Together Again

Together Again
Bullshit



Hari ketiga yang aman dan damai, baru hari ini Sasya merasakan tidak ada masalah dengan pekerjaan baru-nya. Berjalan membuntuti Brydean dari lobby. Sasya berjalan setengah berlari karena Brydean sangat cepat sekali melangkahkan kaki, tetapi Sasya harus bisa menyesuaikan diri.


Masuk keruangan Brydean dengan Sasya yang masih membuntuti. "Kerjakan tugasmu !!!." titah dengan wajah datar nan dingin, memberikan setumpuk berkas-berkas dalam map besar di atas meja.


Menelan ludah kasar-nya. "Baik, pak." mengambil setumpuk map besar tersebut dengan kedua tangan mungil.


"Wait, udah tau 'kan, harus di seperti apakan file-nya?."


"Sudah pak, ini semua di salin untuk jadi soft copy."


"Pinjam ponsel mu." tangan Brydean menengadah.


Sasya menaruh kembali map besar di atas meja dan memberikan ponsel kepada Brydean. "Tapi untuk apa pak?." tanya heran Sasya. Brydean tampak sibuk seperti sedang mengetik sesuatu, tiba-tiba ponsel Sasya berdering nada panggilan.


Brydean memperlihatkan panggilan video tersebut, ternyata Brydean meminjam ponsel Sasya untuk memasukkan nomor ponsel-nya. Ia memastikan nomor-nya dengan cara memanggil panggilan video. "Cepat kerjakan tugasmu, saya tunggu 2 jam mendatang." Sasya mengambil map besar dan memeluk map tersebut, di pastikan agar map tidak terjatuh saat ia bawa keruangan-nya. Brydean meletakkan ponsel tersebut di atas map yang tengah Sasya bawa. Tetapi panggilan video tersebut dia angkat dan tersambung dengan ponsel Brydean.


Sasya susah payah membawa map besar tersebut yang berat dan akhirnya sampai di depan meja kerja Sasya. Mendudukan bokong di kursi, lalu membuka map tersebut satu persatu. Sebelumnya Sasya hendak mematikan panggilan video tersebut, tetapi keadaan tidak mendukung. Ada beberapa hal yang harus di tanyakan. Gw kalo nanya di telepon sopan ngga ya?. "Pak, maaf ada yang mau saya tanyakan, tapi sepertinya lewat panggilan video tidak sopan jadi saya akan keruangan bapak." ramah Sasya.


"Tidak usah keruangan saya, tanyakan saja di panggilan ini." ucap Brydean yang terfokus dengan laptop di hadapannya yang terlihat di layar ponsel Sasya.


"Pak, ini laporan administrasi kan?."


"Ya, di rekap lalu kalkulasikan pengeluaran selama satu tahun. Setelah itu hard copy berikan dan jelaskan kepada saya."


"Baik pak, secepatnya saya selesaikan." seraya menyibukkan diri melihat-lihat isi map besar tersebut. "Maaf pak, saya tutup panggilan-nya, ya."


"Biarkan saja panggilan tersebut sampai tugasmu selesai." menatap layar ponsel panggilan video. Sontak membuat Sasya bergidik ngeri melihatnya.


"Siap salah pak." menundukkan badan masih dengan posisi duduk.


"Tanyakan hal yang menurutmu tidak di mengerti, saya akan memantau kinerja dan membimbing agar kau bisa melakukkan tugasmu."


Sasya tersenyum lebar. "Baik pak, terimakasih." membungkukkan badan-nya lagi. Ternyata, sebenarnya dia baik cuman ketutup aja sama sikap-nya. Saat Sasya sedang membaca data administrasi perusahaan, sekilas ia selalu melihat panggilan di layar ponsel tersebut. Kali ini tampak Brydean sedang membuka bungkus roko dan hendak ia bakar dengan pemantik api. Sasya bergegas masuk keruangan Brydean untuk menghentikan.


Sasya masuk keruangan Brydean tanpa mengetuk. "Bapak maaf saya lancang." Mengambil sebatang rokok yang hendak di bakar oleh Brydean. "Gara-gara bapak, saya harus hapal tentang perundang-undangan, pada Pasal 41 ayat (2) jo Pasal 13 ayat (1) Perda 2/2005 yakni, setiap orang yang merokok di kawasan dilarang merokok diancam dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 50 juta." Sasya mengambil pemantik api dan sebungkus rokok yang berada di atas meja. "Ini saya sita, bapak ngga liat di bungkus rokok tertulis Merokok Dapat Membunuhmu. " menunjukkan tulisan yang berada di rokok tersebut. Brydean hanya diam dengan tatapan mematikkan. "Ngga lucu, seorang CEO Brydean meninggal karena kanker paru di usia muda." ucap santai Sasya.


Brydean bertepuk tangan. "Merokok mati, ngga merokok juga mati." smrik.


