The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 33



Lizzie abraham prov.


Sontak kami berdua menoleh ke kebelakang , saat mendengar suara yang akhir - akhir ini mulai akrab di telinga ku.


"Sekarang kalian gak boleh lengah ngerti?, bahaya tau teriak - teriak kayak tadi gimana kalo ada musuh yang denger suara kalian?." gerutu cowok di belakang kami.


Tidak lain dan tidak bukan cowok itu adalah.. Devan.


-


-


-


-


"Kok loe bisa ada di sini sih van?." tanya ku heran.


Devan menoleh pada ku dan tersenyum lebar."Oh itu karena tadi Asta mau pergi kesini buat nyelametin kalian berdua tapi dia pergi sendirian bikin sodara gue ngikut gak tau alasan nya apa jadi gue ikutan ngikut mereka."


Mata ku terbelalak mendengar nya.


"Asta ada di sini!." seru Aya kaget." jadi yang tadi beneran Asta, kan apa gue bilang Liz kemungkinan dia itu Asta."


"Diem loe Ay," tukas ku risi saat Aya mulai berceloteh."eh Van loe sampe di sini sekitar berapa menit?."


"Ntah gue gak ngitung jam tuh, gue baru sampe di lantai ini terus ketemu kalian yang teriak - teriak gaje." Devan terus menuruni tangga yang besar dan megah jika sedikit di renovasi mungkin akan terlihat bagus.


Aku terpekur sejenak, kemungkinan Asta sampai pas di saat aku dan Aya selesai memberes kan kedua joker itu. berarti si pelaku yang memiliki wajah sama persis seperti Asta itu bukan lah Asta yang asli.


"Devin!, loe udah beresin di mereka?." teriak Devan sambil mempercepat langkah nya menuruni tangga dan mendekati cowok yang terengah - engah di lantai dasar, dengan tangan yang memegang erat tongkat yang ternodai oleh darah serta kemeja putih yang dia kenakan terkena percikan darah segar yang belum mengering. mata tajam bak elang itu menatap adik nya yang berjalan ke arah nya.


"Wah cowok paling ganteng di sekolah pun beneran ikutan kesini gue kira si Devan cuman omong kosong tadi." celetuk Aya.


Saat sampai di lantai dasar aku mendekati dua manusia yang sedang berbincang dengan wajah serius, aku memandangi 20 lebih orang yang terluka serius dan berserakan di lantai .


"Mereka bawahan pelaku." ucap Devin tanpa ku minta di jelas kan." awal nya ada enam tapi mendadak entah dari mana mereka muncul dan nyerang gue ya udah gue pukul mereka sampe sekarat."


Wajah nya terlihat tenang tanpa terlihat sedikit pun rasa bersalah nya , mengingat kan ku pada monster yang mengamuk di tahun lalu bahkan membuat banyak agent senior yang sekarat di rumah sakit akibat ulah nya yang gila.


Tidak lain dan tidak bukan monster itu adalah Asta, setahu ku meski pun aku tidak tau kejadian asli nya seperti apa tapi om Willy broun bilang Asta menggila saat tau pelayan pribadi nya di jadikan bahan percobaan untuk penemuan baru agen teknologi tanpa sepengetahuan nya.


Ku dengar agent tecnologi yang dia hajar sampe sekarat oleh Asta itu sampai masuk rumah sakit jiwa, karena mental nya terguncang akibat ulah Asta yang berlebihan. aku sangat bersyukur Asta tidak lepas kontrol akhir - akhir ini seperti nya dia menyebunyikan sifat sadis nya dari kalian semua.


"Mana Asta?." pertanyaan dari Devan itu menyentakkan ku dari lamunan.


"Asta ada di..." Ucapan Devin berhenti saat mata nya menatap kosong lorong di dekat lift dan tangga darurat."Asta kemana?!."


"Lah kok nanya balik , kan loe tadi sama dia aneh banget sih harus nya loe tau dia ada di mana." gerutu Devan .


