The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 52



Cammellia Devany


Aku merasakan posisi ku tak begitu nyaman, meski terasa hangat entah kenapa aku tak bisa tidur di tempat asing. Eh? apa tadi? ada apa kenapa bisa-bisa nya aku berada ditempat yang jauh lebih nyaman dari ruang bawah tanah?


Ah aku ingat... terakhir kali aku jatuh dalam dekapan Asta, mungkin aja dia yang membawa ku kabur itu cukup masuk akal bukan. kepala ku terasa berat cukup tak nyaman ketika rasa sakit menyerang kepalaku. Membuat ku merasa kepala ku akan pecah berkeping-keping.


Pertama kali yang kulihat saat membuka mata adalah langit-langit putih dengan lampu gantung, serta kelambu putih yang menutupi ranjang dengan seprai putih. Benar-benar mirip dengan rumah sakit serba putih.


Tenggorokan ku terasa tercekat saat hendak berkata sesuatu, terasa kering dan perih. Ku lirik sosok yang memakai sweater abu-abu tangan nya tengah menggenggam tangan kanan ku erat.


Beberapa helai warna merah terlihat mencuat dari dalam tudungnya. Melihat nya tengah tertidur membuat ku tersenyum tipis tanpa sadar tangan ku terangkat dan mengusap pelan kepala nya dengan lembut.


"Kau sudah berjuang terlalu keras ya? aku benar-benar kakak yang tidak berguna." bisik ku parau.


Air mataku terus berdesakan keluar, emosiku benar-benar kacau. Bagaimana tidak? aku kakak yang tak berguna bahkan tidak bisa membuat adikku sendiri merasa bahagia dan hidup layaknya manusia yang normal.


Tanpa ku sengaja gerakan ku untuk duduk membangunkan nya, dia benar-benar tidak bisa tidur nyenyak jika dilihat dari lingkaran hitam kedua matanya.


"Kakak?"


Deg...


Panggilan itu membuat dadaku terasa nyeri, Asta menyipitkan matanya kemudian menguap lebar dan duduk dengan tegak.


"Kamu sudah bangun?"


"Iya, apa ada yang sakit? gue udah obati semua luka loe." Ucapnya datar.


Aku mengusap kepala nya dengan senyum cerah." Tidak ada, aku sudah sembuh! jangan khawatir oke."


Anak itu membuang muka dan mencibir keras."Cih, siapa juga yang khawatir."


Sementara aku hanya bisa menahan senyum,"Tidur sana, biar aku yang membereskan rumah ."


"Lalu jangan coba-coba membohongiku bahwa kamu tidak merasakan kantuk sedikitpun." Kata ku tegas.


"Iya deh, terserah yang mulia aja." Asta beranjak bangun berdiri dia menatap ku sejenak." Tapi btw gak usah pura-pura kuat deh."


"Dilihat dari keadaan loe yang kayak buat jalan aja susah." Sindirnya keras.


Aku hanya bisa tertawa sumbang saat disindir, Asta memang tak ada dua nya. Tangan ku menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh ku. Kemudian merengkuh adik ku kedalam dekapan ku.


Rasa sesak mengarungi dada ku tak kala tangan nya membalas pelukanku. Kami sama-sama diam tidak memilih untuk bicara bulir-bulir air turun membasahi pipi ku.


Tanpa ku sadari aku menangis tanpa suara, sudah berapa lama kami tak berpelukan? berbincang-bincang satu sama lain. Dia sudah berubah... fisiknya semakin besar tubuh ringkih nya menjadi kuat tak serapuh dulu.


Tutur katanya yang lembut, kepolosan wajah nya. perlahan luntur memunculkan guratan garis tegas serta sorot mata tajam. Bahu yang selalu menurun seolah-olah menanggung beban besar kini begitu tegak dan kokoh.


Dia seperti telah menjadi sosok yang kuat, bahkan aku yang dulu selalu menjadi tameng untuknya malah terlihat payah dan tak berguna.


"Loe gak mungkin kan peluk gue sampe malem lagi?"


Aku tercengang mendengar nada bicara nya yang tak biasa. Anak itu melepaskan diri dari dekapan ku. Perlahan pintu terbuka lebar sosok jangkung dengan perawakan tegap membawakan senampan makanan.


Sosok itu... begitu familiar, tidak! aku mengingat nya lelaki dengan wajah asing itu.


Tubuh ku bergetar saat melihat nya dia menatap mata ku lekat-lekat. Membuat nafas ku tercekat satu kata yang ku ketahui adik ku dalam bahaya.


