The Jackal's

The Jackal's
TJ 30:Sword Master No 1



Merasakan aura pembunuh yang mengerikan, Lian membawa para prajurit yang terluka untuk menghindar dari Medan perang para Sword Master itu. Eduardo mengerti apa yang dilakukan oleh Lian, sehingga dirinya mengulur waktu agar Lian bisa membawa para prajurit yang terluka ke tempat aman.


"Hai anjing Federal, kau lumayan hebat. Apakah kau mempunya ilmu khusus?", tanya Eduardo sembari mengulur waktu.


"ciihh......Kau tidak pantas untuk bertanya hal itu padaku", ujar Jean.


"Para prajurit yang menakuti aku dulu, sekarang malah takut kepadamu. aku tidak habis pikir, orang hebat sepertimu bisa menjadi peliharaan Federation."


Mendengar hal itu, Eduardo mengangkat sebelah alisnya sembari menghembuskan nafas secara pelan.


"kau tidak mengerti sama sekali, di dunia yang keras ini, hanya di pasukan ku saja aku bisa merasakan yang namanya keluarga", ujar Eduardo.


Mendegar perkataan Eduardo, Jean tertawa terbahak-bahak sampai sesak nafas. Dia tidak habis pikir, sang Master Pedang bisa memikirkan hal yang mulia seperti itu.


*Captain, pasukan berhasil di evakuasi,* *Selanjutnya Saya serahkan kepada anda


"Memang benar apa yang telah di pikirkan Mayor Jhon. Lian adalah perempuan berbakat, bisa melihat situasi genting.", gumam Eduardo dalam hati*.


melihat ekspresi dari Eduardo, Jean tersadar bahwa prajurit yang dia lumpuhkan kini tidak ada lagi di tempat itu. Merasa sangat di permainkan, Jean Tampa pikir panjang langsung menyerang Eduardo yang ada di hadapannya. Melihat reaksi serangan dari Jean, Eduardo langsung bersiap untuk menerima serangan dari Jean.


*TRANKK.........* suara pedang yang beradu menimbulkan percikan api yang terlihat seperti kembang api.


"Hehehe. kau pintar juga ya. agar kau bisa leluasa untuk bergerak sehingga prajurit yang terluka tadi kau suruh gadis itu untuk mengevakuasi mereka. sungguh pintar", puji Jean.


"Trima kasih. Tapi maaf, kau harus mati di sini", ujar Eduardo sembari melepas tangkisannya sembari mundur beberapa langkah.


"Baik lah. jujur saja, aku akui memang kau sungguh hebat. permainan pedangmu sangat lincah. Bergabunglah dengan ku. kita akan menguasai dunia dengan kemampuan yang kita miliki", ujar Jean.


Mendengar bujukan Jean, Eduardo tertawa keras sampai terdengar ke beberapa blok kota.


" HAHAHAHA. kau sungguh bisa menjadi pelawak. Lebih bagus kau menjadi pelawak menjadi seorang prajurit." pintah Eduardo.


"cihh.. dasar tidak tahu diri. sudah bagus aku mengajak kau ikut. malah meledek diriku.",


"Kau, sama persis seperti orang yang mengajakku untuk menghianati Komandan ku. tapi sayang, dia lebih pintar darimu", ujar Eduardo.


Mendegar perkataan Eduardo, Jean langsung menyerang Eduardo secara membabi buta. Setiap serangan satu demi satu dapat di hindari oleh Eduardo dengan muda. Eduardo yang sedari tadi bertahan, kini mulai menyerang secara keji. Jean yang sedari awal berfikir bisa unggul dari Eduardo, kini terpojok dan sulit untuk menghindar.


Serangan yang di berikan oleh Eduardo sangat berfariasi dan lincah, sehingga membuat musuh sulit untuk menghindar serangan yang dia berikan. Jean yang sedari tadi bertahan, mulai merasakan efek serangan yang diberikan oleh Eduardo. Satu persatu luka mulai timbul dari badan Jean.


Tidak terasa 30 menit sudah pertempuran mereka berdua telah tejadi. Eduardo yang sedari tadi menyerang, tidak terlihat lelah, justru sebaliknya. Eduardo semakin bersemangat, karena bertemu dengan saingan yang Hebat.


"Bagaimana? Apa kau akan menyerah sekarang?", tanya Eduardo.


"Cih. Sampai kapanpun, aku tidak akan menyerah sekarang", ujar Jean sembari mengigit tangannya hingga berdarah.


"apa yang kau lakukan sekarang?", tanya Eduardo heran.


Melihat ekspresi Eduardo yang terkejut heran, Jean tertawa sangat keras sebelum tubuhnya mengeluarkan asap merah darah pekat. Eduardo merasa ada yang aneh dengan musuhnya tersebut. aura pembunuh yang dipancarkan oleh Jean 3x lipat lebih besar daripada yang dikeluarkan oleh Eduardo tadi.


"HAHAHAHA. Kau sampah Federation. Aku Jean Don. akan membunuhmu di sini", ujar Jean yang secara tiba-tiba menyerang.


Eduardo yang belum bersiap-siap bertahan, hanya bisa pasrah menerima serangan dari Jean. Pukulan yang Jean berikan kepada Eduardo, mampu membuat Eduardo terpental hingga menghancurkan beberapa rumah keci di belakangnya. Merasa belum puas dengan hal itu, Jean kembali menyerang Eduardo yang baru saja berdiri. Eduardo yang menyadari itu, langsung membuat posisi bertahan. Serangan demi serangan membuat Eduardo kewalahan, sampai-sampai sering terlempar beberapa meter.


"Sial, kalau begini terus aku akan mati di sini. ini tidak bisa dibiarkan. Maafkan aku guru, sepertinya aku harus menggunakan jurus pedang 100 langit itu", gumam Eduardo dalam hati.


Eduardo yang sedari tadi mendapat serangan, mulai bangkit dan tersenyum lebar kepada Jean. Melihat ekspresi dari Eduardo, Jean merasa sangat waspada kepada Eduardo.


"Kau memang hebat. sudah mau mati saja masih bisa tersenyum. aku salut melihat kegigihanmu", puji Jean.


"Sebelum kau mati, aku akan memberikan serangan spesial kepadamu. sebagai kenang-kenangan di akhirat nanti", ujar Jean yang tiba-tiba meningkatkan kekuatan dan kecepatan nya.


Eduardo yang sedari tadi diam, mengangkat tinggi pedangnya. Melihat tindakan Eduardo, Jean semakin meningkatkan kekuatannya. Sebelum hal itu terjadi, Eduardo tiba-tiba saja langsung menyerang Jean yang masih konsentrasi pada peningkatan kekuatanya.


"PEDANG 100 LANGIT", Teriak Eduardo.


seketika itu juga, tiupan angin menghembus perlahan-lahan di wajah Jean, yang membuat dirinya tidak fokus kembali.


"HAHAHA. Apa ini? jurus sampah", ejek Jean.


" bahkan jurus murahan mu ini tidak bisa melukai ujung jariku. hahaha", sambung Jean.


Pada saat yang sama, Eduardo menyarungkan kembali kedua pesangnya ke belakang punggungnya. Melihat hal itu, Jean merasa bingung akan tindakan Eduardo.


Tapi tiba-tiba saja, badan Jean, dipenuhi oleh darah segar yang mengalir dari kepalanya dan kemudian badan Jean terpotong-potong hingga menjadi bagian kecil.


Pada saat yang sama, Eduardo tersenyum tipis melihat kemenangannya sebelum pada akhirnya tumbang dan tidak sadarkan diri.