Wajah Devin memucat."Serius gue tadi dia ada di situ tapi kok sekarang gak ada ya."


"Udah tenang Asta masih ada di bangunan ini kok." kata ku mencoba menenang kan mereka.


Tangan Devin menyambar tangan kiri ku lalu melepas jam tangan ku secara paksa.


"Ehhh apa apaan sih loe balikin jam tangan gue!." Tukas ku kesal.


"Ini kan jam tangan yang kayak Asta pake." ucap nya .


"Jangan bilang kalian samaan jam nya?." cetus Aya .


Aku mengangguk cepat lalu merebut kembali jam tangan ku kemudian mengaktif kan fitur asli nya, sebuah jari menekan layar transparan yang keluar dari jam tangan dan melakukan video call.


"I-ini canggih banget liz, keren!."


Aku menghirau kan Aya dan menunggu Asta menjawab panggilan dari ku, namun panggilan ku tertolak dan muncul pesan dari Asta.


'Temuin gue di dapur lantai satu.'


Setelah membaca nya aku menatap ketiga teman ku,"Kita pergi ke dapur dekat sini."


"Tapi dapur nya di mana?." Aya menatap ku dengan wajah kebingungan.


Aku terkesiap saat Devin menginjak luka yang di derita oleh korban yang di pukuli nya."Loe denger kagak?, dapur di lantai ini tempat nya di mana?."


"Arghh.. di- lorong sana..."


Aku menatap iba dengan cowo yang kini berteriak kesakitan saat terkena bogem mentah si Devin, tanpa memedulikan tangisan korban kekejaman nya cowok itu melangkah ke koridor yang tak jauh dari tempat nya berdiri.


Tanpa di suruh pun aku mengikuti nya begitu juga Aya dan Devan yang mengikuti cowok itu dari belakang bersama ku.


Ketika hendak memasuki ruangan dapur Devan memberi isyarat agar kami berhenti berjalan , lalu terdengar seseorang sedang bicara.


"Apakah kau suka dengan hadiah yang ku berikan untuk mu?." ucap seseorang dengan nada manis.


Aku tersentak kaget saat mendengar nya, tidak salah lagi cewek itu yang tadi mengurung kami di lantai atas.


"Kenapa loe lakuin ini?, bukan nya loe dalang yang lakuin pembunuhan murid murid di sekolah gue?." suara ini... tidak salah lagi suara ini milik Asta.


Kami memutus kan untuk menguping pembicaraan mereka sebelum muncul di hadapan mereka.


"Pfft..astaga Sta, kamu mengira aku merencanakan pembunuhan itu?,"


"Ya kalo bukan loe kenapa loe malah muncul di sini dan ninggalin bukti - bukti yang jelas - jelas bisa masukin gue ke penjara."gerutu Asta mengkel.


"Itu bukan bukti tau itu petunjuk buat mu agar tau aku masih hidup, lagi pula aku baru keluar dari tempat ku dua hari yang lalu saat mendengar berita kau sudah kembali."dumel Asta gadungan bete.


Aneh kenapa mereka berdua seperti sudah kenal? siapa sih sebenar nya cewek itu?.


"Terus alasan apa lagi yang mau loe ucapin?." geram Asta.


"Tentu nya saat ku tau ada kasus pembunuhan di sekolah mu , aku memanfaat kan itu dan mengambil keuntungan situasi itu untuk bertemu dengan mu."Tukas Asta gadungan.


"Lalu aku menyuruh bawahan ku agar menyulik kedua teman mu dan membawa nya kesini, sementara aku lebih dulu datang ke tempat persembunyian penjahat yang hobi mutilasi korban cewek setelah di leceh kan itu." Lanjut Asta gadungan." Abis itu aku sikat mereka deh dan bikin semua bawahan si keparat ini tunduk ke bawah kekuasaan ku dan menggunakan mereka untuk menahan teman - teman mu agar bisa membuat kita bertemu dengan lama tanpa gangguan."


