
Lizzie Abraham prov.
Aku menatap papan tulis dengan tatapan datar, Rasa ngantuk sangat menyengat ugh ini pasti gara - gara semalam bergadang dan tidur hanya sejam .Dan hasil penyelidikan kemarin tidak membuah kan hasil apa pun selain bertemu dengan makhluk aneh yang ku sebut dengan voldermont.
Pada akhir nya kami bertiga berubah menjadi rakun yang langka dengan lingkaran hitam di daerah kelopak mata ihssss menyebal kan, Jika kami berdiri di tepi jurang saja dengan wajah lesu dan tak bertenaga seperti sekarang.Orang yang melihat nya sudah pasti menyangka kami akan bunuh diri dan berteriak.
" Jangan bunuh diri kalian sendiri !, Kalian masih muda masa depan kalian masih cerah!" Tentu saja itu hanya khayalan ku saja.
" Hwaaammm... hzzzzz... "
Aku melirik Asta yang tidur di atas meja tanpa memedulikan guru yang sedang menjelas kan materi di depan, Sementara itu Aya sedang sibuk dengan kalkulator kecil nya dan menghitung jumlah uang kas yang dia kumpul kan aihh anak itu benar - benar matre masalah duit saja dia mau mengurusi nya ketika di suruh melakukan hal lain dia tak mau.
" Ta .." Aku menggoncang tubuh nya " Oi ,Ta! "
" Apaan sih Liz , Gak liat apa gue lagi tidur ?! " Gerutu Asta kesal, Lalu mengangkat wajah nya dari atas meja dan menatap ku dengan mata nya yang sipit.
"Ini waktu nya isthirahat dan ada orang yang lagi nunggu kita noh di depan kelas " Kata ku sambil melirik cowok menyebal kan ,Yang bersandar di ambang pintu dengan gaya sok keren.
Mata Asta mengikuti arah pandangan ku dan mengerut kan kening nya " Masuk aja gak perlu nunggu di situ tar loe di sangka penjaga pintu kelas ini ".
" Ck bukan nya cepet keluar loe malah nyuruh gue masuk " Cetus Cowok itu seraya berjalan mendekati meja kami.
" Ngapain loe kesini ? , Mau gue gampar ya gangguin waktu tidur gue ? " Semprot Asta kesal.
"Oi gue kesini kan cuman mau kasih tau malam sekarang pertemuan nya jangan lupa itu "Ucap Devan tanpa ekspresi.
" Lokasi nya ? " Tanya ku.
" Di ruang osis , pukul 10 malam harus sudah ada di situ " Cetus nya Lalu melenggang pergi.
Aku dan Asta terdegun , Dia bilang malam ini ? di ruang osis? jam 10 malam ?! ..
" Jangan - jangan... " Gumam ku dan Asta saat kami saling bertatapan satu sama lain.
"Gak ! , Gak mungkin Ta ! " Aku menggeleng tidak percaya.
" Gak mungkin gimana? mereka mencurigakan banget " Seru Asta dengan tatapan tajam " Dan lagi yang paling mencurigakan itu Devin ".
Asta terdiam termenung seolah - olang dia sedang memutar ingatan nya.
" Kalian berdua mau kekantin gak? " Tanya Aya mendadak.
" Nggak deh males gue " Balas Asta cepat.
" Gimana kalo loe Liz? "Aya menatap ku dengan penuh harap.
Aku menggeleng kecil " Sorry..."
" Ya udah deh gue duluan ke kantin " Ucap Aya kecewa , Kemudian pergi menjauhi kami.
Setelah memastikan Aya sudah jauh dari kami , Dan keadaan kelas kosong dan sepi kami melanjut kan pembicaraan kami.
" Loe tau kan? dari mereka berdua yang paling ngotot itu Devin " Desis Asta.
" Yang paling ngotot itu Devan woy bukan Devin gue tau kok cowo itu keren dan sebagai nya ..." Di saat ingin mencerocos panjang lebar Asta langsung menyela ku.
" Halah inti nya kedua orang itu sangat mencuriga kan , Siapa tau mereka pelaku nya tapi... gue agak ragu... " Asta tertunduk Lesu.
" Kemarin malam pas gue lewatin ruang osis gue denger suara alunan musik " Lanjut Asta berbisik.
Sontak tubuh ku menegak saat mendengar nya " Perasaan pas gue sama Aya lewatin ruangan osis gak denger apa - apa deh ...Jangan bilang itu ulah pelaku ? ".
" Maybe... mungkin aja " Baru kali ini aku melihat wajah Asta terlihat muram " Dan gue nemuin ini ..."
Mata ku terbelalak lebar saat Asta menaruh kotak musik yang terbuat dari kayu makhoni dengan desain elegan ,Dan ukiran berwarna emas serta bagian lain yang berwarna hitam. Kotak musik itu terbalut dengan plastik transparan.
Asta memakai sarung tangan yang dia ambil dari saku rok nya dan membuka kotak musik itu , Jantung ku mencelus saat melihat secarik foto yang menempel di bagian dalam tutup kotak musik tersebut.
