The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 32



Asta Devany prov.


Aku memandangi lubang tanah di samping tembok dengan nanar."Serius ini yang loe bilang sebagai pintu belakang?."


Devin mengangguk tanpa memedulikan ekspresi nanar ku, sungguh ini seperti deja'vu harus memasuki lubang di misi terakhir ku tepat nya ujian semester akhir di academy mata - mata.


"Kayak mau masuk kelubang tikus aja." Cibir Devan kesal.


"Serius loe nih lubang bisa bawa kita masuk kedalam?." tanya ku tak yakin.


"Banyak omong loe ta buru masuk." ketus Devin kesal sambil mendorong ku masuk kedalam lubang yang besar nya seukuran tubuh ku.


"Damn it..!" umpat ku kesal saat terjun kedalam lubang itu.


Bruk...!!.


Argh kenapa aku harus mendarat dengan gaya tidak elegan?.


"Asta menyingkir kan dari situ." desis Devin dari atas.


Aku bergeser sejauh mungkin, benar saja cowok itu mendarat tak jauh dari ku .


"Jalan ke depan." Devin kembali mendorong ku ke lorong gelap di depan ku.


Tanpa banyak bicara aku berjalan, sesekali Devan menggerutu saat dia kerap kali di tinggal kan oleh kami berdua.


"Gak nyangka loe bakalan gak protes sedikit pun." kata Devin dengan nada seolah - olah dia adalah direktur yang memerintah bawahan rendah nya untuk pergi ke garis depan peperangan.


"Cih, tentu aja gue gak protes karena loe cowo penakut yang bersembunyi di belakang cewek." Cetus ku dengan senyum puas.


Bukk..


"Argh." erang ku saat sebuah tangan besar memukul bahu ku.


"Hey mana mungkin gue termasuk cowok yang kayak gitu?."


"Bukti nya loe berdiri di belakang gue." gerutu ku kesal.


"Yee ini murni keinginan gue sendiri tau? Ta jangan ngalihin pandangan loe ke gue awas di depan loe ada.."


Dugh..!!


"Arghh telat loe kasih tau nya." dengus ku bete saat menabrak dinding di depan ku.


"Ck, udah naik ke tangga sono buruan." kata Devan gemas.


Aku memandangi tangga berkarat yang menuju ke atas, lalu segera menaiki tangga itu dan membuka tutup lubang dengan hati - hati takut menimbul kan bunyi mencurigakan dan mengundang musuh kemari.


"Intip dulu takut nya ada orang di atas sono." Devan mengingat kan hal yang pasti nya sudah ku ingat dari awal.


"Aman." ucap ku saat mengintip di celah - celah penutup lubang dengan sehati - hati mungkin.


"Kalo aman buruan keluar capek gue nunggu nya nih." keluh Devin dengan wajah memuak kan.


Dengan cepat aku keluar dari lubang tersebut di susul oleh Devin dan Devan, aku menghiraukan mereka yang mulai debat dan mengamati ruangan yang kami masuki ini .


Di sini terdapat mesin jahit yang menganggur dan rak rak besar yang berisi peralatan jahit serta barbagai bahan kain yang berjejeran di lemari sayang nya benda - benda itu tertutupi sarang laba - laba.


Langkah ku terhenti di depan tiga pintu berkarat yang terkunci .


"Pilih yang mana?." tanya ku sambil melirik Devin sekilas.


"Kanan."ucap nya lalu dengan cekatan tangan nya menggeser tubuh ku menyingkir sedikir dari depan pintu berwarna coklat.


"Dia milih pintu itu karena gembok nya mudah di buka ketimbang gembok uang laen." papar Devan saat melihat ku hendak membuka mulut.


"Asta loe di belakang gue ya,dan loe van di belakang Asta pastikan di belakang aman gak ada musuh."


Kami berdua hanya mengangguk setuju, meski pun aku tidak suka menjadi no 2 bagaimana pun juga cowok di depan ku bermaksud baik jadi aku harus menerima kebaikan nya itu.


"Kita berpisah di sini." Devin memberi isyarat agar Devan pergi ke tangga darurat dekat lift tanpa menarik perhatian penjaga di lantai satu.


"Kayak nya mereka udah nunggu kedatangan kita." gumam ku saat melihat 5 orang yang bermalas - malasan di tempat duduk berukuran panjang.


Beberapa puntung rokok yang setengah habis berserakan di lantai,bahkan di sini tidak ada bungkus makanan yang mereka makan itu menandakan mereka sedang siap siaga.


Aku mengisyarat Devin untuk mendekati mereka tanpa suara,namun cowok sok keren itu menolak entah kemana dia pergi kemudian kembali dengan sebalok kayu.


"Loe diem di sini gue kesana , serahin semua nya aja ke gue ,oke?."


"Itu gak adil gue juga mau mukulin mereka."Desis ku cemberut.


Devin menatap ku dengan sinis."Gue tau loe jago berkelahi lebih baik loe simpan tenaga loe buat di pake ketika keadaan darurat ."


"Cih oke gue tunggu di sini." Ketus ku kesal.


Ku lihat cowok itu berjalan mengendap - endap mendekati kursi yang di duduki oleh para bawahan si pelaku itu, sesuai dugaan kalian Devin bermain dengan cara bokongan alias belakangan kalau tak paham .


Bocah itu menyerang mereka dari belakang mereka tanpa sepengetahuan mereka ,tanpa ragu dia mengayun kan kayu nya ke tiga orang sekaligus hingga pingsan. sementara tiga lain nya segera bangun dan menghadap nya.


