The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 47



Camellia Devany pov.


Aku merasakan sakit di sekujur tubuh ku, tubuh ku seakan di gerogoti semut merah di setiap inci tubuh. Rasa pening menyerang kepala ku membuat ku enggan membuka kedua mata ku yang terasa begitu berat.


Saat sadar yang ku tahu hanya diri ku di gantung dengan kedua tangan di ikat rantai.


Yang membentang di langit - langit dari kedua sisi. Tenggorokan ku seakan kering dan tercekat membuat ku sulit untuk berbicara


Mata ku menatap ruangan yang menjadi tempat diri ku di kurung, jika di lihat tempat gelap ini tidak memiliki jendela bahkan ventilasi. hanya lubang - lubang kecil yang memancarkan cahaya - cahaya mungil berfungsi membuat udara luar masuk kedalam.


Sudah jelas ini adalah ruang bawah tanah. Dengan bau tanah lapuk, sarang laba-laba di sudut ruangan dan, kegelapan yang menyelimuti ku.


Kaki ku hanya memijak udara kosong, sudah kuduga Marcus tidak akan berbaik hati pada ku dan, membuat ku menggelantung dengan tangan yang terasa begitu sakit.


"Miss Camellia anda sudah sadar? Apakah Miss merasakan sakit? Apa anda membutuh kan sesuatu?"


Aku menyipitkan mata saat mendengar suara renta dan mendapati pria tua yang tengah menatap ku dengan iba, pria itu bernama Faisal pelayan pribadi kakek yang dulu pernah melayaniku sekaligus mengawasi ku saat rahasia besar milik kakek tak sengaja ku ketahui.


Dan sial nya diriku malah terlanjur menyayangi nya. Sejak dulu dia lah yang paling baik pada ku, pria tua itu yang dulu sering mengasuh ku dengan kasih sayang nya. Dia benar-benar cocok sebagai kakek ku andai dia benar-benar kakek ku.


"Faisal.." Lirih ku.


Aku menggigit bibir bagian bawah, bahu ku tergoncang. Dan dada ku terasa begitu sesak saat melihat manik mata abu yang berkaca itu. Sudah berapa tahun kami tidak bertemu?


Bahkan kerutan di wajah nya sudah sangat banyak, Tubuh nya semakin renta bahkan untuk jalan saja pelayan itu membutuh kan bantuan tongkat.


"Miss Camellia apakah anda membutuh kan sesuatu?" Tanya nya dia mencoba menyembunyikan rasa sedih yang melanda nya dan mempertahankan sikap profesional nya.


"Faisal, Lia gak butuh apa pun." Aku menggelengkan kepala ku."Kalau pun ada Faisal tidak akan memenuhi keinginan Lia."


"Katakan saja Miss saya pasti akan memenuhi keinginan Miss."


"Berikan Lia kunci rantai nya."kataku sukses membuat mata tua nya itu terbelalak lebar,dan wajah Faisal berubah menjadi tegang.


"I-itu.."


Mendadak pelayan itu terlihat lega saat mendengar perintah dari alat komunikasi yang menempel di telinga kanannya.


"Maaf Miss, saya harus pergi." Tanpa menunggu jawaban ku lelaki tua itu pergi begitu saja membuat ku kecewa.


Pada akhir nya orang yang ku percaya selalu berpaling dari ku, aku tahu aku yang salah. Memercayai bawahan musuh ku sendiri tidak lain adalah kakek ku.


Krieet..


Mendadak pintu terbuka lebar, mimpi buruk seakan hendak menelan ku hidup - hidup saat pria yang baru saja ku pikirkan kini muncul di depan ku dengan tatapan tajam nya.


"Ini sungguh di luar dugaan, kau sangat beruntung bisa selamat dari kematian mu."


Perkataan nya membuat ku semakin di dera rasa takut. Takut akan merasakan hal yang sangat mengerikan dalam hidup ku. Pria jahat itu bahkan menatap ku tanpa kedip.


Entah apa yang di pikirkan lelaki itu saat diri nya menatapku tak suka.


"Yeah aku sangat beruntung sekali bisa selamat dan bisa hidup sampai sekarang." Aku menatap nya dengan waspada.


Hati ku seakan menjerit dan berkata aku berada di situasi yang tidak menguntungkan.


Lelaki itu berjalan perlahan mendekati ku.


"Apakah kau tidak menyesal untuk hidup hingga saat ini Camellia?" Tanya nya penuh kebencian.


