
Asta Devany prov.
Aku benar - benar bete berat , Saat si cecunguk bernama Devin menyeret ku keluar dari ruang auditorium dan mengurung ku di ruangan rahasia bawah tanah bersama nya.
"Jadi ? "Aku menatap nya dan duduk di kursi besar milik cowok itu.
" Hmmm gue gak nyangka aja loe bantuin seseorang yang berpihak ke polisi sedang kan loe sendiri bos preman di sekolah lain ".
" Maksud loe apa sih ? "Tanya ku tak mengerti.
"Liz ..Lizzie Abraham "Devin menatap ku dengan dalam - dalam " Dia mata - mata dari polisi dan loe udah tau itu bukan ? ".
Aku menatap nya bete "Loe tau dari mana ? ".
"Gue ? gue tau dari sikap nya yang di deskripsiin sama Devan " Balas nya " Devan selalu mengawasi Liz setiap Liz berada di sekolah ssbelum loe dateng pun bocah itu terus awasin temen loe itu ".
" Mungkin bagi nya Liz ancaman besar bagi organisasi preman di sekolah ini dan yah mungkin aja dia tertarik " Jelas Nya.
Orang di depan ku ini benar - benar mencuriga kan , Aku memincing kan mata kearah nya.
" Bagus jadi selama ini gerak - gerik kami di awasin sama kalian ? "Cibir ku kesal .
"Bisa di bilang gitu "Angguk nya setuju.
Aku menahan diri agar tidak menghela nafas lalu menjambak rambut cowok di depan ku dengan keras.
Alih - alih menjerita cowok itu hanya mengernyit "Heh, Loe gak bermaksud nyabutin semua rambut gue kan ?."
"Mau nya gitu kan loe populer siapa tau semua fans loe ngejerit histeris terus gak mau deket ama loe lagi," Seringai ku.
Tak ku duga cowo itu tertawa keras "Ternyata loe cemburu ya."
Sialan "Bod*h! , Mana mungkin gue cemburu ama loe?!." Aku memukul kepala nya dengan kesal.
"Ugh loe cewe atau cowo sih tenaga loe lebih besar dari kerbau " Cibir nya .
Aku melepas kan nya " Idih ogah gue di sama'in ama kerbau , Gue mirip sama Singa tau?! ".
Cowok itu hanya tertawa geli mendengar ucapan ku lalu tangan nya terangkap ke udara dan menyentil jidat kesayangan ku.
"Ewww , Sakit.." Aku menggosok jidat ku dengan hati - hati.
"Bod*h,"Desis nya " Ah gue balikin kata kata loe tadi.''
Mata ku menatap nya dengan datar " Baka!."
"Eh loe wibu ya ?."
"What?!, Nggak lah! masa cuman karena gue bicara pake bahasa jepang di bilang wibu?!," Aku menyipitkan mata ku "Udah gak usah ngalihin topik lagi! Balik ke topik awal."
"Iya deh , Inti nya loe mau gak kerja sama dengan gue dan Devan?."Tanya nya "Yah asal loe tau kami juga punya beberapa bukti yang kami kumpul kan , Dan kalian berdua pasti belum nemuin bukti kan? Selain bukti - bukti di ruang osis?."
Aku menatap lama mata nya , Tidak ada keraguan dan kebohongan yang terpancar di mata nya kalau pun dia bohong aku pasti mengetahui nya. Tapi... bagaimana pun mereka termasuk ke daftar 'Tertuduh'.
Tunggu, Bukan kah ini kesempatan emas bagi kami bertiga maksud ku Liz ,diri ku dan Aya. Kami jadi tidak perlu repot - repot untuk mengintai mereka dari jarak jauh dan mengetahui pergerakan mereka.
"Oke." Ucap ku.
"What?! ,Secepat itu loe terima ?,"Cetus nya tak percaya.
"Memang nya kenapa ? , Toh kami gak di rugi kan selama loe ama kembaran tengil loe punya bukti - bukti yang kami butuh kan " Balas ku santai.
Cowok itu berdeham sebentar " Ya udah deh , Btw lebih baik kita kembali ke auditorium sebelum ada orang yang menyadari kita menghilang dari sana."
"Baiklah."
###.
"Sebener nya apa yang ada di pikiran duo tengil itu."Gumam Aya sambil menempel beberapa cetakan foto yang di berikan Liz di papan besar.
"Mana gue tau?." Aku mengangkat bahu dan menaruh kepala ku di atas meja bundar besar yang sering aku dan liz gunakan untuk belajar dan sebagai nya.
Yeahh aku memutus kan untuk tinggal di markas kecil ku itu akan menjauh kan ku dari pengawasan si tua bangka itu.
Terlihat percikan api menyala di ruangan belajar kami di lantai 3 bagian paling dasar di atap rumah dan suara dengungan mesin amplas yang menggema di udara.
"Hoy Liz loe lagi ngapain sih dari tadi sibuk sama perkakas terus alat laboratorium." Aya menatap Liz dengan bingung, Namun Liz menghirau kan nya.