Di saat perhatian ku tertumpu pada Devin, sebuah suara familiar yang mampu mengguncang hidup terdengar dari belakang tubuh ku.


"Aku sudah menunggu mu..."


Buluk kuduk ku meremang saat suara itu berbunyi tepat di telinga ku,dengan cepat aku berbalik dan terbelalak saat melihat wajah yang paling ku benci seumur hidup ku


Nafas ku memburu kencang, ba-bagaimana mungkin ada dua wajah yang sama persis seperti hasil copyan?!. tidak aku pasti sedang berhalusinasi.!


Wajah itu memiliki bentuk yang sama dengan ku, warna mata yang berbeda warna dengan warna yang mencolok serta rambut merah terang yang selalu menarik perhatian banyak orang.


Tanpa sadar aku mundur beberapa langkah namun sosok yang menyerupai ku itu menahan lengan ku dengan kuat, dia menyeringai lebar.


"Oh apakah kau mengira kau sedang berhalusinasi sekarang?." tanya nya dengan suara lembut dan manis yang bertentangan dengan suara ku yang serak.


"Ah sayang nya ini bukan halusinasi adik ku, ini nyata dan ini..."


"Nggak! , gak mungkin!." jerit ku tak percaya.


Rasa ngeri merambat di hati ku ketika masa lalu ku kembali terbayang.


"Dan ini fakta..."lanjut nya tanpa mempedulikan ucapan ku.


"Si-siapa loe?, ke..kenapa loe mirip sama gue?!." bentak ku setengah ketakutan tentu saja aku tidak memperlihat kan ekspresi ku sebenar nya.


"Ini aku sta...kau sudah lupa dengan ku sayang?." ucap nya dengan nada menjijik kan.


Aura familiar itu .. menguar dari orang di depan ku, wangi yang sangat ku sukai sekaligus ku benci menguar dari tubuh nya, seringai nakal yang biasa muncul di sudut bibir ku kini bertentangan dengan orang di depan ku.


Dia mengulum senyum licik dan wajah culas di balik wajah cantik nya yang terkesan lugu, jika aku bercermin aku melihat wajah ku yang terlihat beringas. kami berdua seperti dua magnet yang sama namun memiliki kutub berbeda seperti aku dan dia.


"Kau sudah melupakan ku kah?." bisik nya dengan wajah sendu.


Grep..!!


Perempuan itu memeluk ku dengan erat, alih - alih merasa kan perlakuan lembut yang sesuai dengan wajah cantik bak boneka barbie itu melain kan aku mendapat kan aura membunuh sekaligus perlakuan lembut nya yang tidak pada tempat nya.


"Aku ini kakak mu Asta apakah kau benar - benar sudah melupakan ku ,sta?."


Deg...!!


Kakak?!...ba-bagaimana mungkin!, apakah dia salah orang? aku memang mirip sekali dengan nya seperti pinang di belah dua.. tunggu pinang di belah dua?, apakah perempuan di depan ku ini adalah dia?.


Ti-dak!, Camellia sudah mati dia meninggal tepat di depan mata ku sendiri ! bagaimana ketika dia tergelincir jatuh ke bawah sungai ber arus deras dan semua orang di rumah ku menuduh ku.


Apa lagi mata ibu dan kakek ku menatap ku dengan nyalang dan penuh dengan tuduhan membuat ku di dera rasa bersalah saat camellia tidak di temukan , kemudian semua mata menatap tubuh kecil ku saat itu dengan tatapan,"Ka**u lah pembunuh nya!".


Saat itu lah aku menjerit sekeras mungkin karena tak tahan oleh tatapan yang mereka berikan, dan beberapa hari kemudian tubuh kakak ku di temukan oleh pihak ke polisian dalam keadaan kulit yang pucat dan membiru.


Lalu.. mimpi buruk dan trauma mulai menghampiri ku... seringai dan tatapan tajam semua orang serta tatapan menuduh itu bagaikan menghantui ku setiap malam.


Tanpa sadar diri ku menjerit kencang , suara jeritan itu menggema di lantai dasar.


"Aku tau kau pasti tidak percaya ini, tapi ini sungguh nyata adik ku , aku masih hidup dan lihat lah penampilan ku sekarang mirip sekali dengan mu." bisik wanita itu tanpa melepas kan pelukan nya.


"Ba-bagaimana mungkin kau masih hidup?, jelas - jelas kau meninggal waktu itu." tanya ku gemetaran.


Wanita itu melepas kan ku, senyum manis nya kembali menghiasi bibir nya."Kau pernah dengar tentang mati suri?."


Aku mengangguk , tapi bagaimana pun juga aku jarang melihat orang mati bangkit kembali.


"Aku mengalami nya, ketika aku bangun aku sudah berada di peti yah dengan sekuat tenaga aku menjerit kencang untuk minta tolong, untung nya ada seseorang yang menolong ku kemudian.. aku meminta mereka merahasia kan kejadian itu." Jelas nya panjang lebar.


Tapi aku tidak mempercayai ucapan nya itu, sebab mata nya menyorot kan kebohongan di perkataan yang dia ucap kan.


"Aku gak masalah kamu percaya dengan ku atau tidak yang jelas aku punya hadiah untuk mu sebagai hadiah di pertemuan kita kali ini."ucap nya pada ku tanpa ragu sedikit pun dia menarik ku menuju dapur yang terletak di lantai dasar ini.