
Sekian lama, akhirnya saya coba update lagi. Maaf karena saya bekerja dan tidak ada waktu untuk update lagi. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk para pembaca sekalian.
Pertarungan sengit antara Jhon dan Duke mengakibatkan banyaknya tembok dan lantai yang rusak akibat pertarungan mereka berdua.
"Level Langit menengah? ternyata kau sudah sekuat ini Duke?", ujar Jhon.
"Cukup basa-basi nya Captain Jhon. mari kita akhiri pertarungan yang tidak berguna ini", teriak Duke.
Pertarungan antara Jhon dan Duke mencapai akhirnya. Mereka berdua sama-sama mengalami luka yang tidak ringan. Jhon mengalami patah pada bagian rusuknya sedangkan Duke sudah kehilangan sebelah tangan kirinya akibat beradu serangan dengan Jhon.
"Apa kau yakin ingin mengakhiri ini semua?", ujar Jhon sambil memengang dadanya yang terasa sesak.
"Tidak perlu memikirkan hal itu. Setidaknya salah satu dari antara kita bisa mati dengan kehormatan", ujar Duke sembari memasang kuda-kuda untuk menyerang.
"Tunjukan padaku bahwa aku salah Captain. Walau aku mati pun, aku merasa terhormat karena bisa mati di tanganmu", tekad Duke dalam hatinya.
Tampa menunggu waktu lama, Duke menyerang dengan segenap kekuatan terakhirnya. Begitu juga dengan Jhon. Pada saat yang sama, kedua pukulan itu beradu ke tubuh mereka. Duke mengenai perut Jhon, sedangkan Jhon menghujam pukulan kebagian ulu hati Duke. Ketika keduanya mengenai sasaran, keduanya terlempar kebelakang hingga menabrak tembok yang ada di belakang mereka.
***********
Miles bergegas meninggalkan lokasi tersebut dengan cepat ke helikopter nya.
"Komandan", ujar pasukan yang bejaga di sekitar heli.
"Hancurkan tempat ini hingga rata oleh tanah. Jangan biarkan seorang pun keluar hidup-hidup", pintah Miles kepada penjaga tersebut.
Sembari memberi hormat, mereka meninggalkan lokasi tersebut di susul perginya Jordan dari sana.
**********
"Kita harus pergi dari sini Lian", ujar Eduardo sembari berlari menghindari setiap peluru yang melesat ke arah mereka di susul dengan Mark, Rose serta Max di belakang mereka.
"Kita harus menghubungi Jhon untuk segera meninggalkan tempat ini", ujar Mark.
Tampa perlu pikir panjang Lian langsung menghubungi Jhon lewat radio komunikasi mereka.
*************
Jhon yang menghantam tembok tersebut perlahan-lahan bangkit berdiri. Dia tidak menduga, bahwa dia akan terluka oleh sahabatnya sendiri.
Sambil berjalan pelan ke tempat Duke, Jordan mengamati sekitanya dengan hati-hati. Menjaga kalau ada jebakan menanti dirinya.
Sesampainya di lokasi Duke, Jhon merasa kasihan melihat Duke yang hampir mati karena pukulan yang keras yang menghantam Ulu hatinya.
"Jangan liat aku seperti itu", ujar Duke.
"Aku tau kau tidak membenciku. Mengapa kau tidak mengarahkan pukulanmu ke titik vital?", ujar Jhon penasaran.
"Sebenarnya, aku hanya mematuhi perintah Miles", ujar Duke lemas.
"Masih ingatkah kau tentang ibuku yang sakit Captain?", tanya Duke.
Jhon mengangkat sebelah alisnya. Tentu saja ia mengetahui hal itu. Sebab, ibunya Duke sudah di anggap seperti ibunya Jhon sendiri.
"Apa yang terjadi pada ibu?", ujar Jhon.
"Beberapa tahun yang lalu, saat kami menghianatimu. Miles menawarkan bantuan kepada ku lewat pengobatan ibu. Alhasil ibu sembuh dan aku harus menjadi budak untuknya", ujar Duke.
"Dengan membunuhmu, maka hutangku padanya lunas. Tetapi tidak demikian sekarang", ujar Duke sambil tersenyum tipis.
"Jika kau butuh bantuan datanglah padaku, aku tidak akan dendam kepada teman seperjuangan ku. Kau, Eduardo, Mark, Rose mereka sudah aku anggap seperti sahabatku, saudaraku", ujar Jhon.
Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba saja terdengar suara ledakan besar. Menyebabkan api yang besar menjalar ke setiap ruangan.
"Mayor", ujar Lian
"Roger Lian, ada apa ini?", tanya Jhon heran.
"Segera tinggalkan lokasi ini. Lokasi ini akan menjadi kuburan jika kita tidak bergegas", ujar Lian.
"Baiklah. Tunggu kami di luar", ujar Jhon.
"Baiklah pak", ujar Lian mengakhiri komunikasi mereka.
"Ikutlah dengan ku? aku akan menjaga ibu demi persahabatan kita", ujar Jhon.
"Tapi.....Tapi......", ujar Duke terpatah-patah.
"Aku tidak menyalahkanmu atas penghianatanmu. Kita adalah saudara", ujar Jhon sembari mengulurkan tangannya.
Sambil menangis, Duke mendapatkan tangan Jhon dan berusaha berdiri. Keduanya lalu pergi dari tempat tersebut dengan Jhon memapah Duke berjalan.
***********
"Sial kenapa bisa terjadi?", ujar Eduardo dan Mark bersamaan.
Ledakan itu sulit untuk di hentikan mengakibatkan hampir setengah bangunan rusak parah bahkan ada bangunan yang sudah tidak terlihat berdiri kokoh.
Pada saat yang sama, ledakan yang lebih besar terjadi dikarenakan meledak di area bahan bakar Mecha di ruangan tersebut.
Efek dari ledakan tersebut membuat kelimanya terlempar walau tidak jauh.
Saat semua sudah selesai, Eduardo dengan sigap berdiri kembali dan melihat lokasi tersebut.
"Tidak....... Mayor??", ujar Eduardo sembari meneteskan air matanya di susul Lian yang mulai menangis.
"Maafkan aku. Karena aku yang keras kepala kau sampai mengorbankan nyawa demi menyelamatkan kami semua", ujar Lian bersedih di dalam hatinya.
Pada saat mereka menangisi Jhon yang mereka pikir tewas. Jhon kemudian muncul tiba-tiba di depan mereka.
"Prajurit apa kalian ini? menangis seperti anak kecil", ujar Jhon marah.
Mendengar suara tersebut, mereka langsung menoleh ke sumber suara tersebut. Dan benar saja, terlihat Jhon sedang memapah Duke yang kesulitan berjalan.
Lian dengan antusias memeluk Jhon dengan erat.
"Bodoh...... Bodoh......", ujar Lian sembari memukul mukul tubuh Jhon.
"Hentikan kau bisa membunuhku...... sakit au au au sakit sekali", ujar Jhon.
"Lian yang awalnya menangis, kini tersenyum memandang Jhon yang baik baik saja.
Jhon yang memperhatikan Lian mengambil sikap mengelus kepala Lian sembari menenangkan gadis tersebut.
"Tenanglah cengeng? aku baik-baik saja", ujar Jhon.
"Baiklah mari kita pulang", ujar Jhon memerintahkan pasukan The JACKAL untuk kembali ke base mereka.
Akhirnya mereka berangkat kembali menuju markas besar Federation.