The Queen Of Thugs

The Queen Of Thugs
Chapter 35



Asta devany pov.


File 1.


Kasus pembunuhan siswa siswi sma bintang emas.


Sekolah Sma bintang emas menjadi gempar ketika sebuah mayat di temukan di berbagai tempat dalam kondisi mengenaskan, apa lagi anggota tubuh para korban itu terpisah dari tubuh mereka dengan sadis. akibat kejadian itu seluruh sekolah menjadi panik dan ketakutan pasal nya kejadian itu terus terulang setiap hari .


pelaku nya menunjukan bahwa dia tak takut dengan polisi bahkan para polisi tidak sanggup menghadapi pelaku yang nekad melakukan tindakan kriminal mereka tepat di depan batang hidung polisi sendiri membuat kepala penyidik yang baru naik pangkat geram.


Pada akhir nya kasus itu di limpah kan pada dua siswi sma yang beridentitas sebagai mantan calon mata - mata yang gugur di ujian semester terakhir nya di academy mata mata.


Ketika bekerja keras membekuk pelaku siapa sangka kerja keras nya di hancur kan oleh orang dari masa lalu sang pelaksana devany salah satu dari dua siswi yang menyelidiki kasus di sekolah sma bintang emas.


Akibat nya misi di selesai kan oleh orang yang sempat menjadi duri dalam daging pelaksana devany, orang itu tak lain adalah kakak nya yang sudah di nyata kan telah meninggal dunia ternyata masih hidup.


Pelaku pembunuhan berantai itu di tangkap oleh kakak dari pelaksana devany sebagai hadiah pertemuan mereka setelah bertahun - tahun tidak bertemu, Tentu saja hal itu membuat Pelaksana devany badmood berat.


Tertuduh:


Pelaku pembunuhan ini sangat cerdik membutuh kan setidak nya 2 bulan bagi para polisi, mereka memiliki kedok sebagai Voldermont lalu menculik banyak anggota osis yang kemudian di mutilasi oleh mereka dengan sadis dan kejam, namun di sisi lain ada pelaku lain yang muncul dengan kedok sebagai joker yang menculik Liz dan Aya.serta pelaku rekan mereka bisa di bilang bos dari dua joker itu adalah si merah bertudung hitam yang entah mengapa meninggal kan bukti" yang malah tidak sengaja menunjuk ke arah pelaksana devany .


Bukti bukti:


Sebuah kotak musik kayu yang di pernis sampai halus dan terdapat ukiran yang di pahat sempurna di temukan di ruang osis, bahkan kami menemukan secarik foto si kembar siam yang menyeret pelaksana devany ke masa lalu . kemudian kertas yang ditempeli foto" anggota osis sebagai struktur keanggotaan osis itu terdapat banyak sayatan sayatan yang di lumuri darah di beberapa foto anggota osis .kemudian Devan menemukan kalung yang sama persis di pakai pelaksana devany hanya berbeda warna.


Semua bukti mengarah kepada pelaksana devany seolah olah asta lah yang melakukan nya namun kami yakin asta bukan lah pelaku melainkan korban kambing hitam pelaku.


Kemudian di temukan flashdisk berisi rekaman pengakuan sang pelaku sebelum pelaku memutus kan untuk membuat diri nya bisu.


Motif pelaku:


Kasus pembunuhan ini di dasari pelaku yang ingin membalas kan dendam karena yang bersangkutan dengan masalah pribadi nya, demi mengembalikan harga diri ibu sang pelaku, pelaku rela melakukan pembunuhan.


Meski begitu mereka maksud ku komplotan pelaku mengerenguk uang di ATM korban mereka, tentu nya uang itu di gunakan untuk modal mereka melakukan tindakan kejahatan.


Visi misi kami: menyelamat kan Aya dan liz serta menangkap pelaku nya sebelum kedua teman kami di bunuh oleh mereka.


Penyidik: Asta devany, Devin rahardja, dan Devan rahardja.(sebut mereka sebagai pelaksana)(serta para bawahan bawahan nya: Lizzie abraham, Aria lexie, Inspektur yusman).


Pukk..


Sebuah buku tebal yang terbungkus plastik bening berjudul Catatan Operasi Rahasia Devany 1, jatuh tepat di hadapan ku aku mendongak dan menatap Liz yang menatap ku balik dengan heran.


