The Jackal's

The Jackal's
TJ 42:Perasaan Eduardo dan Max



Keesokan paginya, Lian keluar dari ruangan inap dengan wajah yang ceria. Tidak pernah selama hidupnya dia tidur senyenyak sekarang. Saat Lian sedang meregangkan tubuhnya, Lian di kejutkan oleh kedatangan Eduardo dan Max.


"Haaa. Apa yang kalian lakukan sepagi ini?", tanya Lian curiga.


Wajah mereka berdua memerah saat mendengarkan perkataan Lian. Mereka berdua merasa malu. Tidak ada yang mau memulai berbicara.


"Hee. Kalian mau apa sih? Mau aku hajar?", tanya Lian kembali.


Mendegar perkataan itu, Max mulai membuka suara.


"Lian. sejak bertemu denganmu aku merasakan sesuatu yang spesial dari dirimu.", ujar Max.


"mmmmm. Aku mau kau menerima cintaku ini", ujar Max yang sontak membuat Eduardo terkejut berat.


"Hei hei. aku juga menyukai dirinya. Kau jangan seenaknya", ujar Eduardo menantang.


Merasa sangat diremehkan, Max membalikkan mukanya dan kembali menatap Eduardo dengan tatapan jahatnya.


"Hei. Jangan asal bicara. Kita tentukan siapa pemenangnya", Umar Max.


Lian merasa binggung dengan tingkah keduanya. Dia merasakan ada hal yang aneh pada kedua orang itu.


Wajah Lian penuh dengan amarah. Dia lalu memukul kedua pemuda itu dengan tangan kosong. Kedua pemuda itu terlempat belasan meter hingga membuat tembok di belakang mereka retak dan membuat kepala mereka benjol.


"Kalian berdua. Aku cuma mencintai satu orang. Tapi tidak tau dia suka padaku atau tidak. Aku akan tetap berusaha mendapatkan hatinya yang dingin", ujar Lian.


Mendengar perkataan itu, sontak keduanya kembali berdiri dengan cepat. Mereka saling memandang satu sama lain. Mereka tidak percaya, Lian yang mempunyai sifat yang dingin mampu di taklukan oleh seorang pria yang sifatnya dingin juga.


"Siapa laki-laki itu?", tanya mereka berdua.


Merasa kesal dengan pertanyaan mereka, Lian kemudian berubah menjadi sosok yang menakutkan. Kedua pria yang di kenal sebagai manusia paling menakutkan mampu di buat berlutut oleh Lian.


"Jika kalian bertanya hal itu lagi. Aku akan membunuh kalian", seketika itu juga Lian


keduanya tidak bisa bergerak dan merasakan sesak nafas yang luar biasa.


"Aura ini, sepertinya dia ada di sini?", gumam Lian dalam hati.


Lian memberanikan diri untuk melihat siapa yang ada di belakangnya. Lian kaget bukan kepala, dia melihat sosok Jhon yang sedang memandangi dirinya. Dengan tatapan yang sangat menyeramkan.


"Apa yang kalian tiga lakukan di sini?", ujarnya.


Dengan tubuh yang masih mematung ketakutan mereka mencoba untuk tidak melawan. Mereka bertiga hanya diam tidak bersuara.


Saat Jhon sudah mulai memuncak, Lian mencoba untuk menjelaskan apa yang mereka lakukan di sini. Saat mendegar penjelasan tersebut, Jhon menarik kembali aura pembunuhnya yang seram. Setelah melakukan hal itu di pergi meninggalkan mereka bertiga Tampa memberikan pendapat yang berarti.


"Kurang ajar sekali. Bukannya memberikan pendapat malah meninggalkan kita di sini?", ujar Lian geram.


Melihat suasana hati Lian yang tidak enak, mereka berdua lantas diam-diam meninggalkan Lian yang sedang marah-marah tidak jelas di hadapan mereka. Tidak memakan waktu lama, Eduardo dan Max sudah menghilang dari belakang Lian.


Bukannya merasa tenang, Lian makin marah menjadi-jadi.


"Eduardo.........Max........... akan ku bunuh kalian berdua kalau ketemu", teriak Lian sembari menyebut nama keduannya.


Suara Lian yang besar, terdengar hingga sampai ke camp istirahat mereka.


"Kalau kita lama di sana, kita akan mati Ed. kau lihat sendiri kekuatan gadis muda itu." ujar Max sambil menari nafas akibat kelelahan berlari.


"Kau benar Max", sambung Eduardo.


Karena masih merasa ketakutan, Mereka berdua lalu beristirahat dan tidur di tempat mereka masing masing Tampa memikirkan amarah Lian yang meledak-ledak.