Together Again

Together Again
Terungkap



Lap board menunjukan Grace masih memimpin balapan, saat lap board sudah menunjukan tulisan last lap dan tim Sasya belum bisa menyusul. Teriakan suporter dan yel-yel yang meramaikan suasana sirkuit entah suporter tim Grace atau Sasya, tapi saat ini lebih banyak suporter tim Sasya.


Sasya menerima arahan Alex yang memantau berlangsungnya balapan dari paddock area menggunakan walkie talkie headset microphone "Sasya di depan ada tikungan chamber usahain untuk overtaking." perintah Alex.


"Aihs, keburu ditikung Quira."


"Didepan ada tikungan high speed corner nyalib disitu aja."


"Gila, Nita nyusul jadi pemimpin balap."


"Oke, masih ada straight nanti jangan sampai gagal overtaking."


"Siap, gw usahain."


Backstraight sudah terlihat tanda pertandingan akan segera berakhir dan marshall yang memegang chequared flag sudah bersiap untuk mengibaskan.


Marshall mengibaskan bendera untuk pemenang finish pertama, pembalap langsung menuju scruttineering. Walaupun private pertandingan ini diadakan semeriah mungkin seperti layaknya pertandingan antar pembalap profesional. Setelah kembali dari scruttineering para pemenang menuju parc ferme dan menaiki podium, tak disangka banyak wartawan berdatangan dan teriakan yang antusias dari para suporter.


Ketiga pemenang menaiki podium untuk menerima tropi dan hadiah yang sudah dijanjikan sebelumnya.


"Yes, we are winners." teriak bahagia Sasya memeluk Nita dan Sasya.


Grace merasa geram tidak terima karena ia dikalahkan, merelakan mobil porcshe carrera sebagai kesepakatan yang sudah dijanjikan bila tim Sasya menang. "No, no, no." ia mengepalkan tangannya dan berlari kearah podium.


Saat Grace ingin meluapkan emosinya, lalu sudah mendekat dengan podium dimana Sasya dan kawannya berada tiba-tiba ada suara lantang nan berat memanggilnya ia pun terhenti dan memalingkan wajahnya ke asal suara itu.


Sasya 'pov


Awalnya kesepakatan menang kita tidak mendapatkan apa-apa, tetapi Alex mendesak mereka agar memberi sebuah mobil sport bila tim Sasya menang.


"Maaf, nona Grace anda kami tangkap." pihak kepolisian datang.


Mendengar itu gw, Nita dan Quira menghampiri Grace dan tidak lupa pula sebaliknya teman Grace pun menghampirinya.


"Ini, maksudnya kenapa pak?." ucapku kepada polisi tersebut.


"Ini surat penangkapan." polisi tersebut menunjukan surat tersebut kepada kami.


"Bahwa nona Grace, Lisa, Silvi dan Vita sudah melakukan prostitusi online dan selain itu mereka pemakai dan pengedar narkoba jenis ganja dan sabu yang akan dihukum seumur hidup." suara lantang polisi yang didengar oleh seluruh insan di sirkuit terutama tribun yang jaraknya dekat dengan podium, tidak lupa para wartawan meliput masalah ini.


Grace yang menyangkal. "Woy, bapak salah orang."


Udah ketahuan busuknya masih aja nyangkal. batinku


"Hey, nggak usah berlagak sok polos lo." Grace yang tiba-tiba mendorongku. Aku pun terjatuh karena dorongannya.


"Lo nggak apa-apa'kan?." Quira pun langsung membantuku.


Dengan sigap beberapa personil polisi langsung memborgol mereka. Mereka yang terus memberontak menolak untuk diborgol.


"Woy, crazy girl harus fair kalau kalah ya kalah." teriak seseorang suporter yang memihak Sasya yang berada di tribun.


"Dasar cewek licik." sambung suporter lainnya.


"Huuuu, dasar lontheee." dari satu suporter bersuara, akhirnya semua suporter pun bersuara mencaci maki dan menghina Grace dan kawannya sambil melempar botol air minum kosong ke arah mereka.


"Hehhh, denger ini bukan salah gw." teriak Grace yang memberontak. "Lepasin gw." lalu berusaha untuk melepaskan borgol yang ada ditangannya.


Lalu polisi langsung membawa paksa mereka keluar dari arena sirkuit, walaupun mereka terus melakukan perlawanan.


Smirk "Itu akibat lo lawan gw." gumamku.


