The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 48



Murry Devany pov.


Semenjak kejadian kemarin aku mengalami banyak mimpi buruk setiap malam. Suzy atau Asta kini tidak lagi muncul di hadapan ku, bahkan di sekolah dia dinyatakan Alfa saat guru mengabsennya.


Aku menguap sebentar lalu beranjak dari kasur nyaman ku, kepala pelayan datang menghampiri ku dengan beberapa pelayan lain nya.


Setelah menjadi dan berganti baju(tentu saja di bantu oleh para pelayan) aku berjalan turun kelantai dasar.


"Ry...?" Ayah ku mengerti dahi saat melihat kedatangan ku di ruang makan.


Aku menatap nya bingung kemudian duduk di kursi paling pinggir ujung meja.


"Ada apa, Pa...?" Sahut ku bingung.


Semua orang menatap ku dengan ekspresi wajah yang terlihat aneh.


"Apa kamu lupa dengan jadwal hari ini?" Tanya ibu ku membuat ku semakin bingung.


"Tentu saja Murry ingat, hari ini jadwal Murry tidak berbeda dihari biasa nya." Kata ku masam.


"Nathan apa kamu lupa memberitahu Murry?" Kakek ku menatap Ayah ku tajam sementara ayah menatap kakek dengan wajah datar."Tentu saja saya memberitahu kan jadwal nya beberapa hari kemarin."


Hah...? Apa maksudnya...? Beberapa hari yang lalu ayah tidak pernah memberitahu sesuatu sedikitpun.


"Tepat beberapa jam sebelum pesta di mulai, tempat nya di taman belakang rumah." Lanjut Ayah ku.


Wait.. yang benar saja aku bahkan tidak pernah ke taman belakang di hari itu. Aku diam dikamar ku.


"Tapi Papa waktu itu Murry berada di dalam kamar." Sergah ku.


"Apa..? Bukankah Kamu berada di taman belakang?" Ayah ku menatap ku dengan raut wajah bingung."Jelas - jelas Papa berbicara dengan mu kemarin."


"Tapi Murry benar - benar ada di kamar, tanyakan saja pada pelayan Amy dia selalu bersama Murry." Bantah ku tak percaya.


Ayah ku beralih menatap Amy yang sedang menyiapkan makanan, Untuk kami bersama pelayan lain nya. Amy yang mendapatkan tatapan tajam dari Ayah ku itu segera mengangguk kecil.


"Sudah, saya tahu apa yang terjadi." Ucap kakek ku membuat kami semua terdiam.


Benak kami mengatakan satu kata jika dilihat ekspresi horor orang - orang kecuali Kakek yang memasang wajah datar tanpa ekspresi.


Satu kata yang terlintas di benak ku itu 'Asta..' ya kemungkinan besar anak itu menyamar jadi diriku.


"Setelah selesai sarapan, segera ganti seragam sekolah mu dengan seragam olahraga." Perintah kakek ku tegas.


Baru ku sadari semua cucu nya memakai seragam olahraga masing-masing. Meski tidak dalam kategori seragam. Beberapa hanya memakai kaos hitam atau putih beserta celana training.


Dari tatapan tak senang Daren,Lea dan chika.


Kecuali Atha dia terlihat biasa saja saat mengenakan seragam olahraga sekolahnya.


"Baik kakek." Sahut ku.


Seperti nya hari ini kami akan kembali berlatih bersama pelatih pilihan kakek. Ayah ku bilang aku harus siap untuk pemilihan calon kepala keluarga. Sekaligus pewaris utama tapi tidak semudah ku bayangkan.


Kami didik keras sejak dini agar terbiasa dengan semua ini. Dimulai dari menguasai berbagai macam olahraga, hal - hal dasar pengusaha, bahkan belajar tentang akuntansi, kami juga diajari cara berinvestasi. Cara mengelola bisnis dari kecil sampai besar. Serta bernegosiasi.


Hingga dipraktekkan di kehidupan nyata, kami juga diajari untuk bertindak secara cepat dengan kepala dingin saat siatuasi benar - benar kacau dan panas. dan kami harus sempurna dalam bidang apa pun. Sebagai pengusaha kami juga harus tahu prinsip dasar nya dan menguatkan nya sebagai pondasi ibaratkan bangunan kan?


Jika pondasi lemah maka gedung mudah hancur. Prinsip dasar yang diketahui banyak orang seperti, Peka terhadap pasar (marketing sensitivity). Inovatif dan kreatif (innovative and creative). Mengambil resiko dengan penuh perhitungan (calculated risk taker). Pantang menyerah (persistent).


Balik lagi ke topik awal, meski kami didik sebagai pengusaha sukses kami juga harus pandai memahami situasi, memperhatikan sekitar selalu memanfaatkan apa pun yang ada disekitar kami. Tujuan kakek mendidik keras dibidang olahraga agar kami bisa melindungi diri kami disaat terdesak.


