
Asta Devany
Aku memasuki kamar ibuku Namun, sayang yang ku dapati hanya lah kamar kosong. Tak ada anak kecil yang mirip dengan ibu ku atau bocah yang ku cari.
"Asta, aku menemukan nya dia berada di kamar mu seperti nya ibu mu memindahkan dia kesini." Ucap Om Willy di telinga ku lewat alat komunikasi.
"Ck, buang- buang waktu gue."Aku menghentak kan kaki ku dengan kesal.
Ahh kenapa ibu ku itu memindahkan nya ke kamarku? belum lagi kenapa kamar ku berubah jadi warna biru cerah?!
Semua ini membuat ku nyaris gila."Ya udahlah, toh yang penting bocah itu ada di genggaman kami."
Aku pergi meninggalkan kamar ibu ku menuju lantai dua, jujur saja aku sangat ingin mempunyai kamar di lantai tiga sangat di sayangkan tempat itu khusus pakaian.
Yah ibaratnya lemari besar, saat sampai di sana. Terdapat beberapa pelayan yang terikat dan mulut di sumpal siapa lagi yang melakukan nya jika bukan Om tua itu?
Mata ku bertabrakan dengan anak kecil yang ketakutan, dia duduk di tepi ranjang bersama Om Willy. Aku berjalan mendekati nya dan tersenyum.
"Dia sangat mirip dengan mu."Ucap Om Willy.
Wajah lugu Anak laki-laki itu menatap ku dengan sorot mata ketakutan, tangan ku meraih dagu nya dan mendongakkan wajah nya. Matanya terbelalak melihat darah mengotori tangan ku.
"Ja-,jangan bunuh Val." Cicitnya.
Aku tak mendengar kan nya, anak lelaki itu benar-benar mirip dengan ku. Mungkin lebih cocok jika kami memang kembar.
"Val mohon jangan bunuh Val."
Air mata nya tumpah, sementara tubuhnya terus gemetaran sorot mata nya menatap seolah-olah diri ku ini seorang pembunuh yang haus darah.
"Astaga Asta kau jangan menakutinya." Tegur Om Willy dia menarik Val menjauh dari ku.
Anak itu memeluk Om Willy sepertinya benar-benar ketakutan.
"Asta berhentilah menatap ku dengan tatapan seperti itu."
Aku mendengus kesal ." Om udah deh gak usah bertingkah seolah-olah gue itu orang berdarah dingin."
"Bukankah kamu yang memulai nya." Pria tua itu menatap ku polos membuat ku ingin menendang wajah yang tak terdapat guratan halus sedikitpun.
"Hah, lupakan loe taruh dimana mereka?" Tanya ku seraya mengalihkan pandangan ku kearah sosok perempuan yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Aku menaruh nya di kamar mandi." Jawab Om Willy tanpa menoleh sedikit pun.
Dia terlalu fokus pada anak kecil di samping nya,"Adik mu benar - benar imut, aku menginginkan nya."
"Kalo gitu bawa aja dia ke rumah loe." Ketus ku, tatapan ku terus menelusuri setiap inci luka di tubuh kakak ku.
"Loe cukup menderita juga, kalo gitu gue bakalan bikin loe happy kalo semua ini selesai." Bisik ku di telinga nya.
Lalu beranjak berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, tempat Om Willy memindahkan mereka. Tangan ku membuka pintu kamar mandi, terlihat empat wajah yang pucat pasi mereka terlihat putus asa dan pasrah.
Hmm aku tak suka korban ku sudah menyerah duluan, baik mungkin saja jika kemunculan ku membuat keempatnya menjadi ricuh dan panik.
"Oh halo bagaimana dengan keadaan kalian semua?" Aku menyeringai lebar saat melihat tatapan ngeri dari salah satu mereka.
"M-miss Asta? apa anda yang melakukan ini semua."
