The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 28



Lagi - lagi sesuatu terjadi di luar dugaan kami, Di saat asyik sarapan pagi di kantin bersama duo tengil kami .Sebuah jeritan melengking merusak suasana dan menyiarkan tanda kematian seseorang.


"Heee, Lama - lama gue bosen." Keluh ku kesal. "Baru tenang sehari aja udah ribut lagi."


"Hush ini bukan waktu nya mengeluh cepat kita harus melihat korban nya!." Seru Aya sambil menyikut tangan ku yang menopang dagu ku.


Suara kekehan kecil terdengar samar - samar dan tentu nya pemilik suara itu merupakan orang yang paling menyebal kan di dunia, Tidak lain dan tidak bukan adalah Devin keparat.


"Benar apa yang di ucapin Aya , Ini bukan saat nya ngeluh Ta!." Cetus Liz membuat ku bete.


"Loe itu dukung siapa sih gue atau Aya si mata duitan Liz?." Tanya ku jengkel.


"Gue sih netral aja." Seringai nya membuat ku semakin dongkol.


"Udah selesai debat nya?, Kalo udah kita harus segera menuju tkp." Ketus Devin dengan suara sedingin es di kutub.


Dia benar - benar pantas di curigai , Ekspresi nya gampang berubah dan hanya dalam sekejap dia menjadi dingin setelah memasang muka riang nya.


"Nah gue duluan deh kalian bertiga lamain." Celetuk Devan sambil berjalan pergi meninggal kan kami berempat sebelum kembaran nya menyusul dengan langkah santai.


"Ayo kita susul mereka." Gumam ku.


"Dari tadi kek." Cibir Aya "Kan jadi gak buang - buang waktu lagi."


Kami bertiga berjalan cepat menuju sumber suara teriakan itu, Ini agak aneh Devin dan Devan ada bersama kami tapi kenapa ada kejadian lagi? Atau kah mereka menyuruh orang lain?, Atau kah sebenar nya mereka buka pelaku yang asli?.


Benar juga sih jika di teliti dari segala sudut mereka, Tidak memperlihat kan hal yang mencurigakan kecuali mereka selalu mengawasi kami.


Nafas ku tercekat saat melihat kondisi korban yang mengenas kan, Seperti yang kalian duga korban kali ini sudah mati dan membiru bahkan tercium bau busuk yang menyengat .


Tak salah lagi bau busuk itu berasal dari mayat di depan ku, Ciri - ciri korban saat ini adalah berambut gold alias pirang yang jelas itu rambut yang di warnai dan jelas korban nya laki - laki... tunggu korban kali ini .. adalah korban yang waktu itu di bawa kabur oleh dua pelaku dengan kostum aneh.


"I-ini benar - benar kejam ! , Kaki anak malang ini terpotong bahkan kedua tangan nya pun terpotong .."Gumam Aya seraya beringsut pergi bersembunyi ke belakang ku.


"Sta .. liat itu.."


Liz menunjuk kemeja putih yang di kenakan mayat di depan ku, Yang lebih aneh nya baju itu terlihat masih baru dan berlumuran darah yang bertulis .


'Your Next...'


Mendadak sebuah angin membelai tengkuk ku membuat ku bergidik ngeri, Telapak tangan ku terasa dingin dan basah karena keringat.


"Kejadian seperti ini pun kalian berdua tidak memanggil saya?." Tanya seseorang .


Mendengar suara familiar itu aku menoleh kebelakang , Terlihat seorang polisi jangkung dengan tubuh tegap dan berwibawa .wajah nya pun cukup tampan tidak salah lagi dia adalah inspektur Yusman bersama anak buah nya yang menghalau semua murid untuk bubar dan menenang kan beberapa murid yang histeris.


"Bapak Inspektur Yusman!." Pekik Liz seraya mendekati polisi ganteng itu."Halo pak."


"Halo juga Liz, Jadi perkembangan kalian seperti ini?." Indpektur itu menatap ku sambil melambaikan tangan.


"Ya seperti yang sudah pernah Liz jelas kan, Pak." Ucap ku.


"Lalu siapa yang menemukan mayat korban? dia juga seorang saksi...eh?!." Wajah nya terlihat terkejut saat melihat kondisi korban yang sudah terlihat tak mengenakan.


"Umm dia korban yang gagal kami selamat kan." Kata Liz pelan.