Tapi ku pikir tidak demikian dia seperti memiliki tujuan lain... Tujuan yang tak pernah ku ketahui.


Setelah makan selesai aku bergegas mengganti pakaian ku dengan seragam olahraga, dan mengikat rambut ku dengan ikat rambut kemudian. berkumpul bersama saudara - saudaraku di lapangan olahraga di bagian barat meski membutuhkan 20 menit untuk sampai disana.


"Lo cocok juga pake pakaian itu." Chika mengomentari penampilan ku yang ala kadar.


"Tentu aja." Aku tersenyum manis lalu senyum ku lenyap saat mendapat tatapan tajam dari Atha.


Entah kenapa dia membenci kehadiran ku, atau karena Asta yang pergi meninggalkan nya dari rumah disebabkan oleh ku. Mungkin saja dia membenci ku karena hal itu.


Tak lama kemudian sepasang pelatih datang, tidak lain adalah Marcus dan...? Pria berambut coklat terang, bermata hijau.


"Selamat pagi Ladies and gentleman, hari ini kita kedatangan kawan baru." Ucap nya dengan wajah serius.


Sementara pria di samping nya menatap kami dengan wajah berseri-seri."Perkenalkan dia bernama Willy broun dan dia akan menjadi pengganti saya."


"Oh halo anak - anak!" Sapa nya ceria.


Meski terlihat berumur 30 tahun tapi lelaki ini sangat tampan."Ugh rasa nya ini benar - benar hari keberuntungan ku."Bisik Chika pada ku dan Lea.


Kami semua hanya tersenyum menanggapi sapaan nya, sementara Chika denga semangat membalas sapaan pria itu.


"Halo juga sir." Sahut Chika ber seri - seri.


Sementara Lea dan diri ku hanya tersenyum masam melihat nya.


"Karena ada pekerjaan lain yang harus saya kerjakan, saya benar-benar menyesal untuk meninggalkan tempat ini." Lanjut Marcus dengan wajah sedih.


"Tidak apa - apa Marcus." Kata ku pelan.


"Kami akan berusaha lebih keras dan tidak akan mengecewakan Marcus." Daren menatap Marcus serius seperti nya dia tidak suka dengan Mr.Willy broun.


Mr. Willy menepuk tangan nya 2 kali membuat perhatian kami tersita pada nya.


"Baiklah anak - anak kita akan mulai latihan nya, lebih baik jika kita memulai dengan pemanasan terlebih dahulu."


Merasa di acuh kan dengan kesal Marcus pergi meninggalkan kami. Seperti nya menganggap kami seperti orang yang hobi menerapkan kata 'habis manis sepah di buang.'


Seperti yang di katakan Mr.Willy kami pemanasan terlebih dahulu, seolah-olah tidak cukup dengan itu dia menyuruh kami berlari mengelilingi lapangan sebanyak 17 kali. Dan kami dilarang mengeluh.


Sial ini benar-benar tidak ada di daftar bayangan ku, Marcus saja tidak menyuruh kami berlari sebanyak ini..! Di balik wajah tampan nya Mr.Willy sangat kejam ...!


Seperti nya Lea dan Chika membenci hal itu, Bahkan Daren yang terang - terangan berhenti berlari kemudian beristirahat mendadak di tendang bokong nya oleh Mr Willy.


"Bangun ini bukan waktu nya istirahat." Lelaki itu menatap tajam dan sinis kearah Daren.


Membuat ku menciut, Tatapan penuh hawa pembunuh itu mengingat kan ku akan mimpi burukku.


"Memang nya Loe siapa berani melarang gue?" Bentak Daren kesal.


"Saya ini Guru kamu! Kalau kamu terus bermain-main seperti ini, saya yakin kamu akan mati lebih awal sebelum bertempur dengan saudara mu yang lain." Tatapan nya begitu mengimindasi membuat ku bergidik ngeri dan lanjut berlari Meksi nafas ku mulai habis dan terengah-engah.


"Gila dia keren abis!" Pekik Lea dan Chika mereka berdua benar - benar tidak waras..!


"Daren udah lari lagi tuh." Bisik Chika." Gue puas dia kena semprotan Willy."


"Gue yakin dia dalam hati maki - maki, terus ngadu ke kakek." Tebak Lea membuat ku terkekeh.


"Seperti nya begitu." Angguk ku.


Drap...drap..drap..


Kami bertiga berlari bersama secara kompak, sementara Atha terlihat jauh di depan kami. Dia bahkan tidak terlihat lelah mungkin karena dia cowok yang terbiasa dengan olahraga berat. Lari bukan hal besar bagi nya.


Sementara Daren tertinggal jauh di belakang kami. Ah entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang dingin tengah menatap ku.