
Mury Devany pov.
Aku menatap langit - langit kamar ku dengan tatapan kosong, hari ini adalah hari aku pulang dari rumah sakit.kalian pasti bertanya - tanya bukan kenapa aku masuk rumah sakit?.
Itu karena kakak ku ralat kakak kembar ku menembak ku dengan peluru, ya dia kejam hanya karena diri nya berbeda dengan keturunan Devany yang lain dan tidak di perlakukan sama dia hendak membunuh ku agar aku kehilangan kasih sayang dari semua orang di rumah dan menjadi milik nya.
Aku tidak tahu kenapa dia kejam, aku hanya bersimpati kepada kakak ku itu dia di asing kan dari keluarga dan tumbuh menjadi gadis kasar. aku merasa malu mempunyai saudara seperti nya dia selalu membuat kekacauan bahkan dia membunuh kakak kembar ku yang lain tanpa berkedip sekali pun.
Reputasi nya di sekolah luar negeri nya sangat buruk , diri nya selalu terlibat perkelahian dengan anak penjabat disana dan lebih parah nya lagi memukul guru nya sendiri hingga masuk ruang ICU.
Karena sifat nya yang sembrono , brutal dan kejam keluarga kami memutus kan untuk tidak mempublikasikan nya dan menyembunyikannya dari semua orang jika tidak. Image keluarga devany akan rusak oleh nya dan nama terhormat keluarga kami tercoreng.
Itu tidak baik bukan?, ah karena saking asyik nya berbicara aku sampai lupa memperkenal kan diri ku. Nama ku Murry panjang nya Murry Devany aku anak terakhir dari tiga bersaudara dan cucu no 5 dari semua keturunan Devany yang masih muda.
Cucu dan cicit di keluarga ku memiliki peringkat nya sendiri dan aku termasuk peringkat keatas tentu saja berkat upaya ku dan kerja keras ku aku berada di peringkat atas, sayang sekali saingan ku yang berada di peringkat kedua itu tidak mau mengalah untuk ku dia terus bersikeras agar bisa menggantikan posisi ku dan agar bisa menjadi pewaris pertama di keluarga devany dan menjadi pemimpin perusahaan di masa depan.
"Miss Murry apakah anda sudah bangun?." tanya seseorang di balik pintu kamar ku.
"Ya, saya sudah bangun bi." ucap ku seraya beranjak bangun dari kasur.
Kemudian bibi Amy masuk ke dalam kamar ku sambil membawa seragam sekolah ku, dia adalah pelayan pribadi ku yang baru dan dia bekas pelayan pribadi kakak kembar ku yang menghianatiku itu.
"Bibi letakan aja baju nya di sini, Murry mau mandi dulu." kata ku cepat dan menggunakan nada mengusir.
Tentu saja aku tak menyukai pelayan itu, dari dulu dia sangat mengabdi kan diri nya pada kakak kembar ku yang bernama Asta Devany. aku tahu dia tidak sudi melayani orang lain selain mantan majikan nya itu yang ku dengar dia di usir dari rumah setelah di ketahui perbuatan jahat nya itu, setelah membasuh muka ku dan memakai seragam ku aku pergi kelantai dasar tentu nya ke ruang makan.
"Pagi Pa," sapa ku pada ayah ku .
"Pagi juga Ryry." ucap Ayah ku dengan senyum lembut.
Aku menoleh pada kakek ku yang duduk di kursi kepala keluarga."Pagi, Kek."
Kakek ku itu hanya mengangguk dan tersenyum, lalu keheningan menyelimuti kami.
"Murry, apa tidak masalah jika kamu kembali ke sekolah mu? keadaan mu belum begitu baik sayang, tadi subuh kamu baru pulang kerumah dan seharus nya beristirahat." kata ibu ku khawatir.
"Benar, Papa tidak setuju jika kamu berangkat ke sekolah sekarang." angguk Ayah ku yang menyetujui ucapan ibu ku.
"Tapi Pa, Ma Ryry udah lama istirahat di rumah sakit jadi Ryry rasa udah cukup istirahat nya." protes ku tak suka.
