
Murry Devany pov.
Badan ku terasa remuk redam setelah melakukan banyak kegiatan di hari ini. Bahkan tak sempat untuk hadir di kelas, kakek melarang kami untuk datang kesekolah beliau bilang hari ini kami akan didik secara keras dan benar saja hal itu terjadi.
Bahkan kami harus bertarung melawan tim yang di bawa oleh Mr.Willy, karena dia tamu terhormat maka dari itu kami tidak di izinkan menentang keinginan pria itu. Kakek terlihat menghormati nya karena itu kami berusaha keras menjaga nama baik kakek.
"Apa masih sakit di bagian tangan nya Miss?"
Aku menatap Amy, wanita paruh baya itu terlihat khawatir pada ku saat tahu tangan kiri ku terlilit."Ya sedikit."
"Saya harap Miss cepat sembuh."
"Terimakasih." Ucap ku dengan senyum tipis.
Dia pasti menderita bekerja di keluarga ini selama bertahun-tahun. Apakah aku harus membuat nya terbebas dari beban berat nya?
"Amy." Panggil ku.
Amy mendongak, dia menatap ku dengan mata sayu nya.
"Apakah Amy ingin pergi dari rumah ini?" Tanya ku.
Aku benar-benar penasaran jika Amy ingin pergi dari keluarga ini maka aku akan membantu nya.
Wanita itu tersenyum lembut membuat ku terenyuh dengan kelembutan nya. Dia sangat ke ibu an tidak heran Asta sangat menyayangi nya. Amy... Melayani kami dengan sepenuh hati seperti sedang merawat anak sendiri.
"Saya tidak mungkin untuk mengkhianati kepercayaan Tuan besar Miss."
Aku memperhatikan gurat kesedihan di mata nya."Dan saya sudah bersumpah untuk mengabdi pada Beliau seumur hidup saya."
"Eh Amy tidak bercanda bukan?" Tanya ku terkejut.
Baru kali ini aku mengetahui hal itu, jadi itu alasan semua pelayan disini tidak pernah di ganti bahkan sampai mereka menua sekali pun. Mereka sangat loyal sekali pada Kakek.
"Tentu saja tidak Miss Murry saya tidak bisa untuk berbohong."
Aku terdiam sejenak menatap langit-langit dengan pandangan nanar. Apa aku harus bertemu dengan Asta? Diri ku mulai teringat dengan ucapan nya.
Tapi mengingat kelakuan kejam nya yang membunuh pelayan pribadi ku, membuat ku berhenti memikirkan nya. Suara pintu terbuka menyentak kan ku dari lamunan, kakek tersenyum simpul dia berjalan kearah balkon dan duduk di kursi yang menghadap balkon dikamar ku.
"Ada apa kakek?" Tanya ku dengan tatapan lembut.
Lelaki itu terlihat murung lalu wajah nya mendadak berseri-seri, aku merasakan hal tak enak pada nya seperti ada yang mengganjal hati ku.
"Besok pemilihan calon pengganti ku, akan segera di mulai secepatnya."
Tubuh ku menegang, Apa? aku tak salah dengarkan? pemilihan nya akan di mulai besok! aku belum siap.
"Tentu saja bukan pemilihan biasa, kakek akan mengada kan tes selama 1 Minggu dalam waktu satu Minggu kakek akan menemukan."
"Karena itu mau tidak mau kau harus siap dan mengikuti nya." Kakek ku menatap ku dalam - dalam kemudian tangan nya melempar kan sebuah kotak.
Aku menangkap nya lalu membuka kotak itu, tangan ku tergetar saat melihat benda di dalam kotak itu. Apa maksudnya? kenapa dia memberikan ku pistol asli? apa aku disuruh untuk membunuh seseorang?.
Seperti mengetahui isi pikiran ku kakek ku berkata."Gunakan itu saat tes berjalan, gunakan disaat kau benar-benar terjepit."
"Bu-bukankah itu sangat bahaya? bagaimana jika yang lain mati?" Kata ku dengan wajah pucat.
Lelaki di depan ku terkekeh kecil."Tidak masalah, asal Murry tahu saja mereka juga akan nekad membunuh yang lain nya bahkan diri mu sekalipun karena itu bertahanlah sampai garis finis."
