan caramu
Seolah cintai ku
Puas kau curangi aku
Bagimana dengan aku telanjur mencintaimu
Song: Sial-Mahalini
Aku yang sontak bernyanyi mengikuti lagu yang sedang terputar. "Kukira lagu ternyata kisahku." tertawa terbahak-bahak. "Cuaks, edan bro." tak di sangka aku sudah berada di lingkungan kantor Brydean, bergegas memarkirkan mobil di basement. "Bisa yuk, sok cool sama sok cuek. Anggap ngga ada yang terjadi." turun dari mobil bergegas menuju meja kerja. Sesampainya di ruangan aku sangat penasaran apakah Brydean ada di ruangan atau pergi? Karena sebuah kotak kecil tersebut yang pasti sudah sampai di tangannya. Kebetulan ada tumpukan berkas di mejaku yang harus di antar ke meja Brydean untuk di tanda tangan. Aku mengetuk pintu dan masuk kerungan Brydean, ternyata Brydean tidak ada di tempat. "Nah kan benar, kotak kecilnya udah sampai." guman Sasya seraya menaruh berkas itu di meja, lalu aku mengambil permen di saku jas dan membuang bungkus permen lolipop milkita di tempat sampah samping meja kerja Brydean. "Kok di buang?." sekilas melihat kotak kecil tersebut berada di tempat sampah, saking penasaran aku ingin memastikan apakah benar di buang atau tidak. Aku pun mencoba membuka tempat sampah tersebut dan mengambil kotak itu. "Isinya hilang, pintar juga dia. Pasti di bakar di tempat sampah isinya, keliatan kok abu bekasnya." Brydean tidak ingin dirinya memiliki scandal yang merusak reputasinya, maka dari itu Brydean melindungi nama baiknya. Aku hanya berpikir sesuai logikaku saja yang biasanya seperti itu karena pasti setiap bos ingin selalu bermain halus agar tidak ada yang bisa menyurigainya karena ini menyangkut hubungan terlarang seperti cerita-cerita drakor yang pernahku tonton. Rasa ingin tahuku sudah terpenuhi, lalu aku bergegas keluar ruangan Brydean khawatir jika tiba-tiba Brydean datang. Sepanjang hari aku menghabiskan waktu di depan laptop dan meng-handle semua schedule meeting Brydean yang di ganti dengan direktur eksekutif karena ia tidak kunjung balik ke kantor sampai jam pulang tiba. Ponsel Brydean pun tidak bisa di hubungi saat ada masalah penting mengenai meeting dengan klien.
Lisa 'pov
Saat dimana aku sangat hancur dan terpuruk ketika pacarku tidak menginginkan anaknya, lalu pergi meninggalkanku dan Brydean pun pergi meninggalkanku juga. Aku bingung tidak punya semangat hidup lagi, hidupku hancur karena apa yang telah ku perbuat. Aku sempat menaruh harapan mencintai Brydean tetapi aku sadar perjanjian kita di atas kertas hanya sebagai Friend With Benetfit tidak lebih dari itu, kita bertemu hanya untuk kepuasan masing-masing. Tetapi di sisi lain aku bukan hanya tentang kepuasan diri. Sebenarnya di awal pertemuan di sebuah club yang aku hanya inginkan bertemunya kembali dan melihat wajahnya yang tampan, lalu saling mencintai, maka dari itu aku merima tawaran untuk menjadi FWB-nya yang mungkin saja perlahan rasa cinta itu tumbuh dari hati kecil Brydean, tetapi aku terlalu halu sampai saat ini dia tidak akan pernah mencintaiku. Kini aku berada di restaurant di hotel, setauku pemilik hotel berserta cafe dan restaurant di sini milik Brydean. Aku berharap bisa melihatnya dari kejauhan. Betapa senangnya aku hari ini bisa melihat Brydean berjalan dengan gaya cool-nya, lalu duduk di sebuah meja restaurant yang tidak jauh dari mejaku. "Sepertinya itu sekretarisnya." aku yang melihat Brydean bersama seorang wanita cantik membuntutinya dengan sama-sama berpakaian formal. "Tunggu, i-itu kan Sasya. Syukurlah aku punya cara untuk bisa lebih dekat dengan Brydean, walaupun ntah rencana licikku akan berhasil atau tidak." Setelah itu aku pun mencari tahu tentang Brydean dan Sasya, bertanya pada pada resepsionis apakah ada yang memiliki nomor ponsel Sasya dan syukurlah salah satu resepsionis mengarahkan ku untuk menelpon kantor pusat untuk mengetahui nomor ponsel Sasya. Saking tak sabarnya aku segera terbang dari Bali-Jakarta untuk mendekatkan diri dan melancarkan rencanaku.
