Together Again

Together Again
Testpack



Di pagi yang cerah tidak terlalu panas dimana matahari mulai menyinari bumi dengan terik sinarnya. Ini adalah hari terakhir dari perjalanan bisnis. Sasya telah menyiapkan segala keperluan untuk menyambut dewan direksi. Berjalan melangkahkan kakinya dengan anggun masuk kedalam private meeting room di sebuah hotel milik Brydean. Duduk di antara para dewan direksi membuat dirinya tertantang akan banyak ilmu yang di dapat. Sasya sudah mempersiapkan dirinya dari segi pikiran dan fisik untuk hari ini. Sasya selalu ingin memberikan yang terbaik, maka dari itu ia selalu membaca buku tentang menjadi sekretaris baik, apapun yang tentang menyangkut perusahaan dan pekerjaannya. Tak lama pun Brydean masuk kedalam ruangan, aku bersiap untuk mempresentasikan rencana selanjutkan mengenai proyek terbaru yang sedang kami bangun. Menjelaskan secara rinci dan detail.


"Baik meeting kita akhiri." ucap Brydean setelah semuanya selesai dan beranjak pergi dari ruangan tersebut. Sasya pun ikut membuntuti Brydean hingga terhenti di sebuah restaurant yang masih berada di dalam hotel. Mendudukkan diri dan mulai memesan makanan.


Tiba-tiba....


Sebuah insiden terjadi, seseorang customer yang berjalan melewati Brydean menumpahkan minumannya mengenai kemeja putih milik Brydean. "Oh, ****." Brydean menepis tangan customer yang ingin membantu membersihkan tumpahannya dengan raut wajah panik, customer itu tak henti mengucapkan maaf kepada Brydean.


Sasya sangat paham arti dari tingakah laku Brydean. Ia pun bertindak melerai keadaan yang berbicara dengan sopan dengan customer itu agar pergi meninggal kan mereka. "Ya, tidak apa bu." ucap Sasya pada customer wanita yang selalu mengucapkan maafnya dengan raut wajah menyesal dan berlalu pergi dari hadapan mereka. Sasya membantu membersihkan kemeja yang terkena tumpahan minuman menggunakan tisu. Tetapi Brydean punya caranya sendiri agar masalah tersebut selesai. Beranjak pergi dari tempat duduk menuju depan toilet dengan Sasya yang masih membuntutinya. Brydean melepas jas yang di pakai memberikan pada Sasya agar membantu memegangi dan melepas kemeja yang kotor, membuangnya ketempat sampah. Kini Brydean hanya memakai jas-nya untuk menutupi tubuh yang atletis. Berjalan melangkahkan kaki kembali ke meja yang di singgahi tadi, meja-nya pun kini telah berubah terisi dengan pesanan mereka. Dengan raut wajah datar Brydean di iringi dengan perasaan yang kesal berapi-api di dalam dirinya, mengambil barangnya yang berada di atas meja dan beranjak keluar dari restaurant. Sasya yang tergesa-gesa dengan cepat mengambil barangnya dia atas meja, lalu mengejar langkah Brydean. Mungkin Brydean berkuasa di hotel dan restaurant tersebut yang diketahui oleh staff, tetapi tidak dengan customer yang kastanya dengan Brydean sama saja.


Sial, Sasya terlalu fokus dengan Ipad sehingga tak melihat jalan di depannya yang tiba-tiba seseorang menabrak membuat dirinya terhuyung kebelakang dan tercebur kedalam kolam berenang karena ia berjalan terlalu menepi kolam. Rey yang tengah berjalan di sekitar kolam berenang hotel pun menyadari jika seseorang yang tercebur kedalam kolam berenang itu adalah Sasya, ia bergegas membuka jas dan kemejanya untuk menyelamatkan. Terdengar riuh-riuh dari pegunjung hotel yang berada di sekitaran kolam berenang dengan raut wajah cemas dan bingung itu menyaksikan Rey berenang kearah Sasya. Brydean seketika membalikkan badannya karena risih dan penasaran dengan keramaian apa yang sedang terjadi di belakangnya. Dengan badan tingginya Brydean mampu melihat apa yang sedang terjadi tertutup oleh kerumunan banyaknya orang di sana. "Damn, Sasya !!!." melihat Rey berenang membawa Sasya ketepi kolam, melangkahkan kaki membelah kerumunan dan bergegas membantu Rey yang sedang membaringkan Sasya di tepi kolam. Brydean memindahkan Sasya dari tepi kolam agar memudahkan ia untuk memberikan pertolongan kepada Sasya yang pingsan. "Biar gw bantu." ucap Rey. (Rey kolega bisnis Brydean).


