The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 34



Asta menatap kami berempat setelah membuka pintu tua yang terlihat rapuh dan bobrok itu.


"Jadi siapa yang mau nemenin gue masuk?."tukas nya dengan wajah datar."kalo mau masuk gak boleh kebanyakan orang cukup dua aja, takut nya ada bukti yang hilang atau jejak yang terhapus gara - gara terlalu banyak orang."


"Gue gak ikut Ta, soal nya mau ngurus mereka." aku menunjuk tiga voldermont palsu yang nampak nya mulai sadar kan diri setelah ku tau mereka pingsan .


"Eh gue ikut ama Liz." kata Aya cepat seolah - olah tidak mau berduaan dengan Asta di bilik misterius.


"Gue juga mau sama Liz." Devan berjalan mendekati Devin dan menepuk pundak saudara nya itu.


"Loe aja bro , lagian loe keliatan gak takut mati kalo deket ama si Asta." Ujar Devan membuat Devin melotot lebar.


"Ck, ya udah deh gue ikut loe Ta." decak Devin dengan wajah masam.


"Kalo gitu tunggu apa lagi?, cepet kita masuk." Ketus Asta dengan nada diktator.


"Serius, Asta biasa nya selalu nyelesain masalah pake kediktatoran nya tapi sekarang tumben amat dia kagak gitu." gumam Devan saat Devin dan Asta lenyap di balik pintu tua yang bobrok.


Aku menatap nya dengan tatapan curiga."Kenapa loe bilang gitu seolah - olah loe kenal banget ama Asta?."


Devan berjengit saat melihat tatapan penuh rasa curiga dari ku."E-eh ya gue cuman asal ngomong aja kok, tadi dia diktator banget ke gue." ucap nya terburu - buru.


Wajah nya terlihat gelisah , sudah jelas anak ini berbohong."Owh , gitu ya .. ya udah deh lupain yang tadi."


"Ya!." kata nya dengan wajah sumringah.


Kami bertiga mendekati ketiga pelaku voldermnot palsu itu.


"Aneh harus nya kan pelaku nya ada 2 kenapa sekarang jadi tiga?." Aya menatap ketiga pelaku itu dengan heran.


Salah satu dari mereka menatap tajam kearah ku dan Aya dari balik topeng kulit yang keriput dan menjijikan itu.


"Apa tujuan kalian bunuhin banyak orang?." tanya ku membuka percakapan.


Ketiga nya hanya menatap ku dengan nanar.


"Apa motif kalian." ketus ku.


Tidak ada sahutan sama sekali dari mereka, seperti nya mereka tetap bersikeras menutup mulut mereka.


"Heh kalian gak denger temen gue tanya ke kelain? atau kalian bisu?."tegur Devan tak senang.


"Mereka gak bakalan mau bicara." ucap seseorang.


Kami bertiga menoleh ke belakang dan mendapati cewek yang menyerupai Asta kini berdiri di ambang pintu.


"Mereka menelan obat yang bisa membuat seseorang menjadi bisu ."kata nya lagi.


"Loe tau dari mana tentang itu?." tanya ku curiga.


Senyum nya mengembang."Tentu saja dari mereka bertiga."


"Rifki!!.." jeritan Aya menggema di seluruh ruangan membuat ku tersentak kaget.


Kemudian berbalik menghadap Aya yang kini tampak tercengang saat melihat seseorang dari salah satu ketiga voldermont, tangan nya bergetar topeng yang dia genggam terjatuh ke lantai.


Tubuh ku hampir kehilangan keseimbangan saat melihat wajah seorang bawahan Asta yang kini menatap ku dengan tatapan yang sulit di arti kan , seolah - olah dia sedang mengatakan kata maaf.


"Ba-bagaimana mungkin?." aku menatap nya tak percaya lalu menarik kerah baju nya dengan kasar."kata kan Ky!, ini bohong kan? semua ini cuman bohong kan!.".


Hati ku merasa nyeri teramat nyeri, mata ku terasa panas saat cowok di depan ku menunduk lemas dan menggelengkan kepala.


Aku memukul dada nya dengan kesal."Kenapa loe lakuin hah? why!, kenapa loe malah ngebunuh banyak orang?."


."Rifky yang gue kenal gak sekejam itu!." jerit ku frustasi."l-loe bikin gue kecewa ky."


Ryfky hanya menunduk dia tak menjawab sama sekali terlihat jelas penyesalan di mata nya yang sendu,lalu sebuah suara serak memecahkan keheningan .


Rifky menatap Asta yang telah keluar dari ruangan misterius itu dengan tatapan penuh penyesalan, kemudian Asta menatap orang yang mirip dengan nya.


"Loe nyiapin ini buat gue?, thanks." kata Asta yang di tanggapi sebuah anggukan kecil dari gadis itu.


