The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 39



Asta Devany prov.


Bel berbunyi dengan kencang saat itu semua murid berhamburan keluar dari kelas berharap secepat mungkin bisa sampai di rumah masing - masing dan menjauh dari sekolah.


"Zy, loe pulang sendiri ya gue mau mall bareng temen - temen gue." Mury menatap ku dengan tatapan.


'Gue gak sudi loe ikut sama gue.' kira - kira seperti itu yang ku arti kan dari tatapan nya. lagu pula toh aku punya janji dengan Devin jadi aku pun hanya mengangguk saja dan mengabaikan tatapan tajam teman - teman nya adik ku itu.


Setelah memastikan mereka sudah pergi baru aku melangkah keluar dari kelas dan menyusuri koridor sekolah yang sepi, sebelum keluar dari gedung kelas aku melihat banyak orang berpakaian hitam sedang berjalan kearah gedung kelas ku.


Aku menggigit bibir ku, jelas - jelas itu bawahan Mr.Andrew. aku harus segera pergi lewat pintu belakang sebelum mereka menemukan ku karena aku tidak tau tujuan mereka kesini.


Tapi bukan kah Mr.Andrew menyetujui pengunduran diri ku? lalu mengapa mereka kemari?, tunggu barang kali mereka mau melakukan survei perekrutan siswa baru di semester ini dengan memilih siswa yang memiliki potensi bakat yang tinggi.


Ah sudah lah lebih baik aku harus segera pergi dari sini, toh urusan academy Intelejen bukan urusan ku lagi. pihak M16 saja sudah melepas ku tanpa membuat ku ribet sedikit pun hanya sedikit menghapus data ku dari daftar anggota.


Brukkk...


Aku terjengkang kebelakang saat seseorang menabrak ku dengan keras, hingga aku terjatuh kelantai.


"Maaf... maaf kan aku."Cicit seseorang.


Aku menatap uluran tangan itu tanpa ragu aku menerima nya dan bangkit berdiri.


"Sungguh aku tidak sengaja melakukan nya."Jelas nya dengan suara pelan.


Gadis dengan kepang dua dan kacamata dengan kaca tipis itu menunduk kan wajah nya dengan penuh rasa bersalah.


"Anu serius aku gak sengaja nabrak kamu gitu, tadi aku buru - buru banget jadi nya gak sengaja ..."Ucapan nya terhenti saatseorang guru menyela kami.


"Gita, ternyata kamu di sini bapak cariin kemana - mana gak ketemu." Guru dengan kumis lebat dan kemeja batik itu menghampiri kami berdua.


Mata nya menatap ku tajam."Kamu bukan kah sudah tau? kalau jam pelajaran itu jaket nya harus di lepas! tadi ada anak yang bilang ke saya kalau kamu memakai jaket saat pelajaran berlangsung."


Aku mengabaikan ucapan guru itu dan sibuk dengan kuku ku yang ku guntingi.


"Kamu dengar saya bicara tidak?."Bentak nya tak senang.


Aku memutar kan bola mata ku dengan malas , lalu menulis kan beberapa kata di kertas memo.


'Maaf pak saya tidak tau itu, saya masih baru disini.'


Guru itu menatap ku dengan tatapan tak setajam tadi."Ya sudah lah, lain kali jangan ulangi lagi mengerti?."


Melihat ku mengangguk dia pun tersenyum puas, kemudian menoleh ke arah gadis culun yang tengah berdiri di samping ku.


"Gita kamu di panggil kepala sekolah,"


"Iya pak, sekarang saya akan kesana."


"Baiklah , kalau begitu bapak antar kamu."


Gadis bernama Gita itu menoleh kearah ku dan mengucap kan kata maaf yang di jawab dengan angguk kan ku.


Aku menatapi kepergian mereka berdua, lalu berjalan pergi kearah yang berlawanan dengan mereka. tak butuh waktu lama aku sampai depan gerbang sekolah.


"Hampir setengah jam gue nunggu elo, akhir nya dateng juga."Ucap nya seraya menatap ku dari balik helm nya.