"Saya tahu, Seperti nya korban meninggal beberapa hari yang lalu." Lalu Inspektur Yusman menatap kami dengan cemas." Sekarang kalian harus hati - hati sudah jelas tulisan di baju korban tertuju pada kalian berdua."


"Maaf pak tapi kami bertiga bukan berdua lagi." Kata ku datar.


"Oh ya?, Siapa yang ketiga nya?." Polisi itu mengernyit kan dahi nya lalu tersenyum cerah saat melihat Aya yang berdiri tak jauh dari ku ."Dia ya?."


''Halo pak Inspektur, Nama saya Aria Lexie xu."Ucap Aya dengan nada murung.


"Halo Aria , Saya Inspektur Yusman." Inspektur Yusman mengulur kan tangan nya kedepan Aya.


"Iya pak salam kenal, Panggil saya Aya saja."Angguk Aya seraya menjabat tangan Inspektur Yusman.


"Baiklah."


"Nah kalian bertiga lebih baik lanjut kan kegiatan kalian, Sisa nya biar kami para polisi yang menyelidiki kasus hari ini." Kata Inspektur Yusman dengan nada mengatur.


"Kok bapak campak kan kami sih?." Cibir ku kesal.


"Lagi pula ada yang perlu kami jelas kan."Protes Liz.


"Tidak ada yang perlu kalian jelas kan mereka sudah menjelas kan nya lebih dulu dari kalian bertiga." Inspektur Yusman mengibaskan tangan nya dengan gaya menyebal kan.


Aku dan Liz menoleh kearah duo tengil yang sedang berbicara dengan beberapa bawahan Inspektur Yusman dengan kesal.


"Cih kalo udah tau bakalan begini lebih baik gue gak kesini , Yuk Liz , Ay kita tinggalin si Inspektur Yusman ini." Gerutu ku seraya menyeret mereka berdua ke kantin lagi.


"Heh? bukan nya jam pelajaran kimia bentar lagi di mulai?," Aya menatap ku dengan bingung.


"Bentar lagi juga sekolah di bubarin." Balas Liz.


Bertepatan dengan ucapan Liz seorang guru mengumumkan bahwa sekolah di bubar kan, Dan tidak ada seorang siswa pun yangbdi izin kan masih tinggal di halaman sekolah.


"Sesuai dugaan , Liz." Aku menjentik kan jari.


"Iya lah, Loe kira gue mau ngurusin mayat orang di sekolah? reputasi sekolah kita jadi buruk tau di mata semua orang." Seru ku.


"Kesampingkan dulu ucapan loe itu," Sela Aya "Ah gue kebelet Liz anter gue yuk ke toilet."


"Oke."Sahut Liz.


"Eh kalo kalian ke toilet gue sendirian dong?."Aku menatap bete kedua anak itu.


"Lah kan kata loe sendiri kita gak boleh kepisah kalo kemana - mana, Sementara loe sendiri udah sekuat drakula jadi gak butuh temen."Balas Aya tak mau kalah.


"Ck, Ya udah sono - sono hush." Gerutu ku kesal dengan gaya mengusir.


Setelah kepergian kedua teman ku itu, Fikiran ku kembali melayang saat mengingat sosok berambut merah di balik jubah hitam itu...Sebenar nya dia itu siapa? kenapa aku merasakan sesuatu yang akrab menggelitiki ku?.


Serta rasa benci yang membludak ketika melihat kilatan rambut merah nya, Seolah - olah aku menyimpan semua kebencian ku selama bertahun - tahun .


"Lagi mikirin siapa?." Ucap seseorang.


Aku mendongak menatap sepasang mata berwarna hitam legam yang tengah menatap ku dengan tajam, "Bukan urusan loe ,Vin."


"Oh ya, Sebenar nya gue penasaran ama loe." Cowok itu menarik kursi di depan nya lalu duduk dengan santai."Asta Devany..."


"Mungkin pertama kali yang muncul di fikiran orang adalah, Keluarga Devany yang terkenal mungkin itu yang mereka fikir kan ketika mendengar nama marga mu.. lalu menepis semua yang mereka fikir kan karena setahu mereka di keluarga Devany tidak ada gadis yang bernama Asta." Senyum licik nya merekah.


Aku menatap nya tanpa ekspresi."Jadi apa yang kau fikir kan tentang diri ku?."


"Apakah kau berfikir seperti semua orang?."Lanjut ku dengan santai.