Ehhh, iya juga ya. Kok ngga kepikiran sampai situ sih?. Brydean merebut rokok dan pemantik api yang tengah Sasya genggam.


"Fine, di terima nasihat perundang-undanganmu, ngga boleh merokok dalam ruangan. Anda ikut saya." tegas Brydean.


"T-tapi, pak." menelan ludah kasar, Sasya ketakutan kerena ada sesuatu yang mungkin salah di katakan atau menyinggung perasaan Brydean. "Hmm, baik pak." Sasya hanya pasrah membuntuti dan menaiki lift, Sasya melihat Brydean menekan tombol angka lantai paling atas gedung pencakar langit itu. "Pak, kita mau kemana?." tanya bingung.


"Rooftop." pintu lift terbuka menandakan mereka sudah berada di lantai paling atas, menaiki tangga untuk menuju rooftop.


"Kalau gitu, saya kembali keruangan saja pak. Agar bisa menyelesaikan pekerjaan saya. Karena bapak memberi waktu hanya 2 jam saja." Sasya menjelaskan seraya berjalan melangkahkan kaki menaiki tangga. Brydean membuka pintu rooftop, lalu ia langsung mengambil sebatang rokok dan membakar-nya.


"Silahkan !!! sekitar jam 4 meeting dengan divisi, sudah di siapkan materi untuk saya pahami?."


"Ah iya, belum saya siapkan. Segera saya siapkan pak, permisi." membungkukan badan.


"Ingin mencoba?." menyodorkan bungkus rokok tersebut.


"Tidak, terimakasih pak. Saya tidak merokok, sebelumnya, permisi." pergi meninggalkan Brydean.


Sekitar satu jam pun berlalu Sasya telah menyelesaikan semua pekerjaannya tapi tidak dengan membuat materi yang harus Brydean pelajari. Kini Sasya sedang berada di ruangan Brydean, tampak Brydean sedang mengajari Sasya yang tengah terfokus menghadap laptop.


"Pak maaf, izin terima telepon." ucap Sasya yang ponselnya bergetar di atas meja sofa. Ia beranjak pergi keluar dari ruangan tersebut untuk mengangkat telepon.


"Hallo." ucap Sasya.


"Hmmm, beri aku waktu yang lebih lama untuk liburan ini." mohon Sasya kepada manager-nya yang terhubung di panggilan tersebut.


"Saya lanjutkan, pak." menghadap kembali untuk mengetik apa yang sebelumnya Brydean telah sampaikan. Brydean hanya menjawab dengan anggukan dinginnya. Saat Sasya baru saja mengetik materi, ponselnya kembali bergetar panggilan masuk, membuat layar ponselnya menyala menunjukkan siapa yang telah menelepon. Tetapi dengan cepat Sasya mematikan layar ponsel tersebut. Kembali untuk mengetik tetapi panggilan masuk tersebut berdering kembali. Ihs, bocah bullshit ngapain telepon gw, ganggu aja. Hendak Sasya ingin mematikan ponsel tersebut lantaran kesal. Tapi tidak dengan Brydean ia mengambil alih panggilan tersebut dan menjawab. Mampus, gw. Memijat dahi dengan satu tangan, karena yang Brydean terima panggilan telepon tersebut adalah si Bimo cowok freak.


"Sasya, kita perlu bicara, kita harus ketemu !!! aku bakal jelasin yang sebenar-benarnya. Jujur saat pertama kali kita bertemu di Rumah Sakit Militer, pas adek PKL, aku langsung jatuh cinta pandangan pertama." suara tersebut terdengar karena Brydean me-loudspeaker panggilan tersebut.


Raut wajah Sasya berubah menjadi aneh saat si bullshit mengutarakan isi hatinya. Dih, cowok bullshit banget.


"Sasya tidak bisa di ganggu, ini masih jam kerja tolong hargai dia, Bapak SERDA Bimo yang terhormat. Setau saya anda sudah bertunangan tapi bukan dengan perawat. Jangan pernah ganggu rekan kerja saya. Mengerti !!!." tegas Brydean lalu mengakhiri panggilan tersebut. "Bravo !!!." ucap Brydean bertepuk tangan kecil lalu tersenyum.


Gw kira dia nggak bisa tersenyum dengan wajah dingin datar itu. Tapi kalo di liat kayak gini indah juga ya... manis pula senyumnya, ternyata sisi terang dari sikap dingin itu terdapat sikap peduli, baik dan asik sepertinya. Menatap Brydean yang masih tersenyum. "Sebelumnya, saya sangat berterimakasih banyak. pak." menundukkan badan masih dengan posisi duduk.


"Semangat korban hallo dek, Kayaknya anda satu-satunya sekretaris yang bisa bikin saya ketawa." smrik.