Aku tidak memeduli kan nya melain kan memberi isyarat agar dia menaiki motor nya, tampak nya cowok itu paham dengan isyarat yang ku lakukan. dengan cekatan dia menaiki motor besar berwarna putih itu dan menyalakan mesin nya.


Tanpa basa basi aku meloncat dan duduk di jok belakang, kami pun pergi dengan cepat sebelum ada yang mengetahui identitas cowok ini. tidak salah lagi dia sangat populer di semua sekolah SMA yang ada di kota ini.


Deruman motor kami menggelegar di jalan dengan cepat dan lincah, motor kami menyelip sana - sini agar cepat sampai di tempat tujuan sebelum hujan turun.


Ketika berbelok ke jalan yang lebih sepi namun sebuah pagar motor menyambut kami, jantung ku berdegup kencang saat menyadari motor kami sedari tadi mengebut dengan kencang.


Aku menggigit bibir bawah ku dan memejam kan mata berharap tidak terjadi apa pun yang membahayakan nyawa kami berdua, Sementara tangan ku mencengkram erat pinggang Devin.


"Tenang aja gue bisa berhentiin dengan mulus kok."Ucap nya mendadak mungkin dia menyadari ketakutan ku di saat itu juga motor kami berhenti meski nyaris menabrak pagar motor di depan kami.


"Yoo, Bos preman Bintang Emas kita ketemu lagi."Seorang cowok berbadan besar dan tambung mirip dengan gorila itu menghampiri kami.


"Kayak nya kami milih waktu yang gak tepat,"Si gorila berkulit hitam itu melirik ku.


"Lebih baik kalian semua enyah dari hadapan gue sebelum gue kirim kalian ke kamar mayat."Ketus Devin dengan wajah dingin.


Si gorila itu tertawa keras sementara bawahan nya hanya diam.


"Loe terlalu sombong Dev!."Geram si gorila.


"Eh loe ketua dari geng Wolf fire kan? bukan nya preman di sekolah gue gak pernah nyari gara - gara ama geng loe ."Sela Devin bete"Ngapain loe nyari ribut ama gue?."


"Geng loe emang nggak pernah nyari gara - gara ama geng gue, tapi seseorang nyuruh gue kasih pesan ke elo." Balas nya.


Aku menatap si gorila dengan heran.


"Pesan apaan?, dan gini cara loe nyampein pesan ke gue?." Devin menatap nya tanpa ekspresi sementara si gorila itu cengengesan lalu memberikan sebuah amplop berwarna hitam.


"Sorry abis loe kalo di ajak bicara baik - baik pasti ogah."


"Sejak kapan gue ogah di ajak bicara?."Cetus Devin sebal.


"Sejak loe mukul adi sampe pingsan, gue denger dari gosip yang beredar."Balas si Gorila saat Devin mengambil amplop hitam itu.


"Huh, ya udah lah gue pergi dulu."Tanpa menunggu jawaban kami pergi meninggal kan mereka.


Sebener nya apa sih yang di lakuin ini cowok?, sampai - sampai orang lain berfikir bicara dengan nya harus pakai cara aneh . tak lama kemudian kami berhenti di sebuah warung pecel lele pinggir jalan.


"Jangan protes, makanan disini gue jamin rasa nya enak banget."Kata nya saat melihat ku menatap warung itu dengan heran.


"Meski pun tempat nya gak sebagus tempat makan yang terkenal di kota, kayak restoran Tatemukai." Cibir nya.


Aku melepas helem ku dan berjalan mengikuti cowok itu dari belakang, saat memasuki ke dalam aku terpaku yah memang tidak seperti tempat makan yang mewah.


Di sini semua nya sangat sederhana namun tertata rapi, setelah puas melihat isi warung ini aku beralih menatap Devin yang tengah menatap ku dengan senyum lebar sementara tangan kanan nya menepuk - nepuk bangku di sebelah nya.


Dia meminta ku duduk di samping nya, mau tidak mau pun aku pasti berakhir duduk di situ. tidak seperti anak konglomerat lain nya yang ogah untuk makan di warung tenda dekat jalan.


Anak itu seperti nya tidak mempermasalah kan dimana dia makan, asal kan rasa makanan nya sesuai di lidah nya.