Lalu ku berbicara dengan nada yang kecil kepada Nita dan Quira. "Tetap jalankan akting dan sandiwaranya." kami yang seolah-olah menjadi korban perundungannya dihadapan semua orang dan wartawan yang menyaksikan.


flashback on


Sudah dua hari semenjak Grace dan kawannya tiba-tiba datang menghampirinya untuk melakukan balapan. Kami hendak pulang kerumah yang sebelumnnya mengunjungi cafe setelah pulang bekerja, kali ini kami bekerja shift 1. Kami berjalan menuju mobil saat seseorang yang parasnya dikenal Sasya pun berhenti sejenak untuk melihatnya.


Sasya pun memberi tau kepada para sahabatnya. "Guys, itu Grace kan." tunjuk Sasya.


"Hmm, iya." jawab Nita.


"Hah, dia jalan sama om-om." Quira pun terkejut.


"Sepemikiran nggak." Mereka pun seketika langsung bertatap-tatapan.


"Njir, open bo." seketika kata itu yang terlintas dibenak Quira.


Nita dan Sasya kaget saat Quira berbicara seperti itu. "Syutttt." Sasya langsung menutup mulut Quira.


"Please, volume suara kecilin kalau mau ngomong vulgar." Nita yang panik sambil melirik ke sekelilingnya.


"Kebiasaan nih." tangan Sasya melepaskan bekapannya.


"Sorry."


"Kita harus manfaatin keadaan ini." ucap Sasya.


"Untuk balas dendam." sambung Quira dan mereka pun kembali saling tatap-tatapan.


Melihat Grace yang sejak tadi sudah masuk cafe dan Sasya, Nita, Quira masuk kedalam mobilnya untuk memantau pergerakan Grace.


"Apa yang lo rencanain Sya?." tanya Nita.


Sasya pun berbisik kepada mereka berdua. "Ngertikan." ucap Sasya setelah berbisik. Nita dan Quira pun mengangguk.


...⚘⚘⚘...


Keesokan harinya mereka pun kembali untuk menjalankan rencananya. Dimulai dari memantau sosmed mereka. Nita dan Quira yang sudah tiba dirumah Sasya, hari ini mereka cuti bekerja.


"Lo, yakin Sya mereka bakalan upload sosmed hari ini." Quira yang ragu.


"Insting gw nggak akan salah, kalau mereka ber-empat akan hangout disebuah tempat."


Nita menghela napas panjang. "Kita udah nunggu tiga jam sambil tiduran, rebahan, makan, minum, nonton." Nita berbicara sambil memakan snacknya. "Terus kapan, mereka upload instagramnya." sambil merengek.


"Mereka seleb pasti setiap kegiatannya diupload terus." Quira yang mengerutkan dahinya.


Nita merosotkan badannya ke lantai dan bersujud. "Ya allah, mudahkanlah urusankan kami." teriak Nita sambil bersujud.


tring, tring.


Sasya dan Quira langsung membuka notif tersebut.


"Woy, dikabul langsung sama allah." ucap Quira yang girang sambil memukul bokong Nita yang masih tersujud. "Gila Ta, sekarang sujud syukur." Nita yang sudah mendudukan dirinya dan kaki Quira yang mendorong punggung Nita agar tersujud kembali.


Nita pun terbangun dari sujudnya. "Anjing, lo benar-benar ya." Nita mengepal tangannya yang geram karena ulah Quira.


"Udah-udah." ucap Sasya yang memisahkan dan menarik tangan Nita untuk duduk disampingnya.


"Sakitt." keluh Nita dan merengek sambil memeluk Sasya.


"Udah, cup, cup,cup." Sasya sambil mengelus kepalanya.


"Tega lo, kasian dia." ucap Sasya kembali.


Quira yang langsung meminta maaf dan membujuk Nita agar memaafkan. Setelah permasalahan Nita dan Quira selesai, mereka pun beranjak pergi menuju tempat Grace dan kawannya berada.


Mereka sedang diperjalanan menuju tempat tersebut.


"Nanti 200 meter lagi belok kiri." Nita yang mengarahkan maps lokasi Grace berada.


Tiba-tiba Sasya yang mengemudi mobil pun menepi dan memberhentikan mobilnya.


"Coba liat maps-nya." merampas ponsel Nita.


Sasya pun syok melihat maps. "Inikan resto gw."


"Masa sih." Quira langsung merampas ponsel yang digenggam Sasya. "Heh Nita chulo, lo nggak ngeh." Quira yang sambil mengoyang-goyangkan lengan Nita tang berada dikursi penumpang depan dan memperlihatkan mapsnya.