"Buku nya udah selesai, loe kenapa nulisin setiap misi yang loe kerjain?." tanya nya heran.


"Buku catatan itu penting." ucap ku ."suatu saat buku itu akan berguna untuk calon mata - mata hebat di generasi selanjut nya."


"Iya gue paham ko, btw kenapa muka loe di tekuk mulu dari tadi."


"Ini gara - gara camellia keparat itu kasih informasi palsu tentang pelaku insiden kemarin gue bahkan di ketawain si mantan ajun inspektur itu gara - gara info nya salah."kata ku masam.


Brakk..


Aku terkejut saat Liz menggebrak meja bundar tempat kami belajar bersama.


"Serius lu? , loe gak lagi sakit kan ? loe gak lagi halusinasi lagi kan?." kata nya histeris seraya meraba - raba kening ku."loe juga gak lagi demam."


Dengan kesal aku menepis tangan nya."Liz!, gue gak lagi halusinasi oke?, loe liat cewek yang loe sebut gadungan itu?."


Liz tampak berfikir sejenak lalu mengangguk."Dia kakak gue camellia.. dia masih hidup." bisik ku lirih.


Meski pun aku tidak mau mempercayai hal itu , namun kulit putih yang pucat nya membuat ku dan dia berbeda, Camellia dia seorang albino memiliki kelainan pada warna kulit putih dan pucat rambut nya yang berwarna putih. begitu juga Murry yang seorang albino mereka berdua memiliki kelainan tapi hanya aku yang tidak.


Kami bertiga kembar identik tapi hanya aku yang berambut merah membuat ku tidak seperti mereka yang memiliki kulit putih pucat, warna rambut yang putih, dan iris (selaput pelangi) mata.


"Camellia dia albino seperti Murry." sela ku saat Liz hendak berkata.


Liz menghembus kan nafas nya pelan."Kalo gitu yang bikin gue heran kenapa kakak loe itu masih hidup?."


Aku menatap nya dengan ragu lalu memutus kan untuk berbohong."Gue belum mengetahui nya dia nggak mau kasih tau gue."


Kami berdua terdiam, sungguh aku merindukan camellia tapi aku membenci nya saat ini aku menganggap semua ini hanya lah mimpi.


Ketika kakak ku muncul di depan ku dengan penampilan asli ku aku seperti sedang bercermin , dan rasa nya ingin merengkuh sosok itu tentu nya aku harus menahan diri bagaimana pun gadis itu sangat licik di pertemuan kami kemarin saja dia menjelek - jelek kan bawahan ku yang sangat menjunjung ku dan ku anggap sebagai sahabat ku meski dia tidak mau mengakui diri nya di akui sebagai sahabat dan memilih sebagai bawahan.


Omong - omong tentang Rifky dia memang di penjara Namun, tidak sampai seumur hidup karena tidak ada korban yang terenggut jiwa nya, para korban nya di perlakukan dengan baik kecuali oleh komplotan nya yang hanya ingin mengeruk uang sang korban dan memperlakukan mereka dengan kasar.


"Astaaaa, ada telepon nohh kata nya dari bapak lu."Teriak Aya dari lantai satu.


Aku langsung berdiri tegak dan berlari ke lantai satu dan mengangkat telefon nya.


"Allò papa?," sapa ku datar.


"Asta, besok kamu ada waktu luang?." tanya nya tanpa basa - basi.


"Ya, Sta ada waktu luang pa."sahut ku lembut berharap papa ku sudah tidak marah dengan ku lagi.


"Bagaimana kalau kamu datang ke kantor papa?." ujar nya.


Jantung ku melonjak senang mendengar itu."Iya pa, Asta kesana kok."


"Oh ia jangan terlalu mencolok, menyamar lah seperti biasa , papa tidak mau kamu menarik perhatian banyak orang."mendengar itu semangat ku langsung menurun .


Papa ku masih tidak mau publik tau keberadaan ku juga haizss,"Baiklah , Asta mengerti."


"Bagus lah, datang lah kemari pada jam istirahat di kantor ."


"Iya ,pa." kata ku lalu memutus kan sambungan telepon seluler itu.