"Emang kenapa kalo gue yang culik kalian?" Tanya ku seraya memiringkan kepala kemudian terkekeh pelan."Apa kalian akan marah dan mengadu pada pria bajing*n itu?"
Yah waktu kecil dia memegang ekonomi ku sebab kedua orang tuaku tidak bisa mengurusku, mereka sibuk dengan bisnis mereka.
"Apa loe pikir Mr. Devany sanggup menghukum gue?"
Ah, mereka benar-benar lucu sampai- sampai tangan ku gemas untuk mencabik dan memotong beberapa bagian tubuh mereka.
"Te-tentu saja!" Jawab seorang wanita dengan nada ketakutan.
Aku menyipit kan mata dan mendekati nya, lalu menatapnya lekat-lekat. Dia terlihat familiar dimata ku, oh aku ingat dia pelayan pribadi adikku dia yang memengaruhi pikiran buruk ke adikku rupanya!
Tangan ku mencengkram dagu nya dengan kuat, lalu menatap nya dingin."Kau pasti pelayan yang di campakkan Murry."
"Karena anda sudah tau seharusnya anda takut dengan saya! saya dekat mr.devany lalu beliau..."
Cengkraman ku semakin erat membuat perempuan ini merasakan kesakitan, aku tak ingat namanya. Bukannya ingatanku buruk hanya saja aku malas menghapal nama-nama orang jahat.
"Loe bodoh atau apa." Tak habis pikir perempuan didepan ku melakukan hal dengan pikiran dangkal nya.
"Apa maksud anda?" Dia mendongak tanpa rasa takut sepertinya dia mengira aku takut.
"Bodoh, loe beneran bodoh emangnya apa yang loe pikirin dengan otak kecil loe itu? berharap bisa nempatin posisi istri kakek ya?."
Aku tertawa keras saat menyadari itu, perempuan ini sungguh menjijikkan dia pasti ingin meraup harta keluarga Devany dan menguasai segalanya dengan identitas istri kakek.
Aku tahu kakek membiarkan dia dekat dengannya hanya ingin memanfaatkan dia saja. Lihat meski di ganti alihkan pekerjaan nya dia tetap bisa bergerak secara leluasa di rumah ini tanpa tekanan dari pelayan lain.
"Bilang saja anda iri dengan saya kan? Anda takut saya melakukan hal buruk saat saya menikah dengan mr.Devany kan?"
"Perempuan gila." Desis ku lalu menjedugkan kepalanya ke dinding belakang nya dengan keras.
Dia berteriak kesakitan."Itu buat loe yang berani cuci otak adik gue!"
Aku menarik rambutnya keras dan membanting kan kepalanya ke lantai di samping ku, dia menjerit-jerit kesakitan. bercak darah mengotori wajahnya saat tulang hidung nya hancur, dan mengeluarkan darah.
"Berhenti anda tidak bisa memperlakukan saya seperti ini!" Jeritnya kesal dia menggerakkan gigi dan menatapku dengan tatapan penuh amarah.
"Kenapa gak bisa? toh gue gak takut sama kakek, bukankah seharusnya dia yang takut ke gue?" Aku tersenyum manis.
Lalu senyum itu menghilang berubah menjadi raut wajah dingin.
Takk...!
Aku memukul bahu nya hingga dia pingsan, kemudian menoleh menatap para pelayan pria yang sedang duduk ketakutan di pojok kamar mandi.
Deg...
Deg...
Deg...
Jantung ku terus berdegup kencang, aku merasakan debaran yang sudah lama tak pernah kurasakan selama ini. Aku cukup bisa menahan diri tapi ... rasanya hari ini tak perlukan.
Lagi-lagi tawa ku meluncur keluar dari mulut, tubuh ku terasa panas aku benar-benar merasa sangat bersemangat. Jari jemari ku mengusap wajah ku lalu menatap mereka dengan senyum lebar.
"Jadi kalian mau mati dengan cara apa?" Tanya ku riang seraya mengerling nakal kearah mereka.