"Bertahan untuk menjadi cucu yang bisa ku banggakan, itu pun jika kau berhasil mengalahkan monster sesungguhnya." Setelah berkata seperti itu beliau langsung melenggang pergi.
Aku menatap nya, mata hijau zamrud dengan rambut pirang seperti Kilauan emas itu tengah menatap ku dengan tajam dan menyalang.
"A-tha?!" Pekik ku.
Memberontak itu yang terlintas di pikiranku, tapi kaki ku di tahan oleh kaki nya entah apa yang ingin di lakukan nya. Tangan ku memukul telak dada nya tapi itu tak membuat nya melepaskan cekikkan di leherku.
"Oh hai, loe keliatan gemesin sampe - sampe tangan gue ingin cekik leher lu sampe urat nya putus." Seringai nya.
Dia melepaskan cekikkan nya lalu beranjak pergi dari ku dan duduk di pinggir kasur. Setelah terbatuk-batuk sesaat akibat menghirup udara terlalu rakus, diriku bangun dan duduk samping nya.
Alih-alih senang duduk di sampingku, cowok itu malah memintaku untuk menjaga jarak.
"Apa yang kakek bicarain ke elo?" Tanya nya tanpa basa basi.
"Kakek meminta gue buat siap - siap." Aku menunduk lesu.
Puk...
Atha menepuk kepala ku pelan."Besok tes calon kepala keluarga bakalan di mulai."
Dia tidak terkejut, melainkan hanya mengerut kening tangan nya lagi-lagi menjitak kepala ku.
"Jadi begitu, besok kalo gue tau loe punya rencana busuk ke Asta." Dia melirik ku sekilas."Gue pastiin loe gak bisa bernafas lagi."
"Heh? apaan sih loe belain dia terus, dia kan batu hambatan kita yang terbesar." Gerutu ku ucapan ku malah mendapatkan tatapan penuh hawa pembunuh dari Atha.
"Dia kakak loe, dia bahkan rela lakuin segala hal demi loe tapi loe gak tahu terimakasih sedikit pun ke dia." Desis nya sinis.
Aku mendengus kesal."Buat apa gue berterimakasih? sedangkan dia bunuh semua orang yang pernah baik ke kakek."
Atha tertawa terbahak-bahak, seolah-olah ucapan ku cukup menggelikan."Bodoh, loe beneran bodoh Ry! gue jadi kasian ke Asta dia capek - capek berjuang buat keluarga nya tapi gak ada satu pun yang simpatik ke dia."
"Loe juga bodoh Atha!" Teriak ku lantang.
Aku beranjak berdiri menghadap Atha."Jelas - jelas Asta saudara loe sendiri dan loe malah jatuh suka ke dia? dia bahkan gak suka ke elo."
Ucapan ku sukses menamparnya, dia tak berkutik memang benar tebakan ku. Atha menyukai Asta biarpun saudara sepupu tapi kakek tidak akan mengijinkannya menjalin hubungan pribadi pada Asta.
"Dengar Ry, gue gak peduli dia sepupu gue toh kami gak sedarah." Cibirnya lalu menopang dagu nya dengan tangan kanan.
"So apa tujuan loe dateng ke sini?" Atha tak menggubris pertanyaan ku.
Dia malah menelusuri seluruh penjuru kamar dengan mata nya. Tak lama kemudian dia beranjak dari kasur mendekati lemari kaca dan membuka nya.
Mata ku terbelalak saat tangan nya meraih benda yang paling ku sukai."Jangan!"
Aku berlari kearah nya, nyaris menubruk tubuh besarnya dia tersenyum puas." Oh loe bahkan berani ngambil barang almarhum kakak loe?"
"Gue gak ngambil! itu pemberian dari Cammellia waktu gue kecil." Jeritku histeris saat jam saku itu hendak di hancurkan nya.
"Bohong jelas - jelas benda ini punya Asta, gue pernah liat ini di kamarnya benda ini sangat langka lho." Dia memainkan jam saku Cristal berwarna biru itu.
"Kakak kasih benda yang sama ke kami jadi jangan nuduh yang enggak - enggak!"
"Kapan gue nuduh loe ?"
Deg... aku tak bisa berkata apa pun, hah benar - benar menyebalkan.
"Nih gue balikin, kalo gitu gue pergi." Atha menaruh jam saku tersebut di tangan ku secara paksa.Lalu melenggang pergi.