The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 19



" Ini...lebih mengerikan dari yang gue duga " Bisik ku pelan.


Rasa ngeri menyusupi hati ku saat melihat poster foto ke anggotaan osis banyak tersayat - sayat bahkan goresan itu terdapat banyak darah bukan itu saja aku merasakan kebencian mendalam saat melihat foto - foto korban yang tercabik - cabik .


Menandakan pelakunya menyayat -nyayat foto - foto korban dengan penuh kebencian dan dendam bahkan terdapat tulisan ceker ayam yang terbuat dari darah dan berbunyi ' Die - die... !! '.


Pelaku nya melakukan itu pasti psicopat gila dan kejam , Bahkan mengumum kan bahwa dia tak takut dengan polisi benar - benar muka tebal.


" Udah puas liat nya ? " Tanya Liz saat aku terdiam lama .


" Loe pernah bilang setiap hari ada korban yang jatuh... kalo gitu..." Aku terdiam dan menatap Liz dengan lekat - lekat.


" Pelaku nya pasti akan kesini dan mencoret foto - foto korban selanjut nya ... " Sambung Liz membuat ku mengangguk kelu .


" Apa perlu kita cocok kan tulisan yang ada di poster itu dengan tulisan tangan semua siswa? "


Liz menggeleng " Tidak itu cukup merepot kan jangan lakukan itu siapa tau pelaku nya ada di antara mereka kita tidak bisa membiar kan pelaku nya mengetahui kita sedang menyelidiki mereka dan mereka mulai waspada kepada kita "


" Bener juga ..." Angguk ku.


" Lebih baik kita kembali sebelum pak tarmono tau kita menghilang "


" Ok deh"


Kami memutus kan kembali ke kelas dan aku kembali juga ke depan kelas sementara liz sudah masuk jam pelajaran pertama ini terasa begitu lama.


" Oyy Loe murid baru ya ? "


Aku mendongak mendapati cewek berpenampilan mencolok , Cewek itu memakai jaket hitam dan topi hitam yang hampir menutupi sebagian wajah nya .


Rambut coklat nya di kuncir ekor kuda lumayan menyempul dari balik topi sekilas jika di lihat dari belakang dia mirip dengan cowo itu pun jika aku tak melirik dia memakai rok.


" Kalo iya kenapa ? " Balas ku datar .


Senyum nya mengembang dia duduk di samping ku lalu mengulur kan tangan .


"Gue Aya " Ucap nya riang.


Aku menjabat tangan nya" Asta "


" Ok nice to meet you Asta " Kata Aya.


" Nice to meet you too " Balas ku "Btw sekarang kan udah masih masuk kenapa loe gak masuk ke kelas "


Aku melirik tas yang di gendong Aya.


" Gue kesiangan ,Loe tau sendiri pak Tarmono gak ngizinin murid yang kesiangan di jam pelajaran nya buat ikut belajar dan di suruh diem di luar sampe jam pelajaran nya abis " Jelas Aya seraya mengemut lolipop lalu mengulur kan satu lolipop pada ku dari balik saku jaket nya.


" Loe anak kelas 10 mipa 1 juga ? " Tanya ku kaget namun dalam sekejap aku menutupi kekagetan ku dan menerima lolipop yang di sodor kan Aya.


" Iya lah "


" Kok gue gak liat elo pas dari kemaren?" Tanya ku heran.


" Pfft , Gue kan gak berangkat dan gue sibuk urus sesuatu " Kata nya tanpa menoleh pada ku.


Dari sikap nya dan penampilan nya entah kenapa aku merasa curiga pada nya .


" Oh jadi gitu ya "


Terdengar bunyi bel pergantian pelajaran berbunyi Lalu pintu kelas terbuka dan terlihat Pak Tarmono yang keluar dari kelas.


