
Cuaca hari ini sangat indah, dendam mereka pun sudah terbayarkan, banyak dari suporter menyorakkan kebahagian untuk Sasya dan ada beberapa suporter bayaran Grace yang masih tetap di podium, beralih untuk menyorakkan keberhasilan kepada Sasya. Setelah mereka diwawancarai conference press room mereka pun kembali ke paddock area.
Dor....Dor....Dor
Sebuah party popper menyambut kedatangan mereka.
"Congratulation." ucap Alex memeluk mereka secara bergantian. "Sebesar apapun cobaannya di awal, kalau emang takdir nggak akan bisa lepas."
"Alex, yang manggil wartawan siapa?." tanya Sasya sambil melepas wearpack-nya.
"Gw juga nggak tau."
"Sya, lo mau langsung pulang." tanya Nita.
"Nanti aja, masih ramai sama wartawan."
"Berhubung kalian the winner, gimana kalau kita rayain?."
"Setuju." ucap Quira. "Sasya, Nita lo setuju kan?."
Nita dan Sasya mengangguk.
"Nanti gw kirim lokasinya."
...⚘⚘⚘...
Malam pun tiba, mereka yang sudah rapi dengan dressnya berkumpul di rumah Sasya.
"Alex, belum kasih kabar?." tanya Nita yang sedari memandangi ponsel yang belum menerima notif dari Alex.
"Sudah jam sebelas loh." Quira yang mulai bosan.
"Ganti baju yuk !!!."
Mereka pun mengganti dressnya dengan hotpants dan kaos kebesaran, crop tee, kaos ketat.
"Kayaknya nggak jadi deh." Quira pun melihat ponselnya lagi.
Sasya pun sambil menutup gorden ruang tamunya. "Ya udah, ayo tidur !!!."
Saat mereka hendak tidur menuju kamar masing-masing yang biasanya mereka tempati bila menginap.
tin, tin ,tin.
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar gerbang rumah Sasya.
Quira pun langsung menatap Sasya. "Siapa sih?."
Sasya pun menaiki bahunya.
drrrt, drrrt, drrrt.
Suara panggilan masuk di ponsel Sasya.
Quira yang sadar ponsel Sasya bergetar. "Angkat, Sya !!!."
Sasya pun mengangkat panggilan tersebut. Nita dan Quira pun mendekat ke arah Sasya. Menyadari hal tersebut Sasya pun langsung me-loudspeaker.
Sasya belum sempat untuk mengucapkan kata-kata, Alex terlebih dahulu mengucapkannya. "Sasya, gw udah di depan rumah lo nih !!." suara berat terdengar dari sambungan telepon.
"Sebentar !!."
Sasya pun langsung menghampiri telepon rumah untuk menghibungi satpam yang sedang berjaga di rumahnya. "Halo Pak, gerbang jangan Bapak buka, biar saya aja."
"Siap nona, laksanakan !!." setelah mendengar Pak Badri menjawab Sasya langsung menutup telepon tersebut, mereka bergegas berlari ke depan rumah dan membuka gerbang.
Terkejut sangat-sangat terkejut, saat membuka gerbang rumah, cahaya lampu mobil yang menyorot mereka saat keluar dan cahayanya membuat silau. Jajaran mobil sport yang terparkir di depan rumahnya, mengepung mereka.
Quira pun menyenggol tangan Sasya. "Yakin, ini cuman mimpi doank." bisiknya.
"Bukan, ini nyata."
Nita pun mencubit tangan Quira. Quira pun menahan teriak kesakitannya. "Nyata 'kan."
Quira pun mengangguk.
Sasya pun menghampiri Alex yang tengah duduk menyender di kap mobilnya.
"Kok lo, bawa grombolan sih?." heran Sasya.
"Lebih rame, lebik baik."
"Ihs, tapi 'kan....."
Alex memotong ucapan Sasya. "Gara-gara kalian cuman ber-tiga di banding 14 cowok disini."
"Hmm."
Quira dan Nita pun mendekati mereka dan duduk di kap mobil Alex, sedangkan Sasya masih berdiri dihadapan Alex.
"Slow, mereka pada bawa pacarnya." Alex sambil menepuk pundak Sasya.
Tiba-tiba satu persatu perempuan cantik keluar dari mobil dengan pakaian kurang bahan dan mengelilingi mereka ber-empat.
"Hai." sapa salah seorang perempuan tersebut dan yang lainnya hanya tersenyum memandang Sasya dan kedua sahabatnya.
