
Asta Devany prov.
Mau tak mau aku harus berlari menuju toilet cewek terdekat di sekitar sini,tuhan pun tau saat ini kegelisahan ku memuncak di dunia ini bagi Liz sangat berharga. bahkan lebih berharga dari keluarga ku ketika seluruh penjuru dunia menuding ku bahkan mencaci maki ku, hanya dia yang bertahan di samping ku menghibur ku meski aku tak meminta hal itu.
Brukk...
Seseorang menyenggol ku membuat ku nyaris jatuh dan hampir kehilangan keseimbangan, sementara itu pelaku yang menyenggol ku itu terjerembab kebelakang karena arah yang di tuju berlawanan dengan ku.
"Shitt!." desis orang yang menabrak ku.
Aku berbalik dan menatap tajam cowok yang tadi terjerembab karena menyenggol ku dengan keras dan kehilangan keseimbangan nya,dia mendongak dan menatap ku balik. belum sempat dia berbicara aku sudah menarik nya berdiri dan menyeret nya pergi.
"Ehh gue mau di bawa kemana nih." seru nya kaget dan heran.
"Nggak usah banyak omong."Ketus ku."lebih baik loe ikut gue."
"Gak!,gak gue masih waras buat gak masuk ke toilet cewek oy!." pekik nya ngeri dan mulai memberontak.
"Berhentilah memberontak kalo loe gak mau, gue sebarin loe masuk ke sini." kata ku dengan nada rendah dan dingin.
Mendadak cowok itu berhenti memberontak dan diam berjalan mengikuti ku, kami memasuki wastafel dan melihat toilet cewek yang kosong melompong.
"Liz...?, Aya...?." tidak ada sahutan sama sekali.
Aku memeriksa satu persatu toilet namun semua nya kosong melompong, jantung ku terus berdentum lebih keras dari biasa nya keringat dingin membasahi tengkuk ku.
"Ta, ta loe kenapa sih?." Devan menepuk bahu ku namun aku tetap bergeming dengan pandangn kosong.
"Liz..Aya..." aku bergumam tak jelas.
Devan menatap ku bingung."Woy ada apa sama Liz?."
"Mereka.. menghilang?."
"Ta!, jangan bicara sembarangan dong!." cetus Devan yang mulai gelisah.
Nafas ku memburu kencang waktu seakan berhenti saat aku melihat tulisan kecil berwarna merah di pintu bilik terakhir yang ku periksa.
'It is all over.'
Glek.. terdengar suara ludah di telan secara paksa dan kasar ."I-ini..."
"Tulisan you'r next, menunjuk kan pada Aya dan Liz." Ucap ku tanpa sadar.
"Se-serius loe Ta?!." Devan menatap ku tidak percaya.
"Pelaku nya ingin bermain sama gue ya.."kata ku menghirau kan ucapan cowok itu.
Mendadak hati ku terasa sakit, ku kira yang mereka incar adalah diri ku , itu sebab nya aku membiar kan Aya dan Liz berdua .dan aku benar - benar bodoh mengira pelaku itu akan menculik ku atau menangkap ku.
"Dari pada diem disini mendingan kita liat di kamera Cctv dan lapor ke Insperktur Yusman."tukas Devan cepat sambil mendorong ku berjalan menuju pos jaga.
"Loe kenapa sih dari tadi kayak mayat hidup yang harus di seret kalo mau bergerak."Gerutu Devan bete sambil menarik ku dengan kasar.
Sementara diri ku benar - benar merasakan kiamat akan segera tiba, hal itu membuat ku menatap segala penjuru dengan pandangan kosong. dan membiarkan diri ku di seret oleh si tengil.
Aku kembali teringat bayangan sosok bertudung hitam dengan rambut merah panjang, aura nya begitu familiar gerak gerik nya mirip dengan seseorang yang selalu menjadi mimpi buruk ku di masa lalu.
Hal itu terus terekam di benak ku, kenapa semua nya seperti memaksa ku untuk teringat dengan perempuan yang dulu pernah menjadi duri dalam daging ku?.
"Ta!, Asta!."
Seruan itu membuyarkan lamunan ku dan mengembalikan ku kedunia nyata. ku lihat Insperktur Yusman sedang memanggil - manggil ku dengan wajah khawatir.
"Ah ..i-iya , ada apa pak?." tanya ku gelagapan.
"Kamu ini bagaimana? , sedari tadi bapak panggil kok kamu diam? apa yang kamu fikir kan?." tanya Inspektur Yusman bertubi - tubi.
