The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 44



AstaDevany Pov.


Mata ku terasa begitu berat saat aku membuka nya, dan mendapati diri ku terbaring di kasur semerbak aroma kopi memenuhi ruangan kamar membuat ku waspada.


"Sudah, sadar?. "


Beriringan dengan pertanyaan itu aku melemparkan pisau kecil yang ku taruh dibawah kasur.


Deru nafas ku begitu cepat, dan lemparan ku tepat sasaran saat mengenai pinggiran pintu sengaja untuk mengancam siapa pun yang berani masuk kedalam rumah ku.


"Ini saya. "


Meski pandangan ku masih buram perlahan menjadi jelas, ku sipit kan mata ku menatap lelaki dewasa yang bersandar di ambang pintu dengan santai pria itu tengah menikmati secangkir kopi yang masih mengepulkan uap.


"Bicaralah, saya tau kamu tidak bisu. " Kata nya seraya menyesap kopi nya lalu menoleh pada ku.


Aku mengernyit bingung, bukankah aku bisu? kenapa dia mengira aku tidak bisu?.


"Asta, apakah kau lupa? kau meminta saya menghipnotis mu agar bisa mendalami peran mu sebagai gadis bisu?. " Lelaki itu memiringkan kepalanya.


" Saya sudah menghilangkan nya ." lanjut nya.


Perlahan sebuah ingatan menyusup kedalam benak ku, terlihat adegan di mana ayah ku memberikan obat penghilang suara dan merusak pita suara ku. dengan nekat diri ku mengambil nya dan berpura - pura meminum nya akting ku benar - benar sempurna saat berpura - pura menyeka mulut ku dengan sapu tangan padahal memuntahkan obat yang belum ku telan sama sekali.


setelah itu, adegan berganti di mana diri ku meminta pria itu menghipnotis ku membuat ku percaya bahwa aku benar - benar bisu, aku melakukan itu agar tidak gagal berakting meski bakat ku akting ku tak perlu di ragukan lagi.


Aku membuka mulut ku, begitu sulit untuk mengeluarkan suara ku. "A- Ahkkk.. "


"Tak usah terburu - buru. "


"A... " Aku terdiam rasa nya begitu nyaman jika tak perlu bicara sedikit pun dan sekarang begitu sulit untuk mengeluarkan suara. "Aku..ingat kok!. "


Om Willy tertawa renyah. "Saya tahu itu."


Dia melemparkan sebuah buku pada ku, buku itu terlihat usang dan kertas nya sudah menguning bahkan sangat rapuh mudah rusak dan sobek serta lapuk.


Buku itu berjudul"Catatanrahasia morgan**Devany. "


"Saya mendapat kan nya dengan tak sengaja, ku rasa kau perlu itu. "


Aku tak mendengarkan nya buku itu Sangat tipis dengan hati - hati aku membuka nya, lalu membaca Halaman pertama.


Pukul 12.51


tanggal 04 bulan September 2000


(diterjemahkan oleh pelaksana Devany)


Siapa pun yang membaca catatan ini, aku harap bukan keturunan Devany. kau tahu? ini benar - benar gila.


Menjadi bagian keluarga Devany bukan lah seperti berkah bagi ku,ini seperti kutukan.


Nenek moyang keluarga Devany membuat aturan mengerikan secara turun menurun, terutama untuk memilih pewaris keluarga dengan cara sadis.


Kau akan tahu betapa munafik nya keluarga kami, betapa kejam nya mereka, dan mereka dilahirkan untuk menjadi manudia tanpa perasaan dan berdarah dingin.


Saat ini umurku 17tahun, aku tak sengaja menangkap pembicaraan kepala keluarga dan sesepuh keluarga lain nya di meja rapat keluarga.


Mereka merencanakan sesuatu yang gila, sangat kejam dan tidak manusiawi. demi memilih calon kepala keluarga dari generasi muda kami.


Calon yang sempurna dan tidak memiliki kekurangan sedikit pun, pertumpahan darah di generasi muda keluarga kami harus terjadi.


demi calon pewaris pertama yang sempurna.


Aku sangat tidak yakin dengan penuturan yang di tulis oleh morgan Devany, dan buku ini di tulis dalam bahasa spanyol.


"Buku itu di miliki oleh generasi sebelum nya, seperti nya pemilik buku itu menceritakan hal yang di lihat nya."Gumam Om Willy.


Tangan ku kembali membuka Halaman selanjut nya.


pukul 02.00


tanggal 10 september2000


Mimpi buruk ku menjadi kenyataan!


malam ini aku terbangun dan tak sengaja melihat Steven Devany sepupu ku melintasi kamar ku dari gelagat nya dia sangat mencurigakan.


Aku sangat penasaran dan memutuskan untuk menguntit nya, hingga masuk kedalam perpustakaan keluarga .


Dia terlihat sangat berhati - hati lalu berhenti di depan rak ketiga tangan nya menyelipkan kertas di salah satu buku lalu pergi begitu saja.


π™ΏπšŽπš πšŠπš›πš’πšœ πš”πšŽπš•πšžπšŠπš›πšπšŠ πšŠπš”πšŠπš— πšπšŽπš›πš™πš’πš•πš’πš‘, πš”πšŠπšž πš‘πšŠπš›πšžπšœ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπš—πšπšž πš”πšž πš–πšŽπš—πšπšŠπš™πšŠπšπš”πšŠπš— πš—πš’πšŠ!


Telinga ku mendengar derapan langkah kaki yang pelan mendekat, segera aku meletakkan kertas tadi di tempat nya lalu bersembunyi.