"Baik lah, tapi Papa tidak akan membiarkan pergi sendirian.."
"Papa, Ryry nggak mau bawa penjaga atau apa lah." sela ku karena membawa pengawal itu cukup merepotkan.
"Ayah mu tidak menyarankan mu untuk membawa bodyguard untuk mu, tapi Ayah mu akan menyuruh seseorang untuk membantu mu dan menjaga mu di sana." Ujar kakek ku tiba-tiba.
"Maksud kakek?."Aku menatap kakek ku tidak paham.
Kemudian seorang gadis aneh dengan wajah tertutupi tudung jaket gombrong berwarna abu (yang mungkin jaket itu ukuran large yang biasa di kenakan seorang cowok) muncul entah dari mana.
"Papa gak salah?, dia sangat aneh Pa sok misterius lagi dari penampilan nya." kata ku mencoba membuat gadis itu tak menjadi penjaga ku.
"Tidak Ry," Ayah ku menggeleng." Papa sudah menyewa nya untuk mu dan keputusan papa tidak bisa di gugat."
Aku menatap Ayah ku bete dan melanjut kan memakan sarapan ku, setelah selesai aku menyambar tas ku dan berjalan keluar dari rumah menuju garasi.
"Loe nggak mungkin kan sekolah di tempat gue sekolah?, di sana biaya nya mahal gue gak yakin loe mampu bayar biaya sekolah loe." kata ku saat Suzy mengikuti ku dari belakang.
Dia tidak menjawab pertanyaan ku , melainkan mengacung kan sebuah kartu berwarna hitam ekslusif kepada ku.
Mata ku melotot saat melihat nya bagaimana tidak untuk terkejut sedang kan itu adalah kartu kredit unlimited bahkan kartu itu hanya dimiliki orang yang benar - benar kaya dan Ayah ku semudah itu memberikan kartu berharga itu pada nya? memang nya apa sih latar belakang anak ini?.
"Oke." kata ku pada akhir nya selama beberapa saat aku larut dalam keterkejutan ku."Loe bisa nyetir kan?."
Dia mengangguk.
"Kalo gitu loe yang nyetir, tapi awas ya jangan sampe bikin mobil gue lecet."Ancam ku.
Sesaat kemudian kami berdua pergi ke sekolah menggunakan mobil kesayangan ku, di dalam mobil kami tidak bicara sedikit pun dan itu tidak membuat ku nyaman. Dan Suzy tidak mengeluarkan suara sedikit pun itu membuat ku kesal.
"Kenapa dari loe gak bicara sih ? loe bisu ya!." ketus ku tak suka.
Kemudian tangan kiri nya merogoh ke saku jaket nya dan memperlihat kan secarik kertas memo pada ku.
"maaf aku tidak bisa berbicara."
Aku menatap nya tanpa ekspresi."Loe bener - bener bisu?."
Cewek itu mengangguk lalu mengurangi kecepatan mobil ku saat kami sampai di depan gerbang sekolah ternama di Indonesia alias sekolah untuk anak - anak yang tajir, kemudian mobil kami berhenti di parkiran dengan mulus.
"Loe gak malu pake jaket sama masker?." Tanya ku pada nya.
Cewek itu hanya menggeleng.
"Ck , oke kita keluar."
Sebelum dia keluar dari mobil aku menahan nya dan berkata." Denger ya kalo mau jalan sama gue loe harus di belakang gue, dan btw loe langsung ke kantor administrasi aja gue mau ke kelas dan gak bisa nganterin loe."
Suzy mengeluarkan kertas memo dan bollpen nya namun karena aku malas menunggu aku segera menahan tangan nya untuk tidak menulis.
"Turuti aja ucapan gue ." Ketus ku lalu keluar dari mobil .
Ku lihat teman - teman ku yang baru datang langsung menghampiri diri ku saat melihat ku, ketika aku menoleh ke belakang Suzy sudah tidak ada di dalam mobil.
Bagus lah kalau dia sudah pergi aku merasa senang jika teman - teman ku tidak melihat gadis bisu itu.
**Jangan lupa tekan tombol like**