
Aku dan si kating rese mulai diam sejenak mulai mencerna Obrolan aku dan Tante Linda melalui telepon tadi.
' Sebenernya apa yang sudah terjadi pada mu Tina ' Batinku.
" Berarti Tina pasti ada si suatu tempat " Ucap si kating rese.
" Tapi dimana?" Tanyaku.
Kami berdua mulai tengelam dalam pikiran masing masing berusaha berfikir. Lalu aku menyadari sesuatu.
" Heii Leo tadi Elena sama Liya bilang kalau mereka udah cari di sekolah kan sampai memutari satu sekolah 4 kali " Ucapku.
" Iya terus?" Jawab si kating rese.
" Mungkin mereka ada satu tempat yang mereka lewatkan " Ucap si kating rese yang mulai mengerti apa yang ku maksud. Aku hanya mengganguk.
" Lalu dimana tempatnya?" Tanya si kating rese.
" Kalau di ruang kelas nggak mungkin pasti tempatnya ada di suatu ruangan yang jarang dilihat atau jarang digunakan " Ucapku.
" Lalu Tempat nya pasti selalu di kunci atau di gembok " Tambah si kating rese.
" Jangan jangan Tina ada di...." Gumamku tanpa pikir panjang aku langsung berlari menuju ke suatu tempat.
" Heii tiang listrik kamu kamu mau kemana?" Tanya si kating rese mulai mengejar ku dari belakang.
' Mungkin bisa jadi Tina ada di sana...Tina semoga aja kamu nggak papa ' Batinku sambil berlari.Tibalah di suatu ruangan yang ku maksud.
" Ke..kenapa Ka..kamu ke sini ke..Bekas gudang peralatan panggung " ucap si kating rese sambil ngos ngosan.
" Kamu tahu kan kalau ruangan ini sudah tidak dipakai lagi dulu tempat ini di jadikan gudang. Dan satu satunya ruangan yang jarang di gunakan adalah gudang ini...tempat ini di pakai buat penyimpanan alat teater saja tapi sekarang sudah tidak ada Teater lagi jadi tempat ini di kosong kan " jelas ku.
" Bisa jadi Tina ada di sini " tambahku.
" Tina!!! Kamu di dalam Tina?!! Ini aku Lisa!!! Tina?!!!" Teriakku dari luar pintu. Samar samar aku mendengar suara seperti di bekap.
" Halo?!! Tina kamu di dalam?!!!" Ucapku sekali lagi.
" Emmhhhh....Hmmmm hisa tohon ahu...ahu
Hihini " jawab seseorang dari balik pintu namun suara itu tidak jelas dan pelan.
" Tidak salah lagi itu suara Tina" Ucapku.
" Bertahanlah Tina?!! Aku akan menolong mu " Ucapku.
Aku mencoba membuka pintu namun pintunya di kunci dan di gembok.
" Aku akan cari kunci serep di ruang guru " Usul si kating rese handak berlari ke Ruang guru.
" Gak. Kelamaan..." Ucapku.
" Lantas?" Tanya si kating rese.
" Aku dobrak aja pintunya " Ucapku dengan datar.
" Tapi pintunya di kunci dan di gembok mana bisa di buka..." Ucap si kating rese.
" Kamu lupa siapa yang dobrak pintu saat kamu terkunci di toilet saat di kompetisi hemm?" Ucapku.
" Iya juga tapi kaki kirimu kan belum pulih " ucap si kating rese.
" Bodo amat mikirin itu.yang penting kita keluarin Tina dulu. Dan lagian aku punya dua kaki pakai kaki kanan lahh " ucapku.
" Kating rese mundur dikit kalau nggak mau kena " Ucapku. Si kating rese hanya menuruti.
Aku mulai mengambil ancang-ancang dan dengan sekuat tenaga aku mendobrak pintu walau pakai heels dan pakai dress.
BRAKKK
Pintu gudang berhasil terbuka kami dapati Tina duduk di sebuah kursi dengan di ikat dan mulutnya di lakban. Sontak kami langsung menolong Tina. Kami mulai melepaskan ikatan tali di sekujur Tubuh Tina dan melepas lakban yang menempel di mulutnya.
Kini mata Tina mulai berkaca kaca dan tangis Tina mulai pecah. Tina menangis sambil memeluk dengan erat.
" Li..Lisa Hiks Hiks Lisa...Hiks syukur...lah kamu datang..hiks hiks " ucap Tina sambil menangis.
" Udah Tina aku disini aku di sini " ucapku sambil membelai kepala Tina berusaha menenangkannya.
" A..aku takut banget hiks hiks aku kira aku hiks bakal...hiks Bakal Huaaaa " Isak tangis Tina.
" Udah udah nggak papa kamu aman lihat aku disini bukan " Ucapku. Lama kelamaan Tina mulai tenang.
" Oke siapa pelakunya?" Tanya si kating rese tanpa basa basi.
" Husss kating rese baru aja tenang dan baru keluar dari gudang malah langsung di introgasi dasar gak peka!!" Omelku.
" Aku udah nggak papa kok " ucap Tina dengan lirih.
" Huss nggak papa dari Hongkong baru aja kamu keluar dari gudang ini. Kamu pasti Ketakutan kan..." Ujarku.
Tak lama kemudian mata Tina mulai berkaca kaca dan Tina menangis lagi sambil memelukku.
" Udah nggak papa aku tahu kamu pasti takut
Kesal kan. Udah keluarin aja Tina nangis sepuas puasnya " Ucapku sambil mengusap usap lembut punggung Tina.
" Kating rese kamu antar Tina kerumahnya " Ucapku.
" Udah nggak papa. Aku bisa pulang sendiri "
Ucap Tina.
"Gak. Kalau gitu pilih aku suruh kating rese gendong kamu apa pilih di anter pulang" Ucapku.
"A...Anter...Anter aja " Ucap Tina terbata bata. Aku hanya tersenyum simpul saja.
" Oke ayo kita pulang...dan Tina kamu hutang penjelasan oke " Ucapku. Tina hanya mengangguk.
Kami mulai meninggalkan gudang tapi sebelum itu aku melihat sesuatu berupa sebuah benda persegi panjang disela sela kursi yang sudah rusak. Ku ambil benda itu dan ternyata sebuah Ponsel. Aku mulai mengejar Tina.
"Tina apa ini Ponsel mu?" Tanyaku sambil memperlihatkan.
"Iya itu punyaku...tapi gimana bisa retak " ucap Tina.
" Mungkin ponselmu segaja di rusak biar kamu nggak bisa apa apa atau menghubungi seseorang " Jawabku.
Kami bertiga mulai menuju ke parkiran tempatnya di mobilnya si kating rese.
" Udah ya Tin aku pulang dulu..." Pamitku.
"Lha..Lha kamu mau pulangnya naik apa ?" Tanya Tina.
" Naik Taxi " jawabku.
" Malem malem di sini mana ada taxi lahh..." Jawa si kating rese.
" Udah aku anter sekalian aja " Tambah si kating rese.
' ehhhh Tumben baik biasanya kaya Es ' Batinku.
" Tumben Baik..." Ucapku.
" kalau diem ku anggep enggak mau" Ucap si kating rese.
" ehh mau mau dong rezeki nggak bisa ditolak " ujarku sambil nyengir.
Aku mulai naik mobil Sport hitam lemite edition. Mobil si kating rese mulai melaju di jalanan.
To be continued...