
Aku terus menutup mata ku , Bersiap - siap menghadapi kematian kenapa waktu terasa begitu lambat ? Apakah aku tak pantas untuk mati saat ini ? .
wusss...
Brukkkk !!!
Tubuh ku terhempas keras ke lantai rasa sakit luar biasa menjalar di seluruh tulang punggung ku , Nafas ku tercekat saat menyadari aku masih hidup ku pikir aku akan mati.
"Udah gue duga di lubang ini ada lantai seperti lift yg bergerak naik - turun." Ucap Asta tersengal - sengal dia terbaring di samping ku dengan tubuh terlentang .
Aku mengusap peluh di tengkuk ku dan mencoba untuk menenang kan detak jantung ku yang berdegup tak beraturan.
Ku rasa kan lantai bergerak naik keatas "Apa kita udah ketahuan?."
"Gue udah duga kalo kita udah ketahuan sejak awal." gumam asta. dia masih diam tak bergerak dari tempat nya .
Aku membantu nya berdiri "Semoga tulang loe gak patah."
" Yayaya , gue gak peduli tulang gue patah asal kan loe gak mati duluan sebelum gue mati." Dengus nya ngeyel.
Tubuh nya memang tak begitu berat saat ku sanggah pakai tubuh ku , mata nya menyipit saat seberkas sinar muncul dari atas.
Menandakan kami sudah mulai mendekati permukaan "Gue pikir ... gue bakalan mati beneran saat loe milih jatuhin diri loe."
"Gue kira loe nyuruh gue lepasin tangan loe karena loe kayak mau nemuin sesuatu di dalam sini." balas nya seraya terkekeh kecil saat melihat ekspresi datar ku.
"Miss devany , Miss Abraham syukur lah kalian baik - baik saja."
Kami menoleh ke arah lelaki berusia 30 tahun yang berdiri di dekat pagar pembatas lubang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mr. Andrew.
Beberapa orang berpakaian serba hitam berjalan mendekati kami dan merenggut asta dari ku kemudian membawa nya ke tepi sementara aku mengekor di belakang mereka.
"Sebaik nya luka kalian di obatin dulu sebelum mempertanyakan sesuatu." kata Mr.Andrew saat aku membuka mulut ku lalu mengatupkan kembali seraya menelan semua pertanyaan yang hampir siap ku sembur kan.
"Baik Mr.Andrew." Sahut ku dan Asta serempak.
***
Setelah diperiksa dan di x~Ray beberapa kali memastikan tidak ada tulang yang patah di tubuh ku dan asta , Sambil berbaring di ranjang putih bersebrangan dengan asta aku meminta penjelasan knp Mr.Andrew bisa masuk kesini dan kenapa semua orang di sini sangat segan pada nya.
"Markas ini adalah milik saya ledies." jawab nya tanpa ekspresi "Saya tidak akan membiar kan pihak luar mencampuri urusan kita jadi saya memilih tempat ini sebagai tempat latihan kalian."
"Lalu kenapa anda menyuruh kami agar tidak ketahuan oleh aparat negara? kami pikir anda memberi latihan yang sebenar nya."
"Ledies , jika saya tidak mengatakan itu kalian tidak akan fokus pada ujian kalian."
Aku terdiam memang benar kami tidak akan fokus jika tau ujian ini.
"Dan sangat di sayang kan kalian gagal dalam melakukan ujian nya." Mr. Andrew menatap kami berdua tanpa ekspresi "departemen pendidikan academy starlight akan menghapus data - data tentang kalian dan menganggap kalian berdua tak pernah ada di antara kami."
"Saya mengerti" Ku lihat asta angkat bicara "saya sangat senang mendengar itu dan kami berdua tidak kecewa dengan hasil yang kalian putus kan."
"Sebenar nya kalian berdua lebih unggul dari mereka berdua sayang nya kalian malah memilih pilihan yang salah , ingat ledies Mata - mata selalu waspada setiap saat kawan bisa jadi lawan bahkan bisa jadi kelemahan sendiri jadi jangan terlalu percaya pada siapa pun jika kalian sangat mempercayai seseorang kalian harus menanggung resiko nya."
