
Lizzie Abraham prov.
Kemudian tangan nya menyibak tuduh jaket nya , terlihat rambut merah panjang tergerai begitu saja . Nafas ku tercekat menatap wajah yang familiar.
Meski pun terkena percikan darah namun tetap saja pesona nya tak terkalah kan, mendadak hati ku merasa nyeri aku merasa di khianati .
Sungguh ini menyakit kan, wanita itu menyeringai lebar menampakkan wajah nya yang licik dan kejam.
.
.
.
"Asta..?!" pekik ku terkejut.
"Ehhh.!!" Aya terperanjat mendengar seruan ku."Liz dia bukan Asta mana mungkin Asta secantik itu!."
Aku menggeleng."Apa yang kamu liat tentang Asta itu hanya lah kedok nya."
Tatapan tajam ku bertemu dengan tatapan sinis milik gadis yang memiliki penyakit heterocromia iridium.
"Gak, gak mungkin loe itu Asta kan?!." Ketus ku .
Aku sangat berharap ucapan ku itu benar, jika tidak itu akan sangat menyakitkan mengingat kami berdua, telah bersahabat dan menjadi sohib seperjuangan sehidup dan semati.
"Maksud loe selama ini Asta nyamar." Kata Aya dengan nada tinggi.
Mau tak mau aku hanya mengangguk."Benar - benar di luar perkiraan gue." desis Aya kesal.
"Yah seperti nya kalian salah melihat?." Cewek yang memiliki wajah serupa dengan Asta itu tersenyum miring.
"Ah lupakan itu." Asta gadungan itu mengibas kan tangan nya dengan gaya meremeh kan.
"Dia pasti datang, aku yakin." kata nya dengan nada penuh keyakinan."Dan cukup kalian berdua hanya perlu duduk manis disini menunggu teman kalian datang kesini."
"Enak aja , mana mau gue di suruh duduk manis di saat temen gue kesusahan? emang nya elo yang duduk diem di kursi loe sementara anak buah loe sibuk bertarung."Cibir Aya mengkel.
Pelipis Asta gadungan itu berkedut, menandakan bahwa cewek itu sedang menahan emosi nya .
"Oh jangan bilang muke loe itu opras ya?." Cibir Aya kembali membuat Asta gadungan itu kesal.
Mendidih darah nya dengan kasar Asta gadungan itu menampar wajah Aya dengan menggunakan pegangan pistol yang entah dari mana dia dapat kan senajata itu.
Cairan merah turun dari sudut bibir Aya yang melengkung sinis."Jadi benar ya muka loe itu opras."
"Sekali lagi kamu bicara, teman mu ini aku bunuh." Ancam Asta gadungan seraya menodongkan pistol kearah ku dengan sorot mata tidak main - main.
"Cih gitu aja marah dasar gak asyik." Keluh Aya cemberut.
Entah kenapa emosi cewe di depan ku itu tidak meledak kembali, Seperti tadi.
"Bos, dia datang." Seorang kacung nya Asta gadungan tadi muncul di balik pintu dengan wajah cemas.
"Ah!, benar kah?! tidak sia - sia aku melakukan ini demi bertemu dengan nya." Mendadak wajah Asta gadungan itu berseri - seri membuat ku merinding.
Meski pun wajah nya terlihat seperti boneka barbie yang gembira namun entah kenapa aku sangat takut dengan ekspresi nya itu, Seolah - olah ada hal mengerikan yang di sembunyikan wajah ceria itu.
Dengan riang gadis itu keluar dari ruangan ini sambil bersenandung kecil, entah hal apa yang membuat nya begitu senang sampai - sampai membuat ku bergidik ngeri.
"Serius Liz, Asta punya wajah asli kayak dia?."Tanya Aya mendadak.
Aku mengangguk kelu."Gue hampir ketipu, liat perbedaan besar tadi, Asta asli gak bakalan bersikap manis banget. dan gak punya rambut panjang kayak gitu."
"Mungkin aja tuh cewe iri sama Asta terus opras muke nya biar mirip sama pake soft lens biar mata nya unik terus rambut yang di warnain." Celetuk Aya dengan wajah jijik.
Aku menoleh pada Aya dengan tatapan bingung.
"Kok loe gak kaget?, tau wajah asli Asta gitu."
"Forget it gue gak mau bahas identitas gue yang dulu , prioritas kita sekarang itu bebasin diri dari sini sebelum cewek gila tadi balik kesini."Balas ku .
"Wokehh." kata Aya sambil memutar kan bola mata nya dengan malas.