Saat berbalik aku dikejutkan oleh Liz yang kini mendekap ku dengan erat."Jangan letoy gue gak suka loe letoy gini, lupain soal papa loe itu dia brengsek tau?."


Aku tersenyum tipis melihat tingkah nya." Siapa yang loe katain letoy?, gue kuat gini di katain letoy?? gini - gini gue sanggup mukul dinding yang ditancepin ribuan paku."


"Bakaaa." Cicit aya dari dapur.


"Sejak kapan anak itu jadi wibu Liz." aku menunjuk Aya yang sedang makan sambil menonton one piece di ponsel nya.


Aku hanya tersenyum tipis melihat Liz menatap Aya dengan bete.


Keesokan hari nya aku berjalan memasuki gedung perusahaan milik kakek ku yang di urus oleh Ayah ku meski hanya lah cabang nya saja tapi sudah cukup mewah.


Seorang satpam mencegat ku masuk."Maaf dik anak kecil di larang masuk ini bukan tempat untuk bermain." kata nya dengan wajah segarang mungkin saat menghadang jalan ku.


"Mendingan bapak menyingkir deh gak usah halangin jalan saya." balas ku dengan tatapan tajam.


Belum sempat satpam itu berbicara seorang pria berusia 20 tahun menghampiri kami.


"Maaf pak dia adik saya, tolong biar kan adik saya masuk kami ada urusan sebentar." kata nya lirih.


"Kamu ini bagaimana hanya pegawai baru sudah berani membawa anak kecil ketempat kerja? kamu mau di pecat sama direktur?."Ketus satpam tersebut." ya sudah lah mumpung saya lagi baik hati jadi pergi lah."


"Terima kasih pak, mari dek ikut kakak masuk." ucap nya ramah .


Saat kami sudah masuk aku menarik tangan nya agar dia berhenti berjalan.


"Kenapa loe baik sama gue dan bantuin gue masuk?."tanya ku was was.


"Kamu anak magang kan?." tanya nya balik.


"Ya gue anak magang hari ini gue baru masuk dan lupa gak bawa name tag gue." kata ku bohong.


"Nah saya hanya membantu mu , di lantai dua tempat pelatihan anak - anak magang mau saya antar kan? sekalian saya ke lantai tiga."kata nya sambil menatap ku.


"Nggak usah thanks," tolak ku.


"Tapi kita selift lhoo." ujar nya lagi.


"Ugh oke." kata ku sambil berjalan kearah lift bersama nya.


Tidak ku sangat Lift ini sangat penuh dan sesak,ini sangat sempit tapi mau gimana lagi.


"Eh saya tidak pernah melihat kamu sebelum nya."seorang wanita menatap ku ramah dari balik kacamata nya.


Aku hanya tersenyum tipis untuk menanggapi nya,"Ah, bu Diana kebetulan ini anak baru yang akan magang di sini."


"Nama mu?."tanya wanita berbalut mantel coklat itu pada ku.


"Asta."ucap ku.


"Asta ya? nama marga mu apa ? kebetulan saya pelatih anak - anak baru yang akan magang di perusahaan ini." perempuan itu tersenyum lebar.


Sebelum menjawab pintu lift sudah terbuka,"Mari kita masuk yang lain pasti sudah menunggu kita."


Wanita bernama diana itu mendorong ku keluar dari lift , aku sempat menoleh kebelakang dan melirik name tag pria yang tadi menolong ku, dia bernama Anton supriadi. aku akan ingat itu.


"Ehhh, bu Diana tunggu bu." seorang lelaki tampan kira - kira dia berusia 25 tahun berlari mendekati kami.


Dia melirik ku dan melotot kaget seolah - olah ada hal yang dia ketahui.


"Lho nona kok ada di sini?, pak CEO menunggu anda di ruangan nya." kata nya ."oh iya nona nama saya Leon."


"Asta."jawab ku singkat.


"Lho Leon kenal , dengan Asta?."tanya bu Diana terkejut."lalu nona ini kan anak magang kenapa pak CEO ingin menemui nya?."


"Saya kenal dengan nona Asta," jawab cowok itu dengan senyum lebar."dan nona ini bukan anak magang dia..."


Aku memelototi nya , pria bodoh ini merusak penyamaran ku yang sempurna.


"Ah nona ini tamu di sini."