"No, ini sebagian tanggung jawab dari gw untuk staff." tolak mentah Brydean yang menaikkan nada bicaranya satu oktaf dengan raut wajah cemas. Rey pun berlalu pergi dari hadapan Brydean. Brydean di bantu staff hotelnya untuk melakukan RJP pada Sasya. RJP pun berhasil dilakukan Sasya pun tersadar dengan mengeluarkan banyak air dari mulutnya dan terbatuk. "Thank's god." sontak Brydean memeluk Sasya dan kerumunan pun perlahan menghilang. Brydean melepas jas-nya memakaikan pada Sasya. "Are you good?." tanya cemas Brydean tetapi tetap dengan sok cool-nya. Sasya hanya mengangguk lemas. Dengan badan yang kekar Brydean cepat menggendong Sasya ala bridal style menuju kamar hotel untuk tempat persinggahan sementara. "Gw panggil dokter?." tawar Brydean setelah berhasil membaringkan Sasya di tempat tidur.


"Ngga usah, gw baik-baik aja kok." ucap Sasya yang masih lemas. Seseorang staff wanita masuk kedalam kamar dan menyapa Sasya dengan ramah seraya menjinjing paper bag yang berisi baju. Brydean pun keluar dari kamar setelah salah satu staff suruhan-nya masuk untuk membantu Sasya berganti pakaian.


...⚘⚘⚘...


Langit senja pun akan datang, Sasya yang kondisinya jauh lebih baik itu pun sedang tiduran di atas pasir beralas tikar sambil menggulir beranda tiktok yang awalnya sejak sampai membaca buku tetapi karena sudah bosan ia menggulir beranda tiktok seraya menikmati sore di tepi pantai yang tidak jauh dari villa, ya seperti orang sedang piknik di pantai. Menunggu Brydean yang asik berselancar. Hilir mudik pengunjung pantai menggunakan bikini-nya, sedangkan Sasya hanya memakai hot pants jeans dengan tank top crop. Sasya yang mendudukkan dirinya mencari snack yang di dalam keranjang makanan. Brydean yang tiba-tiba menyapa Sasya dengan mengacak rambutnya dan menidurkan diri di atas tikar dengan badan basah meraih keranjang makanan ikut serta mencari makanan di dalam keranjang. "Please Luke jadi basah tikarnya, gw mau duduk dimana kalau basah semua?." kesal Sasya seraya melempar handuk kepada Brydean agar menyeka badannya yang basah.


"Ca mau naik jet ski ngga?." merampok isi snack yang sedang Sasya makan.


"Ngga mau, gw ngga bisa." seraya cengenggesan menggelengkan kepala.


"Ca coba berdiri, tikar basahnya udah merambat ke dekat lo duduk." seraya tersenyum devil. Melihat Sasya yang sudah berdiri. Wush dengan cepat Brydean mengangkat Sasya seperti karung beras dengan enteng-nya seraya berlari menggendong ala fireman's carry.


Sasya memberontak seraya menjambak rambut Brydean. "Brydean Luke Albern, turunin gw." teriak Sasya.


Brydean menurunkan Sasya tepat di depan jet ski yang terparkir. "Pakai !!!." Brydean memakaikan perlampung keselamatan pada Sasya.


"Ngga ihhh, gw takut." tolak Sasya dengan raut wajah panik seraya berusaha melepas tangan Brydean yang menggenggam erat terus memaksa menaiki jet ski.


"Ngga apa-apa, ada gw." ucap Brydean yang berusaha menyakinkan seraya menarik tangan Sasya agar naik ke jet ski. Lambat laun pun Sasya menuruti perintah Brydean dan akhirnya perlahan rasa takut Sasya itu pun hilang setelah Brydean membawanya berkeliling pantai menggunakan jet ski. Tawa bahagia pun lepas dari dalam diri Sasya menikmati perjalanan kecil dari jet ski yang di kendarai Brydean di temani langit senja yang menawan seraya melihat matahari yang perlahan tenggelam.


...⚘⚘⚘...


Ini malam terakhir untuk di singgahi, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Sasya yang tengah sibuk memasukkan bajunya ke dalam koper, bersiap untuk kembali ke Jakarta. Sasya mendorong kopernya keluar kamar dan mencari keberadaan Brydean. "Luke." teriak Sasya mencari seisi villa dan mengecek kedalam kamar-nya pun tidak ada. "Dia kemana sih?." bingung Sasya dan sudah mulai kesal dan mengambil ponsel menghubungi Brydean. "Lo sekarang dimana?." ucap Sasya setelah sambungan telepon itu terangkat. "Gw di pantai dekat villa." ucap Brydean dari sebrang sambungan telepon tersebut. Sasya berlari menuju pantai mencari Brydean dan ya Brydean sedang duduk di sun lounger dengan pandangan fokus menghadap laptop. Setelah Sasya bisa melihat keberadaan Brydean ia menutup panggilan tersebut. "Ayo pulang !!!." ucap Sasya yang sudah berada di hadapan Brydean.


