The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 26



Lagi - lagi duo kembar itu tersenyum miring " Kami fikir ... Kalian cocok menjadi partner kami untuk melakukan penyelidikan kasus di sekolah ".


Aku menyipit kan mata ku dan berbicara " Why? , Bukan kah ada orang yang lebih hebat dari kami yang berperan sebagai murid biasa ini ? ".


Devan Terkekeh kecil lalu mengacak - acak rambut ku , Dengan kasar aku menepis nya dan menatap nya kesal " Gak sopan tau megang - megang kepala orang ".


" Ada hal yang ingin kami bicara kan dengan kalian " Ucapan Devin membuat ku berhenti merutuki Devan "Kita pergi dari ruangan ini tanpa menarik perhatian orang - orang terlebih dahulu ".


Tanpa mendengar sepertujuan kami terlebih dahulu , Mereka menarik aku dan Asta keluar dari ruang auditorium tak ku duga Devin membawa Asta pergi dan Devan menarik ku ke arah yang berbeda dari arah yang di tuju oleh Devin dan Asta.


" Kita keruang osis mereka ada hal yang perlu di urus " Tukas Devan sambil menyeret ku.


" Ta-tapi... "Ucapan ku terputus saat Cowok itu melemparkan tatapan yang di penuhi hawa pembunuh.


Tak membutuh kan banyak waktu kami sampai di ruang osis , Bocah itu juga melarang ku untuk menyalakan lampu, Dia berdiri di depan struktur foto anggota osis dengan wajah yang sulit ku baca.


"Loe pasti heran kan kenapa gue ngajak loe ke sini ? " Cetus nya mendadak setelah terdiam cukup lama.


" Ya " Angguk ku.


"Apa yang terjadi di ruang TU ? Gue yakin loe tau sesuatu " Ucap nya seraya membalikkan badan dan menatap ku dengan tajam.


"TU ? "Aku memiringkan kepala " Emang nya ada apa dengan ruangan itu ? ".


Ada apa dengan nya kenapa dia menanyakan itu dan seolah - olah dia menatap ku dengan tatapan bahwa aku lah penyebab ruang TU hancur berantakan.


" Loe beneran gak tau.. atau loe pura - pura gak tau ? "Desis nya " Gak perlu berbohong lagi...meski pun loe bagian aparat negara dan gak bisa bocorin apa yang terjadi tentang misi yang loe emban ke warga sipil loe harus ceritain ".


Aku menatap nya dengan waspada , Bagaimana mungkin dia tau siapa sebenar nya aku ? bukan kah aku sudah menutupi semua nya ? .


"Gak perlu di pikirkan dari mana gue tau " Devan mengibas kan tangan nya lalu kembali menatap ku dengan tajam bak elang yang sedang mengawasi mangsa nya.


" Lizzie Abraham loe pasti sempat curiga ke gue sama Devan kan ? Yah gue paham kenapa loe curiga sama kami " Cowok itu berjalan kearah ku.


Aku mundur beberapa langkah dan menatap nya dengan tatapan menantang " Jadi loe udah tau semua nya ? Apa mau loe sebener nya ?! ".


Tidak , Tidak ! Ini benar - benar di luar dugaan kenapa dia bisa mengetahui nya ?!.


"Mau gue ? "Senyum licik nya mengembang " Mari kita berkerja sama untuk menangkap pelaku nya ".


" Alasan gue cukup simple " Cowok menarik kembali uluran tangan nya dan, Mencondong kan tubuh nya ke arah ku dan berbisik di telinga ku " Gue mau liat seberapa besar potensi yang loe miliki lewat kerja sama ini dan misi yang loe pikul dari pihak kepolisian".


"Loe..! " Aku menatap nya dengan geram.


Devan mengangkat kedua tangan nya , Tangan kanan nya menggenggam sebuah kalung berwarna perak dengan bandul dua lumba - lumba dan di tengah kedua mahluk mungil itu terdapat berlian berwarna biru berbentuk hati.


Nafas ku tertahan saat ingatan ku terbang kearah kalung yang sering ku lihat dan terasa begitu familiar .. Ah! iya aku ingat , Aku pernah melihat kalung yang sama persis di kenakan Asta hanya saja warna berlian nya berbeda.


"Loe liat ini ? , Ini salah satu petunjuk yang di tinggal kan pelaku di ruangan ini " Kata nya dengan raut muka serius.


Devan memiring kan kepala nya saat menyadari perubahaan pada ekspresi wajah ku ". Apa loe tau sesuatu tentang kalung ini ?".


"Tentu nya nggak lah " Balas ku bete.


" Kalung ini gue temuin pas gue ngejar sosok berambut merah yang pakai hoodie hitam , Gue fikir dia pelaku nya dan sosok itu gak sengaja jatuhin ini atau mungkin sengaja ? " Gumam Devan.


Tubuh ku membeku saat mendengar itu , Berambut merah ? kalung serupa dengan Asta ? Kenapa semua bukti yang di temukan Devan mengarah pada asta ?! .


Nggak mungkin Asta pelaku nya ! , Pasti ada pelaku asli nya yang mau gunain Asta sebagai kambing hitam nya.


I-ini bukan kebetulan kan? Asta menemukan benda di masa kecil nya , Devan bod*h itu juga menemuka benda yang sama persis dengan milik Asta.


Sebener nya apa motif pelaku ? dan kenapa Pelaku nya seolah - olah tau segala nya tentang Asta dan meninggal kan jejak nya yang tertuju pada Asta ?.


"Lizzie ..."


Aku mendongak menatap cowok di depan ku .


"Bagaimana kalau loe ceritain kejadian yang terjadi di ruang TU ? ".


Aku terdiam mendengar nya dan menatap Devan tanpa berkedip sedikit pun, Seperti nya bocah ini bisa di andalkan dan gak punya mulut ember.


" Gue gak akan cerita kesiapa pun kecuali saudara gue " Lanjut nya lagi.


Dengan terpaksa aku menceritakan nya dengan detail tentu saja hanya kejadian yang ku alami dan aku tak akan menceritakan yang menimpa Asta dan Aya termasuk tentang kotak musik dan foto lama.