"Begitu ya seperti nya ada kesalahpahaman kalau begitu saya minta maaf karena tidak tau tentang hal itu.".bu Dina membungkukkan badan nya membuat ku jengah seumur hidup ku aku tidak pernah di perlakukan seperti ini.


"Bangun lah, anda tidak perlu bersikap seperti itu." kata ku risi.


"Kalau begitu nona saya akan mengantar anda ke ruang pak CEO."Leo menyeret ku tanpa persetujuan ku terlebih dahulu.


Beberapa menit kemudian, aku duduk di depan ayah ku dengan tanpa memedulikan ocehan nya.


"Asta papa mau kamu menyamar dan melindungi adik mu, dia dalam bahaya kamu tau? saat ini ada banyak orang yang mengincar nya apa pun yang terjadi berjanji lah kamu harus melindungi nya." ucapan Ayah ku itu membuat ku berhenti meminum kopi ku.


"Bukan kah papa menganggap ku bukan anak papa lagi? lagi pula Murry belum sadar."ketus ku kesal.


"Dengar Asta , Murry sudah sadar kan diri dan papa sudah memaafkan kamu , sebagai kakak nya kamu wajib melindungi nya."tegur ayah ku penuh wibawa." jangan kekanakan , kau sudah dewasa mengerti lah ayah mu ini tidak mau kehilangan seorang putri lagi."


Aku nyaris membanting cangkir di genggaman ku karena terbakar emosi."Papa! kau tidak ingin kehilangan putri mu lagi tapi kau mengorbankan ku! jika nyawa ku melayang demi menyelamat kan Murry itu sama saja papa kehilangan ku."


"Kalau begitu buat lah diri mu menjadi kuat dan jangan sampai kau mati sebelum semua nya telah stabil." cetus Ayah ku dengan nada santai seolah - olah itu hal biasa.


Sebuah rasa sakit merambat perlahan di hati ku ketika mendengar nya, dia gila dan dia sudah tidak peduli pada ku lagi.


"Kau berbeda dengan keturunan devany lain nya, sejak dulu kau selalu membuat kekacauan maka dari itu ayah tidak akan peduli dengan mu lagi." Tegas Ayah ku.


Aku menggertak kan gigi ku menahan emosi."Jika aku berbeda dengan yang lain lalu bagaimana dengan Murry? dia berbeda dengan anak yang lain dia Albino dan ini pertama kali nya terjadi di keluarga devany, dan juga diri ku."


"Papa bukan kah kami tidak ada beda nya? kami sama - sama berbeda dengan keturunan devany lain nya." protes ku tidak suka dengan pemikiran nya.


"Murry memang berbeda secara fisik, tapi dia lebih cerdas dari pada kamu, Murry juga memiliki sifat yang baik dan tidak memiliki kekurangan, sedang kan diri mu sikap anggun pun tidak punya dan itu kekurangan mu!, Sikap picik mu pun sedikit tidak sebanyak para keturunan devany lain nya."


Dia sudah gila tidak memiliki sikap picik pun diangggap kekurangan?, aku tidak mengerti jalan fikiran nya yang seperti nya sudah terpengaruh oleh kakek.


"Jika kau berhasil dengan tugas yang ku berikan , Ayah akan memberikan semua kartu kredit , ATM, dan tabungan mu kembali dan mobil benz silver yang kau ingin kan."Ayah ku menatap ku dengan senyum licik.


"Asta tidak butuh hadiah dari papa, kita liat aja Asta bakalan nunjukin kalo Asta berbeda dan menjadi diri sendiri apa ada nya lebih baik ketimbang harus memiliki banyak kelebihan dan ingin melakukan apa yang pernah mereka capai." Ujar ku tanpa ragu sedikit pun.


Ku lihat Ayah ku menahan senyum lalu menaruh cangkir kopi nya diatas meja .


"Baik tunjukan pada ku apa yang sudah kan ucapkan itu Asta."Angguk Ayah ku.


Senyum ku mengembang" Tentu saja , dan aku tidak akan mundur sekali pun musuh ku lebih buas dari diri ku, karena aku bukan tuan putri lemah yang harus membutuh kan seorang penjaga." kata ku dengan sinis.


Tentu saja kata kata itu di tunjukkan kepada adik ku yang manja dan hobi belanja juga boros itu.