
Murry Devany pov.
Suasana malam ini begitu menyenangkan selesai makan malam, kami berkumpul di tempat keluarga dan menceritakan pengalaman masing - masing bagi kami para remaja dan terpisah dari para ortu yang berkumpul di sebelah ruangan.
"Ry, gimana keadaan lo? gue denger waktu itu loe masuk rumah sakit. " tanya Lea dia cucu kakek ku entah yang keberapa aku tak ingat sebab cucu kakek ku sangat lah banyak.
Aku tersenyum lembut. "Iya tapi sekarang gue udah baik ko. "
"Pembuat onar itu makin gila aja, apa dia gak kapok di hukum sama kakek?. " Dengus Daren dia sangat membenci Asta.
Ku dengar waktu dia masih SD kelas enam selalu terkena ulah jahil Asta dan selalu kalah dalam bersaing dengan kakak ku.
"Orang kayak gitu mana mungkin nyesel dan insyaf. " Kata perempuan berambut hitam dan bermata biru yang tidak lain adalah Lea.
Aku menyeringai lebar saat mengetahui semua saudara ku tidak menyukai kakak kembar ku, mata ku menatap Atha dengan waspada dari semua saudara ku dialah yang berpihak pada Asta. dan dia adalah ancaman terbesar ku.
"Oh ya, Ry minggu depan loe ultah udah ada rencana?. " Pertanyaan itu terlontar dari mulut Chika yang sedari tadi diam.
Ku memiringkan sedikit kepala ku. "Hmmm, belum ada tapi mungkin dirayakan nya di rumah saja. "
"kenapa gak di Villa pribadi aja yang yogyakarta? atau di restoran terkenal yang akhir - akhir ini lagi ngetren. " Usul Daren.
"Cabang restoran dari London bukan?. " Tebak Chika.
"Iya, meski pun cabang tapi sangat cocok untuk kalangan kita. "
"Gue denger pemilik restoran itu orang Indonesia juga tapi diriin pusat restoran nya di London. "Gumam Lea.
"Pemilik nya sangat kaya, lebihin keluarga kita. " Celetuk Atha.
Daren memelototi nya. "Enak aja, jaga omongan loe tuh tha nggak mungkin tuh pemilik restoran lebih kayak dari keluarga kita. "
"Mentang - mentang keluarga kita, keluarga triliuner jadi loe gak percaya ada yang lebih WAH dari kita?. " Ketus Atha sewot.
"Eh, udah - udah jangan berantem lagi. " Chika mencoba menengahi mereka berdua yang kini saling memelototi satu sama lain.
"Jaga sikap kalian, ingat kita lagi di rumah kakek. " Tegur Lea dia memang sering mengingat kan akan sikap dan tingkah - laku kami.
Brakkk...
"Arghhhhh!!!. "
Kami menjerit kaget saat sosok tubuh bergelimang darah jatuh dari atas, dan mendarat di tengah tengah kami.
"Tolong ada mayattt...!! " Daren menjerit histeris bak cewek yang rok nya di singkat oleh cowok jelek.
Aku langsung bangkit berdiri dan menghindari tempat kami berkerumun, begitu juga yang lain kecuali Daren yang masih tertindihi oleh tubuh seorang pelayan perempuan.
Rasa syok menghampiri ku, saat melihat darah yang bersimpang di pakaian pelayan perempuan dengan seragam yang terkoyak bahkan terlihat daging yang mencuat keluar. sudah pasti seseorang mencabik - cabik tubuh nya adalah psycopath yang gila.
Tanpa sadar aku mencengkram erat lengan chika begitu juga Chika dan Lea yang memeluk ku dengan rasa takut yang memuncak.
"Ada apa ini ribut - ribut?!. "Teriak kakek ku tiba - tiba muncul di dekat kami begitu juga bersama orang tua kami.
Wajah mereka terlihat pucat pasi saat melihat sosok pelayan yang bersimpang darah dengan mata yang di jahit serta mulut nya bahkan dada yang tercabik - cabik. pelayan itu terlihat sekarat dan mengenaskan.