Kami tetap terdiam menunduk saat mendengar kan penjelasan Mr.Andrew, Aku sadar perkataan Mr ada benar nya.
"Kalau begitu jaga diri kalian baik - baik selama kalian sudah berada di dunia luar yang jauh dari bayangan kalian ujian - ujian yang saya persiap kan itu hanya untuk persiapan kalian menghadapi sesuatu di luar sana."
"Jaga diri kalian berdua ledies."
Setelah berkata seperti itu Mr. Andrew berjalan pergi meninggal kan kami.
"Tulang loe gak ada yang patah syukuur deh." Aku menghembus kan nafas lega saat melihat hasil pemeriksaan dari Mr. Andrew.
"Hmm ..."
"Gak minat buat seneng atau pun happy."
"Seneng sama happy sama aja kali _-"
"Beda neng !."
"Terserah loe deh."
"Btw , Loe sendiri gimana ada yang tulang nya retak ?."
"Syukur nya nggak , Untung tulang gue masih kuat dan gue heran kok tulang loe gak ada yang patah atau pun retak ya."
Asta menatap ku dengan cemberut "Gue kan masih muda dan kuat jadi wajar kalo tulang gue gak patah atau retak."
Aku terkekeh geli "Iya deh."
"Liz , tentang kasus yang pernah loe bilang ituu loe jadi mau nyelidikin itu? sementara kita udah bukan mata - mata lagi lhoo"
Aku menatap nya kesal "Mau mata - mata atau bukan kita masih bisa nyelidikin bukan nya kamu punya kenalan di kantor polisi ?."
"Ehh iya ya hampir lupa sama polisi tengil itu harus nya gue gak lupa meski gue pergi ke luar negeri."
"Polisi itu inget loe gak yaa sementara loe ama dia ketemu pas loe masih sd gue tebak sekarang umur dia 30 thn dan udah sukses."
Asta menatap ku dengan bete "Jangan bilang loe sering perhatiin dia merintis karir nya?."
"Yup." aku mengangguk puas.
"Bentar lagi kita pulang." gumam sobat ku "gue gak siap buat balik kerumah."
"Hmmm mau nginep di rumah gue?."
"No but thanks ,Gue mau pulang ke rumah gue sendiri."
"Dalam keadaan bonyok gitu?." aku menatap nya dengan gaya meremeh kan.
"Gini - gini gue masih ngajarin loe satu dua jurus lah." Asta mengibas kan tangan nya.
"Eh ta , Gue juga bisa kali mau adu sekarang gue udah siap nih." aku menatap nya dengan senyum lebar.
"Cih loe kira gue bakalan nyerah cuman karena luka secuil ini?." cibir nya.
"Eh bro sadar diri dong tubuh loe udah tumbang gitu masih banyak gaya juga kalo gue tendang loe dengan tenaga dalam dikit aja loe udah mental ke ujung dunia !." cetus ku geli.
"Nggak usah ngegas juga kali." dengus nya betรจ "dan nggak mungkin sekali tendang gue mental ke ujung dunia ngawur loe."
Aku hanya terkekeh melihat muka Asta yang datar tanpa ekspresi.
"Btw , Loe udah ketemu bonyok loe ?." Aku mencoba mengalihkan topik.
"Belum , Bonyok gue belum dateng dia masih di luar negeri kata nya malam ini dia pu... Oh god!! bonyok gue pulang malam ini! dia pasti kesel kalo tau gue gak ada di rumah dan ngira gue kelayaban gak jelas di luar rumah." Jerit nya dengan gaya lebay yang tak cocok dengan imej nya yang songong , dingin , arogant dan sok merintah orang seenak jidat nya.
Namun ku lihat belakangan ini dia agak berubah "Udah jam 22.35 saat nya pulang ke rumah."
"Ya." Angguk Asta.
Kami pun bersiap - siap untuk pulang kerumah dengan helikopter milik Mr.Andrew.
# ***halo teman - teman yang hobi rebahan di rumah ๐๐ jangan lupa untuk like ,vote ,komen and share ya #
#sampai jumpa di eps berikut nya ๐๐***#