
Lizzie Abraham prov.
" Miss lizzie ..."
Aku tak mengindah kan suara itu dan terus bergelung di bawah selimut meski sekarang masih siang sekitar pukul 01.00 am.
" Miss ini sudah waktu nya makan siang "
Kepala pelayan Gun mencoba membangun kan ku , Dia membuka selimut dan menarik ku bangun untuk kakek - kakek yang sudah berusia 90 thn dia cukup kuat menarik ku bangun.
" Liz malas untuk turun " gumam ku setengah sadar sementara pikiran ku masih mengawang - ngawang setelah tidur selama 49 menit," Gun bisa membawa kan makan siang untuk Liz ke kamar kan ? "
Kakek tua itu hanya menghembus kan nafas lalu meraih telefon seluler yang berguna di dalam rumah saja dan tak bisa menghubungi keluar rumah .
Lalu dia menyuruh seorang pelayan lain untuk membawa kan makan siang untuk ku ke kamar ku.
" Gun , Papa kapan pulang ? "
Gun tersenyum lembut " Lusa besok Mr.Abraham datang "
Itu berarti aku masih memiliki waktu untuk bertindak semena - mena di rumah meski hanya sehari.
Tak lama kemudian seorang pelayan masuk kedalam kamar ku dan meletak kan makanan di meja depan Tv lalu membungkuk sedikit dan berjalan pergi.
" Miss Lizzie saya pamit dulu "
Aku hanya mengangguk untuk membalas perkataan kepala pelayan gun kemudian beranjak bangun dari kasur dan duduk di sova lalu memakan hidangan yang telah di sedia kan .
Terdengar suara dering ponsel memecah kan keheningan , Aku segera mengangkat telefon itu lalu terdengar suara berat yang cukup familiar di telinga ku.
'' Halo Lizzie bagaimana kabar kamu ? "
Aku tersenyum lebar mendengar suara yang tak pernah ku dengar semenjak 2 tahun berlalu.
" Seperti biasa kabar saya baik " Sahut ku riang " Bapak sendiri gimana ? fine - fine aja kan ? "
" Ya begitu lah " Ku tebak pria itu sedang menahan senyum di tempat nya berada " Kamu pasti tau kan saya menghubungi mu pasti ada sesuatu yang perlu saya bahas ?"
Ujung bibir ku sedikit terangkat saat mendengar itu " Bapak masih belum berubah ya masih sama seperti dulu bicara pada saya hanya yang penting saja "
Pria itu terkekeh pelan lalu melanjut kan dengan nada serius " Jadi apa kamu memiliki waktu luang malam ini ? Ada beberapa yang perlu saya bahas dengan kamu "
Aku terdiam sejenak " Nanti malam saya sudah ada janji dengan Asta "
" Asta ?..." Terdengar nada bingung dari ujung telepon sana " Maksud kamu Asta Devany ?! "
" Iya saya yakin bapak masih inget dia kan ? "
" Jelas saya masih inget anak tengil itu " Cibir nya " Dia sudah kembali ke indonesia ? "
Aku mengangguk " Ya dia kembali dan kelakuan nya semakin menjadi - jadi meski tak seburuk dulu dan saya tak bisa menebak jalan pikiran anak itu "
" Dia sudah berubah " Ku tebak pria itu menghembus kan nafas pelan " Kalau begitu bagaimana kalau saya bergabung dengan kalian berdua ? sekalian membahas sesuatu yang ingin saya bahas dengan kamu "
" ...Saya yakin Asta tidak keberatan"
Aku tersenyum lebar " Gak salah tuh bapak mau gabung bareng anak abg ? pfft"
" Terus apa salah nya ? ya sudah saya ada urusan yang perlu di selesai kan "
" Kita bertemu di Cafe cantik - cantik sekitar jam 9 " Ucap ku cepat .
" Ya sudah kalau begitu nanti saya pergi ke sana " Setelah mengucap kan itu pria berusia 25 tahun itu mengakhiri telefon nya.
Haih , sebener nya dia mau membahas apa ? tunggu jangan bilang ini bersangkutan dengan kasus di sekolah jika di ingat - ingat Ajun inspektur azka yang tak bisa menyelesai kan tugas nya mungkin kasus itu di lempar ke dia.