Entah dosa apa diri ku hingga membuat iblis di depan ku sungguh membenci ku, aku menghela nafas dan tersenyum kecil setelah mengumpulkan keberanian yang tak seberapa itu.


"Tidak" Ucap ku lantang."saya tidak menyesal sedikit pun."


Kakek ku tersenyum tipis dia melirik jam tangan nya, lalu tidak sengaja pandangan mata kami saling bertubrukan. Bulu kuduk ku meremang saat lelaki itu tersenyum lebar dan yang membuat senyum nya terlihat mengerikan itu karena senyum nya tidak pernah mencapai mata.


"Kalau begitu bukankah kau sudah siap untuk mati?"


"Omong kosong!"seru ku kesal." Kau benar-benar gila!"


"Kau bicara seperti itu seakan kau benar-benar Malaika maut, pandahal kau sendiri juga manusia yang di takdirkan untuk mati juga."Aku mengontrol nafas ku yang tak karuan.


Aku benar-benar tidak percaya akan seberani ini terhadapnya. Mungkin karena aku sudah muak dengannya, alih - alih marah kakek ku itu malah tertawa lepas seolah - olah aku sedang mengucapkan sebuah lelucon yang payah.


"Ah, aku tidak peduli dengan pendapat mu." Dia mengibaskan tangan nya dengan gaya meremehkan.


"Aku tidak akan membunuh mu jika kamu ingin bekerja sama dengan ku." Ucap nya dengan nada manis tentu saja menyesatkan.


Aku menatap nya dengan tatapan penuh selidik."Kerjasama apa?"


Senyum licik nya mengembang saat aku tertarik, lebih tepat nya aku hanya ingin tahu saja.


"Bantu kakek mu ini mengontrol monster kecil yang sangat dekat dengan mu." Ucap nya."Kamu akan mendapatkan apa yang kau mau."


"Kau pasti tahu bukan siapa monster kecil itu?"kakek ku menatap ku dengan seringai yang menghiasi bibir nya.


Kilatan tajam terlihat di mata nya, dia seperti sedang merancang sesuatu yang mengerikan.


"Aku tidak tahu." Tegas ku. Tentu saja aku tahu siapa monster kecil yang di maksud nya.


"Yah well, kau pasti mau bukan ? aku sangat salut kau bisa mengontrolnya."Dia menghiraukan ucapan ku.


"Sebenarnya apa yang kakek inginkan dari Asta?" Tanya ku mendadak.


Pertanyaan itu sudah menghantui ku selama bertahun-tahun. Kakek ku menatap ku dengan kerutan di kening nya."Kakek kira kau sudah mengetahui nya."


"Sama sekali tidak, apakah kakek tidak kasihan dengan Asta? Apa kakek tidak capek seperti ini terus? Sampai kapan kakek mempermainkan kami semua? Aku lelah! Aku muak dengan semua ini!" Jeritku frustasi air mata ku mengalir saat teringat Asta berjuang keras selama ini.


Bahkan saat dia di asing kan, lelaki jahanam didepan ku tidak memberikan sepeserpun uang untuk nya. Membuat nya terlunta-lunta di London di usia nya yang masih muda.


Tidak ada yang tahu penderitaan Asta, yang orang lain tahu bocah itu menikmati masa hukuman nya dengan hidup nyaman dan bersekolah di sekolah favorit.


Tidak ada yang tahu Asta kecil harus menahan kerasnya kehidupan, dia beruntung bertemu dengan seseorang entahlah aku tidak mendengar nya terlalu banyak. Hanya itu info yang ku dapatkan dari beberapa sumber terpercaya.


"Untuk apa aku kasihan dengan nya?" Wajah nya terlihat acuh tak acuh." Dan aku sama sekali tidak lelah justru sangat bersemangat dengan semua ini."


Ucapan nya begitu menusuk kerelung hati ku, dia benar-benar tidak waras.


"Semua nya tidak akan selesai jika Asta benar - benar tumbuh menjadi sosok yang ku inginkan."


Suara letusan pistol menggema di ruangan ini. Mata ku terbelalak lebar saat peluru nya menyerempet pipi ku membuat jantungku berdegup melebihi batas normal nya.


Darah segar menetes deras dari luka, sementara itu pelaku yang mencoba menembak ku terlihat tak puas saat bidikannya sengaja di peleset kan.


