The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 46



Camellia Devany POV.


Huh...huh..huh..


Nafas ku memburu kencang ,detak jantung ku tak beraturan saat berhadapan dengan Marcus.


kini lelaki itu tengah berjalan memutari tubuh ku dengan jarak tertentu. bahkan menyipitkan mata nya seraya menatap ku dengan tajam seolah-olah aku adalah mangsa nya tapi itu memang fakta nya.


Perlahan aku ikut memutar, mengawasi setiap langkah nya lalu mendadak pandangan ku kabur saat angin datang menerpa ku dengan kencang.


Dug..!


hwakkk...


Tubuh ku jatuh terpelanting kebelakang hingga menghantam dinding rumah lalu jatuh ke tanah. rahang ku serasa mati rasa bahkan badan ku seakan diremukkan. aku sangat bersyukur tulang leher ku tidak patah seperti nya takdir berkata lain.


"Seharusnya sejak awal anda patuh dengan perkataan saya Miss Camellia."


Tap..


Sepatu hitam pantofel milik Marcus mendarat diatas kepalaku.Dan ini penghinaan terbesar bagi seorang Devany, gigi ku gemeretak kuat saat pria itu tersenyum puas. Rasa nya begitu lelah untuk kembali bertarung sedangkan kami menghabiskan waktu lama untuk bertarung satu sama lain.


"Huh biar pun berakhir seperti ini, saya tidak menyesal sama sekali." Ucap ku seraya tertawa hambar.


"Anda sungguh memalukan tuan Marcus."


Kami berdua menoleh serentak dan mendapati lelaki dengan rambut coklat dengan mata hijau.Wajah kebarat-baratan itu melambai riang kearah kami.


"Hallo, Miss Cammellia senang bertemu dengan anda." Sapa nya dengan wajah ramah.


Aku hanya menatap nya dengan datar, sepertinya lelaki itu partner Marcus.Aku merasakan Marcus mengikat kedua tangan ku di belakang tubuh ku lalu menarik ku paksa untuk berdiri.


"Maksud mu apa?" Geram Marcus kesal.


"Bukan kah tadi anda mendengar kan nya dengan jelas? harus nya anda sudah tau maksud saya apa."Balas lelaki itu dengan wajah menyebalkan.


"Jangan karena kau lebih di sukai tuan besar, jadi kau bertindak seenak nya." Hardik Marcus tak suka.


"Yah, well saya tahu itu tapi anda sungguh memalukan melawan Miss Camellia membutuh kan waktu selama 2 jam." Lelaki itu terkekeh kecil membuat emosi Marcus meletup.


"Aku tidak peduli dengan itu yang lebih penting aku menyelesaikan tugas ku."Kata Marcus sudah jelas dia menahan emosi nya dan harus bersabar.


"Dan saya juga tidak peduli dengan urusan anda, kalau begitu saya harus mengurus Monster kecil itu." Lelaki itu melambai kan tangan kearah ku.


Wajah ku membeku saat lelaki itu memutar hendel pintu rumah dengan mudah,Lalu masuk kedalam tanpa terkena serangan apa pun.Ada apa ini? harus nya lelaki itu terluka.


Tidak, jika dia bisa leluasa masuk kedalam rumah adikku. maka Asta dalam bahaya!


"Berhentilah memberontak, ayo kita dengan ku Miss."


"Saya tidak akan pergi dengan anda!" Jerit ku seraya memberontak hebat.


Aku harus bebas dan melindungi adikku!


"Kau gadis bodoh berhentilah memberontak!."


Bugh!


Ugh, keparat itu berani nya memukul kepala ku dengan gagang pistol nya. Aku mengangkat kaki kanan ku membuat ku berdiri dengan kaki kiri sebagai tumpuan tubuh, lalu mengayunkan kaki kanan ku dengan sekuat tenaga kebelakang dan tepat mengenai ************ Marcus membuat pria itu melolong kesakitan.


Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.Jadi aku berlari secepat mungkin menuju Asta,aku harap dia baik - baik saja.


Ini salah ku membuat nya tidak sadarkan diri.


"Argh sundal! aku tidak akan membiarkan mu pergi!"


Dorr.


Letusan pistol terdengar di udara, waktu seakan menjadi lambat nafas ku kian tak beraturan.


Jlebbb!


"Ughk."


Brukkk


Aku jatuh tersungkur ketanah saat timah panas itu mengenai betis ku, rasa sakit seperti menggerogoti setiap inci tubuh. Aku menatap ngeri kaki ku yang terus mengeluarkan darah. dan menahan mati - matian agar tidak menjerit kesakitan.


Tidak, jika begini aku tidak bisa menyelamatkan Asta! uakkk... sakit..rasa nya sakit sekali, saat Marcus menginjak kaki ku. Air mata ku menyeruak saat tak dapat menahan rasa sakit lagi.


"Kau sungguh membuat ku benar - benar kesal kali ini."


Aku merangkak sebisa ku, ini salah ku aku yang terlalu lemah bahkan melindungi diri sendiri saja tidak bisa.Apa lagi melindungi orang-orang yang ku sayang, Ku pikir diri ku sudah kuat setelah berlatih bertahun-tahun ternyata aku masih lah lemah.


"Lepaskan saya, saya yakin anda akan menyesal setelah melakukan saya seperti ini."Geram ku.


Lelaki itu tidak memedulikan ucapan ku melainkan memegangi salah satu kaki ku, lalu menyeret ku dengan kasar. Bahkan tidak peduli dengan tubuh ku yang menyapu tanah.


Aku hanya pasrah membiarkan nya membawa ku pergi, Asta aku harap kau baik - baik saja.


Lagi - lagi senyum hambar menghiasi sudut bibir ku. Senyum itu lenyap saat kegelapan merenggut ku kedalam dekapannya..