
Lizzie Abraham prov.
Aku menatap Aya dengan bete , Cewek yang memakai jaket abu - abu dan topi abu - abu itu sedang menangkring di becak.
" Lah kok naik becak Ay ? " Tanya ku bete.
Aya menyeringai jail " Gue gak punya kendaraan selain si Chuk ini lagian dia mau - mau aja lakuin hal aneh asal bayaran nya gede ".
Aku memandangi si mamang becak yang bernama Chuk itu sedang bersantai sambil memegang rokok dengan cemberut , Ku kira kami akan berangkat ke sekolah dengan kendaraan yang keren gak tau nya naik becak menyedih kan banget masa mantan calon agent mata - mata seperti ku naik becak? turun deh derajat ku .
"Temen loe mana ? " Tanya Aya mendadak.
" Mana gue tau gue kan baru dateng " Cetus ku bete lalu menatap gerbang kompleks yang sepi .
" Gue nunggu lama di sini tapi dia belum dateng " Kata Aya seraya mengerucut kan bibir nya.
"Gue nyusul dia deh loe tunggu di sini "
" Oke "
Aku berjalan memasuki kompleks perumahan mewah yang di huni konglomerat dan menebar senyum ramah ke arah satpam yang menjaga gerbang nya.
Ketika keberadaan ku tak jauh dari rumah asta aku melihat dua sosok yang satu mencolok yang satu nya terlihat menyatu dengan kegelapan .
Mereka berdua terlihat saling menatap kaget dan yang membuat ku tercengang adalah kedua sosok itu adalah Asta dan Devin ! Oh God apa kah Asta sudah ketahuan? .
Perlahan aku mendekati mereka dan tercengang saat mendengar Devin mengucap kan kata 'Si Merah Kejam ' , Kenapa dia bisa tahu ?! Yang mengetahui julukan Asta yang sempat mengheboh kan dunia mata - mata di london hanyalah Para Agent mata - mata di sana .
Sebab Asta selalu melakukan misi dengan cara - cara nya yang membuat orang ngeri saat melihat cara Asta menyiksa bawahan Circle Of Cavan.
Ku rasakan sebuah tangan menarik ku pergi dan tangan itu milik Asta , Aku hanya pasrah dan ikut berlari apa lagi tenaga Asta cukup besar dan penampilan tubuh nya yang kurus menipu mata juga.
Sementara itu ku lihat Devin hanya diam di tempat dengan rasa kaget nya.
" Huh...huh...huh...Nyaris aja gue ketangkep ama dia semoga dia gak tau kalo di sini juga ada hacker terkenal " Kata Asta di sela - sela nafas nya yang terengah - engah .
" Jangan sebut itu ! " Cetus ku kesal " Liat kan tadi loe nyaris ketahuan ama dia "
Tiba - tiba Asta berhenti berlari membuat ku nyaris menabrak nya " Cepetan b*g* ! tar ketangkep ".
"Dia gak ngejar kita " Kata Asta bete lalu mengikat rambut nya yang menurut ku memang sudah pendek banget apa lgi panjangan nya cuman sedagu, Perpaduan warna merah terang yang mencolok dan kulit seputih susu membuat nya terlihat seperti orang luar.
Aku mendengus kesal lalu memakai kan tudung jaket hitam Asta ke kepala nya " Dasar nakal lain kali loe harus hati - hati , Ngerti gak ? ".
" Iya , Iya gue ngerti kok tapi jangan perlakuin gue kayak anak kecil dong " Asta menatap ku kesal saat aku mengelus kepala nya emang sih tinggi badan nya hanya beda beberapa senti dari ku.
Melihat Asta yang mengerucut kan bibir dengan kesal malah membuat ku tertawa terbahak - bahak sebelum tatapan medusa nya menghujami diri ku.
Aku berhenti tertawa " Aya lagi nunggu di depan kompleks tuh ".
" Ya , udah ayo " Ajak nya seraya berjalan mendahului ku.
Beberapa menit kemudian...
" Gue benci becakkkkkkkk...!!! " Teriakan Asta kembali melengking kesal .
Aku hanya tersenyum masam melihat nya duduk di bawah kursi yang ku duduki .
" Udah deh loe harus bersyukur masih ada kendaraan yang mau angkut kita dengan harga yang pas - pas an " Kata Aya yang duduk di samping ku .
" Gue mau - mau aja bersyukur , Itu pun kalo gue gak duduk di sini " Asta menatap Aya dengan tatapan mengerikan.
Terlihat sebersit ketakutan di wajah aya namun hanya sekilas " Yee kalo loe gak suka mendingan loe naik kendaraan lain "
Asta memutar bola mata nya dengan malas " Gue males nyari "
" Brisik kalian berdua kita bentar lagi kita udah nyampe " Sela ku kesal " Chuk berhenti di sini aja , Terus tunggu di sini sampe kami bertiga balik ".
" Siap non " Angguk chuk patuh.
" Awas lho chuk jangan coba - coba deketin sekolah kami tar loe ketemu setan baru tau rasa " Kata Asta jail .
Sialan anak ini apa dia gak tau kalo suasana malam ini begitu mengerikan?.
" Terus hati - hati chuk sapa tau setan nya nyamperin loe kalo loe lakuin hal sembarangan " Tambah Aya dengan semangat .
" I - iya non saya juga tidak berani mendekati sekolah itu apa lagi pas denger ada kasus pembunuhan berantai pasti sekolah ini banyak setan nya " Kata chuk ketakutan.
Shit aku malah ikut ketakutan juga.
" Shhh ... jangan bahas itu chuk ! gimana kalo setan nya dateng kesini terus..."
