The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 21



Aku menahan nafas dan berbalik ke belakang , Jantung ku mencelus saat melihat sosok bertopeng keriput , berjubah panjang dengan mata hitam dingin seraya tangan berkuku panjang yang memegang sebuah..oh god ! ...Kapak ! .


……


" Voldermont ? " Gumam ku kaget saat itu juga kapak tajam itu mengayun ke arah ku , Aku segera menghindar .


Wusss...


Kapak haus darah itu kembali terayun ke arah kepala ku membuat ku mau tak mau merunduk dan melancar kan tendangan ke arah Voldermont itu namun dengan cekatan sosok mengerikan itu menghindar.


Shhhh... aku menyentuh bahu ku yang terasa basah tak urung cairan berbau amis itu adalah darah ku sendiri.


Oh , Sial ! ini sama sekali tidak keren apa lagi pelaku ini terus menyerang ku hingga membabi buta membuat ku kewalahan , Meski pun aku seorang mantan calon agent tapi dalam hal berantem aku kurang pro aku jago dalam mengumpul kan banyak informasi.


Oke oke aku akan fokus mengalah kan Voldermont jelek ini shit! Sial aku tak bisa melawan nya tanpa senjata .


Mata ku melebar saat punggung ku menyentuh pagar pembatas Nafas ku tercekat saat , Kilatan Kapak yang tajam itu mengayun cepat kearah ku.


Wusss...


Brakk...!!


Aku bergeser kesamping saat kapak keparat itu nyaris mengenaiku dan mendarat di pagar tembok hingga pagar itu retak.


" Loe tau penjahat ***** kayak loe itu perlu di hajar satu barang dua kali " Desis ku seraya melayang kan Jurus mematikan ala cewe meski memang terbilang memalukan namun di saat kejepit gini aku mau - mau saja melakukan cara licik dan keji .


Di luar dugaan ku sosok mengerikan itu hanya mundur beberapa langkah tanpa mengerang kesakitan sedikit pun, Ah dia benar - benar hebat ! Aku tak akan menyia - nyiakan waktu untuk terus bergumam tak jelas.


Aku berjalan mendekati nya seraya merogoh punggung belakang ku lalu mengambil sesuatu dari belakang tentu nya secara tidak menarik perhatian dan dengan jari ku yang siap menekan sebuah tombol.


" Siapa sebenar nya kalian? " Aku berjalan mendekati sosok itu yang berubah menjadi waspada terhadap ku.


Alih - alih menjawab sosok itu tak pernah membuka suara nya lalu mengayun kan kapak nya kearah ku , Melihat itu sontak aku menghindar dan menekan sebuah tombol pada besi yang ku pegang.


" Oh ? mencoba untuk menjadi bisu ya ? "


Kapak itu kembali mengayun kearah leher ku


Swuuss...


Refleks aku menjatuh kan diri dan menyapukan kaki ku pada kaki nya di luar dugaan sosok yang terlihat kuat itu ternyata memiliki tenaga yang sedikit lemah jadi dia hanya sempat kehilangan keseimbangan , Tak menyia - nyia kan waktu aku bangkit berdiri dan menendang tangan nya yang memegang kapak .


Sangat di sayang kan pegangan nya pada kapak itu cukup erat dan tak sanggup membuat nya lepas, Aku melompat mundur saat tangan lain nya mengayun kan kapak ke arah ku ,Shit dia memegang dua kapak!.


Aku mengaktif kan tongkat besi lipat ku nyaris aku melupakan kehadiran tongkat itu di balik switer hitam yang terbuat dari benang rajutan wol , Kemudian berlari ke arah nya dan menyerang nya menggunakan tongkat besi lipat.


Pertarungan kami mulai memanas saat itu , Sementara itu sosok itu menyerang ku dengan ganas.


Trang...


Trang..


Trang..


Aku meloncat dan menjadikan bahu sosok menjijikan itu sebagai pinjakan sesaat lalu mengayun kan tongkat ku pada tengkuk nya dengan keras .


Aku mendarat dengan tepat ...


Swusss...


Oh sial , Aku berguling ke arah lain ketika mendengar suara kapak di ayun kan dari atas ku dan kapak sialan itu sempat menggores punggung ku sebelum mendarat di lantai dan membuat beberapa keramik pecah .


Lebih sial lagi kapak satu nya terayun ke arah ku membuat ku tak bisa menghindar kecuali menahan nya dengan tongkat .


Oh, Oh , tidak ugh tenaga nya sangat besar tangan ku tidak kuat menahan nya jika berlama - lama kapak itu akan mengenai ku .


Aku harus bertahan dan menunggu Asta datang shit ... Aku harus mencari cara agar bisa terlepas dari cengkraman Voldermont palsu ini.


Arghh sial dia menggunakan kapak satu nya, Gawat...


Brak...!!!


Di luar dugaan ku lagi yang menjadi lawan ku itu langsung meninggal kan ku dan meloncat ke bawah gedung ekstrakulikuler, Sementara aku hanya duduk diam akibat rasa syok hebat.


