
Aku menatap bangunan sekolah yang tinggi menjulang itu dengan ragu - ragu, Kemudian menghela nafas pelan dan menoleh kesamping menatap sobat ku yang sudah siap dengan penyamaran nya sebagai Asta devany biasa bukan si read cruel.
" Loe udah siap Liz ? " Tanya Asta dari balik tudung hoodie nya yang kedodoran dan pantas untuk di kenakan oleh laki - laki .
" Ya gue siap " Jawab ku mantap.
" Kalau begitu yuk , Kita masuk ke dalam " Ajak Asta sambil melewati gerbang sekolah yang terbuka terlihat dari sini lapangan parkir yang di penuhi motor dan mobil mewah mentereng membuat ku terkejut.
" Kayak nya ini bukan pertemuan biasa " Tukas ku sambil menyeret Asta ke gedung ekstrakurikuler.
" Ya kayak nya bukan dan yang di undang itu anak - anak tajir " Balas Asta setuju .
Sebuah tangan mulus menghadang di depan ku.
" Stop " .
Aku menatap cewek berpakaian minim dan glamor seperti sedang hadir di pesta kedutaan besar , Rambut hitam nya terdapat keriting gantung yang imut menurut ku.
" Kalian siapa ? , Kok gue baru liat kalian ? " Tanya nya heran.
" Kami ? bukan siapa - siapa dan jangan halangi jalan kami " Tegur Asta dengan suara rendah " Kami sedang buru - buru ".
" Gue gak bermaksud buat ngehalangi jalan kalian cuman yahh , Gue mau tanya aja ruang auditorium ada di mana ? " Tanya nya lalu menyodor kan tangan nya ke depan Asta " Oh , Yaaa nama gue mega arcissna ".
Asta hanya menatap nanar tangan mega tanpa berniat menyambut uluran tangan mega sedikit pun , Arcissna konglomerat ternama no 6 setelah keluarga Victorian .
Sementara keluarga ku sendiri berada di urutan ke 2 setelah keluarga Rahrdja yang menempati urutan pertama , Selain itu ada keluarga yang lebih kaya dari Konglomerat no 1 itu dan keluarga ini sangat misterius tidak lain dan tidak bukan adalah Keluarga Devany... yup itu adalah keluarga Asta.
Media massa sangat jarang mempunyai kabar berarti tentang keluarga Devany bahkan secuil informasi pun tidak , Kecuali jika keluarga devany sendiri yang menampak kan diri di publik hiss aku saja sangat terkejut saat mengetahui latar belakang Asta setelah 3 tahun bersahabat dengan nya kemudian Asta memberitahu ku ketika aku pergi mengunjungi nya di london.
Balik ke awal , Mega tampak kesal saat melihat Asta tak kunjung menjabat tangan nya lalu menarik kembali tangan nya.
" Kenapa loe mau ke ruang auditorium ? , Bukan nya tempat kumpul nya ada di ruang osis ? " Tanya Asta acuh tak acuh.
" Kata nya sih tempat acara nya di pindah mendadak gitu " .
Aku dan Asta saling bertatapan dengan bingung lalu teringat akan sesuatu .
" Kalau gitu bareng aja ke auditorium kebetulan kami mau kesana " Ucap ku.
" Wah thanks ya , Btw nama loe siapa ? " Tanya Mega penasaran.
" Panggil gue Liz dan panggil temen gue ini Asta " Sahut ku dengan senyum lebar .
" Ohh okay " Angguk Mega .
Kami bertiga berjalan menuju ruang auditorium dalam keadaan diam , Beberapa kami bertemu dengan peserta lain nya yang saling berbincang - bincang dan memakai pakaian modis yang menurut ku berlebihan banget lebih sial nya lagi pakaian mereka cukup minim. Sebener nya ini preman atau tempat judi hwaaa aku harus protes ke Devan!.
Tak memakan banyak waktu akhir nya kami sampai di depan pintu ruangan auditorium , Di saat kami memasuki ruangan tersebut , Semua mata tertuju ke arah kami dan lebih mengesal kam banyak pandangan yang meremeh kan .
Mungkin karena pakaian kami berdua (Ralat : Aku dan Asta ) Tak seglamor mereka dan menyangka kami dari keluarga tak berada ishhh ini pasti kerjaan dua tengil itu tanpa memberitahu kami .