Tidak lupa para teman-teman Alex yang sedari tadi sedang duduk menyender di kap mobil dan sambil merokok sama seperti Alex. Mereka pun menghampiri pacar mereka masing-masing sambil merangkul.
"Pacar lo, mana?." celetuk Sasya sambil memegang bahu Alex.
"Gw jomblo." Alex sambil memainkan pemantiknya.
Tiba-tiba ada seseorang menghampiri Alex, lalu merangkulnya. "Tenang bro, gw juga sama." ucap seseorang teman cowok Alex yang memakai hoodie memutupi kepalanya.
Sasya dan kedua sahabatnya hanya bisa menyimak, karena banyak orang yang belum mereka kenal.
"Sasya, kok lo makin cantik." ucap cowok yang memakai hoodie.
Sasya terdiam.
"Hey, lo sombong sama gw." ucap cowok itu lagi.
"Lo, siapa sih?." Sasya yang tengah kebingungan.
"Wah bro, parah." cowok tersebut menyenggol tangan Alex. "Nggak kenal gw."
Alex pun smirk. "Kenalan lagi lah." menghisap rokoknya.
"Gw." cowok tersebut sambil menurunkan penutup kepala hoodienya. "Saddam."
Sasya pun berdecak. "Nggak usah jadi orang sok misterius, Dam !!!." Sasya pun mengacak-acak rambut Saddam.
"Lo tau nggak?." Quira memegang bahu Saddam.
Saddam menggeleng.
Quira yang kesal Saddam berulah. "Lo kayak gitu, gw yang deg-deg an." sambil merampas bungkus roko ditangan Saddam.
Saddam tertawa terbahak-bahak. "Njir, roko gw dibuang."
"Nikotin, Dam." ucap Nita.
"Terus gimana? gw sudah candu."
Nita duduk di kap mobil disamping Saddam, lalu menyenderkan kepalanya dibahu Saddam. "Terserah lo, deh."
(Wajar mereka seperti itu, pas masih SMP mereka satu circle sama Rendy juga Raka).
Terdengar suara mobil yang baru tiba, Seorang cowok itu pun langsung menyapa teman-temannya sambil fist bump.
Quira mengayunkan tangan Sasya."Siapa lagi?" tanyanya.
"Raka bocah gamon, baru datang." ucap Alex saat cowok tersebut menghampirinya.
Sasya pun langsung eye contact dengan Quira. "Raka."
Quira menjawab dengan anggukan dan menaiki sebelah alisnya.
"Raka." bisik Sasya tepat di telinga Raka.
"Anjing, merinding gw." kesal Raka tanpa melihat kesampingnya.
Sasya pun pindah ke hadapan Raka, tapi tetep Raka cuek terhadap Sasya.
Sasya menggoyangkan badan Raka. "Ka, lo nggak kangen sama gw?."
Tawa Raka lepas sambil menghisap vape pen-nya. "Diam, lo !!!." lalu ia menghembuskan asapnya di depan muka Sasya.
Sasya pun berdecak kesal sambil mengayun-ayunkan tangannya, guna untuk menghilangkan asap vape dihadapannya.
"Pahadal gw lagi berusaha ngacangin lo, untuk hari ini aja." Raka pun merangkul Sasya. "Tapi susah buat ngacangin cewek kayak lo." sambil tertawa.
Sasya pun menepis tangan Raka.
"Yok, cabut." ucap Alex.
"Tunggu dulu !!!." ucap Sasya. "Kita harus ganti baju, masa bajunya kayak gembel." sambil menujuk Quira dan Nita.
"Nggak usah, gitu aja sih." ucap Saddam. "Tetap oke dan cantik kok."
"Let's go." Saddam berdiri dari duduk senderannya, tak lupa yang lagi nyender dibahunya juga diajak berdiri.
Alex yang berada diambang pintu mobilnya. "Sasya, Quira, Nita, lo ikut siapa?."
"Kita ber-tiga, bawa mobil sendiri aja." ucap Quira.
"Jangan !!!." larang Alex. "Gw, Saddam sama Raka sendiri, jadi terserah kalian mau ikut yang mana."
"Nita sama gw." ucap Saddam.
Nita pun berbisik. "Apaan sih, lo?."
"Sasya sama gw berarti." Raka sambil mencubit pipi Sasya.
"Ihs." kesal Sasya.
"Ra, lo masuk mobil gw." ucap Alex.
...⚘⚘⚘...
