
Asta devany POV.
Perempuan itu hanya menatap ku dengan tak berdaya"Harus nya kau tidak datang kemari." bisik nya dengan suara lemah.
Kaki ku melangkah mendekati nya dengan perlahan, lalu berhenti tepat di depan nya. tangan ku bergerak melepaskan rantai yang menjerat kedua tangan perempuan itu dari sisi kanan lalu bergegas ke sisi kiri. rasa perih hinggap di sanubari ku melihat begitu banyak luka cambuk di tubuh berkulit putih pucat itu.
Bercak darah membasahi kaos putih nya itu , bahkan kaos nya pun terlihat sobek dan compang - camping. dengan lemah nya Camellia terjatuh kearah ku setelah kedua rantai yang mengikat nya terlepas, sementara aku dengan cekatan menangkap tubuh nya yang tak bertenaga itu.
"Kalo gue nggak dateng, mungkin aja loe bakalan mati." Tangan ku merengkuh erat tubuh kakak ku.
"Jika aku mati itu bagus untuk mu, aku tidak akan menjadi saingan mu di masa depan nanti ."
Sial, mata ku berkaca - kaca saat mendengar nya."Bodoh, biarpun suatu saat loe jadi lawan gue pun nggak peduli itu." kata ku seraya menahan air mata yang hendak jatuh.
"Jangan berpura - pura menjadi kuat, aku sudah berada di samping mu lagi kamu boleh menumpahkan semua emosi yang kamu pendam itu."
Dia belum berubah, disaat sedang sekarat dan kehilangan banyak darah perempuan ini sempat - sempat nya berkata seperti itu.
"Lalu, aku dan kamu tidak boleh menyesal jika akhir nya kita terpaksa untuk membunuh satu sama lain." Ucap nya lalu mendadak tubuh nya menjadi jauh lebih berat dari tadi.
Dia.. pingsan.
"Jika pada akhir nya kita akan menyakiti satu sama lain, aku tidak akan segan lagi untuk membunuh mu Meksi pun kau adalah kakak ku."Aku tersenyum getir.
Karena semua ini, keadaan yang memaksa kita untuk menjadi lebih kejam dan tak memiliki perasaan apa pun. bahkan aku lebih berharap pertarungan itu tidak terjadi.
"Sudah cukup nostalgia nya, aku akan membawa nya ke kamar mu."
Aku menoleh kebelakang dan mendengus kesal pada pria di belakang ku itu, lelaki itu sebelum nya mengatakan tidak mau ikut karena itu tidak mengasyikkan. tapi sekarang dia malah mengikuti ku pergi ke rumah kediaman Devany.
"Apa Om sudah mengurus yang lain?." tanya ku saat Om Willy merenggut kakak ku dari dekapan ku.
"Tentu saja sudah, mereka sudah ku tangkap hanya satu orang lagi." balas nya.
"Siapa?." aku menatap nya dengan penasaran.
"Vallac Devany." jawab nya singkat lalu berjalan mendahului ku.
Kami memasuki lorong rahasia menuju tangga tersembunyi yang akan membawa kami hingga lantai atas.
"Aku akan mencari nya." kata ku sambil berfikir sebentar, mungkin lebih baik aku pergi keruang protokol kemanan atau keruang Cctv keluarga Devany.
"Baiklah, anak itu ada dikamar ibu mu." Lelaki itu tersenyum puas saat membeberkan informasi yang menurut nya .. entahlah aku tidak mengerti jalan pikiran nya.
"Kamar di rumah ini terlalu banyak, bahkan saya harus memeriksa nya satu persatu itu pun jika kau tidak memberitahu ada ruang Cctv, serta peta nya mungkin saya akan tersesat di rumah ini." keluh nya." Dan mungkin akan memeriksa kamar para pelayan."
"Loe nya yang bego, rumah sebesar ini masa nggak kepikiran ada Cctv serta ruang protokol keamanan." Cibir ku.
"Yeah, serumit apa pun dan setinggi apapun keamanannya pasti ada kelemahannya." balas ku saat menaiki anak - anak tangga.