"Bonus day Ca, dua hari lagi." ucap datar Brydean yang sedang terfokus pada laptop seraya jarinya mengetik.


"Kemarin udah pas hari minggu, sekarang ayo waktunya pulang !!!." Sasya yang menjalaskan bahwa mereka sudah menggunakan waktu bonus day pada weekend. Sasya pun menarik tangan Brydean agar bangun dari duduknya.


"Besok gw mau diving dulu." Brydean berganti menarik tangan Sasya untuk duduk di sampingnya. "Duduk !!!." titah tegasnya.


"Oke, gw mau balik sekarang." Sasya langsung membuka aplikasi pemesanan tiket online untuk penerbangannya malam ini.


Brydean merebut ponsel Sasya. "Listen, kalau malam banyak delay, daripada badmood nunggu delay mending di villa bisa tidur ngga ngemper di bandara kayak gembel." Brydean pun meng-klik membatalkan pesanan tiket Sasya. "Percaya sama gw kali ini, jangan keras kepala." mengusap lembut rambut Sasya seraya tersenyum menatap Sasya.


Sasya menghembuskan napas panjang. "Baiklah." merosotkan tubuh kebawah sampai terduduk di atas pasir, pandangannya tiba-tiba mengarah pada satu set ember dan skop untuk membuat istana pasir yang tertinggal oleh pemiliknya tidak jauh dari ia duduk. Sasya berlari menghampiri satu set mainan itu.


Setengah jam kemudian, Brydean yang telah selesai dengan perkerjaannya menghampiri Sasya yang tengah bermain membuat istana pasir itu. "Ca, ayo pulang !!! Mainannya besok lagi, nanti lo sakit kena angin malam." ajak Brydean seraya mengusap lembut rambut Sasya.


"Luke gw mau minjam ponsel lo buat foto ini." tersenyum menunjuk maha karyanya. "Ponsel gw lowbat." tangannya sudah siap mengadah. Brydean pun langsung memberi ponselnya. Setelah mempotret maha karyanya, Sasya tidak langsung pulang ke villa, ia malah mengajak Brydean berjalan dan berlari di tepi pantai bermain sebentar dengan ombak pasang surut yang terus menghampirinya saat tengah berlari dan berjalan. Brydean hanya pasrah mengikuti Sasya dan sesekali Brydean memerintahkan untuk segara pulang ke villa karena hembusan angin malam semakin kencang.


...⚘⚘⚘...


Bonus day yang dilalui tidak terlalu buruk yang di kira, Sasya menghabiskan waktunya dengan sebaik mungkin dengan banyak pengalaman dan history yang sangat menyenangkan di balut canda tawa bahagia. Brydean banyak memberi pengalaman yang sebelumnya Sasya belum pernah lakukan membuatnya mereka menjadi tambah dekat. Dimana hari ini mereka kembali menikmati kerasnya hidup seharian penuh di dalam kantor setelah berlibur dan menikmati panasnya kota Jakarta dengan berbagai polusi-nya setiap hari di Ibu Kota, itu adalah hal yang wajar terjadi. Matahari mulai tenggelam waktu ingin berganti dengan sinar bulan yang menyinari bumi, Sasya tengah merebahkan dirinya di atas kasur empuknya setelah lelah seharian bekerja.


drrrt,drrrrtt.


Suara ponsel Sasya berdering. "Halo." ucap Sasya yang langsung menerima panggilan tersebut.


Sasya seketika panik mendengar nama tersebut. Mengingat Lisa adalah musuhnya saat SMP yang ia jebloskan ke penjara bersama Grace dan dua teman lainnya. Sesegera mungkin ia merecord panggilan tersebut, berjaga-jaga bila ada hal aneh yang terjadi kedepannya. "Hi, Lisa apa kabar?."


"Kabar baik, malam ini free ngga? Gw mau ketemu sama lo. Tenang gw ngga bakal jahatin lo kok, janji."


"Gw juga ngga mikir gitu Lisa. Share lok aja ya."


Sasya pun memberanikan diri untuk bertemu Lisa setelah lokasinya telah di kirim dan lokasi tersebut aman di sebuah cafe terkenal juga, jadi Sasya tidak terlalu khawatir untuk menemuinya. Sesampainya Sasya di cafe Lisa telah menunggu di lobby cafe untuk kedatangan Sasya dan mereka pun masuk bersama kedalam cafe memilih tempat duduk, lalu memesan minuman. "Gw mau langsung to the point aja, sebelumnya lo kan sekretaris Brydean gw mau minta tolong lo sampaikan pesan ini." ucap Lisa memberikan sebuah kotak kecil kepada Sasya.