"Ehhh, Tur kalo nanya satu - satu dong." protes ku. "mulut gue kan cuman satu gak mungkin bisa jawab semua nya sekaligus."
Pukk..!
Inspektur resek itu menepuk pelan kepala ku."Bocah nakal apa benar yang di ceritain Devan itu seperti yang kamu fikirkan?."
Aku mengernyit dan memiring kan kepala."Yang bapak maksud itu cerita yang mana?."
"Tentang Liz dan Aya yang menghilang." Sahut Devin tanpa mengalih kan pandangan nya dari ponsel.
Cowok itu benar - benar tidak bisa di tebak.
"Maksud kalian itu kesimpulan yang gue bikin." ucap ku yang diangguki mereka bertiga.
"Dan kami sudah memeriksa semua rekaman Cctv sekolah,tidak menemukan hal ganjil lain nya selain mobil fortuner hitam yang keluar dari lapangan parkir." cetus Inspektur Yusman.
"Pak, toilet cewek gak ada rekaman nya ?."tanya ku.
Lagi - lagi kepala ku terkena jitakan mulus dari kepala penyidik itu."Mana mungkin toilet cewek di kasih kamera?, yang ada dunia akan gempar."
Mendengar itu aku hanya cengengesan tanpa malu sedikit pun, tapi tawa ku itu langsung lenyap saat pandangan ku jatuh ke jam tangan yang ku pakai.
"Tur, urusan Liz sama Aya biar gue aja yang atur loe mah mendingan nyari bukti - bukti kuat di sekolah dan btw ada bukti tuh di toilet cewek." kata ku mendadak membuat Devin dan Devan memandang ku dengan tatapan horor.
"Kamu masih berani memerintah saya?." Seru Inspektur Yusman kesal.
Jelas dia marah baru naik pangkat eh udah di permalukan gara - gara di suruh suruh sama anak abg seperti ku ,pffft entah kenapa aku sangat senang jika berhasil membuat Kepala penyidik ini marah.
"Lah emang gue gak berani Tur?, loe kan kepala penyidik ya tugas nya nyariin bukti dan nangkepin pelaku yang masih berkeliaran di sekolah bak tuyul." tukas ku betè.
Wajah Inspektur Yusman itu memerah jelas dia marah besar, sebelum kemarahan nya itu meledak aku segera kabur sejauh - jauh nya ketimbang harus mendengar kan ceramah nya yang panjang lebar.
"Daah tur, gue pergi dulu ini urusan hidup dan mati nya temen gue , loe mah gak usah ikut campur."Ketus ku dengan nada songong seraya berjalan pergi.
Aku mengibas kan tangan."Silahkan aja pak toh ortu saya tidak peduli pada saya."
"Ortu kami juga gak peduli lagi sama kami berdua pak, jadi kami mau ikut Asta jaga diri baik - baik Bapak Inspektur Yusman." Teriak Devan sambil menjajar kan langkah kaki nya dengan langkah kaki ku.
"Kita mau kemana?." tanya Devin tanpa basa basi.
"Lapangan parkir." sahut ku singkat.
"Bodoh, loe gak tau posisi Liz di mana tapi seenak nya nyelonong pergi ? emang nya loe tau dia dimana?." tegur Devin tanpa ekspresi.
"Kita tau dimana dia berada."balasku saat kami sampai di lapangan parkir dan mendekati mobil Benz silver.
"Gue gak tau loe pake cara apa tapi gue yakin loe bisa nemuin tempat nya." Devan menatap ku dengan harapan besar.
"Eh, van loe suka Liz ya?."Celetuk ku saat masuk kedalam mobil dan duduk di belakang kemudi.
"Hah?!, mana ada!." Seru nya terkejut.
Sementara kembaran nya hanya duduk diam si samping ku sambil memasangkan Earphone di telinga nya.
Aku menutup pintu mobil dan menyalakan mesin nya ,kemudian mobil yang kami naiki berjalan keluar dari lapang parkir dan menjauh dari sekolah.
"Halah gak usah ngeles deh." kata ku senang saat berhasil membuat wajah cowok itu bersemu merah.
"Yee apaan sih loe mau gue cekik ya?, gak mungkin gue suka Liz." Ucap nya sambil membuang muka.
Aku tertawa keras lalu melirik jam tangan berfungsi ganda, Sebuah titik merah kecil berkedap - kedip di tempat lain.