Dengan mudah nya aku melepas kan tali yang membelenggu kedua tangan ku, Kalian penasaran bukan? tentu saja aku menggunaan trik rendahan yang terkenal di dunia mata - mata meski itu hanya kah trik tipuan dasar.
Mata Aya melebar saat melihat kedua tangan ku sudah bebas, "Lah..? kok.."
"Gue nipu orang yang ngiket gue jadi nya gue bisa bebas kapan aja." Sela ku sebelum Aya menanyakan hal itu.
"Ohh." Aya hanya ber-oh-ria.
Kemudian aku melepas kan ikatan yang mengikat kedua tangan Aya, lalu memeriksa lokasi Asta berada.nafas ku tercekat saat alat pendeteksi memperlihat kan dua titik dengan beda warna berada di tempat yang sama.
Jangan bilang Asta ada di sini?!, dan yang di maksud dia oleh asta gadungan itu adalah Asta yang asli atau kah bukan?.
"Loe kenapa Liz?."
Aya menatap ku dengan khawatir ,"Gapapa gue baik baik aja." Sahut ku cepat.
''Yuk kita keluar."Ajak Aya."Wah -wah pintu nya di kunci Liz."
Aku langsung membobol nya dengan beberapa barang yang ku miliki, tidak ada gunanya untuk memikir kan asta di sini atau tidak.yang jelas dua orang penculik tadi ternyata menjaga pintu tempat di mana aku dan Aya di kurung .
Mereka terkejut melihat kamu keluar dari dalam.
"Udah gue duga kalian gak mungkin di tahan cuman make tali doang." Gerutu, salah satu dari dua joker itu sambil menyerang ku dengan shit! tongkat bisbol.
Aku menghindari ayunan itu namun mendadak,Joker palsu itu terjatuh dan tidak sadar kan diri saat tongkat bisbol lain nya mendarat di kepala nya. Ugh oh aku harap dia tidak terluka berat.
"Keren kan? gue bisa belokin serangan musuh gue ke arah partner nya?."Seringai Aya dengan bangga.
"Keren sih keren tadi kalo gue gak menghindar tuh tongkat dan bikin gue pingsan." Cibir ku sambil menendang satu joker palsu yang di groyok oleh ku dan Aya.
"Liz kenapa gue merasa cewek itu beneran Asta?."Aya mengerling kearah ku lalu memeriksa joker yang di buat pingsan oleh nya.
"Mana ada? jangan bicara aneh - aneh deh!."Cetus ku kesal.
Meski pun sebagian diri ku ingin berteriak bahwa , perempuan tadi adalah Asta yang asli dan berpura - pura bukan diri nya.namun aku tak mau mempercayai itu.
Bagaimana mungkin Asta yang memiliki rasa keadilan, dan menjunjung tinggi persahabatan nya mana mungkin dia melakukan ini kepada ku?.
"Seseorang bisa berubah Liz."Aya menepuk bahu ku, saat melihat perubahan ekspresi di wajah ku.
kami terus berjalan di koridor menuju tangga yang terhubung ke lantai satu.
"Gue tau..tapi, gak mungkin asta lakuin hal tadi!." Sergah ku tak setuju.
"Gak mungkin gimana Liz!," Raung Aya marah."Loe liat gak sih kepala gue bocor?, dan loe tadi bilang dia mirip sama Asta dan liat penampilan nya yang kelewat mencolok itu !."
"Di indonesia apa ada yang punya tampilan unik kayak Asta?!." Seru Aya dengan nada tinggi.
Wajah nya terlihat merah padam, menandakan dia sedang marah besar.
"Loe gak kenal banget sama Asta!, dan loe bahkan gak mengerti banget seperti apa sosok Asta." Balas ku dengan suara tak kalah dengan seruan nya.
"Asta gak akan pernah ngelukai sahabat nya Ay, dia menjunjung tinggi nilai persahabatan nya!." Cetus ku dingin.
"Terserah loe Liz, iya gue tau gue gak kenal banget sama Asta bahkan sikap nya yang gak gue pahami."ucap Aya lirih."tapi satu hal yang perlu loe tau.. manusia gampang berubah gak peduli seperti apa sosok nya itu gak ada pengecualian."
"Udah selesai berantem nya?."
Sontak kami berdua menoleh ke kebelakang , saat mendengar suara yang akhir - akhir ini mulai akrab di telinga ku.
"Sekarang kalian gak boleh lengah ngerti?, bahaya tau teriak - teriak kayak tadi gimana kalo ada musuh yang denger suara kalian?." gerutu cowok di belakang kami.
Tidak lain dan tidak bukan cowok itu adalah.. Devan.