The Jackal's

The Jackal's
TJ 37: Penyerangan Markas Kota Hanchi



Hello bro/sis. Ngak terasa udh 2 Minggu saya ngak update. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian. tepat 1 Minggu lalu Nenek saya telah meninggal dunia, jadi saya tidak ada waktu untuk update cerita baru. Saya pribadi memohon maaf atas ketidak konsistenan saya buat crazy update.


Trima kasih. GOD BLESS YOU ALL.


Dihari kedua mereka di markas kota Hanchi, pandangan setiap prajurit yang melihat pasukan yang di pimpin oleh Jhon mulai menghormati mereka. Setiap prajurit yang melihat mereka spontan langsung memberikan hormat kepada mereka.


Eduardo dan Lian yang melihat reaksi para prajurit itu sedikit kebingungan.


"Hei Ed, ada apa dengan mereka? sepertinya ada yang salah dengan mereka?", tanya Lian.


Dengan wajah yang kebingungan Eduardo hanya bisa menaikan kedua pundaknya. Tidak berselang lama, dari kejauhan Jhon melambaikan tangannya mengisaratkan mereka berdua untuk menghampiri dirinya.


"Kita mempunyai misi khusus dari para petinggi", ujar Jhon.


"Hmmm. Misi apakah itu Mayor?", tanya Eduardo.


Sambil mengeluarkan sebuah berkas, Jhon menjelaskan misi yang akan mereka lakukan. Eduardo dan Lian memasang wajah fokus sembari mendengarkan Jhon memberi penjelasan akan misi mereka.


Setelah hampir 10 menit menjelaskan, tiba-tiba saja terdengar suara ledakan dari gudang penyimpanan amunisi. Besarnya ledakan tersebut membuat Lian,Eduardo dan Jhon terkejut.


"Apa yang terjadi barusan?", tanya Lian dengan wajah yang masih terkejut.


Tampa basa-basi, ketiga orang itu langsung menuju tempat terjadinya ledakan. Sebelum Sampai di lokasi terjadinya ledakan, tiba-tiba saja seorang prajurit berteriak kearah Jhon dan teman-temannnya.


"serangannn.........", teriak seorang prajurit.


Benar saja, ratusan rudal tiba-tiba saja menghantam tanah dan meledak di segala tempat. Dengan cepat Jhon,Eduardo dan Lian langsung menghindari setiap serangan yang datang.


"Kita tidak mungkin bisa bertahan lama. Ed, Lian pergi ambil baju Tempur kalian", pintah Jhon kepada kedua orang tersebut.


Sambil mengangguk, Eduardo dan Lian langsung pergi menuju tempat penyimpanan Mecha mereka. Sesampainya di sana, Dokter Stanley dan Max sudah menunggu di sana dengan persiapan penuh.


"Dokter kita telah di serang. persiapkan Alfa dan Saber Athena sekarang", teriak Eduardo.


"Tidak perlu kau kasih tahu. Anak-anakku sudah siap. Cepat. Tapi dimana Mayor Jhon?", tanya dokter Stanley.


"Dia masih di Medan tempur. Bisakah kau akses Mechanya untuk otomatis menemuinya?", tanya Eduardo.


"Tidak perlu cemas Captain. Itu sudah aku persiapkan semua."


Tampa basa-basi, mereka bertiga langsung memakan Mecha mereka masing-masing.


--------------


"ugh..........", teriah Jhon yang hampir terkena serangan tersebut.


"Sial. Kalo begini terus mungkin markas akan menjadi reruntuhan. Aku harus memikirkan cara", gumam Jhon dalam hati sembari menghindari tiap serangan tersebut.


Serangan demi serangan di hindari Jhon satu persatu. Saat Jhon sedang menghindari serangan itu, tiba-tiba saja terdengar suara alaram peringatan yang mengisaratkan akan adanya banyak musuh yang datang.


"Apa-apaan ini? Ini serangan yang sangat tidak terduga. Aku harus segera memakai baju tempurku", ujar Jhon.


"Uaghh......", teriak Jhon yang terkena serpihan ledakan yang menyerang dirinya.


Saat sebuah rudal datang menghampiri Jhon yang sudah pasrah, dia tiba-tiba saja dilindungi oleh sebuah Mecha yang datang entah darimana. Jhon yang melihat reaksi Mecha tersebut spontan merasa tenang. Jhon mengenali Mecha tersebut yang tidak lain adalah Rhino.


"Bagaimana kau bisa sampai di sini?", tanya Jhon.


"Mayor jangan banyak tanya lagi, masuklah", ujar seseorang dari dalam Mecha yang tidak lain adalah dokter Stanley.


Tampa pikir panjang Jhon langsung memakai Mechanya itu. Jhon merasa sangat heran dengan kedatangan Mecha yang diberikan Dokter Stanley beberapa waktu lalu.


"Dokter. kau sungguh luar biasa.", puji Jhon.


"Mecha mu ini sudah di perkuat. Rudal sekecil itu tidak ada apa-apa baginya", ujar dokter Stanley.


"kau harus membantu Eduardo dan yang lain di garis depan. Meraka diperintahkan untuk membatu prajurit yang di serang di garis depan. Memang kita kalah saat penyerangan pertama. banyak bunker amunisi dan senjata rusak berat. Sekarang juga kau berangkat membatu mereka" ,pintah dokter Stanley.


"Baiklah dokter", Jhon langsung pergi meninggalkan lokasi tersebut.


-----------


Swinnnngggg..........


Suara tebasan pedang terdengar di telingan pasukan musuh yang menyerang. Mereka tidak menyangka akan menghadapi kekuatan musuh yang mengerikan.


"Captain. Siapa mereka? aku melihat sebuah lambang berbentuk serigala biru di Mecha mereka." tanya seorang prajurit musuh tersebut.


Pimpinan mereka tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia tidak menyangkan akan menghadapi pasukan dewa kematian di sini.


"ada apa pak?" tanya seroang prajurit.


"Pernahkah kalian mendengan pasukan dewa kematian The JACKAL'S?",


Dengan wajah gelisah bercampur keringat dingin mereka mengangguk cepat. Meraka tidak menyangka akan menghadapi mereka di sini.


Saat mereka sedang berbicara, sebuah tebasan melewati tubuh salah satu prajurit itudan seketika itu juga, tubuhnya terbelah menjadi dua bagian.


"Apa-apaan ini? Siapa yang berani menyerang kami?", teriak salah satu prajurit.


"Kalian memilih lawan yang salah. Kalian semua akan mati di sini", suara yang membuat para prajurit musuh merinding setelah mendengarnya.


Saat menoleh ke arah sumber suara tersebut, Mereka di kagetkan sebuah Mecha yang berbentu seperti sebuah baju perang kuno Jepang.


"Si.Si.....Siapa kau?", tanya seorang prajurit.


"Akulah malaikat kematian kalian", ujar Mecha tersebut sembari bergerak cepat menebas para prajurit pasukan itu.


Swing...........


Tebasan yang sangat rapi mengenai leher setiap pasukan itu sebelum mengucapkan sepatah kata terakhir.


"Kami tidak akan kalah", ujar Mecha tersebut yang tidak lain adalah Max yang telah menghabisi prajurit musuh yang menjadi lawannya.