"Oh dia sudah bangun Asta?" Tanya nya membuat ku terkejut dia kenal dengan adik ku?


"Iya," Adik ku mengangguk dia tak menyadari perubahan ekspresi ku apa lagi aku merasa wajah ku menjadi pucat pasi.


"Ka-kau!" Pekik ku tak tahan.


Tangan ku gemetaran saat menunjuknya, lelaki itu mengernyit bingung. Apa-apaan ini? kenapa dia bersikap seolah-olah tak mengenal ku?


"Kak loe kenal dia?" Adik ku bertanya dia juga terlihat bingung.


Semua ini sangat aneh."Nggak sih, cuma kayak pernah liat mungkin mirip artis mukanya."Kata ku dengan wajah meyakinkan.


Asta mengangguk dia menarik nampan yang dibawa Pria tadi."Makan dulu ya? Om Willy yang buat makanan nya gak kalah enak sama masakan Liz."


Nampan itu kini beralih pada ku, piring berisi roti panggang dengan telur setengah matang diatasnya serta taburan brokoli entah apalagi. Lalu gelas yang berisi susu putih.


Asta beranjak berdiri dia menatapku sejenak lalu tersenyum manis."Gue pergi dulu mau urus adik Loe."


Adik? maksud dia Murry?


"Tentu aja bukan Murry, ini adik bungsu kita yang gak pernah loe liat." Ucap Asta seolah-olah mengetahui isi pikiran ku.


"Apa aku memiliki adik lagi?"


Adik ku itu mengangguk lagi."Dia anak yang paling Mama sayangi, gue rasa hari ini bakalan menyenangkan kalo bermain sama dia."


Wajah nya terlihat ceria, dia menyeringai lebar kemudian tertawa kecil. Semua itu membuatku merinding.


"Pergi sana nanti aku keluar buat liat dia."Usir ku halus.


"Oh,oke makanannya harus habis ya."


"Yaaa." Sahut ku malas.


Sepeninggalan Asta, aku masih menatap nanar nampan yang ada dihadapan ku. Curiga siapa tau pria tadi memasukkan sesuatu kedalam makanannya.


Aku tercengang saat sebuah fakta melintas di kepala ku. Garpu yang ku pegang terjatuh, kesimpulan yang ku pikirkan tentang pria tadi. Kemungkinan besar pria tadi bersekongkol dengan Asta atau dia berkhianat.


Antara kedua itu, jika pun dugaan kedua benar maka pria itu akan menusuk Asta dari belakang. Untuk berjaga-jaga lebih baik jika aku dekat dengan adik ku dan menempeli nya.


Seperti perangko, permen karet yang menempel pada sandal jepit atau pun hal apapun itu intinya aku tak boleh jauh dari adikku bukan?


Baiklah pertama aku harus menghabiskan sarapan ku, kedua aku menyusulnya. Setelah menghabiskan makanan aku keluar dari kamar ku.


Langkah ku terhenti di tengah-tengah anak tangga, saat melihat dua orang yang memiliki wajah sama persis tengah duduk dimeja makan. Hanya usia yang membedakannya.


"Asta siapa anak itu?" Tanya ku tercekat.


Apa dia anak adikku? Aahhh tidak mungkin tapi mereka sangat mirip. Tunggu jangan bilang cowok nya melakukan hal tidak baik pada Asta?


"O-oh dia adik kita apa loe gak tau nyokap kita punya anak lagi?" Asta menatap ku heran.


Sementara aku hanya menggaruk kepala ku yang tak gatal."Nggak sih aku kira dia anak mu."


"Kalo iya kenapa."Senyum jail nya muncul disudut bibir Asta.


Aku melotot menatap nya."Kalo iya biar ku seret cowok mu bersama mu ke KUA."


Mendadak terdengar suara tawa keras, tawa itu berasal dari lelaki dewasa tadi."Kalau begitu Asta biarkan saya menjadi wali mu nanti."


"Enak aja, siapa yang mo nikah?! bilang aja loe mau nikah lagi." Gerutu Asta kesal.


"Dah tuwir gitu mo nikah gak malu om?"


Pertanyaan itu menyulutkan emosi lelaki itu, terlihat jelas urat-urat di pelipisnya menonjol.


Kaki ku menuruni anak tangga untuk mendekati mereka.


Asta dan pria dewasa itu terlihat bersemangat untuk mengatai satu sama lain. Bahkan memaki tanpa memedulikan disisi mereka ada anak kecil yang ternodai kepolosannya.