" Cukup Ta ! " Jerit ku ketakutan "Jangan takutin chuk ntar dia ketakutan "
Asta menyeringai lebar " Halah bilang aja loe takut "
" Kalian kesini mau ledekin gue atau mau masang kamera ? , Kalo mau ledekin gue ya udah sono ledek sepuas nya gue mau masang kamera " Seru ku kesal .
" Weits jangan marah dong neng tunggu gue ikut " Asta berlari menyusul ku dan menjajar kan langkah nya dengan langkah ku .
Kami berjalan mengitari sekolah dan berhenti di pekarangan belakang sekolah sesuai dugaan para satpam malah sibuk bermain kartu di pos depan dekat gerbang sekolah.
" Wow tembok nya tinggi gue gak bisa naikin nya " Aya memandangi dinding pagar sekolah seolah - olah dinding itu sangat mencengangkan.
" Hei hei tungguin gueee ..." Rengek ku saat Asta bergerak cepat meloncati pagar yang tinggi nya sebatas leher kami .
" Gue dulu ya liz " Aya berusaha menaiki pagar aku segera membantu nya setelah itu aku meloncat dengan mudah dan ringan .
Hap...
Aku mendarat dengan tepat tanpa menimbul kan suara dan melihat Asta yang sedang memasang kamera kecil di beberapa tempat.
Aku memiring kan kepala " Ini tempat loe liat tertuduh ? "
" Iya " Sahut Asta setelah selesai memasangkan kamera - kamera mungil.
" Kalo gue sih deket tempat ganti perempuan yang berseberangan sama gudang olahraga " Gumam Aya.
" kalo gitu kita kesana sekarang "
Kami berjalan menyusuri koridor dengan kewaspadaan tingkat tinggi bahkan berusaha untuk tidak menimbul kan suara langkah kami.
" Serem banget " Bisik Aya saat mengedar kan pandangan nya ke segala arah .
" Gelap harus nya bawa senter " Kata Asta seraya berjalan di depan kami.
" Gue bawa tapi lebih baik gak perlu di pake , Kalo di pake angka risiko ketahuan nya makin besar " Sahut ku .
Kami berhenti di tempat ganti perempuan dan memasang kan beberapa kamera mungil di sekitar situ bahkan koridor yang menghubung ke ruang gudang penyimpanan alat olahraga .
" Abis ini kita ke mana? " Tanya ku ke Asta dan Aya.
" Ke ruang TU di situ kan tempat kamera Cctv" Usul Asta sementara Aya sibuk mencoba mengintip wajah Asta yang di tutupi oleh tudung jaket nya yang besar .
" Gue tau gue cantik tapi gak perlu di intip juga kali " Dengus Asta kesal .
" Yee siapa juga yang mau ngintip? gue kan penasaran kenapa loe nutupin muka loe pake topi tudung " Gerutu Aya jengkel .
" Halah ngeles mulu loe " Tukas Asta seraya mengibas kan tangan membuat Aya cemberut.
Kami mengendap - endap menuju Ruangan TU di lantai 3 gedung ekstrakulikuler, Jantung ku terus berdebar kencang saat melewati Ruangan osis .
Punggung ku terasa begitu dingin saat melewati ruangan tersebut dan merinding seolah - olah ada yang menatap ku, Tatapan yang begitu tajam dan dingin itu sontak membuat ku menoleh mendadak kearah jendela ruangan osis dan menyipit kan mata.
Berharap menemukan sesuatu , Namun tak ada seseorang atau apa pun di dalam ruangan osis yang gelap itu.
" Ada apa Liz ? " Tanya Aya saat melihat tingkah ku.
" Gak ada apa - apa mungkin perasaan gue aja '' Gumam ku " Yuk lanjut ".
" Oke " Angguk Aya tanpa merasa curiga sedikit pun.
Sementara itu ku lihat ada perubahan dalam diri Asta dia terlihat begitu siaga dan waspada , Seperti nya dia menyadari sesuatu yang ku rasa kan .
Kami kembali berjalan menaiki tangga yang membawa kami ke lantai berikut nya , Saat kaki ku menyentuh anak tangga ketiga lagi - lagi aku merasa di tatap oleh seseorang dari belakang dengan cepat aku berbalik mencoba menangkap basah si penguntit.
Gawat seperti nya ada yang mengikuti kami , Jika si penguntit adalah bawahan si pelaku kemungkinan besar kami sudah ketahuan sejak awal.
Semoga saja chuk tidak kenapa - napa" Di kunci " Kata Aya saat kami mencoba memasuki Ruang TU.
" Nggak di kunci b*** " Ketus Asta mengkel saat memutar hendel pintu dan terbuka sedikit " Aneh harus nya kan ke kunci "
" Dan harus nya di jagain ama sapa gitu bukan di telantarin " Kata Aya.
" Ugh iya " Asta melangkah masuk.
Aku masih terdiam , Ini aneh harus nya ada menjaga ruangan ini dan... shit! Aku lupa ruangan cctv di pindah kan ke pos jaga di dekat gerbang !.
" Asta , Aya tunggu jangan ma.." Ucapan ku berhenti saat mendengar jeritan keras Aya dan suara seseorang mengumpat.
Tidak jangan bilang di situ ada pelaku atau..
Wusss ...
Srakkk..
Beberapa helai rambut ku melayang , Kurasakan sebuah benda tajam melukai bahu ku.
Aku menahan nafas dan berbalik ke belakang , Jantung ku mencelus saat melihat sosok bertopeng kulit yang keriput , berjubah panjang dengan mata hitam dingin seraya tangan berkuku panjang yang memegang sebuah..oh god ! ...Kapak ! .