" Kalian boleh masuk , Dan kamu " Guru itu menunjuk Aya " Jangan datang terlambat lagi ketika di jam pelajaran saya atau nilai mu nol di rapot "


" Yee gitu amat sih pak , Ya udah saya akan berusaha untuk tidak datang terlambat lagi " Celetuk Aya seraya memanyun kan bibir dengan kesal.


" Eh pak thanks deh kalo gitu saya masuk duluan " Kata ku seraya berjalan pergi .


" Tungguin gue ! " Seru Aya sambil berlari masuk menyusul ku.


***


"Jadi kalian berdua udah saling kenal cerita nya ? " Tanya ku seraya menatap kedua cewe di depan ku dengan bete.


" Jelas man! , Loe kira kami gak saling kenal? Kalo Liz gak ngasih tau loe itu sahabat kecil nya gak mungkin gue deketin elo pas tadi " Kata Ayya bersemangat.


Aku memelototi nya dengan kesal.


" Eh maksud gue woman! " Seru nya lagi saat mengetahui aku sedang menatap nya dengan tatapan tak senang.


Kantin semakin sesak dan penuh untung nya kami memilih tempat yang memojok dan terhindar dari keramaian.


" Eh btw loe berdua udah nemuin sesuatu yang mencurigakan gak? " Aya mencondong kan badan nya ke depan ku dari seberang .


" Mencurigakan apa? " Tanya Liz penasaran.


Aya memastikan semua orang tidak memerhatikan nya lalu duduk dengan santai " Beberapa hari yang lalu gue ketemu orang asing yang keluar masuk dari sekolah pakaian nya memang kayak staf sekolah dan lebih aneh nya bukan seorang aja tapi dua orang mereka kayak lagi ngangkut sesuatu dari kotak panjang dan besar milik kotak wadah kerajinan milik klub kesenian ".


Aku salut dengan bocah ini dia berbicara sambil fokus ke makanan nya seolah - olah membicarakan hal yang tidak penting sehingga tidak ada yang mencurigai nya.


" Serius loe? " Ucap Liz dengan gaya yang sama dengan Aya .


" Iya " Angguk Aya " Gue ngeliat mereka dari kejauhan "


" Sebener nya gue juga ngalamin kayak Aya pas di hari pertama kali gue masuk ke sekolah " Gumam ku .


Aya nyaris menyembur kan makanan nya ke arah ku jika dia tidak menahan diri .


" Gila! , Kalo gitu udah jelas mereka pelaku pembunuhan berantai ini " Desis Aya dengan suara super pelan .


Liz menggeleng " Itu belum tentu meski beberapa kali juga kita perlu bukti nyata , Hanya dengan melihat kita saja di tipu ingat mata bisa menipu kita ".


Aku mengangguk menyetujui nya " Kalo gitu kita cari seliki mereka terlebih dahulu Liz , Ay"


" kita bisa memasang kamera di beberapa lokasi "Ucap Ayya " Terutama jalan yang sering gue liat mereka beberapa hari yang lalu dan jalan yang Asta gunakan saat hari pertama nya masuk ke sekolah ".


" Apa terlalu beresiko kalo kita masang nya di pagi hari ? Barang kali mereka datang lebih awal " kata Liz.


Ayya menatap nya kesal" Kapan gue bilang mau masang di pagi hari ?".


" Dari wajah elo sih udah ketahuan loe ngerencanain itu " Balas Liz santai.


" Jadi ..? " Aku menatap mereka berdua " lebih baik kita memasang nya di siang hari atau di malam hari ? ".


" Pelaku kan butuh waktu untuk menjebak korban siapa tau korban di pancing nya saat pulang sekolah atau di suruh menemui nya di sekolah sambil mengancam korban " ..1Gumam Aya berusaha beransumsi.


" Gimana kalo kita priksa Cctv? btw , Kenapa kita gak periksa nya pas ntar malem sambil masang kamera - kamera ke beberapa tempat? " Usu Liz.