Meski pun bunyi nya lemah tapi bagi ku itu sangat penting."Alat pelacak ya?."
Devan menatap jam tangan ku dengan kening yang mengerut.
"Bisa buat panggilan suara juga & voice note."Angguk ku.
"Video call bisa kagak?." tanya Devan penasaran dan mulai tertarik.
"Tentu aja bisa." Kata ku bangga.
Sebenar nya di mobil ini juga banyak perlengkapan canggih di balik dinding - dinding mobil, Hanya saja aku tak mau dua warga sipil itu tau dan ini salah satu hal yang menjadi rahasia aku dan Liz.
"Sekarang liz ada di mana Ta?."
Aku melihat titik merah itu berkedap - kedip centil di sebuah gambar kotak , jari ku menyentuh titik kecil itu kemudian layar transparan muncul dan memperlihat kan bangunan tua dan kumuh dengan cat tembok terkelupas dan dinding penuh dengan lumut.
"Tempat itu tak jauh dari sini." kata Devin yang sedari tadi diam."kalau tidak salah bangunan itu bekas pabrik baju yang bangkrut."
"Oohh, btw vin kok loe tau itu?." Devan menatap kembaran nya .
"Ya tau lah gue kan pernah jadiin tempat itu buat perekrutan anggota preman." papar nya.
"Ngapain loe ngadain perekrutan anggota preman? kan anggota loe banyak." kata ku heran.
Cowok itu hanya tersenyum tipis dan mengacak - acak rambut ku." Udah fokus nyetir aja gak perlu fikirin itu."
"Oke."
Bip - bip - bip, titik merah itu semakin berkedip cepat suara nya juga lebih cepat dari tadi saat mobil kami mendekati bangunan tua itu.
"Kita berhenti di sini aja, Ta loe parkirin mobil nya di balik semak belukar itu."
Tanpa ku suruh pun aku pasti akan menaruh mobil Liz ini di situ, namun gaya pengatur cowok itu mulai kumat membuat ku jengkel.
" Nah sebelum masuk gue mau bilang ke kalian." cetus Devin sambil menahan ku untuk tidak beranjak pergi dari mobil.
"Setau gue, ada pintu belakang di gedung itu ."mata nya menatap ku lalu beralih ke Devan.
Aku memandangi nya dengan serius.
"Dan kita bakalan lewat situ nah nanti kan ada 3 pintu ,kita buka salah satu nya."Aku menatap Devin dengan tatapan antusias."nah di dalam nya kan ada tangga darurat entar devan ke lantai dua buat nyelametin dan ngamanin temen - temen loe ta."
"Terus loe gimana vin?." tanya Devan.
"Gue sama Asta urus lantai satu yang udah pasti ada banyak penjaga nya dan bikin kekacauan supaya mereka gak menyadari keberadaan loe." jawab Devin dengan senyum licik nya.
"Bilang aja loe mau pacaran sama Asta." Cibir Devan kesal.
Aku memelototi nya."Mana ada heh?! mau gue bacok ya bilang kayak gitu?."
"Weits sabar - sabar bro gue cuman bercanda aja." kata Devan cepat sebelum emosi ku meluap.
"Anggap aja si Devan radio rusak , Ta." Cetus Devin dengan seringai nya."Di lantai satu loe cuman perlu diam aja sementara gue yang habisin penjaga di situ."
"Loe tau dari mana di lantai satu banyak penjaga?." tanya ku curiga.
Cowok itu terkekeh kecil dan merangkul ku."Denger ya itu cuman tebakan gue aja lagian setiap orang yang menempati pabrik bekas itu biasa nya anggota geng motor yang berandal banget."
Aku mengangguk paham, lalu memelototi cowok itu saat sadar sedari tadi tangan nya merengkuh bahu ku ."Mau gue potong tangan loe ya?!."
Sontak Devin menyingkir kan tangan nya saat mendengar perkataan ku.
"Loe jadi cewek jahat amat sih pantesan gue liat gak ada satu cowok pun yang deketin loe, ternyata sifat loe keji gitu." kata nya bersungut - sungut , membuat ku dongkol setengah mati.
"Udah - udah , mendingan kita langsung beraksi." Devan menengahi kami berdua sebelum peperangan muncul diantara aku dan Devin.
"Oke."dengus ku kesal.
Pada akhir nya kami keluar dari mobil dan mendekati pagar tinggi pabrik dengan hati - hati dan waspada tingkat tinggi.