The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 53



Camellia Devany


Val menatap ku sejenak lalu kembali menyusun puzzle yang diberikan Asta pada nya, anak lelaki itu adalah adik bungsu ku. Ku kira yang menjadi anak terakhir adalah Murry tidak nyatanya yang menjadi anak terakhir adalah Vallac.


Lalu pria yang kini tengah mencoba menata rambut pendek Asta bernama Willy broun, Pria yang ku waspadai ternyata partner bisnis Asta.


Aku curiga keduanya bukan sekedar partner saja bisa jadi hal ada hal lain.


"Lizzy sama temen mu yang hobi make topi kemana?" Tanya ku heran biasanya kedua bocah itu selalu menempel kemana pun Asta pergi.


"Mereka lagi di luar negeri," Balas adik ku dia terlihat menikmati jari-jari Willy yang memijat pelan kepala nya.


"Dan Asta sendirian, kau beruntung saya selalu ada menjaga mu Asta." Celetuk Willy dia memperlihatkan senyum jahil nya.


"Iya, itung-itung gue punya babu baru gitu yang bisa gue suruh sana sini." Kata Asta kurang ajar.


Mendengar perkataan tak sopan itu Willy memukul pelan kepala Asta."Coba sekali lagi katakan itu akan saya pasti kan kau tenggelam di lautan lepas."


Aku menggeleng tak setuju."Itu terlalu enak buat nya, lebih baik Asta dikubur dalam tampungan saluran kotoran manusia."


"Idih, yang bener aja Li jorok banget."


Aku tertawa lepas saat mendengar nya, Asta berdecak pelan saat ponsel nya terus berdering.


"Siapa?" Aku menatap nya dengan penasaran.


"Devin." Balas Asta singkat.


"Temui dia, pacarmu pasti khawatir kamu tak pernah menghubungi nya." Kata Willy dengan nada kebapakan.


Asta tak menjawab ucapan Willy dia tetap diam, kepala nya menunduk seakan tak mau bertatapan dengan ku atau pun yang lain. Ku usap pelan kepala nya berharap apa yang dipikirkan nya tak begitu membebani nya.


"Gue harus apa?" Bisik nya lirih.


Adikku itu mendongak menatap ku yang tengah berjongkok didepannya, Lalu menatap Willy dan kembali menatap ku."Hubungi dia sekarang, dia mengkhawatirkan mu."


"Gue nggak mau."


Asta menggigit pelan bibir bawahnya, dia terlihat gelisah."Kalo dia ketahuan berhubungan dengan gue, pasti dia gak aman."


"Apa lagi ...."


"Kamu takut kakek mu mengincarnya dan menjadi kan nya kelemahan mu?" Sela ku dengan nada tinggi.


Aku menatap nya tajam dan menggertak kan gigi."Dia gak selemah itu Asta, Iya aku tau dia gak sebanding kalo dia dihadapi bodyguard nya kakek."


"Setidaknya percaya dia sedikit." Pinta ku pelan.


"Kali ini aja percaya sama dia, percaya sama seseorang please." Asta membuang muka saat aku menatap nya dalam-dalam.


"Siapa tau dia bisa bantu kita meski gak seberapa besar yang kita ingin."


Asta mengerut kening dan menjitak kepala ku."Seumur hidup gue gak akan percaya sama siapa pun."


"Termasuk aku?" kataku sesak.


"Iya." Jawab Asta tegas.


Willy broun beranjak berdiri dia menatap kami berdua saat mendengar suara mobil berhenti, dan bunyi langkah kaki yang beriringan. lalu pintu rumah terbuka memperlihatkan sosok bertubuh ramping dengan sunglasses kacamata nya yang bertengger di hidung mancung itu.


Jas hitam tersampir di bahu nya yang bidang, gaun peach dan sepatu high heels berwarna senada itu menambahkan kesan elegan.


"Aku mencari mu di kantor pusat katanya kau sedang berada disini." Wanita itu menatap sebal Willy broun seperti nya dia istrinya.


"Seharusnya kau tidak datang kemari Ellie." Willy mendekati Istrinya lalu merangkulnya dan menatap kami bertiga.


"Ellie dia anak yang ku asuh sejak dia kecil, kau ingat dia?"


Wanita berparas cantik itu mengangguk kecil, dia melambaikan tangan kearah Asta."Kau terlihat semakin kurus Asta."


"Ya."


"Lalu dia Cammellia Devany kakak Asta."


"Wow, dia tidak mirip bagaimana bisa berkebalikan dengan Asta, salam kenal!" Wanita bernama Ellie itu menjabat tangan ku dengan senang.


"Kami tidak kembar identik," Jawab ku dengan senyum manis.


"Iya kau sangat menawan dengan rambut putih dan mata biru mu seperti karakter dalam komik."


"Yang suka Asta koleksi dulu."Tambah nya.


"Baiklah anak-anak saya tidak bisa disini selama mungkin."Ucap Willy dengan wajah sedih.


