The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 29



Lizzie Abraham prov.


Aku dan Aya berjalan menuju toilet dengan waspada.


"Ay loe gak lama - lama kan di kamar mandi nya?." Tanya ku .


"Nggak lah mana mungkin gue lama - lama di toilet?, gue kan bukan Asta yang hobi tidur di toilet." Seringai nya.


Aku menyikut pinggang nya , kontan Aya mengaduh kesakitan."Coba loe ngomong kayak gitu di depan Asta berani kagak?."


"Wah itu sih jelas gue nggak bakalan ngomong di depan nya , gue kan cinta damai." Kata nya cepat.


Tak butuh waktu lama kami sampai di toilet ,Aya membuka pintu toilet nya dan menoleh pada ku.


"O'ia gue nitip handphone gue dong ke elo." Ucap nya seraya menyodor kan ponsel milik nya.


Mendadak aku melihat bayangan hitam dengan senyum lebar bak joker di balik pintu toilet.


Tangan nya mengayun kan sesuatu ke arah kepala Aya.


"Aya awas..!." Jerit ku keras.


Namun telat , sebuah batu besar menghantam kepala Aya hingga Aya terhuyung dan jatuh ke arah ku.


"Aya!." Aku langsung menangkap tubuh Aya yang ku duga dia pingsan.


Kepala nya di penuhi darah segar yang mengalir, jantung ku kembali berdegup kencang.Oh god pelaku nya ada di tempat kami! apakah kali ini kami berdua sebagai korban?.


"Liz..."


Aku mendongak menatap sosok yang memakai pulasan make up seperti joker dengan lipstik yang melebihi batas garis bibir bak badud.


Pria itu menyeringai lebar .


"Khukhukhukhu..."


Tawa nya menggelegar di kamar mandi .


"Tenang aja gue udah mengecek kamar mandi ini kok, tempat ini kedap suara jadi gak akan ada orang yang denger jeritan loe tadi ." Lagi - lagi orang yang memiliki senyum lebar itu tersenyum licik .


Membuat ku merinding senyum lebar nya tidak mencapai mata.


Saat itu aku telat menyadari ketika sebuah benda tajam sudah menempel di leher ku, Shit posisi ku sungguh tak menguntung kan.


"Kau hampir telat , apakah kita perlu membuat nya pingsan juga?." Tanya sosok dengan wajah badut yang lebih mirip dengan joker.


Aku sadar orang yang menyandera ku adalah pasangan dari joker di depan ku, ku duga sosok di belakang ku juga memiliki wajah seperti joker.


"Tidak perlu." Cetus orang di belakang ku "Lagi pula dia tidak akan melakukan sesuatu."


Sosok di belakang ku ini ceroboh sekali, dia fikir aku tidak bisa melarikan diri dari nya? tentu saja bisa. sayang jika aya tidak pingsan mungkin semua nya berjalan dengan mudah.


"Biar pun loe bisa kabur dari kami,tapi ada orang yang harus loe temui sekarang juga." Bisik pelaku di belakang ku.


Aku terdiam ,"Siapa?."


"Loe akan tau nanti." Cetus Joker di depan ku sambil menarik Aya dari ku sementara yang menyandera ku mengikat tangan ku d belakang.


"Jalan." Ketus nya sambil mendorong ku.


Dengan emosi tertahan aku berjalan, sebenernya aku juga penasaran dengan orang yang ingin menemui ku. Dengan kasar nya penyandera ku menutupi mata ku dengan kain hitam bahkan memasukkan ku ke dalam mobil di lapangan parkir dengan kasar.


Meski begitu aku yakin Asta pasti mencari ku, dan aku tak perlu repot - repot meninggal kan jejak toh dia bisa melacak ku dengan jam tangan hadiah dari Inspektur Yusman.


Ku rasakan mobil kami berjalan yang pasti nya keluar dari lapangan parkir dan keluar dari gedung sekolah.


"Btw kalian tau orang yang mau nemeuin gue kayak gimana?." Tanya tanpa berharap mereka akan memberitahu ku.


"Oh? tentu aja kami tau , dia wanita yang kecantikan nya gak ada tandingan nya di indonesia." Jawab salah satu dari mereka cepat.


"Bodoh!, Jangan bicara yang aneh - aneh jangan lengah cewek itu pasti mau ngorek info dari kita." Ketus satu nya dengan kesal.