"Biarkan aja , Si Liz pasti lagi buat sesuatu yang aneh," Cibir ku " Awas loe Liz kalo ledakin atap rumah lagi gue gak akan ngizinin loe masuk kesini".
"Santuy aja kalee , Kali ini gak ada ledakan lagi."Balas Liz tanpa menoleh ke arah ku.
Semoga saja bocah itu tidak meledakan atap rumah lagi terakhir kali atap ini terbakar gara - gara eksperimen gila nya yang gagal , Yah waktu itu dia gagal membuat bom mini yang di bentuk seperti bentuk kancing jika di banting langsung meledak.
Arghh inti nya Liz itu senang melakukan eksperimen meski pun dia jenius , Bahkan membuat mobil rongsokan yang nyaris tidak bisa di gunakan lagi mampu berjalan sampai 4 km dengan sedikit bensin .
"Hahahaha, Kali ini gue bakalan bikin sesuatu yang jauh lebih menarik dan berguna buat kalian berdua." Liz terkekeh keras membuat ku merinding.
"Ta, Dia kerasukan apa sih?," Bisik Aya yang tau - tau sudah ada di samping ku.
"Roh nya ilmuan gila kali ." Balas ku ngasal, Mata ku tidak sengaja menangkap sesuatu di papan besar yang berguna seperti mading di sekolah.
Aku bangkit dan mendekati papan tersebut , Mata ku terpaku pada satu foto polaroid yang Baru di rempel kan.
"Loe menyadari itu ya ?."
Aku berjengit kaget saat Liz berada di samping kiri ku dan Aya di samping kanan ku.
"Bisa gak kalian berdua gak usah nongol tiba - tiba gitu?!." Tegur ku kesal.
"Hehe maap deh." Aya tertawa cengengesan.
"Ada satu hal yang perlu kalian berdua tau."Liz menatap kami lekat - lekat.
"Semua bukti...semua bukti tertuju ke loe Asta".
"Apa..?! , Gak mungkin Liz!." Seru Aya tak percaya.
"Yahh mungkin aja." Kata ku sambil menahan senyum.
"Gue gak percaya beg* ." Ketus Aya sambil mencengkran tangan ku.
"Bod*h , Semua bukti tertuju ke gue." Kata ku sambil mengingat banyak hal yang ku temui .
"Pertama ..." Liz mendorong Aya ke kursi begitu juga diri ku " Di foto yang tadi Asta liat itu barang yang serupa kayak yang Asta pakai."
Jari Liz menunjuk ke arah kalung ku .
"Whattt...?!" Aya melotot tak percaya "Ini palsu kan - ini palsu kan."
Aku menepis tangan Aya dari kalung ku " Tentu saja ini asli."
"Itu asli Ay, Kalu itu terbuat dari emas putih dan permata yang berwarna merah itu terbuat dari berlian asli." Bantah Liz.
"Be-berlian?!."Jerit Aya.
"Kedua ada bukti lain yang menunjuk kearah Asta yaitu... sebuah gantungan ponsel yang udah usang." Liz menunjuk salah satu foto di mading yang bergambar gantungan ponsel berbentuk beruang biru persis yang ku pakai saat ini.
"Itu yang gue temuin di ruang TU pas tadi sebelum pulang." Lanjut Liz " Jelas bukan kalo si pelaku nya mau jadiin Asta sebagai kambing hitam nya dan melimpahkan kesalahan mereka ke Asta?."
"Umm benar juga sih." Angguk Aya.
"Dan gue udah minta pihak rumah sakit buat nyari sidik jari dari barang - barang yang kita temukan.. lebih tepat lagi mereka yang nemiun barang - barang itu."
"Inspektur yusman udah di kasih tau Liz?," Sela ku.
"Udah ko kan tadi gue pulang duluan ya buat ngasih laporan." Kata Liz bete.
"Ah iya gue lupa hehe."
"Guys.. anu.. sebener nya gue dapet surat dari loker gue di situ tertulis dari Blue D." Celetuk Aya mendadak membuat aku dan Liz menatap nya dengan penasaran.
"Bentar gue ambil dulu." Ucap Aya seraya berjalan pergi.
"Lama kelamaan semakin menarik wahhh gak sabar buat nangkep pelaku nya." Liz bersandar pada kursi nya dan berayun pelan ke belakang.
"Gak ada menarik nya sama sekali yang ada gue jadi korban di sini meski pun mereka gak nangkep gue." Dengus ku .
"Oh iya Ta , Gue denger dari pihak rumah sakit adek loe udah sadar tuh." Kata Liz mendadak membuat ku langsung duduk dengan tegak.
"Serius loe?!." Tanya ku dengan mata bersinar - sinar senang.
"Serius lah." Angguk Liz dengan senyum tipis.
Brakk...
Pintu terhempas lebar menampak kan Aya yang berdiri di ambang pintu dengan sanaf yang memburu.
"Guys! , Ada bule cogan yang nyari kalian berdua !." Teriak Aya kontan membuat ku dan Liz saling menatap dengan bingung.