"Sayang sekali kenapa kau tidak membidiknya tepat di kepala nya huh?" Protes kakek ku pada Marcus dengan kesal.


"Anda akan kehilangan nya." Sahut Marcus masam.


Jelas - jelas orang itu tidak suka mendengar ku bersikap kurang ajar dengan majikannya.


Tapi kenapa dia tidak membunuhku saja tadi? Atau dia hanya ingin menunggu kesempatan yang bagus?


"Tidak masalah, kita masih memiliki W dia dapat di andalkan dari pada bocah ini," Kakek ku menatap ku sejenak kemudian wajah nya berseri-seri.


"Kakek mu ini belum puas dengan pertumbuhan nya, Asta selalu menyembunyikan kemampuan nya dengan baik."


"Ah, beberapa hari lagi dia akan memperlihatkan kemampuan gila nya, lalu di hari itu juga kalian akan mati." Ucap nya seraya tertawa cekikikan seolah-olah itu sangat menyenangkan.


Tawa nya terhenti lalu menatap ku dengan serius."Apakah kau mau berkerja sama dengan ku? Ini untuk terakhir kalinya."


Bibir ku membisu tak sanggup berkata-kata, saat menahan rasa sakit yang terus-menerus menyerang tubuhku.


"Tidak."jawab ku dengan suara tertahan.


Wajah nya menatap ku tak suka, dia mengangkat bahu nya."Terserah lah, kalau begitu berikan dia hukuman Marcus."


"Baik Tuan besar."


"Hukum dia sampai sekarat, dan dia akan di keluarkan pada hari yang telah kita tentukan."


Aura gelap menyelimuti tubuh kakek ku, hawa pembunuh yang kental memenuhi ruangan ini hingga membuat ku merasa sesak.


"Hari ketika ujian itu .. dilaksanakan." Ucapan terakhir nya itu terus terngiang di benak ku.


Setelah kepergian kakek, Marcus berjalan mendekati ku dia mendongak sedikit lalu tersenyum sumringah seolah-olah mendapatkan mangsa baru.


"Mari Miss saya akan pastikan anda jalani hukuman anda dengan wajah riang, karena ini.. akan menyenangkan."


Andrew muncul dari balik pintu, tangan keriputnya membawakan nampan yang berisi ...Cambuk??


Seringai licik itu muncul di wajah culas Marcus."Oh kau sudah membawakan nya."


Marcus mengambil cambuk yang di bawakan Andrew, lalu menghadap ke arahku kegilaan nya seakan semakin menjadi-jadi.


"Malam ini akan menjadi malam menyenangkan, kau akan menyesal telah membuat ku di permalukan oleh Willy."


Seringai nya semakin lebar dia mengayunkan cepat cambuk itu kearah ku dengan cepat. Sementara itu, Andrew menatap ku dengan tatapan iba.


'Demi apa pun, lebih baik aku mati disini sebelum diriku bertarung dengan adikku dan saudaraku sendiri.' jeritku, dalam hati seraya memejamkan mata ku rapat - rapat.


Ugh...


Ctarr...


Marcus mengayunkan cambuk nya tanpa ampun, setiap ayunannya meninggalkan bekas lebam hingga lebam itu memuncul kan darah bahkan membuat pakaian ku koyak. Dengan tekad kuat aku membungkam mulut ku membiarkan lidah dan bibir bawah ku tergigit secara bergantian menahan rasa jeritan yang hendak terlontar.


"Kenapa kau tidak menjerit Miss? Bukan kah akan menyenangkan jika kau menjerit kesakitan?."


"Sampai mati pun aku tidak akan menjerit bedebah!" Ketus ku seraya menatap nya dingin.


Darah mengalir keluar di mulut ku, gertakan gigiku semakin erat sampai-sampai aku merasa gigiku akan patah dan copot. cambuk itu tak henti-hentinya menghantam tubuh ku menyisakan luka di setiap inci tubuh yang di tinggalkan cambuk itu.


Marcus tertawa senang dia menyiksaku hingga benar sekarat rasa dingin menyergap ku, tubuh ku menggigil seolah - olah ruangan ini di selimuti es. Rasa dingin itu begitu menusuk tulang membuat ku tidak merasakan sakit yang harus ku rasakan.


Dunia seakan berputar, pandangan ku menjadi buram mungkin.. sebentar lagi maut menjemput ku. Takdir seakan menjawab pikiran ku ketika telingaku mendengar suara jeritan histeris seseorang, lolongan ketakutan yang sangat jelas. Bahkan tangis yang begitu memilukan entah apa yang terjadi di luar.