Ck, Lagi pula jika pun Aku dan Asta tau kami berdua pun tidak mungkin memakai pakaian glamor dan minim seperti kurang di didik oleh ortu.
" Ah!, Lihat itu ..Mega Arcissna sedang bersama mereka berdua? gak salah liat kan gue ?"
"Sebener nya siapa sih mereka berdua ?".
Aku hanya diam mendengar kan desas - desus orang - orang asing itu dan hanya berjalan di belakang Asta yang menunduk kan kepala nya membuat nya tampak terlihat menyeram kan.
"Umm Liz , Asta gue mau gabung dulu ya ke temen - temen gue , Kalian mau ikut gak ? " Tawar mega dengan gugup.
" Ngg.." Belum sempat menjawan pertanyaan Mega Asta sudah mendahului ku.
" No but thanks , Kapan - kapan aja malam ini kami sibuk " Sela Asta cepat .
" E-h Okay nice to mee you Asta , Liz" Ucap Mega sambil berjalan menjauh.
Entah kenapa aku ketakutan setengah mati saat mendapat kan tatapan tajam dari semua orang , Lalu dengan erat aku menggenggam tangan Asta .
"Tenang ada gue " Asta menepuk bahu ku pelan dan membimbing ku keluar dari kerumunan dan menyeberangi ruangan itu menuju meja yang berada di paling belakang dan terlalu memojok.
Aku terus mengikuti langkah Asta dan merasa berjalan di balik punggung nya adalah hal yang paling membuat ku nyaman karena ... tatapan mengerikan itu terhadang oleh tubuh Asta, Semua mata menatap ke arah kami dengan pandangan di penuhi rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang tinggi.
" Acara nya sungguh di luar dugaan gue " Kata Asta tanpa ekspresi saat menatap Devin yang berada di depan nya.
" Apa kalian sengaja gak kasih tau soal acara nya secara rinci ? " Cicit ku pelan saat melihat percikan permusuhan antara Asta dan Devin.
" Hmm ya, Lagi pula itu bukan salah kami " Tukas Devin tanpa rasa malu " Itu salah kalian yang tidak menanyakan nya ".
" Itu gak penting " Balas ku kesal " Jadi apa alasan kalian mindahin tempat acara nya kesini ? ".
Ku lihat Devan mengangkat sebelah alis nya, Tangan nya menggoyang kan gelas yang berisi minuman berwarna merah terang singkat nya gaya nya benar - benar menyebalkan.
" Gue fikir kalian udah tau alasan nya karena apa " Sahut nya seraya menaruh gelas nya di atas meja bundar.
Aku terdiam , Tindakan Bocah itu memang benar setidak nya bukti - bukti kuat di ruang osis tidak terhapus karena di rusak banyak orang. Lalu... hari ini yang paling membuat ku heran adalah Tidak ada satu korban yang berjatuhan lagi ini... aneh.
Meski begitu aku harus waspada , Aku yakin Asta menyadari ke ganjilan ini.
" Kenapa loe adain acara nya di sekolah ?, Loe tau sendiri sekolah kita lagi ada masalah apa, Loe gak khawatirin keselamatan tamu yang loe undang ?! "Geram Asta mendadak dengan suara sedingin es.
Aku tersentak kaget perkataan Asta benar harus nya acara ini tidak di selenggarakan di sekolah , Apa lagi sekolah ini sedang ada kasus pembunuhan berantai.. dan bisa jadi semua orang di sini akan jadi korban atau mungkin salah satu dari mereka.
" Tenang aja penjagaan kami ketat kok " Kata Devan yang sedari tadi diam.
" Sejak awal ini bukan pertemuan preman kan ? "Cetus Asta mendadak membuat ku menatap nya dengan bingung .
Devan dan Devin saling menatap lalu tersenyum samar " Yaa dari awal ini bukan pertemuan tapi menjalin hubungan baik dengan berbagai penerus dari perusahaan terkenal, Dengan ini hubungan bisnis akan terjalin dengan baik ".
Pantas saja semua tamu di sini orang - orang terkemuka dan memiliki kerjaan bisnis terbesar di indonesia .
"Lalu apa yang membuat kalian untuk mengundang kami kesini ? "Tanya Asta betè.