Brydean 'pov
Pandanganku sedang terfokus pada layar laptop, seseorang mengetuk pintu yang ku kira Sasya telah datang. "Pak, maaf ada paket." ucap cleaning service menaruh kotak kecil tersebut dan membungkukkan diri langsung berlalu pergi. Aku pun membuka kotak kecil tersebut dan ya terisi testpack dan sejumlah foto USG. Aku terheran yang tiba-riba mendapatkan sebuah hadiah aneh dan siapa yang mengirim semua ini?. Ku menemukan surat di dalam kotak tersebut dan langsung membaca isi surat tersebut yang membuat merasa jijik dan muak membacanya. Sudah jelas didalam surat itu yang menyudutkan aku yang menghamili Lisa dan menyuruhku bersiap untuk menjadi seorang ayah, karena sejatinya itu jelas bukan ulah perbuatanku dengan wanita ******. Setelah di pikir aku mungkin hampir terpapar virus HIV dari ulah-nya tidak menepati janji yang berada di peraturan yang sudah ditanda tangani di atas materai. Tetapi syukurlah hasil laboratorium menyatakan kalau aku sehat tidak ada yang salah dari diriku dengan hasil negatif HIV. Membuang isi yang berada di dalam kotak tersebut dan membakarnya di tempat sampah, aku sempat tertinggal lupa untuk membakar kotak kecilnya. Pergi dari kantor untuk menyelesaikan masalah yang sedang terjadi dan menghubungi Lisa segera mungkin.
Terus menekan bell tanpa henti di depan kamar hotel Lisa yang ia singgahi. "Hey, bicht." sapaku setelah pintu hotel terbuka dan berlalu langsung masuk ke dalam kamar tersebut. Sebenarnya aku muak melihat wajahnya. Melemparkan sejumlah uang pecahan dollar Amerika ke hadapannya. "Kurang uangnya? Mau berapa? Gw transfer sekarang ke rekening lo." tegasku mengambil ponsel di saku celana. "Baik, cukup lima milyar?." menunjukkan bukti transfer ke rekening Lisa di layar ponselnya. "Tell me, kalau masih kurang uangnya. Jangan halu ngirim-ngirim gift yang seolah-oalah gw jadi bapak dari anak yang lo kandung."
"Please don't go !!!." Lisa yang menarik tangan Brydean memohon seraya terisak tangis. "Gw cinta sama lo saat pertama kali kita ketemu, itu alasan gw kenapa menerima tawaran FWB itu." raut wajahnya memelas dan sekarang ia berlutut memegang kaki Brydean.
Aku berusaha membangunkan Lisa agar tidak berlutut. "Please, get out for my life forever !!! Jangan pernah berharap cinta dari seseorang yang tidak mencintai, pergi cari cinta yang tulus dari seseorang yang tepat." beranjak melangkahkan kaki keluar dari kamar hotel tersebut. Setelah kejadian tersebut selesai membuat kepalaku kacau hampir meledak, membutuhkan healing sejenak melepas penat dengan pesiar mengunjungi rumahku yang berada di pulau private seraya bermain billiard dengan Nico yang ku paksa datang berkunjung.
...⚘⚘⚘...
Sesampainya di rumah setelah lelahnya bekerja, Sasya langsung mengadu kepada Nita tentang hal yang sedang ia alami. "Nita, gw mau cerita." ucap Sasya yang sudah tersambung di video call tersebut.
"Cerita apa beb?." ucap ramah seraya tersenyum mendekatkan wajahnya ke kamera.
"Gw kena sama rayuan cowok red flag." memajukan bibirnya.
"Pelompat-lompat ikuti irama sila bendera merah
Irama sila bendera merah, punya omai desi
Yang punya body sexy
Irama sila yang punya bendera merah, punya omai desi." Nita yang memutar lagu viral di tiktok tersebut seraya bernyanyi dan bergoyang ria.
"Maaf nona, saya kira itu hanya sebuah lagu, ternyata seperti kisahku. Sumpah benar relate sama lagunya, dia punya body sexy." Sasya yang mengklaim bahwa itu sangat seperti kisahnya yang dadanya sedikit sesak.
"Gw udah bilang dari awal jangan kena rayuan cowok bendera merah yang sok-sok'an jadi pahlawan berkedok memberi kenyamanan, cuaks." Nita yang tertawa terbahak-bahak. "Anjay, Sasya si cewek friendly selalu kena cowok bullshit nan fuckboy nan red flag." bertepuk tangan dengan raut wajah yang sangat mengintimidasi. "Gw tau soalnya, lo kan tipe cewek yang harus suka duluan sama cowok, kalau di sukain duluan tuh suka ilfil."
...⚘⚘⚘...