Sasya 'pov
Kami pun memasuki sebuah tempat, sepertinya Club, tapi tempat itu sepi hanya ada bartender, dj dan staff club, tidak ada pengunjung yang lain selain kami.
Saat kami duduk di meja masing-masing di lantai dua, dj mulai mendentumkan musiknya. Banyak dari kami yang turun ke dancefloor dan aku baru pertama kalinya memasuki tempat ini. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Alex, Saddam, dan Raka, ntah kemana mereka. Sejak kami baru sampai mereka kangsung saja hilang, bak ditelan bumi.
"Bisa dibilang, kita nggak zaman now, soalnya sama sekali belum pernah kesini." ucap Quira.
"Padahal kalau di bilang cukup umur sih, sudah." sambung Nita dengan matanya yang menelusuri seluruh isi club.
Lalu tibalah Saddam, Alex dan Raka menuju meja kami bertiga. Tidak lama mereka duduk pelayan bar menghampiri kami, membawa bermacam-macam jenis alkohol, juice dan softdrink.
Aku dan sahabatku memilih menggambil juice.
"Alex, kok lo minum softdrink?." tanyaku.
"Kalau gw ikut minum whisky, nanti gw nggak bisa berhenti minum." sambil memainkan segelas softdrinknya. "Terus siapa? yang nganterin lo pada, kalau gw mabuk."
"Tapi, Raka sama Saddam minum whisky." ucap Quira sambil meminum jus-nya.
Dengan bangganya Saddam bilang. "Maaf, tapi kita peminum berat." tidak lupa untuk fist bump.
"Lo mau tau, Raka nyewa tempat ini cuman buat kita." Alex yang sambil meminum segelas softdrink-nya.
"Secara, Raka kerjanya mulung." ucapku tersenyum sambil meminum juice.
"Iya lah, orang mulung duit." Quira tertawa, ia pun melakukan high five denganku dan Nita.
Seketika hening dari mereka hanya terdengar dentuman musik yang sajikan dj.
Saddam mencairkan suasana. "Guys, ayo kita mulai celebration-nya."
"Karena kita mau bersulang, kalian harus cobaan beer ini." Alex pun membagi rata gelas beer kepada kami . "Ini aman buat pemula, kandungan alkoholnya cuman sedikit."
Mungkin akan terdengar aneh untuk Raka, Saddam dan Akex "Tapi, gw belum pernah minum ini." ucapku sambil mengangkat segelas beer.
"Iya nih." sambung Nita.
"Sama."
"Ayo lah, kita nikmatin masa muda kita." smirk Saddam. "Hidup di dunia cuman sekali, gunain untuk bersenang-senang."
Raka menaikan gelasnya. "Cheers."
Ting...
Suara gelas kami saling beradu diantara dentuman musik.
Tidak hanya aku, tapi kedua sahabatku terlihat ragu saat mereka ingin meneguk beer.
glek, glek...
Seketika beer itu lolos, rasa panas di tenggorokanku saat beer itu mengalir.
Raka yang menyadari itu. "Lo nggak apa-apa 'kan?." sambil mengelus bahuku.
Aku hanya mengangguk menahan rasa panas yang masih terasa di tenggorokanku.
"Kalau lo sudah sering minum, that no problem." ucap Raka.
"Gw juga pas baru pertama kali, ngerasa tenggorakan kayak terbakar, tapi pas sudah sering biasa aja." sambung Saddam.
Sasya 'pov end
Saddam dan Raka membujuk Sasya, Nita dan Quira menuju dance floor dan mereka pun turun menuju dance floor kecuali Alex.
"Guys." teriak Alex dari lantai dua.
Semua orang yang berada di dance floor meliat ke arah atas.
Alex yang memegang botol sampanye "Are you ready?."
Lalu ia pun mengocok botol tersebut saat penutup botolnya di buka, bum botol tersebut pun menyempotkan alkohol ke arah mereka yang berada di dance floor. Mereka yang berada di dance floor berteriak sambil menari-nari gembira yang diiringi dentuman musik dj terompet pemersatu bangsa. Sasya, Nita dan Quira pun menari terbawa oleh suara dentuman musik tersebut dan tidak lupa mereka pun sambil meneguk segelas wine yang diberikan oleh Saddam.
Saat Alex sudah turun ke dance floor mereka semua pun tidak lupa untuk bersulang sambil menari-nari.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍Jangan lupa Vote dan Like🖍
📖 Selamat Membaca 📖