"Kami harus pergi hari ini, lalu walaupun saya tidak ada jangan menghilangkan kewaspadaan kalian."


"Tanpa di ingetin pun gue tau."Sungut Asta.


Willy mengacak-acak rambut Asta gemas, lalu memeluk pelan Vallac dan diriku."Aduh saya tidak mau pergi jika tau ada hal menarik disini."


"Nggak ada yang menarik sono pergi,"


"Iya, iya selamat tinggal anak-anak."


Sepeninggalan Willy dan Ellie, Val menarik pelan ujung baju ku."Kakak Val lapar."


"Asta anak mu lapar."Goda ku.


Asta memelototi ku lalu menarik Val ke ruang makan,"Anak mata mu, dia adik gue."


"Kamu senang kan punya adik unyu kayak dia?"


Aku mengikuti nya dari belakang dan tersenyum kecil. Val duduk di kursi kosong dia tengah memperhatikan Asta yang sibuk berkutat dengan pisau.


"Nggak tuh loe kali yang seneng."Kata Asta Cemberut.


Ku kira dia akan memasak sesuatu spesial tidak kusangka, anak itu malah membuat telur dadar dengan potongan bawang daun, bawang merah, dan bawang putih.


"Jangan bilang kamu hanya bisa membuat telur dadar aja."Kata ku datar seraya menunjuk telur dadar yang disajikan bersama nasi panas didepan Val.


"Loe kira gue jago masak? masih mending gue bisa masak telor."Cibirnya lalu duduk didepan Val dan menatap penuh harap.


"Enak."


Satu kata saja sudah membuat mata Asta berbinar-binar, aku hanya bisa menahan senyum kaku yang menghiasi wajah ku.


Aku tak akan menyangka besok dan seterusnya.Hari-hari yang kami lewati akan bercampur dengan rasa waspada, Bahkan aku tak bisa tenang sedikit pun dimalam hari. Meski Asta menyuruh ku untuk santai tidak usah tegang semua itu hanya sia-sia.


Bocah itu bahkan nekad membawa ku dan Vallac kelantai dengan alasan liburan weekend,


nyaris beberapa kali ketahuan oleh orang-orang suruhan kakek seperti sedang mencari kami. Mungkin saja mengawasi pergerakan kami.


Bahkan diluar dugaan Val menjadi akrab dengan Asta, bahkan terus menempel seolah-olah Asta adalah induknya.


"Berasa lagi liburan semester."Keluh ku seraya membawa belanjaan adik-adik ku.


Serius entah kenapa diriku malah menjadi babu kedua anak itu. Sesampainya di rumah aku menaruh belanjaan yang ku bawa di atas meja makan. Lalu mengeluarkan beberapa buah dan telur serta roti tawar, selai coklat, strawberry, pancake instan, mochi dsb.


Setelah selesai menaruh semua itu ke kulkas aku duduk di depan tv sambil memperhatikan kedua adikku yang asyik memainkan game.


"Lama-lama jadi pengasuh." Gerutu ku kesal.


Saat melihat jam dinding, sudah jam 12.30 siang berarti aku harus makan siang kedua bocah itu tampak tak sadar jika hari sudah siang.


Aku memutuskan untuk memasak makan siang, mungkin lebih baik membuat ...


BRAKKK...!


Jantung ku mencelus saat mendengar suara pintu dibuka paksa. Sontak Asta bergegas memeriksa kedepan mendadak terdengar suara perkelahian dan benda-benda terbuat dari kaca terdengar hancur.


Jantungku berdetak kencang aku langsung menggendong Val yang sedang bermain game di hp Asta saat mendengar bel berbunyi keras. Lorong penghubung ruang tamu dan ruang makan tertutup oleh pintu besi yang bermunculan. Jendela dan lubang ventilasi semuanya tertutup oleh dinding yang terbuat dari besi.


Lalu terdengar suara mekanis berbunyi berulang-ulang. menandakan sesuatu terjadi diluar sangat berbahaya. Ruangan menjadi gelap saat lampu-lampu mati dan berkedap-kedip.


'Kode merah!'


'*Kode merah!'


'Kode merah*!!'


Suara mekanis terus berbunyi , tangan ku terus mendekap Val dengan erat beruntung nya bocah itu tidak menangis atau merengek. Dia hanya diam membisu dengan badan gemeteran.


"Tenang jangan takut, kita pasti baik-baik aja." Kata ku dengan suara setenang mungkin.


"Kak Asta." Lirihnya.


"Dia pasti baik-baik aja, Asta kuat aku yakin itu."Kataku penuh harap meski aku tidak percaya dia akan baik-baik saja.


"Kita harus keluar dari sini Val, kau mengerti? jangan menangis." Ku usap kepala nya lembut.


Mendadak tanah bergetar, meja makan perlahan tenggelam untungnya aku langsung melompat menjauh dan bagusnya hanya meja makan dan kursi saja yang tenggelam kedalam lantai. Digantikan dengan lorong gelap yang diterangi lampu orange berkedip-kedip.