Sasya yang sangat terkejut dan terheran itu pun berpikir ada apa yang terjadi antara Lisa dan Brydean dan apa sangkut pautnya?. Sasya pun menerima kotak kecil tersebut. "Baiklah besok gw langsung sampaikan ke Brydean." seraya tersenyum.


"Please bantuin gw Sya !!! by the way gw duluan ya, thank's." Lisa tersenyum berlalu pergi meninggalkan Sasya, menyelipkan sejumlah uang di atas meja untuk membayar minumannya yang baru saja di antar oleh pelayan. Sasya berpikir sejenak tentang yang baru saja terjadi dan meminum sedikit jus yang ia pesan, berlalu pergi meninggalkan uang di atas meja cafe.


...⚘⚘⚘...


Alarm sudah berbunyi membangunkan dirinya yang harus semangat menjalani kerasnya hidup. Langit di luar pun masih terlihat gelap, beginilah Sasya setiap pagi. Mematikan alarm yang membuat bising seisi kamar.


Bruk


Kotak kecil itu terjadi tersenggol oleh tangannya dan memperlihatkan isi yang berada di dalam kotak kecil tersebut. "Ya ampun." panik Sasya hendak membereskan isi kotak tersebut yang terserak di atas lantai. Suatu barang yang mencuri perhatian Sasya.Testpack? . Karena penasaran Sasya pun langsung mencari tahu barang apa yang ada di dalam kotak kecil tersebut. What the f*ck !!!, malaikat kecil yang malang. Sasya melihat beberapa foto USG yang berada di dalam kotak tersebut dan suatu surat yang membuatnya penasaran kemudian ia baca.


^^^Bali^^^


^^^to: Brydean^^^


Hi, Brydean Luke Albern.


Aku tahu kita telah melampaui batas, aku terus berusaha untuk menerima kenyataan yang telah kita perbuat, aku menunggu waktu yang tepat untuk menyampai ini kepadamu. Sebelumnya aku ingin sekali menyampaikan saat mu sedang perjalanan bisnis, tetapi aku rasa itu akan mengganggumu. Ini hadiah kecil dari tuhan untuk kita, mohon bersiaplah untuk menjadi ayah dari anak yang ku kandung. Dia lucu sampai aku tak tega untuk melakukan aborsi, aku menaruh banyak harapan untukmu agar kita sama-sama membesarkan malaikat kecil ini. Dia butuh sesosok seorang ayah untuk membimbing pertumbuhan kelak. Semoga kamu bisa menerima semua ini ya.


Regard


_Lisa


Hati kecilnya sedikit sakit setelah membacanya, sakit namun tak berdarah. "Scumbag." teriak Sasya. Berlari keluar kamar dan memeluk mbok Ani seraya terisak tangis. "Mbok." Sasya menangis tersedu-sedu.


"Ada apa nona?." tanya khawatir Mbok Ani seraya mengelus lembut rambut Sasya dan membawnya untuk duduk di sofa.


"A-aku salah mencintai orang, dia laki-laki brengsek." kesal Sasya sambil menangis meneteskan air matanya yang sudah membasahi pipi. "Mbok aku selalu gagal dalam mencintai seseorang, dia selalu memberikan perlakuan manis seakan-akan dia juga memberikan celah untuk aku masuk kedalam kehidupnya dan saling mencintai. Salah aku juga mbok yang sudah terlanjur nyaman dengannya, sampai aku tidak tahu arti dari semua perlakuannya itu tentang cinta atau hanya ingin berteman saja. Aku terlalu jatuh larut dalam bujuk rayuan tingkah manisnya."


Mbok Ani berusaha menenangkan Sasya. "Nona tidak salah mencintai dia, tetapi dia yang salah melakukan perlakuan manis kesemua wanita hanya untuk bermain-main saja terutama gadis baik nan cantik seperti nona. Belajarlah dari pengalaman yang telah terjadi, kita sebagai wanita harus pintar dalam hal apapun itu termasuk perasaan hati, memang ngga semua laki-laki seperti itu. Yang pasti suatu saat nanti allah pertemukan seseorang yang jauh lebih baik, syukur allah membuktikan kalau dia tidak layak untuk nona cintai dengan tulus, percayalah allah melakukan itu yang terbaik untuk nona." seraya terus mengelus lembut rambut Sasya.


...⚘⚘⚘...


"Terimakasih untuk canda dan tawanya. Aku akan berhenti berharap kepada orang yang tak mencintaiku dan pergi untuk menjauh agar hati kecilku tidak meninggalkan luka yang lebih dalam." _Sasya.


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍


📖 Selamat Membaca 📖