"Kata nya dia kenalan kalian."Lanjut Aya " Woy brada! gue gak bisa bahasa inggris makannya gue bingung dan suruh masuk dulu orang itu berulang kali ngucapin nama kalian berdua."
Aku dan Liz saling menatap lagi dan melotot , Jangan - jangan orang itu..
"Ehhh shit! ." Pekik Aya saat nyaris terjatuh gara - gara ulang kami yang berlari kencang dan menabrak nya membuat nya hampir terjatuh.
" Eh brandal sialan , Malam ini gue gak mau masakin kalian berdua!." Seru Aya kesal.
Aku berhenti berlari sebentar " Gak masalah toh Liz bisa masak."
Kemudian menyusul Liz ke lantai dasar.
Mata ku menatap sosok familiar , Jantung ku berdegup dengan kencang saat lelaki berambut kelabu menatap ku dengan mata abu nya .
"Mr.Andrew..?." Gumam ku.
Mr. Andrew mengangguk kecil dan tersenyum tipis, Aku berjalan kearah nya dan duduk di sofa yang berseberangan dengan nya.
"Bagaimana kabar anda ?." Tanya ku pelan.
"Seperti yang anda liat Miss saya baik - baik saja." Sahut Mr. Andrew.
"Baiklah, Jadi kenapa anda berada di sini? , Bagaimana anda tau kami berada di sini?." Tanya ku bertubi - tubi.
"Silahkan di minum dulu." Aya menaruh secangkir kopi hangat yang di buat nya di depan Mr.Andrew.
"Terimakasih." Ucap Mr. Andrew lalu meminum sedikit kopi buatan Aya, Mata nya melirik Aya yang duduk di sebelah Liz.
"Seperti nya kalian menemuka partnet baru yang lumayan."Gumam Mr.Andrew.
"Mr. Anda belum menjawab pertanyaan saya."Cetus ku kesal.
"Miss Devany anda belum berubah sama sekali." Mr.Andrew menghela nafas. "Baiklah saya akan menjawab nya."
"Saya di sini karena saya ingin menawar kan sesuatu kepada kalian berdua , Dan kenapa saya tau kalian berada disini? bukan kah kalian sudah mengetahui nya?."Mr.Andrew menatap ku dengan senyum simpul nya.
'karena dia Mata - mata.'
Perkataan itu terngiang di benak ku.
"Jadi Mr. anda ingin menawar kan apa?." Tanya Liz yang sedari tadi diam.
"Departemen Academy ingin merekrut kalian untuk bekerja sebagai pengajar anak - anak baru di bulan ini." Kata nya dengan raut wajah tenang "Karena kekurangan pekerja karena semua orang sibuk dengan banyak pekerjaan jadi kami memutus kan menawarkan itu pada Miss Abraham dan Miss Devany."
"Bagaimana dengan kedua murid jenius yang memenangkan juara ujian waktu itu?."Balas Liz dengan suara dingin.
"Mereka sedang belajar di luar negeri di salah satu cabang academy." Kata Mr.Andrew " Saya tidak memaksa Anda Miss abraham , Miss Devany tapi kami bisa membayar gaji kalian dengan harga setimpal dan menjadikan kalian guru sementara sampai bulan besok."
"Oke saya setuju tapi tidak kami tidak memiliki waktu luang di minggu ini."Jawab ku.
"Asta!." Pekik Liz kesal.
Jelas anak itu tidak mau mengajari calon - calon agent mata - mata tidak resmi.
"Apa?."Aku menatap Liz dengan wajah polos.
Harus nya kan dia tahu aku membutuh kan uang meski pun keluarga ku kaya , Aku tak mau bergantung pada mereka.Terutama Ayah ku .
"Ugh gak jadi." Cetus Liz menahan amarah.
"Tidak masalah , Minggu depan kalian bisa mulai bekerja meksi paruh waktu." Ujar Mr.Andrew.
"Okey." Angguk ku.
Kami menghabis kan waktu setidak nya 20 menit , Dalam keheningan lalu Mr.Andrew memutus kan untuk pergi dari rumah kami.
Dan kami bertiga memutus kan untuk ke dapur dan mempersiap kan makan malam, Yah seharus nya Aya yang mempersiap kan nya tapi berhubung bocah itu ngambek mau tak mau aku dan Liz yang memasak.
"Wahh hari ini tema masak kalian menu eropa ya ?."Tanya Aya saat melihat bahan - bahan yang ku ambil dari dalam kulkas.
"Gitu deh."Sahut ku.
"Nggak hari ini kita masak kari aja." Bantah Liz "Dan loe diem sono duduk sama Aya!."
"Eh ?, Tapi kan gue pengen ikut masak juga." Protes ku.
"Miss Asta jika anda yang memasak saya yakin dapur ini akan hancur." Kata Liz dengan nada yang biasa di gunakan pelayan pribadi ku.
"Cih dasar peniru suara orang." Cibir ku tapi Liz hanya tertawa dan melanjut kan kegiatan memasak nya.