"Apa kita akan masuk kesana?" Tanya Val pelan rasa takutnya menghilang saat melihat hal yang tak pernah dilihatnya.


Aku mengangguk dia bersorak senang, andaikan dia tahu situasi sekarang sangat membahayakan nyawanya.Mungkin saja Val akan terus menangis dan itu akan menjadi sangat merepotkan.


Kami berdua memasuki lorong tersebut, pintu atas tertutup kembali, hanya mengandalkan penerangan remang-remang aku berusaha tetap berjalan dengan hati-hati.


Rumah ini penuh dengan rahasia, membuatku sangat kepo apa lagi yang disembunyikan gadis-gadis yang tinggal dirumah ini? Mereka sangat misterius. Tak lama kemudian aku berhenti didepan pintu besi dan menatap mesin mekanis yang meminta sidik jari.


"Gawat kalo make sidik jari pasti nggak bisa masuk kan? tapi mungkin aja sidik jari ku sama seperti Asta." Kata ku cemas.


Aku meletakkan jari telunjuk ku Namun, Val tak mau diam tangannya terlebih dahulu mendahului ku. Nafas ku tercekat saat mendengar bunyi dari lantai atas seperti nya mereka berhasil menerobos. semoga saja mereka tidak mengetahui lorong yang ku lalui.


"Waah kak liat pintunya terbuka ini keren banget apa kak Asta yang membuatnya?" Tanya Val dengan mata berbinar.


Aku tersenyum kecut." Iya bisa dibilang begitu."


Kami memasuki ruangan misterius dibalik peniti besi itu dengan perasaan kagum disaat tidak tepat. Ruangan ini mempunyai layar monitor raksasa, beberapa alat yang tak ku ketahui beserta tiga komputer berderet rapih.


Bahkan terdapat sofa dengan meja kaca, dilengkapi lemari-lemari besar yang menutupi sebagian dinding berlapis titanium. Ku tebak tempat ini sangat berharga bahkan beberapa kabel ditata rapi menuju satu meja bundar yang terbuat dari bahan yang tak ku ketahui.


Hal yang paling menakjubkan ruangan ini berbentuk bulat, aku tak tahu lagi barang-barang aneh yang memenuhi ruangan ini.


"Val suka tempat ini." Ucap Val senang dia melompat kegirangan dan mendekati tempat duduk yang disediakan didepan layar besar yang dipenuhi tombol-tombol aneh.


Mendadak layar tersebut hidup, menampilkan hal yang tak ingin ku lihat. Layar itu memperlihatkan sosok berambut merah terbaring dilantai dan bersimpangan darah. Dia terlihat tak sadarkan diri.


"Kak...Asta?"


Tubuh ku membeku saat melihat Marcus meraih tubuh Asta dan menyeretnya serampangan. Dia memperlakukan nya seperti dia memperlakukan ku beberapa hari yang lalu.


"Uwaaaaa..."


Val menangis keras mendadak suaranya begitu membahana bahkan orang-orang suruhan kakek sampai mendengar nya mereka menjadi curiga. Aku terkejut ternyata ada sebuah mic didepan Val benda itu menyala dan menyebar kan suara Val ke seluruh ruangan.


Gawat!


Aku langsung menekan tombol off pada mic tersebut, dan mencoba menenangkan Val.


"Hiks kak Asta mati." Val menjerit aku berusaha menenangkan nya.


"Tenanglah Asta masih hidup."


"Val tidak percaya itu."Ucapnya sambil sesenggukan.


Mulutku membisu saat ruangan mendadak berubah menjadi warna merah."Peringatan! peringatan! pertahanan telah diterobos."


Suara mekanis terus menerus bergema. Bahkan terdengar suara benturan didepan pintu, Val langsung berhenti menangis dia memelukku erat-erat.


"A-apa Val akan mati juga kak?"


"Tidak Val! Kakak tidak akan membiarkan mu mati disini."Kataku tegas.


Aku tak tahu harus apa, disini kami terjebak ini sudah berakhir aku harus melindungi Val jangan sampai dia jatuh ke tangan kakek. Asta sudah berusaha keras untuk merebut Val.


"Pintu darurat telah disiapkan."


"Pintu darurat telah disiapkan."


Bang...


Bangg....


Lemari dipojok ruangan mendadak bergeser tempat, sebuah benda mirip kapsul besar muncul di lubang tempat lemari yang kini telah bergeser.


"Val ayo masuk kedalam sana!"


"Nggak mau! Val mau sama kakak aja."


"Val!" Bentak ku keras.


Val tersentak kaget dia melangkah mundur, matanya berkaca-kaca membuat ku salah tingkah.


"Kode terpecahkan! kode terpecahkan!"


Suara mekanis itu kembali berbunyi pintu terbuka, memperlihatkan enam pria dengan tubuh jangkung tengah tersenyum lebar.


"Kita bertemu lagi Miss Cammellia."


Mata ku melebar saat melihat sosok menyebalkan yang pernah ku temui di hidup ku.


"Marcus!!"