
Murry Devany pov.
Seusai belanja dan makan siang di Caffe bersama teman - teman ku, aku menghadap kakek ku di ruang kerja nya dengan canggung aku menatap mata biru nya.
"Selamat siang kakek. " Ucap ku lembut.
"Hmm.. hmmm. " Angguk nya tanpa memalingkan wajah dari buku bacaan nya.
"Ada apa kakek memanggil Mury kemari?." Tanya ku to the poin.
"Nanti malam semua keluarga Devany akan makan malam disini, Kakek harap kamu tidak pergi kemana pun sebelum acara nya di mulai."
Hah?, tumben sekali ada acara seperti ini biasa nya sangat jarang di lakukan. meski pun di sini adalah keluarga inti namun masih ada cabang keluarga Devany lain nya di belahan dunia lain.
Mendadak aku teringat sesuatu "Oh, iya apakah Asta akan pulang dan menghadiri acara makan ini?. "
Senyum aneh menghiasi bibir kakek ku membuat ku merasa tak nyaman. "Kau masih menanyakan pelaku yang membuat mu hampir sekarat?. "
Mulut ku membisu, aku tahu kakak ku melakukan hal itu tapi bagaimana pun juga dia tetap kakak ku dan dia juga salah satu anggota keluarga Devany .
"Apakah Mury bersalah menanyakan hal itu kakek?. " aku membalas bertanya dengan hati - hati. "Bagaimana pun juga Asta adalah kakak kembar Murry meski ini aneh dia tidak mirip sama sekali dengan Murry. "
"Tentu saja dia akan mirip jika rambut merah, dan warna mata yang berbeda itu tidak dia miliki. " Ketus Kakek ku penuh kebencian.
"Jadi kakek apakah kakak ku juga akan kembali?. "
"Seperti nya begitu atau mungkin saja dia tidak hadir." balas nya dengan wajah kesal.
"Sudah lah Murry jangan membahas itu, apakah kau lapar? hmm.. "
Aku mengangguk kelu meski aku sudah makan tadi tapi rasa nya begitu enggan untuk menolak pertanyaan yang mengandung sedikit perintah.
"Kalau begitu kita akan makan siang bersama. "
Kakek ku beranjak berdiri , tiba - tiba terdengar suara pintu terbuka. "Oh kakek ku tersayang apakah kau menyembunyikan sebuah rahasia kecil dari kami cucu mu?. "
Aku menoleh kearah pintu terlihat seorang cowok berdiri diambang pintu dan bersandar disana, dari mata hijau nya yang bersinar licik itu menimbul kan rasa tak suka dari ku.
Cowok itu berlalu pergi seraya bergumam. "Tentu saja. "
***
Aku terkejut bukan main saat melihat keramaian di ruang makan, ruang makan yang begitu megah dan luas dengan meja makan yang panjang dan peralatan makan yang tertata rapih. serta lampu gantung cristal yang menyala menambah kan kesan eksotik tak lupa dengan pilar - pilar lampu membuat ku teringat dengan kota Paris.
Mata ku tertuju dengan seorang wanita yang mengenakan gaun berwarna biru laut panjang tengah berdiri menghadap jendela berukuran besar mungkin sebesar pintu rumah.
Aku berjalan mendekati nya dan memanggil nya.
"Mom?. " panggil ku.
Wanita dengan rambut pirang dan warna mata biru itu menoleh kearah ku, terlihat tatap mata nya yang sendu menatap ku.
"Murry?, kamu terlihat sangat cantik dengan pakaian yang Mom belikan untuk mu. " Kata nya berseri - seri."Dimana kakak mu sayang?. "
"Mom tidak membenci Asta?. "
Ibu ku tersenyum hambar. "Tidak nak, senakal - nakal nya anak Mom , tidak akan membuat Mom membenci nya. "
"Bahkan ketika anak itu hampir merenggut nyawa saudara nya?. " Lirih ku dengan nada pahit.
"Ya." Angguk nya," Asal kan anak itu tidak menghancurkan keluarga ini. "
Nafas ku terasa tercekat mendengar nya, ibu ku lebih mementingkan kan keutuhan keluarga ketimbang anak nya sendiri? .
"Dengar nak, Sebagai manusia kau harus tahu hidup dan mati kita sudah di tentukan jika salah satu dari kita meninggal akibat di bunuh saudara sendiri itu pun sudah takdir. " Jelas Ibu ku.
Aku menghembus kan nafas dengan pelan. "Ya, Murry mengerti. "
"Mari kita membaur dengan yang lain. " Ajak ibu ku seraya menggandeng tangan ku mendekati meja makan.
Makan malam berjalan dengan lancar tak ada konflik sedikit pun, biasa nya setiap ada acara keluarga acara nya akan kacau dan berakhir tragis itu pun akibat ulah kakak ku yang gila itu.
Aku bersyukur jika malam ini kakak ku tidak datang kerumah, Namun.. aku tidak pernah menduga malam ini akan ada hujan darah di dalam rumah ini.