"Terus ngapain loe iket si keparat itu?." Asta menunjuk tiga pria yang berpakaian voldermont tengah duduk di lantai dan di ikat dengan kencang.


"Aku kan tangkap mereka buat di hadiahin ke kamu sebagai hadiah di hari pertama kita bertemu lagi, jadi kamu gak perlu repot nangkepin mereka." Ujar Asta gadungan dengan wajah bangga.


"Kamu marah ya gara - gara aku nuntasin misi mu ini?... yah pandahal ku kira kau akan senang jika aku bantu."Asta gadungan itu terlihat sedih.


Sementara Asta yang asli langsung menoleh kebelakang." Sampe kapan kalian tetep sembunyi di situ? kalian fikir gue gak tau kalian nguping pembicaraan kami?."


Ah kewaspadaan nya sangat tinggi sekali ku kira dia tidak waspada dan tidak merasakan kehadiran kami.


"Gue kira gak bakalan ketahuan."cibir Devin kesal seraya keluar dari tempat persembunyian kami .


Entah kenapa wajah Asta gadungan itu menggelap saat melihat kami muncul dan mendekati Asta.


"What the.. hell???."Devin menatap Asta gadungan dengan penuh tanda tanya lalu beralih ke Asta yang asli.


"Lho Ta, kok loe ada dua?!." pekik nya histeris.


Sementara itu Devan memukul saudara nya itu,"Asta ada satu bodoh, mana ada dua? liat oy mata loe kemana perbedaan mereka kelihatan banget kok."


"Astaga loe cantik banget sih, nama loe siapa?." Dengan genit Devan mendekati Asta gadungan yang menatap cowok itu tanpa ekspresi.


Sebelum Devan begitu dekat dengan Asta gadungan itu , cewek itu segera bersembunyi di balik Asta.


"Mau ngapain loe?,"ketus Asta dingin.


"Mau kenalan ama dia lah." jawab Devan dengan wajah polos.


"Mimpi aja loe sono." dengan kejam Asta menoyor kepala Devan.


Aku mengabaikan pertengkaran mereka berdua dan sibuk memperhatikan orang di belakang Asta, sadar diri nya di perhatikan oleh ku dia membalas tatapan ku dengan senyum manis.


"Kamu Liz? Lizzie kan?."Dengan cepat wanita itu mendekatiku dan memegang kedua tangan ku.


Sontak aku menepis tangan nya dengan kasar."Jangan takut, aku sudah mendengar banyak hal tentang mu." Kata nya lirih.


"Terimakasih ...kau sudah menjaga Asta dengan baik." bisik nya lalu menoleh pada Asta.


"Gue gak berharap loe bisa di samping gue , gue jauh lebih seneng kalo loe gak muncul di hidup gue." tukas Asta sinis.


Wanita itu tertawa keras." Aku tau kok, kita akan bertemu kembali dan saat itu..."


Suara nya lenyap dan berbisik di telinga Asta entah apa yang dia bisik kan pada sobat ku, aku bahkan tak bisa mendengar apa yang dia bicara kan yang jelas wajah Asta sekarang menjadi gelap.


"Jaga diri mu baik - baik oke?."Setelah berketa seperti itu wanita itu berjalan pergi menjauhi kami.


"Dia siapa Ta?." tanya Aya kepo.


"Seseorang yang seharus nya mati." cetus Asta dengan wajah mengerikan membuat ku merinding.


"Sta, gue butuh penjelasan dan juga yang lain nya." tuntut ku yang di angguki semua orang.


"Ini bukan waktu nya , lain kali aja mendingan kita telepon Inspektur yusman pelaku nya udah ketangkap." pandangan Asta tertuju pada tiga orang yang terikat di sudut dapur dengan kostum voldermont.