***
Aku menatap cewek yang memakai hoodie hitam dengan kepala yang tertutupi oleh tudung hoodie nya , Dia duduk di depan ku dan bibir merah natural nya mengulum senyum misterius .
" Berapa lama loe nunggu gue ? " Tanya nya dengan suara serak seperti cowok.
" Sekitar 30 menit " Jawab ku masam.
" Mwehehe sorry deh tadi ada hambatan di jalan " Asta terkekeh kecil.
" Jangan bilang loe keluar dari rumah sembunyi - sembunyi ? " Aku menatap nya dengan curiga .
" Ya nggak lah ya ! " Cewek itu mengibas kan tangan nya lalu seorang pelayan menghampiri kami kemudian dia memesan beberapa hidangan.
" Mana si Rifki? , Jangan bilang tuh anak gak dateng ? " Dengus Asta.
Lalu terdengar suara cempreng dari meja sebelah " Gila loe ta!, Sebelum loe dateng pun gue udah ada disini "
Aku dan Asta menoleh ke Cowo yang berada di meja sebelah kiri dengan berpakaian serba hitam entah sejak kapan cowo itu ada di situ.
"Kemampuan loe makin ningkat ya " Sindir Asta .
" Gitu deh " Rifki berjalan ke arah kami dengan membawa secangkir kopi capucino dan duduk di samping ku .
Cowok itu memandangi ku kemudian beralih ke Asta " Jadi kalian mau nanyain apa ke gue ? "
Aku memberi kode agar kedua orang itu diam saat seorang pelayan membawakan pesanan Asta .
" Rif ada yang mau kami tanyain ke elo dan kami harap loe mau jawab dengan jujur waktu kita cuman 1 jam " Kata ku saat pelayan itu pergi.
" Oke gue jawab dengan jujur" Sahur Rifki tanpa berfikir panjang .
" Loe kenal Raka? " Tanya Asta lalu memotong cocolate mouse nya dan memasuk kan nya ke dalam mulut nya.
" Ya gue kenal dia , Dia kan bos preman di sekolah gue " Sahut Rifki santai dan fokus pada cangkir kopi nya.
" Loe tau kenapa dia rekomendasiin kami berdua ke bos preman di sekolah kami ? " Tanya ku dengan tatapan penuh selidik.
Cowok itu tertegun dan melirik ku ujung bibir nya sedikit terangkat " Ya... gue tau itu , Karena gue sendiri denger dia bicara sama bos preman sekolah loe berdua pas di rapat antar sekutu kemaren ".
Rasa emosi mulai menggejolak rasa nya aku ingin sekali mendatangi arka ke rumah nya dan menghajar nya sampai sekarat .
" kenapa Loe gak cegah dia buat rekomendasiiin gue ama Liz ? " Suara Asta terdengar begitu dingin , Tangan nya berhenti memotong Cocolate mouse.
" percuma gue cegah dia gk dengerin gue lagi pula posisi gue kan cuman anggota biasa gak kayak loe berdua " Rifki mengangkat kedua bahu nya dan kembali meminum kopi yang tinggal setenggak lgi.
Aku menghela nafas pelan " Kita gak tau apa yang ada di pikiran Arka seperti nya ini bukan urusan sepele apa lagi alasan yang kami tahu gak masuk akal "
"So , Cuman itu doang yang ingin kalian bahas? "
" yaa " Angguk ku .
" Btw Kebetulan ada sekolah SMA bakti bangsa mereka mau ngadain pertemuan dengan Arka dan Bos preman sekolah kalian Devin Rahardja setau gue mereka mau bahas persahabatan antara ketiga sekolah setidak nya mau nambah sekutu "
" Kalo ngomong jangan panjang lebar dong langsung ke inti nya aja! " Tegur ku malas.
Rifki tertawa dan menepuk bahu ku " Inti nya kalian bakalan hadir cuman buat pajangan di pertemuan mereka "
" Nama nya juga bos preman pasti nya mau saling pamer pacar nya " Dengus ku bete.
" Mereka cuman haus kekuasaan dan haus wanita " Cibir Asta jengkel.
Tak terasa Hampir satu jam kami mengobrol lalu Rifki yang tadi nya gak mau pulang itu dengan kasar nya Asta mengusir nya dengan tatapan medusa nya dan kata - kata pedas nya yang membuat cowok itu lari terbirit - birit ( Oke mungkin ini terlalu berlebih - lebihan ).