Tangan ku menyurusi pagar yang melingkar di tangga, tangga ini tersembunyi di balik tiang besar yang menjulang di tengah rumah. sebagian orang awam mungkin menyangka pilar ini sebagai hiasan saja. tapi tidak demikian.
"Kau tidak lelah Asta?."
"Nggak sama sekali, kalo capek pun udah dari tadi minta di gendong sama om." cibir ku.
"Hmmm," Om Willy terlihat tidak suka mendengar ucapan ku."Jika kau meminta saya menggendong mu jangan berharap, kau tahu di luar sana saya bertarung sendirian demi membantu mu masuk dengan mudah ke ruang bawah tanah."
"Berapa banyak orang yang Om kalahin?." tanya ku penasaran.
Lelaki itu terdiam sebentar lalu menjawab."Sekitar 25 lebih."
Mata ku membulat mendengar itu, wow seperti nya agent tingkat senior memang beda dari yang ku pikirkan. mereka sangat tangguh. tentu saja aku tidak mau mengakui itu.
"Tenanglah, kau jauh lebih hebat dari saya."kata nya dengan wajah gusar.
Mendengar itu aku merasa tersanjung."Thanks, kalo begitu kita berpisah Disini."
Kaki ku berhenti melangkah saat tiba di pintu lantai 1, sementara tujuan lelaki itu masihlah jauh tepat nya di lantai 3. Rumah ini terbagi menjadi 5 lantai. lantai yang paling dasar adalah ruang bawah tanah.
Jadi bisa di bilang hanya orang awam yang mengira lantai di rumah ini hanya ada 4, tanpa membuang - buang waktu lagi. aku segera membuka pintu di samping ku lalu keluar dengan cepat saat mengetahui tidak ada siapa pun di ruangan kakek ku.
Ya pintu ini tembus ke ruangan nya, aku tersenyum dan melambaikan tangan kearah Cctv. asal kalian tahu saja kamera pengawas itu tidak terhubung ke ruang protokol keamanan. tentu saja kakek tua itu tidak mau ada yang mengawasi nya di ruang kerja nya sendiri.
Lalu kemana kamera itu tersambung?, aku yakin itu pertanyaan yang berada di benak kalian kan?. kamera itu terhubung pada komputer nya, aku tidak peduli beliau tahu diri ku masuk kedalam sini. toh aku tidak takut dengan nya.
Persetan dengan segala aturan di rumah ini, aku akan membuat ruangan ini kacau lalu menghancur kan banyak dokumen penting. tentu saja aku tidak sebodoh itu, aku hanya perlu menyobek yang palsu dan menyembunyikan yang asli.
Salah satu nya sertifikat tanah perkebunan di Hokkaido , yang asli ku sembunyikan dan aku menyobek - nyobek lembaran palsu yang kubuat semirip mungkin hingga ke sobekan terkecil. tidak bisa ku bayangkan ekspresi lelaki tua lelaki tua itu jika menyadari hal ini.
Apakah dia akan frustasi dan bunuh diri?, ah sepertinya dia tidak akan melakukan hal konyol itu. mengingat temperamen nya yang sok bijaksana dan tidak mudah menyerah dengan apa yang ingin dia dapat kan hingga semua nya benar - benar ada dalam genggaman tangan nya.
Hmm?, aku bahkan tidak bisa menebak sifat lelaki tua itu. dia seperti bunglon yang suka berubah - ubah warna. setelah selesai aku keluar dari ruangan itu sepertinya aku sangat beruntung mereka sibuk dengan acaranya hingga tidak menyadari diri ku akan kembali menyusup dan mengacaukan semua nya.
Hi, aku sangat - sangat minta maaf karena terlalu lama tidak update. yah sebenernya sih gara - gara gak punya ide juga sih😅.
Aku minta maaf kalo cerita nya kurang seru,bahkan setiap bab banyak typo yang bertebaran dan alur yang gaje. jujur aja sebenernya terlalu banyak kesalahan di cerita ini bahkan sampe bingung apa yang perlu di perbaiki. 😅 ku akui bakat menulis ku masih payah peletakan titik dan koma aja masih nggak bener.
Yah, inti nya jangan sungkan buat kasih saran atau kasih tau letak kesalahan di tulisan ku.