Seperti biasa pagi ini Sasya sudah berada di rumah Brydean, menyiapkan segala keperluan untuk ke kantor. "Ca, hari ini ada perubahan schedule?." mengusap rambut dengan lembut seraya memegang bahu Sasya seperti merangkul, menyaksikan Sasya yang tengah menghidangkan makanan di atas meja makan.
Sasya berusaha untuk menepis tangan Brydean yang berada di bahunya. "Untuk saat ini tidak ada, pak." melihat Brydean mendudukkan dirinya di kursi meja makan.
"Let's lauch together later." tawar Brydean menatap Sasya tanpa henti.
"Sorry sir, saya sudah ada janji lauch dengan Alma." seraya tersenyum menatap Brydean. "Saya izin permisi ke kantor duluan, ada pekerjaan yang harus saya cepat selesaikan." membungkukkan badan dan cepat berlalu melangkahkan kaki keluar dari rumah Brydean.
...⚘⚘⚘...
Waktu makan siang tiba. Tetapi Alma menolak janji makan siang-nya karena harus ikut Rio direktur eksekutif baru untuk melakukan penelitian dan pemantuan riset terhadap proyek terbaru yang akan datang. "C'mon lauch." ajak Brydean yang baru saja keluar dari ruangannya yang pasti sudah tahu Sasya tidak jadi makan siang bersama Alma karena ada riset proyek.
"Tidak terimakasih, bapak duluan saja nanti saya akan menyusul." seraya tersenyum.
"Baik, gw tunggu lo." berdiri mematung di hadapan meja Sasya.
Sasya menghembuskan napas panjang. "Saya tidak lapar pak, sebaiknya bapak duluan yang ke kantin." seraya tersenyum, biasalah senyuman yang terpaksa mengharuskan ramah. (Cailah badut lagi senyum, wkwk)
"Gw juga ngga lapar." ucap datarnya.
Sasya yang mulai geram itu pun berusaha menenangkan dirinya, menghembuskan napas panjang agar merileks"kan. "Ayo cepat !!! Katanya mau ke kantin." menarik tangan Brydean agar tidak berdiri mematung di depan meja kerjanya. Orang kayak gini tuh memang anj*ng, ngga bisa gitu lihat gw cuekin lo, ngga peduli sama lo. Dia tuh selalu punya caranya tersendiri untuk menaklukkan lawan bicaranya.
...⚘⚘⚘...
Mereka sedang memberlangsungkan rapat di ruang meeting pendukung yang di hadiri staff Brydean saja. Rio selaku direktur eksekutif pun sedang mempresentasikan mengenai projek terbaru selanjutkan yang baru saja ia melakukan sebuah riset. Meeting pun selesai tinggal Sasya dan Brydean yang tersisa di ruangan. Saat sedang membereskan dokumen yang ia bawa dan melakukan pencatatan pada presentasi hari ini, pulpennya tersenggol dan terjatuh ke bawah kolong meja. Mencoba meraih pulpen tersebut dengan kakinya, tetapi pulpen tersebut tambah menjauh, terpaksa ia harus mengambilnya ke bawah kolong meja. Brydean yang tengah terfokus dengan tumpukan berkas-berkas yang sedang di tanda tangani. Terdengar suara benturan dari bawah kolong meja, Brydean pun sontak menolong Sasya untuk segara duduk di kursi. Sasya merintih kesakitan seraya mengusap kepalanya yang terbentur itu. Brydean menarik kursi Sasya agar mendekat dengan dirinya, mengecek siapa tahu terdapat luka parah di kepala Sasya yang terbentur. "Udah, ngga apa-apa kok." Sasya yang menegakkan kepala setelah menunduk, terkejut kini wajahnya berhadapan dekat sekali dengan Brydean, mereka terdiam mematung sekejap yang saling bertatapan. Aku memalingkan wajahku saat wajah Brydean yang terus mendekat dengan bibir kita yang hampir saling bertautan.
Brydean berdeham. "Jangan dekat-dekat, nanti gw nakal." membangunkan diri, merapihkan jas berlalu pergi dari ruangnya tersebut meninggalkan Sasya. Godaan terbesar aku adalah kecanduan oleh bibir sexy-nya, sampai aku tidak bisa mengendalikan diri saat berhadapan sangat dekat dengannya yang selalu ingin mencoba bibir manisnya.
Sasya terdiam seribu bahasa, banyak hal yang terjadi datang tidak terduga di dalam hidupnya. Ntah Sasya pun tidak mengerti kenapa itu terjadi, memijat kepala yang sepertinya makin hari semakin banyak kejadian yang tak terduga terjadi, hidup penuh plot twist yang tidak mudah untuk di tebak.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍
📖 Selamat Membaca 📖