The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 51



Asta Devany


"Berhenti... berhentilah Miss! Aaahhhhh."


Jleb...


Jleb...


Jleb...


Tangan ku terus mengayunkan pisau dengan ganas dan mencabik-cabik perut pelayan di depan ku, jeritan memilukan dari nya tak lagi keluar selain mata yang melotot melihat ku dengan sorot mata penuh kebencian.


Mulut nya mengeluarkan banyak darah, kedua tangannya terpotong oleh katana yang ku genggam. Sementara perutnya terdapat banyak luka tusukan dan cabikkan hingga isi perut nya terburai keluar akibat luka yang terlalu dalam dan lebar.


Dia persis boneka beruang yang ku mutilasi di usiaku menginjak dua belas tahun. Ku tatap kedua tangan ku yang berlumuran darah dengan tatapan kosong. Kehampaan mengisi benak ku, tak ada rasa takut dan menyesal yang mengisi. Tak ada pula rasa senang yang tadi mengarungi hati.


Sudut hati ku dipenuhi kegelapan, kesunyian,dan kehampaan. Tak ada cahaya setitik pun melainkan kegelapan pekat yang menelan semua rasa dan emosi yang ku punya.


Menyisakan keheningan yang dingin dan nyaris membekukan seluruh sudut hati ku. Aku terduduk lesu di samping mayat pelayan tadi dan menyandarkan punggungku ke tembok.


"Hahahaha... Hahahaha...kenapa_"


"Kenapa semua ini berakhir sama." Gumam ku dengan wajah datar.


Ini sama saja dengan masa lalu ku, ketika pertama kali di usia delapan tahun dunia gelap ku jelajahi. Tangan kecil ku membunuh banyak orang tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Mereka pantas mati akibat perbuatannya sendiri, jelas aku tak memiliki belas kasih. Semua rasa simpati ku menghilang saat aku satu hal dari Willy broun.


Saat itu tangan besarnya memegang erat kedua bahu kecil ku, dia berjongkok di depan ku saat pertemuan kami yang pertamakali nya dan bilang.


"Dengar nak, semua hal ini akan sia-sia biarpun kau berhasil membunuh teman-teman ku tapi pada kenyataannya kau yang kalah." Suara beratnya berdengung ditelinga ku.


Lelaki itu dalam keadaan sekarat dia tak sanggup berdiri dengan tegap. Luka di perutnya terlalu parah tapi wajahnya tetap datar.


"Apa? itu tidak mungkin."Ketus ku tanpa sadar.


Aku tak takut dengannya sebab semua senjata yang dia punya tak ada dalam genggamannya. Tapi bisa saja dia menyerang ku dalam keadaan seperti ini, itu pun jika dia ingin melakukannya dan aku kalah telak. Namun, sepertinya dia tak bisa melakukannya.


"Tentu saja mungkin, coba tanyakan pada hati siapa yang berhasil mengalahkan mu." Dia menunjuk dadaku pelan dengan jari telunjuknya.


Aku terdiam membisu, sebenernya apa kesalahan ku? sejauh ini rencana ku sangat sempurna. Tapi yang ku tahu hati ku merasakan ketakutan dan rasa gelisah.


"Saya tau kau sudah mengetahui nya."


Aku mendongak menatap wajah pucat nya yang seputih kertas, dengan tatapan tak mengerti.


"Ra_rasa itu lah yang berhasil mengalahkan mu." Bisik nya kemudian jatuh kehilangan kesadaran nya.


Tangan ku bergetar saat mendengar itu, lalu mencengkram erat baju di bagian dada ku. Lalu detak jantung yang terpacu cepat dan rasa gelisah semakin menusuk membuat ku semakin gemeteran tak hentinya.


Jadi yang dia maksud percuma diriku berhasil mengalahkan mereka Namun,pada akhirnya aku dikalahkan rasa takut ku sendiri. Rasa takut akan diketahui orang-orang tentang apa yang kulakukan malam ini.


Serta rasa kasihan yang terus melanda membuat ku, berpikir apa tindakan ku salah dan membuat mereka menderita? Apa perlu diriku membawa mereka kerumah sakit agar mereka selamat?


Jawaban nya tentu saja tidak Namun, hatiku terus menjerit kan rasa bersalah hingga diriku yang kecil dan bodoh itu. Membawa mereka ke rumah sakit dengan alasan mereka di serang sekelompok pembegalan.


"Pada akhirnya aku dikalahkan oleh rasa takutku." Diri ku duduk termangu diatas lantai depan ruang pintu sambil menunggu para dokter keluar dari ruang operasi.


Posisi duduk ku mengingatkan ku akan posisi ku sekarang, mata ku menatap potongan tubuh pelayan yang berserakan menyisakan satu pelayan wanita dengan tubuh utuh. Dan nyawanya masih melekat di badan.


Dia menatap ku seolah-olah aku ini pembunuh berdarah dingin, bahkan sorot matanya terlihat ketakutan hingga tubuhnya gemetaran hebat.


Mulut nya tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.


"Udah waktunya bukan?" Tanya ku pada nya.


Wanita itu menggeleng cepat, tapi diriku tak peduli dengan nya. Setelah bangkit berdiri aku menghampiri nya dia terlihat ketakutan dan berteriak-teriak seperti orang tak waras.


"Pergi! jangan mendekat!" Jerit nya berulang kali dengan nada histeris.


Sorot matanya menyiratkan rasa takut yang mendalam, aku menatapnya datar entah kenapa wanita didepan ku itu semakin menjadi jeritannya.


Apa aku semenakutkan itu dimatanya? padahal hanya menatap biasa saja.


Kemudian menyeretnya tanpa perasaan, Om Willy menatap ku dengan bingung sepertinya dia tak tahu aku akan berbuat apa.