" Jelas kan apa yang terjadi disini?."
"Ka-kami, tadi sedang berbincang - bincang men-mendadak. " Oh sial mulut ku tak bisa di ajak kompromi ini sangat memalukan, tapi bagaimana pun juga aku sangat ketakutan entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang familiar.
"Mendadak seorang pelayan terjatuh dari atas dan menimpa Daren dalam kondisi seperti itu. " Lanjut Atha dengan wajah datar.
"Jatuh dari atas?," Gumam Paman martin heran.
"Marcus!." Panggil Kakek ku.
"Astaga apakah ada penyusup yang masuk?. "
" Ini pasti ulah pembunuh bayaran. "
"Tidak aku yakin ada ******* yang berhasil masuk kedalam rumah."
"Ayah bagaimana ini?."
"Diam kalian semua!. " Tukas kakek tegas saat anak - anak nya panik. "Lebih baik kalian tenang kan anak - anak kalian. "
"Mr.Devany gawat!. "
Marcus menghampiri kakek ku dengan tergesa-gesah .
"Marcus jalan mu sangat lambat, cepat memperketat pengamanan dan penjagaan di rumah ini dan tangkap pelaku yang membuat pelayan ini sekarat. "
"Baik, Mr. Devany tapi ada yang saya ingin sampaikan pada anda. "
Marcus membisikkan sesuatu pada kakek ku, raut wajah kakek ku itu bertambah kesal.
"Jangan biarkan dia pergi saya belum mendapatkan apa yang saya mau. "
"Baik, Mr. Devany. "
Bru kk!!..
Ketegangan menyelingkupi kami semua, lagi - lagi mayat seorang pelayan laki - laki terjatuh dari atas, keadaan semakin mencengkam saat mayat ketiga terjatuh namun, keadaan nya jauh lebih parah dari mayat sebelum nya kali ini dengan isi tubuh yang terburai bahkan sampai keluar.
Ini adalah mimpi buruk ku yang paling mengerikan, Ibu ku memeluk ku saat Chika dan Lea di bawa ke ruang rawat di rumah ini. mereka pingsan saat melihat mayat ketiga terjatuh.
"Tutup mata mu, nak. " Bisik ibu ku pelan.
Aku menuruti nya dan memeluk nya erat, tubuh ku mengigil saat melihat isi perut pelayan tadi.
"Mom, kenapa kita tidak menelefon polisi?. " Tanya ku pelan.
"Itu hanya akan membuat semua nya menjadi semakin rumit. "
"Siapa di sana, cepat tunjukkan diri mu. " Ketus Kakek ku.
"Dalam hitungan ke tiga saya tidak akan segan - segan untuk menelefon aparat negara. "
"Tanpa loe hitung pun , gue bakalan muncul sendiri kok. " Terdengar suara serak yang menggema dari lantai atas.
"Tolong le-lepas kan saya Miss."
"Lepasin loe? Huh bentar lagi juga gue lepasin loe. "
"Asta Devany!. " Pekik Seseorang dari suara nya aku tahu ini Daren.
Aku membuka mata ku lalu mendongak keatas, dan melihat sosok gadis berambut merah menyala serta kedua bola mata yang berbeda warna itu tengah menatap kami. Dengan tatapan menyalang nafas ku tercekat saat pandangan ku bertubrukan dengan gadis itu.
Dia sangat terlihat mengerikan, percik kan darah terlihat diwajah nya. jaket kulit berwarna hitam nya itu menutupi noda darah yang menempel di tubuh nya, yang paling mencolok dari nya adalah kedua tangan yang berlumuran darah.
Tangan kanan nya itu mencengkram erat kerah baju pelayan perempuan, hingga merasa tercekik yang membuat ku tercengang adalah pelayan itu dulu pernah menjadi pelayan pribadi ku.