Kau tau apa yang membuat ku lebih terkejut? penerima surat itu adalah Michael Devany! Wakil kepala keluarga!.


Ya Tuhan apakah badai besar itu akan terjadi pada keluarga kami?.


....


Pukul 18.22


Tanggal 30 september2000


Sore ini benar - benar membuat ku takut!, Kami -para generasi muda devany- di kirim ke sebuah pulau tanpa penduduk dan pulau ini sangat mengerikan hanya ada satu bangunan besar dan luas serta bangunan itu lah berisi labirin menyesatkan kan.


Sisa nya hanya hutan belantara serta binatang buas lain, kami di giring masuk dan di bentuk berkelompok masing - masing kelompok masuk ke dalam gedung itu dari pintu berbeda.


Kepala keluarga kami memerintahkan kami mengikuti permainan nya jika tidak kami akan di bunuh bahkan seluruh keturunan kami akan terbunuh bagi yang membangkang, dan aku tak mungkin membiarkan keturunan ku di bunuh? .


Satu hal yang kalian tahu, disini tidak ada kawan dan disini hanya ada kata 'lawan', tidak ada kata belas kasih di terapkan di permainan ini. kami harus menjadi kejam dan membunuh satu sama lain dan menyisakan satu orang yang berhasil bertahan hidup dan orang itu lah yang kelak menjadi calon pewaris kepala keluarga.


Hanya orang beruntung yang bisa keluar dari sini, dan aku harap meski pun aku tak bisa menjadi kepala keluarga aku masih bisa bertahan hidup meski pun sekarat.


...


*Aku sangat berharap setelah ini tidak ada cara sadis untuk merekrut calon kepala keluarga dan pewaris utama, siapa pun tolong hentikan cara ini kelak di masa depan nanti...


Sebaik - baik nya pembangkang tidak akan membiarkan semua orang terluka dari generasi hingga generasi.


_Morgan Devany*


Ku tutup buku itu , seperti nya pertarungan tak bisa ku hindari lagi.


"Asta kau harus mengamankan kan adik bungsu mu dia lah paling muda dari cucu kakek mu yang lain."


"Adik gue udah gede mana mungkin harus gue amanin?." ketus ku jengkel saat mengingat Murry.


"Maksud saya, Vallac Devany. "


"Hah?. " Aku memiring kan kepala saat mendengar nama itu. "Setau gue, nyokap gue gak punya anak lagi deh."


"Tentu saja Kedua orang tua mu menyembunyikan hal itu, dari keluarga mu kecuali paman mu."


Ini aneh, apa alasan mereka menyembunyikan nya?.


"Di keluarga mu, anak yang memiliki keunikan seperti mu di anggap pembawa petaka."


"Huh, gue nggak peduli lagi sama hal itu. " Sungut ku. "Dan lagi kenapa Om Willy bisa masuk kesini?."


"Meski pun rumah ini sangat ketat, tetap saja ada kelemahan dan kelemahan itu adalah jendela."


Aku terdiam, memang benar jendela adalah kelemahan rumah ku Liz masih mengembangkan uji coba baru nya di ruangan eksperimen dia tidak merancang rumah ini dengan keamanan sempurna .


"Oke, gue harus amanin adek gue dulu."


Willy mendekati ku dan menaruh cangkir nya di meja samping tempat tidur ku. "Malam ini ada acara keluarga di rumah kakek mu , Yang saya tahu ibu mu membawa adik mu kesana karena ke inginan kakek mu."


Jantung ku mencelus saat mendengar itu, sudah pasti ada udang di balik batu aku harus kesana malam ini.


"Oh seperti nya kakak mu sangat menyayangi mu, dia tak mau kau tahu bahwa kakek mu mengincar nya dan dia bahkan membiarkan diri nya tertangkap dan membuat mu pingsan disini."


Itu berarti kakek mengetahui bahwa Camellia masih hidup. "Malam ini gue bakalan bikin kejutan buat bedeb*h tua itu."


"Bagus lah, sesekali kau harus memberinya peringatan, ingat kau harus membawa Vallac bersama mu dan mengamankan nya sebelum perebutan pewaris pertama sekaligus kepala keluarga di mulai."kata Om Willy mengingat kan.


"Bukan nya itu terjadi kalo usia kami.. maksud ku Cucu kakek ku berusia 17 tahun semua?."


"Saya tidak yakin itu." Om Willy menyentil jidat ku membuat ku mengaduh kesakitan. "Bocah rata - rata semua cucu kakek mu belum 17 tahun, hanya beberapa yang sudah lulus SMA, sebagian besar masih 17 kebawah, dan paling sedikit yang paling SMP."


"Nah terus?." Aku menatap nya penasaran.


Si Willy itu menatap ku tajam. "Dan itu akan terjadi sebentar lagi kau harus mempersiapkan diri mu sebaik mungkin, kemungkinan semua akan ikut dalam acara itu kau harus tahu meski masih SMP pun mereka sudah mahir berkelahi dan sangat licik."


Aku terdiam sesaat, memang benar meski mereka mahir berkelahi tapi belum tentu sangat jago itu berarti mau tak mau aku harus membunuh adik ku dan membunuh atha? apa aku masih waras? membunuh saudara sendiri? apalagi saudara kandung.


Bukan kah aku kejam heh?, lalu kenapa aku takut menyakiti orang yang ku sayangi meski aku tak menyukainya?.


"Kau harus menghilangkan rasa belas kasih mu, itu hanya akan menempatkan diri mu dalam bahaya."Tegur Om Willy seperti nya dia mengetahui apa yang ku pikir kan.