Orang di depan ku ini... aku harus berhati - hati.


"Tentu saja tidak ." Devin menggeleng ." Mereka bodoh tidak menyadari bahwa loe itu salah satu anggota keluarga konglomerat terkaya di indonesia bahkan yang bikin gue gak habis fikir, Kenapa keluarga loe nyembunyiin loe dari Publik?."


Aku terkekeh ."Jelas karena gue gak memiliki sikap seorang nona Devany, Yang lembut, Sopan , Elegan, Cerdas dan penuh siasat."


"Kayak nya yang terakhir itu termasuk bagian loe." Cowok itu menopang dagu nya dan tersenyum kecil "Gue yakin alasan nya bukan itu kan?."


"Iya dong, Ini rahasia keluarga orang luar gak berhak tau."Seringai ku.


"Oh jadi loe cewek yang memiliki heterocromi iridium?."


Pertanyaan itu membuat ku membeku sejenak.


"Well kayak nya dugaan gue benar ya." Cowok itu membuka sebuah catatan ." Asta Devany, Anak kedua dari tiga bersaudara kembar yang memiliki perbedaan tersendiri dari dua saudara kembar nya sehingga di anggap kembar tidak identik."


"...Dari kecil memiliki sikap sembrono dan suka melakukan kejahilan berlebihan sehingga di anggap psicopat, Bahkan di tuduh sebagai pembunuh dari putri pertama tidak lain kembaran nya. Oh di sini di catat Asta devany di cap sebagai pembuat onar keluarga sehingga di sembunyikan dari publik karena takut mencemari nama baik keluarga Devany..."


Apa - apaan ini?!, Cowok ini tau dari mana ? dia bahkan mengetahui rahasia tentang aku, Mury, Camellia . Bahwa kami bertiga kembar ?pembaca saja tidak tau lalu dari mana dia tau itu?!.


"Asta devany juga di anggap oleh monster keluarga Devany..."


"Arghh...!! , Stop! Oke?!." Jerit ku tak tahan dan kesal.


"Wokehh, Jadi? Cruel Red itu loe ya?."


Aku tersentak kaget mendengar itu."Bukan tuh gue bukan Cruel Red."


"Mau loe bohong pun kebohongan loe gak bisa nutupin kenyataan lhoo, Btw baru tau gue Cruel Red yang terkenal gak punya perasaan dan berdarah dingin yang sempat menggempar kan dunia mata - mata london ternyata hanya seorang anak remaja SMA." Cowok itu menatap ku remeh.


Hanya seorang anak remaja sma kata nya? , Ugh apa dia gak tau udah berapa banyak musuh yang mati di tangan ku?.


Senyum sinis ku mengembang."Jadi siapa sebenar nya loe?."


"Gue? , Cuma calon Busines man aja." Balas nya sambil memiring kan kepala nya dan tersenyum tanpa ekspresi."Dan sedikit mengerti tentang dunia intelejen."


"Ternyata kalian di sini?."


Aku menoleh ke sumber suara.


"Asta , Liz sama Aya mana? kok gak ada mereka sudah pulang duluan ?." Tanya Inspektur Yusman seraya berjalan kearah kami.


"Liz sama Aya lagi ke toilet tuh, Tur." Balas ku bete.


"Lho kamu gak ikut mereka? biasa nya kamu paling sering pergi ketoilet."


Mendadak aku teringat akan sesuatu, Ini sudah setengah jam tapi kedua anak itu belum kembali .


Mendadak hati ku merasa gelisah, Apa terjadi sesuatu pada mereka berdua?.Aku melirik Devin yang sedang berbicara dengan Inspektur Yusman dia terlihat santai da tidak gelisah.


Jangan bilang dia mengalih kan perhatian ku dan membuat duo pelaku menyerang Liz dan Aya?, Gak, gak mungkin . Devin gak mungkin lakuin itu tapi.. dari awal aku curiga pada nya.


Aku segera beranjak berdiri dan berlari berniat menyusul Liz dan Aya ke toilet.


"Eh Asta kamu mau kemana? saya kan baru sampai di sini tapi kamu pergi seenak nya?."Gerutu Inspektur Yusman kesal.


"Ada urusan mendadak Tur dah loe di situ aje ama Si Devin gue pergi dulu ye." Teriak ku tanpa menoleh dan mengabaikan cibiran polisi itu.