"Mi-miss Murry to-tolong selamat kan saya." kata nya dengan suara tercekat terlihat jelas dari sorot mata nya yang benar - benar ketakutan.
"Ti-tidak mungkin!, bukan kah kamu bisu Asta?." kata Ayah ku tak percaya.
"Sebagai Ayah gue, loe sangat bodoh. " Cecar Asta.
"Asta jaga bahasa mu! " Bentak kakek ku kesal.
"Percuma gue jaga bahasa gue kalo loe semua pun gak ngehargain gue, dan tragis nya bokap gue sendiri yang bikin gue bisu. " Teriak Asta hati ku tergetar saat melihat kebencian di mata nya.
"Papa, apakah yang di katakan Asta itu benar?. " Ibu ku menatap ayah ku dengan tatapan tak percaya.
"Benar." Angguk ayah ku tanpa rasa bersalah.
"Oh jangan salah kan gue, gue bunuh pelayan kecil ini. " Tanpa berperasaan kakak ku itu melemparkan pelayan itu dari lantai atas.
"Jangaaannnn!!. "
Nafas ku memburu kencang saat pelayan itu menghantam lantai hingga kepala nya pecah dan berdarah.
"Loe kejam Asta!. " Jerit ku tak tahan.
Aku menatap nya dengan air mata yang mulai tumpah, ada rasa sakit yang mencubit hati ku kakak ku yang sekarang benar - benar telah berubah dia.. monster.
"Kejam?. " Asta menaikkan alis kanan nya dengan heran. "Yang lebih kejam itu kakek loe, dia tega nyuruh cucu nya sendiri bunuh diri bahkan ngancam dia kalo gak mati, gue dan elo yang mati!."
"Itu nggak mungkin. " Sergah Daren. "kakek gak mungkin tega seperti itu. "
"Tutup mulut mu Asta, turun kemari dan Terima hukuman dari kakek!. "
Kakek ku menatap Asta emosi nya kali ini tak bisa di tahan, melihat cucu nomor dua nya itu menggila.
Alih - alih menuruti kakek ku, Asta tetap bergeming di tempat nya.kakak ku itu terdiam sambil menatap kami, lalu tertawa cekikikan seperti orang gila.
"Ck, ck bedebah kayak loe masing inget gue cucu lo? Hahahaha lucu!. "
"Kalian berpesta tanpa undang gue, makannya gue datang kesini buat kacauin. "
Kakak ku itu terus mencerocos seperti orang gila, dia bahkan tak menyadari jika Paman ku Martin membidikkan sesuatu kearah nya.
"Jangan Martin! . " Pekik ibu ku Namun, telat Paman ku itu sudah menarik pelatuk senjata nya.
Dorr..!!
Mulut ku ingin berteriak pada gadis yang sedang berbicara sendiri itu, tapi terasa sangat sulit untuk mengeluarkan nya. aku sadar sebenci - benci nya diri ku pada nya aku masih menyayangi nya.
"Tidakkk!!. " Jeritan ibu ku menyatu dengan suara letusan pistol yang kedua.
Semua orang terlihat tegang begitu juga diri ku, aku menutup rapat mata ku . aku tak mau melihat nya terbunuh di depan mata ku.
"Huuff, astaga Paman loe sangat agresif banget ingin gue mati. "
Aku menghembus kan nafas lega saat mendengar suara familiar itu, aku memberanikan diri untuk membuka mata dan melihat kakak ku sedang bersandar di pagar dengan santai nya.
"Huh, neraka pun tak sudi menerima mu. " gerutu Paman Martin.
Plakkk..
"Diam kamu brengs*k," Teriak Ibu ku kesal. "Sekali lagi saya lihat kamu mau membunuh anak saya, saya tidak segan - segan untuk menuntut mu atau saya yang akan menembak kepala bodoh mu itu. "
"Sayang sudah lah. " Ayah ku mencoba menenangkan ibu ku yang sedang kesal.