Nafas ku memburu kencang, kepala ku terasa berat bahkan tubuhku lebih berat dari sebelum nya. Kemudian diriku menatap tak berdaya kearah pintu berharap maut segera menjemput ku lalu mengakhiri semua ini.


Secercah cahaya menyelinap masuk kedalam ruang gelap saat terdengar pintu terbuka. Derap langkah pelan dan beraturan mengisi keheningan yang sepi.


Aku membuka mata ku yang semula rapat, berharap di depan ku benar-benar Malaikat maut yang siap menjemput. Jantung ku berdentum kencang saat melihat sosok berpakaian jaket Hoodie hitam sebagian wajah nya tertutupi tudung hoodie nya.


Senyum lebar menghiasi bibir nya, tidak lebih tepat lagi seringai kejam yang terlihat begitu mengerikan. Bahkan terlihat noda merah di bagian rahang sampai pipi.


Orang itu seolah -olah mengatakan."Bersiap lah untuk mati." Pada ku lewat senyuman nya.


Tubuh ku bergetar hebat rasa takut mengampiri nya saat tangan kanan nya, yang berlumur darah membidikan pistol kearah ku.sementara tangan kiri nya memegangi pisau dapur yang sangat tajam dengan noda merah pekat di bagian tajam nya.


'Kenapa ..kenapa harus dia yang menjadi malaikat mau ku? 'Pekik ku dalam hati saat melihat semburan warna merah dibalik tudung hoodie itu.


"Seharusnya kau tidak kemari." Bisikku lemah.


Letusan pistol terdengar begitu menggema di dalam ruangan, mendadak tubuh ku terjatuh kebawah saat itu juga kesadaran ku hampir terkikis. Jatuh secara mendadak membuat nafas aku tercekat seperti ada sesuatu yang keluar dari tubuh ku.


Mata ku begitu berat untuk ku buka, yang ku tahu sebuah tangan kurus menangkap ku dan mendekap ku dalam pelukan hangatnya.


Kenapa? Kenapa dia tidak membunuh ku saja, ini akan cepat berakhir. Dengan begini aku tidak akan menjadi kelemahan Asta.


Yang ku tahu saat ini aku berada dalam dekapan nya. "Kalo gue nggak dateng, mungkin aja loe bakalan mati." Tangan nya merengkuh erat tubuh ku.


"Jika aku mati itu bagus untuk mu, aku tidak akan menjadi saingan mu di masa depan nanti ." Bisik ku tanpa sadar.


Tubuh nya bergetar saat mendengar ucapan ku,apakah dia terluka mendengarnya? Tidak Asta kesal dengan ku dia tidak mungkin terluka mendengar ucapan dari seseorang yang di benci nya.


"Bodoh, biarpun suatu saat loe jadi lawan gue pun nggak peduli itu." kata nya dengan suara serak.


Lega rasa nya mendengar itu, aku mengelus pelan wajah nya jari ku merasakan sesuatu yang basah dia.. menangis. Lebih menyakitkan lagi air mata nya tak menetes seolah-olah dia malu untuk menangis.


"Jangan berpura - pura menjadi kuat, aku sudah berada di samping mu lagi kamu boleh menumpahkan semua emosi yang kamu pendam itu." Kata ku berusaha untuk menghiburnya.


Ini salah ku tidak begitu kompeten, membuat nya menjadi rapuh. Asta aku sungguh-sungguh minta maaf membuat mu hilang kewaspadaan membuat mu harus merasakan hal yang seharus nya tidak kau rasakan. Hah aku tahu aku tidak bisa mengucapkan nya secara langsung.


Rasa nya benar-benar ingin lenyap saja dari muka bumi, setidak nya diri ku tidak menjadi kelemahan Asta tapi itu tidak mudah. Jika aku menghilang ia masih memiliki kelemahan lain.


"Lalu, aku dan kamu tidak boleh menyesal jika akhir nya kita terpaksa untuk membunuh satu sama lain." Ucap ku saat teringat akan sesuatu yang tak bisa kami hindari lagi.


Frustasi sekali kenapa anak ini tidak melenyapkan ku saja? Kau tau? Aku memilih mati sekarang dari pada harus membunuh adikku sendiri. Dalam kegelapan yang menyelimuti, aku sangat berharap untuk tidak bangun selamanya.