Mereka berdua mengangguk kecil.


Skip(Karena author nya bingung jadi langsung ke step berikut nya aja ya )


Angin malam berhembusan di luar , Aku menutupi kepala ku dengan tudung hoodie berwarna hitam sementara di balik tuduh ku terdapat warna merah yang mencolok.


Oh ayo lah penyamaran ini paling oke meski harus memperlihat kan warna rambut asli ku kecuali warna mata ku .


" Loe mau pergi kemana ? , Pakai pakaian kayak maling gitu ? "Cetus Seseorang membuat ku terlonjak kaget.


" G*b**k loe! nyaris gue kaget! " Semprot ku kesal .


" Eits , Jangan marah dong jadi loe mau kemana? " Tanya Atha seraya menelusuri ku dari atas kebawah lalu menyibak tudung ku.


" Tumben gak pake wig , Biasa nya pake " Gumam nya heran seraya menyibak rambut merah ku .


Aku menepis tangan nya dan menatap nya tanpa ekspresi " Lebih baik loe bantuin gue jangan sampe ada yang tau gue nyelinep pergi dari rumah ".


Senyum nya mengembang " Nggak lama kan ? ".


" Tergantung tapi gue pastiin pulang secepat nya " Tegas ku.


" Huff , Oke dan jangan sampe loe pulang dalam keadaan babak belur lagi "


Ujung bibir ku terangkat sedikit lalu berjalan menuju ke balkon depan kamar ku dari sini aku bisa mengawasi pergerakan satpam yang menjaga di lantai bawah.


" Loe beruntung malem ini jadwal nya pak yono sama pak vinsen jadi loe gak bakalan ketahuan mereka " Kata Atha yang berdiri di samping ku tangan nya mulai membuka jendela perlahan .


" Ya gue beruntung karena jadwal satpam di malam ini bukan satpam senior " Angguk ku.


Atha menoleh pada ku " Loe bisa lewati sinar merah itu itu ? "


Aku memandangi cahaya merah yang samar - samar di jendela , Aku cukup yakin aku bisa melewati nya apa lagi tubuh ku sangat lentur asal kan aku bisa menghindari Sinar merah itu aku tidak akan ketahuan.


" Loe remehin gue ? , Udah lah males debat ama loe bye jalanin tugas loe dengan baik ye " Kata ku seraya menyelip mencoba melewati jendala tanpa menyentuh silent alarm itu .


Seperti dugaan ku ini cukup mudah , Aku menoleh kebelakang ku lihat Atha tersenyum dan senyum itu menghilang saat aku menutup jendela.


Aku berjalan menyusuri pinggiran tembok yang menjadi tempat pot - pot bunga di pasang lalu berjalan mendekati tempat tanaman rambat yang menggantung setidak nya aku tidak kelihatan oleh orang.


Aku menunduk memandangi ke bawah , Gilaaaa tinggi banget ! kalo aku jatuh udah pasti leher ku atau kaki ku yang patah hiih..


Kalo beneran jatuh dari ketinggian 2 meter siap siap untuk bertemu dengan malaikat deh.


Tatapan ku jatuh ke arah tembok tinggi yang membatasi area rumah dengan luar rumah , Apa lagi ada kawat yang tertancap di atas pagar tinggi itu.


Setelah mengukur jarak yang cuman satu langkah itu , Aku melompat ke atas pagar tembok meski hampir terjengkang ke belakang jika tangan ku tidak segera menekan di tembok belakang ku huufff kalo jatuh bisa berabe nih.


Setelah memastikan tubuh ku stabil aku mencoba melompat dan mendarat tentu saja jika mendarat di tanah pasti tak enak .


Tanpa fikir panjang aku langsung melompat dan berusaha meringan kan tubuh ku agar tak menimbul kan suara alih - alih aku mendarat di tanah aku malah nyungsep ke semak - semak .


Bruk...