" Wah mereka tidak takut mati rupa nya " Terdengar suara kecil dan cempreng dari dalam ruangan kemudian terlihat sosok bertopi yang keluar dari ruang TU dan mendekati ku .


" Loe gapapa kan Liz ? " Tanya Aya seraya membantu ku berdiri.


" Yeah gue baik - baik aja " Kata ku masam .


" Mereka nekat melompat karena mereka sudah punya persiapan rupa nya " Dengus Asta saat melihat tali yang terikat di pagar .


Aku baru menyadari bahwa kedua teman ku itu berlumuran darah " Kalian baik - baik aja ?"Tanya ku .


" Dari pada mikirin kami mendingan loe mikirin diri sendiri " Balas Asta dengan sorot mata tajam .


Seperti nya dia menyadari bahwa aku terluka.


" Aya loe sama Liz pergi ke uks gih obatin luka kalian , Gue mau ke ruang Cctv mau mengcopy data yang di rekam sama kamera " Ucap Asta seraya berjalan pergi tanpa menunggu jawaban kami.


" Yuk , Liz kita ke ruang uks " Ajak Aya .


" Yuk " Angguk ku .


Kami berjalan menuju uks yang memang untung nya ada di gedung sebelah ,Jadi tidak terlalu jauh banget dan sesampai di sana kami membobol pintu uks dan masuk ke dalam.


" Hmm peralatan di ruangan ini lebih lengkap dari yang gue bayang kan " Gumam Aya sambil mengorek kesana - kemari mencari sesuatu.


" Itu karena loe gak pernah ngunjungi tempat ini " Balas ku seraya merebah kan tubuh ku di kasur .


" Buat apa gue ngunjungi tempat ini ? , Males bro di sini pasti isi nya cewe - cewe yang centil dan sok lemah abis itu gosip - gosip sambil tiduran dan tertawa cekikikan kayak kuntilanak " Sahut Aya yang berjalan mendekati ku dengan sekotak obat besar.


" Sini gue obatin loe dulu abis itu , Loe obatin gue " Aya memaksa ku untuk melepas kan switer rajutan wol ku " Astaga Liz untung luka loe gak dalam - dalam banget tapi harus di jahit tenang aja suster Aya jago jahit kulit manusia ".


" Gak usah bikin gue takut napa " Dumel ku kesal , Yah aku tau Aya itu spesial identitas nya sangat mencengang kan jadi tidak heran dia bisa berperan sebagai perawat yang memiliki ke ahlian seperti asisten dokter.


" Untung gue pernah jadi relawan bencana alam dan gabung ama rumah sakit jadi keahlian gue gak sia - sia " Ucap Aya seraya membubuh kan cairan dingin ke luka ku yang sudah di bersih kan .


Lalu aku merasakan sesuatu yang tajam menusuk kulit ku dan aneh nya aku tidak merasa kan sakit sedikir pun , Setelah selesai mengobati diri ku yang memakan banyak waktu giliran aku mengobati Aya yang tak ku duga memiliki banyak luka lebih banyak dari ku .


" Musuh yang gue hadapi lebih kuat dari gue " Gumam nya " Gue gak nyangka Asta jago berkelahi anak itu menarik banget Liz , Dia bahkan gak luka sedikit pun ".


Aku hanya menahan senyum , Ah Asta memang hebat tak heran dia pantas menyandang julukan 'The Read is cruel ' Si merah kejam .


" Btw tadi kami gagal pelaku nya berhasil bawa korban " Kata Aya pelan .


"Percuma kita kejar korban nya pasti sudah ..." Aku terdiam " Meninggal..."


" Kalian sudah selesai ? " Mendadak sebuah sosok muncul diantara kami .


Sontak kami berdua berteriak keras , Sebuah tangan putih dan dingin serta lengket dengan bau amis membekap mulut kami .Membuat ku merinding ada percikan darah yang melapisi tangan itu.


" Brisik b*g*, Kalo ketahuan sama satpam yang berkeliling gimana ? " Ketus seseorang dengan suara rendah dan dingin .


Lalu tangan yang membekap mulut ku dan Aya lepas " Kalian berdua benar - benar tak becus di saat seperti ini malah asyik menggosip ".


Aku memelototi manusia bertudung hitam di depan ku " Kami gak gosip tau "


" Gila loe ta , Gue kaget banget tadi " ya mendengus kesal .


" Bisa diam gak ? " Suara dingin itu kembali membuat ku merinding " Gue udah mengcopy nya tadi "


" Kalo gitu kita pergi ke markas rahasia " Ucap ku.


"Markas ? , Markas rahasia apaan ? gue ikut dong " Kata Aya penasaran sekaligus bersemangat.


"Iya, iya loe boleh ikut " Kata ku geli lalu menatap Asta.


" Lebih cepat lebih baik " Desis nya.


Aku mengerti maksud nya , Lalu aku mengajak kedua nya untuk pergi meninggal kan sekolah.