Ah ternyata mereka tidak bodoh - bodoh amat .


"Lah gue kan jawab apa yang gue tau aja." Jawab satu nya tanpa nada bersalah.


Aku tetap diam , Perjalanan kami memakan waktu yang lama apa lagi setelah aku menajam kan indera pendengaran ku karena mata ku tertutup kain hitam aku memanfaat kan telinga ku untuk mendengar kan suara - suara di luar.


Ini ke 4 kali nya, terdengar suara yang sama misal suara tukang becak yang sedang nongkrong di becak nya, suara klakson yang berbunyi berulang - ulang biasa nya terjadi di lampu merah, terdengar suara tungkang klontongan yang berteriak keras. Dan lain - lain .


Suara - suara itu sering ku dengar baik ketika berangkat sekolah mau pun pulang, Inti nya mereka memutari wilayah sekitar sekolah berulang - ulang agar aku menebak tempat nya jauh dari sekolah.


Rencana yang bagus bukan?.


Mendadak mobil yang ku tumpangi itu berhenti , kali ini tidak ada satu suara pun yang ku dengar.


"Keluar."Sebuah tangan menarik keluar dan nyaris aku terjatuh .


"Hati - hati , gue bakalan nuntun loe."


Namun nyata nya kedua pelaku busuk itu tak menuntun ku selain memberitahu apakah aku harus berbelok atau terus berjalan .


"Di depan ada tangga."Desis salah satu dari mereka.


Setiap ayunan langkah kaki ku aku menghitung anak tangga yang ku pinjak, seperti yang kalian duga kami sedang menuju lantai dua .


Meski aku tak mengaharap kan perlakuan mereka pada ku seperti seorang Lady but aku ingin di perlakukan sedikit layak, meski tadi mereka sedikit perhatian kepada ku .


Tapi entah mengapa mereka memperlakukan ku dengan kasar saat memasuki sebuah ruangan dan melepaskan penutup mata ku kemudian mengurung ku di dalam ruangan yang lumayan besar.


"Ay bangun ,Ay." Seru ku cemas.


Namun tidak ada sahutan sama sekali dari Aya, hal itu membuat ku cemas berlebihan kesampingkan dulu sifat cemas ku itu, aku perlu memperhatikan ruangan ini dulu.ku duga tempat ini sudah terbengkalai lama namun bangunan nya terlihat masih kokoh meski cat tembok telah mengelupas.


Jika di renovasi mungkin akan terlihat layak di tempati, satu hal yang membuat ku kesal tidak ada satu barang pun yang bisa ku manfaat kan ruangan ini kosong melompong bahkan jendela pun tidak ada hanya ada ventilasi kecil .


"Ugh..."Sebuah erangan kecil berhasil lolos dari bibir mungil Aya.


Cewek itu kembali mengaduh saat menggerakan kepala nya, mungkin saja rasa pening menyerang kepala nya yang terluka itu.


"Kita ada dimana?." Tanya nya saat kesadaran nya pulih sepenuh nya." Kepala gue sakit amat , kok tangan gue di ikat gini?."


"Gue gak tau kita ada di mana, yang jelas kita gak jauh dari wilayah sekolah." Sahut ku ." Kita di culik Ay dan pelaku nya mukul kepala loe sampe loe pingsan."


Aya terperanjat mendengar itu." Hah serius loe?, pelaku nya yang terlibat kasus pembunuhan kah?."


Aku menggeleng ." Jelas orang yang menculik kita berdua gak ngelakuin hal itu mereka cuman manfaatin momen itu buat nyulik kita doang dan selanjut nya.. gue gak bisa prediksi."


Ya , benar jika di lihat dari tingkah kedua pelaku tadi mereka tidak memiliki sifat sosok misterius yang menyerang ku ,Asta dan Aya. Jika mereka pelaku pembunuhan sudah pasti mereka memperlakukan kami layak nya tawanan berdosa berat yang akan di hadap kan dengan raja neraka.


Meski pun mereka memukul kepala Aya dengan batu , terlihat jelas mereka setengah psycopat namun memiliki hati nurani. Itu sebab nya Aya tidak memiliki luka parah hanya sedikit darah dan mungkin tidak sampe amnesia karena benturan nya tidak membuat tulang nya retak . Oke itu hanya prediksi ku barang kali tulang tengkorak nya retak.