Sasya tertawa renyah menahan salting woy... "Berarti saya legend ya, pak?." terdengar suara ketukan pintu yang sangat tiba-tiba. Lalu Brydean pun beranjak pergi bangun dari duduk-nya menghampiri pintu dan keluar menghilang meninggalkan Sasya. "Ihs, ngga jelas banget dia, tapi gw kepo ada apa gerangan dia tidak mengajak seorang sekretarisnya." gumam Sasya ingin menghampiri melihat dari jendela. "Tapi... gw ngga bisa ngintip dari jendela ntar ketahuan gimana?." sejenak berpikir agar menemukan cara lain. Ah, aku punya ide !!!. Pergi dari ruangan tersebut untuk menjalankan ide gila-nya.


"Hallo." Sasya melambaikan tangan setelah mengetuk pintu dan di perbolehkan masuk ruangan tersebut. "Sasya." memperkenalkan diri dengan bersalaman.


"Sekretaris baru cantik, pak Brydean. Ada yang perlu saya bantu?." ucap salah satu staff pria di ruang CCTV kantor tersebut.


"Boleh minta password CCTV untuk di sambung ke laptopku?." ramah Sasya tidak lupa dengan memberi senyuman. Sasya sekarang bukan Sasya yang seperti dulu, cuek tidak peduli dengan orang. Sekarang Sasya lebih care, ramah dan walaupun masih sedikit cuek dengan orang tertentu saja.


"Apa pak Brydean tidak memberi tau password tersebut?."


"Sempat tadi pak Brydean mengatakan, tetapi aku tertinggal saat melakukan pencatatan."


"Baik, saya kirim ke nomor ponselmu, sebelumnya boleh saya meminta nomor ponselmu?."


"Tentu." Sasya menyebutkan nomor ponsel kepada staff. Staff pun sudah memberi password melalui pesan teks, Sasya bergegas menuju ruangan CEO untuk memantau Brydean melalui CCTV. "Tapi, kalo di pikir-pikir gw ngapain kepo banget." gumam Sasya setelah memasukkan password CCTV tersebut, di layar laptop tersebut sudah menunjukkan rekaman-rekaman CCTV. Sesuatu yang menarik terdapat di layar laptop yang harus di lihat. Salah satu CCTV merekam dua orang pria sedang berada di ruang meeting. Sasya memperbesar rekaman tersebut. "Wah, gila gw terjebak di lingkaran jurang gelap." Sasya pun memundurkan waktu di mana seseorang mengetuk pintu ruangan Brydean. Sasya mengusap kasar muka-nya. Ini mah, abang-abang anggota, hubungan Brydean sama Bimo apaan sih? Bimo kayak hormat banget sama Brydean. Menyaksikan dua orang pria yang sedang berbincang di ruang meeting, sayang rekaman tersebut tidak bersuara, jadi Sasya tidak tahu apa yang mereka bicarakan.


Klick


Suara pintu terbuka, Sasya pun terkejut langsung menutup halaman web rekaman CCTV. Berpura-pura sedang mengetik materi untuk Brydean. "Do you finished?." ucap dingin Brydean berjalan menghampiri Sasya.


"Yes finish, sir. Saya izin untuk mem-print data, permisi." menundukkan badan.


...⚘⚘⚘...


Keluar dari ruang meeting, Sasya berjalan membuntuti Brydean. "Pak, ini jadwal selanjutnya. Ada beberapa jadwal yang baru di revisi." menyodorkan Ipad tersebut, menghentikan langkah kaki. Ipad pun di terima oleh Brydean, Sasya bersiap mengelurkan note untuk mencatat perkataan yang Brydean ucapkan. "Di schedule, sekitar 30 menit yang akan datang kita akan meeting dengan klien."


"Seharusnya itu jadwal besok?." pandangan Brydean yang terfokus dengan Ipad.


"Iya, pak. Tapi klien meminta untuk di majukan hari ini."


"Cancel meeting hari ini, saya ingin supervisi karyawan yang berada di kantor Solo."


Sasya mencatat perkataan Brydean di note. "Baik, pak." tanpa di sadari Brydean memberikan Ipad yang seharusnya Sasya sigap mengambilnya. Ipad pun terjatuh dari tangan Brydean yang sikapnya acuh tak acuh. Sasya pun terkejut saat terdengar suara nyaring Ipad tersebut jatuh ke lantai, yang menimbulkan suara bising, setiap staff yang berada di dekatnya menoleh ke arah mereka. Menutup mulut karena terkejut dan Sasya mematung sebentar lalu berjongkok mengambil Ipad. Brydean berdiri tegap memasukkan kedua tangan kedalam saku yang hanya menyaksikan kejadian tersebut dengan tatapan mematikan. "Maaf pak, siap saya salah." mengambil Ipad tersebut. Mencoba menyalakan Ipad karena Ipad tersebut mati. Jelas Sasya sangat panik bukan main. Sasya pun nyadari bahwa Brydean beranjak pergi dari hadapan Sasya.


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍Jangan lupa Vote dan Like 🖍


📖 Selamat Membaca 📖