Lalu Asta berjalan mendekati ku dan Rifky. sementara Devin, Devan dan Aya hanya diam menyaksikan apa yang terjadi.


"Gue tau loe sama bekingan loe itu gak ngebunuh korban kan? kalian cuman ingin bales dendam ke mereka dan palsuin kematian mereka." Perkataan Asta membuat ku terdiam sesaat.


"Maksud loe apa Ta?." aku menatap Asta dengan bingung.


Sementara Asta malah tersenyum dan menepuk bahu ku."Dia lakuin itu buat balesin dendam ibu nya yang meninggal gara - gara geng cewek sama cowok yang populer di sekolah." senyum Asta terlihat getir." mereka membuat ibu nya Rifky meninggal."


Tenggorokan ku terasa tercekat, jadi semua ini salah faham? lalu kenapa para korban palsu yang mereka tinggal kan di sekolah memiliki wajah yang serupa dengan korban yang asli?.


"Tapi Ta, jelas - jelas korban yang kita temui itu wajah nya mirip sama yang asli nya."protes Aya tidak setuju.


"Mereka itu mayat yang baru meninggal kemudian wajah mereka di operasi,seperti yang di jelas kan di rekaman yang tersimpan di flasdick ini." jelas Asta tanpa merasa terusik dengan ucapan Aya.


"Ya kan ky?, oky." Asta menatap Rifky dengan ekspresi yang sulit di jelas kan.


Cowok yang di panggil nya itu cuman mengangguk kelu.


"Terus siapa dong yang dua lain nya ini?." tanya Devan yang sedari tadi bungkam.


Aku berjongkok di depan Rifky." Ky loe tau?, tindakan loe itu salah, loe bahkan bohongin gue dan loe sembunyiin masalah loe dari gue?.. gue ini apa sih di mata loe? gue itu temen loe , sahabat loe ky tapi kenapa loe gak mau jujur dan bagi beban loe ke gue?."


"Dan gue justru kecewa banget, selama ini loe anggap kami berdua apa sih? temen yang cuman lewat?." Asta menatap Rifky dengan tatapan nanar.


Rifky hanya menggeleng dan mengatakan sesuatu tanpa suara jelas dia kan jadi bisu.


"Loe bilang kami sahabat loe tapi loe mau sembunyiiin masalah loe dari kami hanya karena loe gak mau jadi beban kami? loe ...bodoh ." maki Asta kesal.


"Eh loe bisa baca gerakan bibir ya?."Aya dan Devan menatap Asta dengan mata berbinar - binar.


"Iya lah, gue gitu lho." Asta menyibak poni nya dengan bangga yang tidak pada tempat nya.


"BUKA PINTU NYA!, INI POLISI!!."


Sebuah teriakan dan gedoran pintu depan gedung terdengar keras.


"Siapa yang panggil polisi?." tanya Devin heran.


"Aku."kata Asta gadungan cepat.


"Cih pandahal masih ada hal yang ingin gue kasih tau kalian tapi aparat negara itu udah datang." gerutu Asta bete.


"Btw korban asli nya masih hidup mereka di tawan di ruangan yang tadi kami masuki."sela Devin membuat kami semua terbelalak kaget kecuali Asta gadungan dia terlihat santai dan tenang.


Pada akhir nya tidak ada banyak hal yang kami ketahui di insiden ini Inspektur yusman dan Asta terlihat menyembunyikan semua nya meski Asta membocor kan sebagian nya.


Meski Inspektur Yusman bete katena tidak di beritahu dari awal tentang penangkapan pelaku tapi kebete an nya itu menghilang setelah Asta berkoar - koar bahwa diri nya tidak sempat memberitahu Inspektur yusman kemana dia pergi dan fokus untuk menyelamat kan ku serta menjelas kan apa yang dia temui di tempat ini.


Dan misi pun berhasil di selesai kan meski ini tidak bisa di bilang misi karena tidak mengasyik kan, dan tak se asyik ketika aku dan Asta menyelinap ke markas M16 untuk menyampai kan pesan tanpa harus ketahuan pihak M16 di london.


Lebih menyebal kan lagi Inspektur yusman, tidak memberi kami izin untuk membuka topeng kedua pelaku lain nya dan mengusir kami untuk pulang ke rumah.


_________


Xoxo, Hayoo kalian puas gak sama eps kali ini? jujur author sendiri kurang puas, apa lagi karena gak punya banyak waktu dan harus ngerjain tugas banyak author harus nyicil bikin eps kali ini. rasa nya otak author lagi gak bisa muter cepet mungkin akibat ngerjain tugas 24 jam selama 3 hari xixixi .


Nah jangan lupa tinggalin like dan vote jika mau >○<, o iya menurut kalian tokoh mana yang paling kalian suka? jawab nya di komentar ya xixixi bye~.