"Mereka?!." pekik Aya kaget." mereka kan pelaku yang waktu itu!!."


"Guys ini pintu apaan ya kok bobrok amat." celetuk Devin yang tau - tau sudah berdiri di sudut dapur yang tidak mencolok tepat di depan nya terdapat pintu tua yang sudah keropos di makan rayap.


"Pintu nya mencurigakan amat." ucap ku sambil memandangi pintu itu dengan tajam seolah - olah dengan tatapan tajam ku pintu itu akan menjawab siapa diri nya.


"Ehhh liat tuh ada bercak darah di hendel pintu nya di bawah pintu nya juga ada bercak darah lain." Seru Aya membuat rasa curiga ku melonjak tinggi.


"Mungkin aja itu tempat mutilasi korban mereka." tukas Asta yang sedari tadi diam.


"Penasaran nih gue masuk yuk." kata Devan tak sabar lagi tangan nya menjulur kearah hendel.


Belum sempat tangan nya menyentuh hendel pintu tua itu, sebuah tangan lain menepis tangan Devan dengan cepat.


"Jagan sentuh sembarangan!." bentak Asta seraya memelototi Devan yang langsung menciut.


"O-oke , tapi kan kita harus masuk kesitu." kata Devan membela diri.


Cowok itu terlihat ketakutan setengah mati saat Asta mendekati nya, membuat nya berjalan kesamping tembok.


"Loe bodoh atau apa?!, main sembarangan megang - megang benda yang udah di gunain pelaku!." Bentak Asta sewot." loe tau? sidik jari loe bisa nempel di situ dan loe udah pasti jadi tertuduh ama polisi b*g*."


"I-iya , iya.."ucap Devan terbata - bata saat Asta semakin dekat dengan nya.


"Jangan iya , iya nya doang! camkan itu di otak loe yang besar nya gak seberapa itu!."Desis Asta dingin.


"Aduh iya, gue inget kok..." Devan menatap Devin, aku dan Aya dengan tatapan nelangsang.


Namun tidak ada satu pun yang berani menyela ocehan Asta yang menggebu - gebu di sertai emosi, tentu nya aku tak mau terkena semprotan Asta juga bisa bisa mati muda deh.


Entah kenapa aku merasa senang melihat Devan di cecar Asta , wajah anak itu terlihat gak berdaya dan terlihat putus asa.


"Iya ta, iya gue gak ulangin lagi koo."


"Inti nya kalo loe ceroboh lagi , gue bakalan bunuh loe sekarang juga!."


"Aduh iya , iya pliss deh loe jauh - jauh dulu dari gue .." rengek Devan.


Sontak Asta menjambak rambut cowok itu dengan keras."Apa loe bilang?, coba ulangi sekali lagi!."


"L-loe nya menjauh dulu , gue nya gak bisa nafas nih kejepit tembok!." teriak Devan frustasi.


Mendengar itu aku menahan tawa begitu juga Aya dan Devin yang,mesem mesem menahan tawa yang hendak menyembur dari mulut mereka.


Urat pelipis Asta berkedut ." Bodoh!, mana ada orang yang kejepit tembok!!."


kemudian Asta menarik diri dari Devan, yang sedari tadi menemplok di dinding dengan wajah pucat pasi dan ketakutan.


Ku lihat Asta diam - diam tersenyum tipis, ku duga cewek itu sangat puas karena bisa membuat cowok itu ketakutan.


"Kenapa kalian gak tolongin gue sih?." gerutu Devan kesal.


"Mana mau kami tolongin loe yang ceroboh gitu?, gue sih seneng banget liat loe di ceramahin Asta." balas Aya dengan seringai licik.


"Udah - udah sekarang kita tungguin Asta yang buka pintu tua itu ."Devin menunjuk Asta yang sedang berkutik dengan lubang kunci pintu tua itu, kedua tangan nya di lapisi kantong kresek yang mungkin di temukan nya di ruangan dapur ini.