"Ayah macam apa kamu, anak sendiri hendak di bunuh saudara kandung mu tapi kau tak peduli. "
"Shhh.. sudah - sudah,"
Aku yang menyaksikan itu benar - benar kesal bagaimana mungkin kedua orang tua ku tidak peduli pada anak mereka.
"Nathan Devany, gue nggak nyangka sekarang loe lebih berpihak ke bedebah tua itu dari gue. " Seru kakak ku.
"Dulu loe bela gue sekarang loe ingin gue mati, kalo gitu kenapa gue nggak bunuh aja kalian semua sebelum kalian bunuh gue?. "
"Mimpi mu, pembuat onar seperti mu bisa apa? selain hanya membuat masalah dimana - mana. " Cetus tante keyla dingin.
"Halah, tante - tante rempong kayak loe juga gak bisa apa - apa , kemampuan loe cuman bisa habisin uang doang." Balas kakak ku seraya menguap.
Dia berjalan turun tangan nya menggandeng sesuatu, yang lebih mencengangkan adalah anak kecil yang memiliki rambut merah serta memiliki penyakit herecromia iridum sama seperti kakak ku.
"Dari pada kamu, kecil - kecil sudah melahirkan anak haram!. " Ketus Tante ku dengan memicingkan mata kearah anak itu.
Kira - kira anak itu berusia 6 tahun,"Jangan hina anak ku Farah!. "Tukas Ibu ku dingin.
"Anak mu? , aku tidak percaya itu!. " Balas Tante Farah tak percaya.
Aku hanya diam , hah? yang benar saja aku mempunyai seorang adik? eh memang benar sih Ibu ku memiliki anak lagi hanya saja aku tidak pernah bertemu sama sekali dengan nya.
"Farah jangan berisik, anak itu memang anak kakak ipar mu." Kata Paman Martin mengingat kan , Tante ku itu memang hobi berteriak-teriak.
"Mami!. "
Anak kecil itu berlari ketakutan kearah ibu ku yang langsung menggendong nya, Sementara Asta menatap kami tanpa ekspresi.
"Kejutan dari gue sudah habis , lebih baik kita lanjut kan pesta nya. " Kata kakak ku astaga dia benar - benar tidak waras.
"Oh ya mulai hari ini misi gue menjaga adik kecil ku sudah berakhir, sayang sekali gue belum bersenang-senang sama loe Ry."
"Jangan bilang loe Suzy?." tanya ku tercengang.
Asta mengangguk dengan senyum tipis, aku tak percaya! suzy yang lemah dan terlihat tak berdaya itu dia?.
"Tidak tahu diri." Maki Marcus saat mendatangi kami mata nya melirik Asta dengan was - was.
"Loe yang gak tau diri, udah lemah belagu pula." Cibir Asta.
Markus terlihat kesal saat di katain balik, Dia menahan emosi nya lalu menghadap kakek ku.
"Mr.Devany, Miss Asta sudah membunuh banyak bawahan kita dan merusak jaringan pengaman bahkan menghancur kan ruang kerja Anda. "
"Oh surat sertifikat tanah perkebunan di hokaido juga gue sobek. " Seringai kakak ku.
"Asta Devany!," Teriak kakek ku kesal. "Marcus tangkap anak itu sekarang juga!."
"Baik Mr. Devany."
"Aduh, sayang nya gue nggak punya waktu buat ladenin loe marcus kalo gitu... good bye."
Mendadak ruangan menjadi gelap, aku mendengar ibu ku berteriak keras dan histeris.
"Val!, Vallac dimana kamu nak!."
"Nathan anak mu hilang Asta pasti membawa nya!."
"Sabar kita akan menangkap monster kecil itu nanti." Ujar ayah ku tanpa memedulikan ibu ku yang menangis tersedu - sedu.
Malam ini berakhir begitu saja, Asta yang menghilang tanpa jejak bersama adik bungsu ku dan banyak orang yang meninggal di rumah ini.
Aku merasa... kematian ku tidak lama lagi, dan sepertinya ada rahasia di rumah kakek ku ini.