"Loe bisa kan bawain mereka yang ada di dalam terus nyusul gue keluar?"


"Oh, saya? tentu saja kalau begitu Val tunggu disini jangan kemana-mana."


"Kalau tidak kakak itu akan membuatmu seperti wanita itu," Om Willy menunjuk diriku dan pelayan yang ku bawa.


Sementara Val menatap ku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan, dia menjerit saat tatapannya bertubrukan dengan ku. Lalu bersembunyi kebelakang Om Willy.


"Sudah saya bilang jangan takuti dia!"


"Nyenyenye..." Cibirku kesal jelas-jelas anak itu saja yang bersikap berlebihan.


Aku hanya menatap dia tanpa ekspresi seharusnya dia tak ketakutan seperti itu.


"Cepetan gue gak mau buang-buang waktu." Kata ku dengan nada perintah.


Om Willy pergi sambil mengumpat keras. Adik ku tengah duduk di pinggir ranjang dia bahkan tak berani menatap ku.


"Loe sini ikut gue ngapain duduk disitu!" Ketus ku.


Tanpa berkata apa pun dia langsung berjalan ku arah ku, untuk pertama kalinya aku menggenggam tangan kecilnya dengan tanganku yang tak memegangi tangan si pelayan.


Tangan kecil itu terlihat dapur dan gemetaran tak henti-hentinya. Bahkan bisa saja tangan mungil itu hancur di genggamanku.


"Jangan takut gue bukan monster." Kata ku mencoba menenangkan.


Tapi hasilnya tak sesuai ekspektasi ku dia malah semakin menciut ketika mendengar nya.


Haish, sudahlah toh percuma memperbaiki citra ku di matanya.


Tanganku merangkulnya saat sampai diluar kamar menatap lantai bawah dengan perasaan tak menentu. Apa pilihan ku benar? ku harap begitu bukankah aku sudah memutuskan semua ini? dari ekor mata ku. Ku lihat Om Willy sudah membawa mereka dan meletakkan nya di belakang ku.


Pelayan yang ku seret hampir menjerit untung saja dia mau menahannya, jika tidak mungkin pita suaranya sudah ku rusak.


Dengan cekatan om Willy menarik Val dalam dekapan nya, kemudian menutupi kedua mata Val dengan telapak tangannya. Gerakannya cukup gesit dia tidak membiarkan Val melihat kearah mereka sedikit pun.


"Lakukan sekarang," Perintah Om Willy tanpa ekspresi.


Suara beratnya terdengar begitu dingin, entah hal apa yang membuat pria yang biasanya bersikap lembut dan sok ceria itu menjadi dingin.


Aku tak menjawab nya melainkan mengambil salah satu tubuh korban sedikit utuh hanya kakinya yang terpotong oleh ku dan melemparkannya kelantai bawah.


"Itu hadiah yang tepat buatnya kan?" Aku tersenyum tipis dan menatap puas dengan apa yang ku lakukan.


Tepat potongan tubuh itu terjatuh dan menimpa salah satu dari mereka generasi muda yang menurutku, tak lebih dari sekelompok pecundang.


Daren lelaki gemuk itu menjerit histeris ketika mayat pelayan menimpanya, jeritan nya Benar-benar memalukan. Ujung bibirku terangkat saat dugaan ku tak salah.


Suasana menjadi kacau, karena itu tak boleh di hentikan bukan? aku meminta pelayan bodoh di samping ku untuk membantuku melempari potongan tubuh para pelayan yang ku mutilasi.


Membuangnya dengan senang hati, mereka pasti senang bisa bermain terjun bebas dengan ku. Lalu roh mereka juga pasti akan berterima kasih kepada ku karena melepaskan mereka dari kontrak kakek yang memberatkan pundak mereka.


Aku sangat baik hati bukan? Ohoho jangan ditanya lagi aku tahu kalian pasti sekarang sedang memujiku. Apa kalian suka bermain? bagaimana jika aku memiliki waktu luang dan bermain dengan kalian? Yah jujur saja aku sulit untuk meluangkan waktu bermain dengan kalian.


Lupakan hal itu, sampai ku mati pun kalian tak bisa bertemu dengan ku. Semua rencana ku berjalan sempurna. Vallac tetap berada digenggaman ku. Kakek marah besar ketika tahu diriku lah dalang semua kejadian hari ini.


Mantan pelayan Murry adikku juga mati, ketika diriku menjatuhkannya memaksa nya untuk bermain terjun bebas.


Camellia juga pergi bersama ku dan Om Willy yang membawanya, haish benar-benar melelahkan. Aku bahkan tega membiarkan ibuku menangis histeris ketika Val tak berada disampingnya.


Apa... dia begitu menyayangi anak kecil yang kini memegangi pinggang ku erat saat motor yang ku tunggangi melaju cepat. Seperti nya begitu bahkan dihari ketika aku dicampakkan ke London dia tak terlihat sedih ataupun menangis.


Dia bahkan tak tahu kehidupan keras yang ku jalani selama dia tak disisi ku. Aku... seperti dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Sudahlah tak masalah aku juga tak butuh kasih sayang darinya lagi.


Sejak awal aku memang tak diinginkan nya bukan? adanya Camellia,Liz, Om Willy, Om-om yang dulu suka menolong dan menjaga ku selama aku masih berada di MI6. Lalu...Devan dan Devin, Aya, Atha mereka semua sudah cukup untuk ku.


Satu hal yang ku sesali, selalu berharap Ayah ku menoleh pada ku pada akhirnya aku dibuang begitu saja. Ini sama saja seperti orang bodoh yang jatuh kelubang yang sama berkali-kali.