"Analisis yang bagus." Sebuah suara asing menggema di ruangan .


Tidak , suara itu bukan berasal dari salah satu kami berdua .


Sebuah sosok bertudung hitam berdiri di ambang pintu, Tubuh nya terlihat tinggi semampai terlihat dari bentuk tubuh nya yang langsing dan proposional sudah jelas dia adalah perempuan.


Meski pun suara terdengar serak seperti laki - laki, Membuat ku merinding adalah telapak tangan nya yang terlihat sehalus porselen dan berwarna putih bak artis korea itu berlumuran darah segar.


Yang menjadi tanda tanya besar ku, bagaimana bisa dia membuka pintu tanpa menimbul kan suara ? bahkan meski tanpa suara pasti suara langkah kaki orang mendekat pasti terdengar.


Apakah dia seorang mata - mata juga?.


Tak...tak...tak...


Terdengar suara sepatu bot kulit berwarna hitam dengan hak 7 cm milik perempuan itu beradu dengan lantai menimbul kan suara yang memecahkan keheningan.


"Lizzie Abraham ... mantan white hacker andalan academy Intelejen Negara." Desis perempuan itu lalu menyunggingkan senyum sinis di bibir nya yang berwarna semerah darah.


"What the.. hell?!." Cetus Aya kaget.


Dia menoleh kearah ku dengan tatapan tak percaya."Yang dia bilang bohong kan?."


Aku menghiraukan Aya, dan menatap perempuan yang kini berdiri di depan ku dengan tatapan penuh hawa pembunuh.


"Lie? Of course not apakah aku terlihat seperti seorang pembohong?." Ketus perempuan itu tanpa ekspresi.


Nada bicara nya sejak awal terdengar begitu datar, sampai sekarang tidak ada perubahan pada suara nya itu bahkan ekspresi nya juga.


"Siapa loe sebenar nya?." Tanya ku dingin.


"Seseorang yang tidak harus kau ketahui." Lagi - lagi dia menyungging kan senyum yang tidak mencapai mata membuat ku merinding.


Jelas senyum nya itu tidak mengubah ekspresi dingin nya meski pun aku tak melihat seluruh wajah nya, Tapi aku bisa menebak - nebak ekspresi nya.


"Gue tau." sahut ku malas.


Perempuan itu duduk di kursi lipat yang telah di siap kan oleh orang yang tadi telah menyulik kami.


"Jadi serius gak nih loe itu mantan withe hacker." Seru Aya gemas bercampur semangat.


"Huff anggap aja begitu." kata ku kesal pada inti nya aku tak bisa merahasiakan identitas ku sebagai agen.


Aku gagal menjaga indetitas ku apakah aku masih bisa di sebut seorang agent meski pun aku bukan agent resmi?.


Seperti yang di katakan Sa'ad said Ali "Jika berhasil tidak di puji , jika gagal di caci maki, jika hilang tidak akan di cari dan jika mati tidak akan di akui."


Perkataan itu teriang - ngiang di benak ku sunggu berat menjadi seorang agent tapi bagi ku tidak masalah , Jika aku mati tidak di ketahui maka itu takdir ku.


"Wow, itu keren Liz! loe jahat gak pernah kasih tau ke gue!." Kata Aya masam.


"Ay, Identitas ku itu tidak penting lagi pula aku sudah bukan white hacker lagi." Balas ku.


"Untuk ukuran normal atau tidak nya , untuk seorang yang berbicara santai di saat di culik orang kalian terbilang tidak normal." Cetus Wanita di depan ku .


"Terlalu lama menunggu nya." Gumam nya.


Kemudian tangan nya menyibak tuduh jaket nya , terlihat rambut merah panjang tergerai begitu saja . Nafas ku tercekat menatap wajah yang familiar.


Meski pun terkena percikan darah namun tetap saja pesona nya tak terkalah kan, mendadak hati ku merasa nyeri aku merasa di khianati .


Sungguh ini menyakit kan, wanita itu menyeringai lebar menampakkan wajah nya yang licik dan kejam.


.


.


.


.


Hayoo siapa tuh orang yang nyulik Liz dan Aya?, kalian penasaran gak sih? yuk tunggu eps selanjut nya.


Tetap dukung author ya! jangan lupa like dan komentar nya.