Terlihat dua anak kecil yang sedang tersenyum senang , Namun memiliki kepribadian yang saling bertolak belakang.
Bahkan kedua nya memiliki wajah yang serupa serta rupa hanya saja warna mata mereka berbeda warna , Itu lah yang membedakan mereka dan warna rambut kedua nya juga sangat bertolak belakang.
"I-ini..." Aku tak sanggup berkata - kata sebab Asta merasa sensitif dengan hal - hal yang menyangkut masa lalu nya.
Aku mengagguk setuju " Mungkin mereka fikir loe itu Devany gadungan kali ".
" Iyaa seperti nya begitu " Sahut Asta " Pelaku nya antara kakek gue atau di salah satu keluarga gue dan Kedua Bocah preman itu ".
" Serius loe barang kali ada lagi ? " Aku menatap Asta dengan hati - hati.
" Gue gak tau yang penting kita harus waspada.. tunggu... Aya ?!" Jeritan Asta membuat terkejut setengah mati apa lagi gadis itu segera berlari keluar dari kelas .
Tentu nya aku mengejar nya dengan cepat.
" Maaf permisi " Kata ku saat menyelip - nyelip di antara gerombolan orang.
" Minggir woy, Jangan halangin jalan gue ! " Teriak Asta dari depan dan menyerobot masuk kedalam kantin.
" Woy ngantri dong kalau mau masuk ke kantin !" Tegur semua orang.
" Idih apa.- apaan tuh cewe sok berkuasa banget mana songong pula " .
" Iya tuh "
Ishhh Asta benar - benar membuat kehebohan.
" Eh kampr*t! , Jalan tuh make mata dong gak liat apa di depan loe ada gue ?! ".
Aku terdegun mendengar suara itu, Ku lihat Asta sedang menatap Inay dengan datar sementara Inay si cewe sok populer itu mencerocos panjang lebar.
" Heh Loe denger gak gue bilang apa tadi ?! " Inay kembali membentak Asta saat melihat Asta tak menjawab apa pun.
Sial Aaaaargh , Semoga saja Asta tidak terpancing emosi nya dan menghajar wajah centil Inay.
" Eh Tikus got ! , Udah selesai bicara nya ?! " Semprot Asta dengan suara keras membuat seisi kantin kontan menoleh pada nya.
Shit aku harus segera mencari Aya ...
Tap...!! sebuah tangan menepuk pundak ku.
" Eh Liz itu Asta lagi berantem kok loe malah diem sih " Bisik Aya saat tiba - tiba muncul di samping ku.
" Gue mau nyari loe dulu sebelum bawa Asta pergi dari sini " Balas ku cepat tanpa memedulikan tatapan heran Aya pada ku.
Lalu berjalan mendekati Asta yang sedang adu mulut dengan Inay.
" Udah tau gue mau nyelip loe , Bukan nya ngehindar loe malah diem jadi jangan salahin gue dong salahin aja diri loe sendiri ! " Balas Asta dengan tatapan tajam dan dingin.
" Yang harus nya ngehindar itu loe bukan gue tauk ?! "
" Heh percuma debat sama tikus got kayak loe , Mendingan gue pergi aja " ucap Asta seraya menyeret ku dan Aya pergi.
" Tikus got kata loe ?! , Ngaca dong! liat tuh loe mirip sama cewek yang suka nongkrong di lampu merah ! " Teriak Inay tak terima .
Asta berhenti berjalan kontan membuat aku dan Aya ikut berhenti , Cewek itu melempar kan tatapan medusa andalan nya membuat Inay terlihat menciut.
" Loe bilang apa tadi ? " Suara serak Asta menggema di lorong kantin yang sunyi.
" L-loe itu mirip sama cewek yang suka nongkrong di lampu merah ! " Balas Inay dengan wajah sok nya yang membuat ku muak.
" Lebih baik jadi cewe yang suka nongkrong di lampu merah ketimbang jadi cewek sok populer dan sok cantik , Centil pula oh satu lagi Cewek penjilat ! Loe lebih menjijikan dari Lintah " Cetus Asta dengan pedas dan sinar mata menyalang.
Lalu menyeret kami pergi tanpa menghiraukan teriakan tak berguna dari Inay , Syukur lah Asta masih bisa menahan diri nya sendiri.
" Udah gue bilang tadi malem kita gak boleh pergi sendiri - sendiri jangan sampe terpisah ngerti ? " Ucap Asta Dengan wajah muram.
" Ya kami ngerti ko dan sorry bikin khwatir kalian berdua " Sahut Aya yang menyadari tindakan nya yang ceroboh dan lupa akan hal itu.
" Gak usah minta maaf kami maklumin loe deh " Aku mengibas kan tangan ku.
" Dan sekarang kita nongkrong ke warung bakmi depan sekolah aja , Kata nya sih rasa bakmi di situ enak banget kita cobain yuk !"
Aku dan Aya mengangguk setuju dengan ucapan Asta " Oke kita kesana ".
Yah pada akhir nya kami menghabis kan waktu Istirahat ini di warung bakmi.