"Sumpah nggak ngeh." Nita membulatkan matanya.


Quira dan Sasya menghela napas panjang sambil menepuk jidadnya, melihat kelakuan Nita yang absurd dan nggak teliti. Sasya pun langsung memacu mobilnya menuju resto.


Setelah sampai mereka yang cosplay menjadi pelayan resto dan berpenampilan culun untuk memantau mereka.


"Tugas pertama kita, dapetin code QR whatsapp mereka." perintah Sasya.


"Oke, siap." jawab mereka kompak.


Mereka bertiga mengantarkan makanan yang sudah dipesan ke meja Grace dan kawannya. Saat sedang Quira dengan Nita meletakkan makananya, disaat itu Grace dan kawannya menaruh ponsel mereka diatas meja. Sasya lalu melalukan pergerakan cepat yang langsung mengambil ponsel Lisa terlebih dahulu dan memfoto kode QR dengan ponsel Sasya.


"finish." ucap Quira.


"Not yet, ponsel Grace pakai sidik jari whatsapp-nya." Sasya yang sedang kebingungan.


"Terus gimana?." tanya Nita.


"Ini udah masuk planing sebelumnya." jawab Sasya.


Saat Grace sedang melakukan pembayaran, sebelumnya Sasya sudah mengutus dua pelayannya untuk melakukan rencananya. Pelayan pertama yang sedang lewat membawa nampan kosong yang tiba-tiba menyenggol Grace yang tengah asik bales chat whastapp-nya, pelayan kedua menyerahkan tagihan bill. Disaat ponsel Grace terjatuh, ia didesak untuk melakukan pembayaran dan pelayan pertama melakukan tugasnya dengan menyenggol dan ia berpura-pura melempar nampan yang bersamaan ponsel Grace terjatuh, di keadaan seperti itu ia mencuri cara untuk mendapatkan kode QR. Setelah mendapatkannya ia mengembalikan ponsel tersebut dan meminta maaf. Pelayan pertama pun berhasil mengalihkan perhatian Grace.


"Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya nona." pelayan tersebut langsung meletakkan ponsel Grace diatas meja dan sebelumnya ia menekan tombol power agar layar ponsel tersebut mati.


"Lain kali hati-hati, kalau ponsel saya sampai rusak parah saya akan aduin ke manager anda." tegas Grace.


"Baik nona, tapi jangan aduin saya ke manager." mohon pelayan tersebut sambil membungkuk.


"Saya maafin, go." Grace memerintah untuk segera pergi dari hadapannya.


...⚘⚘⚘...


Matahari sudah tenggelam, hari sudah berganti malam. Sasya, Nita dan Quira pun sudah berada dirumah Sasya dan sudah berhasil menyadap whatsapp Grace dan kawannya. Mereka terkejut dengan beberapa isi chat Grace dan kawannya.


"Wow, amazing view." Quira pun sambil bertepuk tangan saat melihat isi chat mereka di layar komputernya.


"Sikirinsot, sikirinsot woy." teriak Nita.


Mereka yang membagi tugas untuk mempercepat penyelidikan, Nita yang melihat isi chat Lisa, Quira melihat isi chat Silvi dan Sasya melihat isi chat Grace dan Vita.


"Satu circle pada jual diri." ucap Nita.


"Kok bisa sih, bukannya mereka orang kaya?." tanya Sasya.


"Setau gw yang orang kaya cuman ortu Grace aja." jawab Quira.


"Kayaknya ada yang aneh dari mereka, bisa jadi ortu Grace bangkut."


"Nah, gw juga mikir gitu." ucap Nita.


"Mereka' kan gaya hidupnya glamor, jadi bisa aja itu sebagai jalan keluar untuk mengatasi keuangan." ucap Quira.


"Bener banget." Sasya dan Nita menjawab dengan kompak.


"Berdosa banget gw liat Lisa ngepap tanpa busana." Nita melihat isi chatnya dengan salah satu pelanggan Lisa.


"Coba liat." Quira bangun dari duduknya untuk melihat layar komputer yang berhadapan terbalik olehnya.


"Heh, mau kemana lo?." Sasya langsung menarik tangan Quira dan mendudukannya kembali. "Kayaknya lo butuh jasa cuci otak, soalnya otak lo kotor banget."


"Only kepo, mau tau aja bentuk badannya."


Sasya menoyorkan kepala Quira. "Jangan ngadi-ngadi anda."


¤


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍Jangan lupa Like and Vote 🖍


📖 Selamat Membaca 📖