Argh sial semoga saja tidak ada yang mendengar suara yang di hasil kan oleh tubuh ku saat mendarat tadi .


" Jadi... ini ya kebiasaan Nona kedua dari keluarga Devany ? "


Aku terkejut setengah mati saat mendengar suara asing dan sedikit familiat itu , Saat mendongak aku mendapat kan mata berwarna hitam pekat nafas ku tercekat saat wajah rupawan milik seseorang yang menyebal kan itu mendekat.


" Wah kalo gue tau yang nyungsep itu nona kedua keluarga Devany harus gue rekam kayak nya , Tapi sayang gue dateng di saat loe nyungsep dengan gaya elegan " Kata nya seraya menarik wajah nya .


Baru ku sadari gaya ku mendarat memang tidak ada kata - kata elegan nya sama sekali dan cowok di depan ku itu menyindir ku, Aku segera bangun dan memelototi nya.


" Kok loe ada di sini ? " Tanya ku heran.


Devin menatap ku dengan tajam bak seekor elang yang sedang mengawasi mangsa nya.


Gawat apa cowok ini udah tau identitas asli ku ?, Alih - alih menjawab cowok itu malah menepuk kepala ku.


" Bocah kali ini loe berhutang budi ama gue loe tau kan gue bisa aja laporin kelakuan loe yang kayak gini ke bokap loe dan btw panggil gue Devin " Kata nya santai.


Aku mengerjap kan mata beberapa kali dan menatap nya tak percaya , Dia beneran tak mengenali ku ? .


" Oh kayak nya gue malah bikin loe bingung ya ? "Dia memiring kan wajah nya.


Apa ? setau ku tak ada yang tahu kalo aku bagian dari anggota keluarga devany .


" Mm yaa seperti nya gitu " Kata ku sambil mengubah suara ku .


" Dari berita yang gue denger harus nya loe ada di rumah sakit bukan kelayaban gini " Tangan nya meraih sehelai rambut merah yang menyepul keluar .


" Ganti warna rambut nih cerita nya ? "


Hwaa aku ingin sekali pergi tapi seperti nya cowok ini menyangka diri ku adalah murry dan tidak mencurigai ku.


" Kalo ganti warna emang nya kenapa? "


Dia menggeleng lalu tersenyum licik " Keluarga devany emang misterius ya bahkan memalsukan keadaan nona kedua ".


Aku menatap nya bete " Langsung to the poin aja deh !, Loe sebener nya ke sini mau ngapain sih ".


Devin mendekati ku dan berbisik di telinga ku " Gue lagi nyari seseorang di sini yang jelas bukan elo dan gue mau mastiin juga identitas dia " Bisik nya lalu menarik diri " Gue jujur kan?"


" Terserah loe deh gue mau pergi " Kata ku yang langsung menyelonong pergi tanpa menunggu jawaban nya .


Jika berlama - lama dengan cowok itu bisa aja identitas ku akan bocor ,Tidak di sangka cowok itu mengejar ku , Shit! Gue gak mau ketangkap ! .


Tap!


Deg...


" Loe mau kabur kemana? udah sadar ya kalo gue udah tau kalo loe bukan anggota devany loe itu penyusup kan? " Ketus nya seraya mencengkram tangan ku dengan erat.


Lalu tangan satu nya menyibak tuduh ku , Aku menoleh dan menatap nya tak ku sangka wajah dingin san tenang itu berubah menjadi terkejut saat melihat wajah ku.


" He-heterocromia iridium.. ? " Gumam nya tergetar.


Aku tersenyak kaget mendengar itu, What?! kok dia tau itu?tunggu jangan bilang aku lupa tidak memakai Soft lens.


"Loe adalah ... si merah kejam ?! " Seru nya lagi.


Mata ku melotot lebar, mulut ku terkatup rapat , tubuh ku nyaris tak bisa bergerak , seperti terkena sambaran petir di malam hari.