The Jackal's

The Jackal's
TJ 33: Sosok Ayah



"Maaf saudara ku. Bukankan kau Max Wilson anak dari Kolonel Wilson?", tanya Jhon penasaran.


Max merasa terkejut, pria didepannya bisa mengetahui identitasnya. Max yang sudah menjaga perbatasan di gunung Siaubachi sudah hampir 3 THN.


"Darimana kau tau identitas diriku?", tanya Max kembali.


Mendengar hal itu, Jhon kemudian bercerita bagaimana dirinya bisa mengetahui identitas dari Max.


"Namaku adalah Jhonson Lin's. Aku adalah Komandan pasukan khusus yang bernama Jackal's." ujarnya.


"Perang di perbatasan ini sudah berakhir prajurit. Kolonel Wilson yang memerintahkan dirimu untuk menjaga perbatasan ini telah gugur 2 tahun silam", sambung Jhon.


Bagai tersambar petir, mata Max melotot melihat Jhon. Max tidak percaya bahwa ayahnya telah meninggal Tampa ia ketahui.


"Aa...aayyaahhh...... tidak mungkin", ujar Max sambil menangis.


Jhon yang memperhatikan perubahan sikap Max, mencoba untuk menenangkan prajurit tersebut.


"Apa yang terjadi di Medan tempur saat itu komandan?", tanya Max sembari menghapus air matanya.


Sambil menghela nafas, Jhon mulai bercerita tentang apa yang membuat ayahnya gugur di Medan pertempuran.


"Saat itu, kami mendapat tugas dari atasan untuk membantu suatu pasukan yang dikepung oleh pasukan musuh.....",


3 tahun yang lalu.........


"Captain Jhon. Kita mendapat perintah untuk membatu sebuah pasukan yang sedang bertahan menghadapi kepungan musuh", ujar Miles.


Note:Miles adalah penghianat dalam cerita ini. Salah satu tangan kanan terpercaya Jhon.


"Baiklah. ok team. Bersiap untuk melakukan misi. Kita tidak boleh gagal membantu pasukan ini." perintah Jhon.


"Siap Pak", ujar para prajurit Jackal's.


Di lokasi garis depan..........


"Kolonel, kita telah mendapat jawaban dari markas pusat. Mereka akan mengirimkan bantuan kepada kita", ujar seorang prajurit.


"Baiklah prajurit. Kita harus bertahan menunggu kedatangan mereka", Ujar Kolonel Wilson.


Kolonel Wilson adalah prajurit terbaik yang pernah dimiliki Federation. Sering melakukan misi-misi berbahaya dan kembali dengan selamat. Mendapatkan banyak penghargaan dari presiden dan Jendral Besar Federation.


Kolonel Wilson adalah ayah dari Max Wilson. Saat Max berusia 8thn, Max diselamatkan oleh pasukan Kolonel Wilson yang pada saat itu berpangkat sebagai Letnan Satu. Kolonel Wilson lalu mengangkat Max menjadi anaknya. Sang Kolonel mengajarkan semua cara-cara menjadi seorang prajurit sejati. Max tidak menyesali akan hal itu, Malahan Max sangat senang mendapat perhatian seorang ayah.


Sampai pada saat Kolonel Wilson mendapatkan misi untuk pergi mempertahankan garis depan. Suasana hati mereka berubah. Disaat kolonel Wilson menjalankan misi, Max sudah berusia 18 THN dan sudah masuk menjadi prajurit Federation.


"Max. Aku akan pergi untuk menjalankan misi. Aku berharap kau bisa menjaga perbatasan ini dengan sekuat tenagamu", ujar sang Kolonel.


Mendengar hal itu, Max merasakan kesedihan yang luar biasa. Dia bahkan berfikir, apa bisa bertemu dengannya lagi?.


"Janga. bersedih. aku akan segera kembali. Kita akan menghabiskan waktu bersama-sama seperti dulu lagi", ujar Kolonel Wilson.


"Tapi aku punya satu permintaan untuk mu?", tanyanya lagi.


"Apakah itu pak?", jawab Max.


Sambil tersenyum Kolonel Wilson mengutarakan permintaannya." Bisakah kau memanggil aku ayah?", ujar Kolonel Wilson.


Mendengar hal itu, Max meneteskan air mata nya. Max tidak menyangkan, Sosok ayah yang ia dambakan meminta permohonan seperti itu.


"Kau tidak perlu untuk melakukan hal itu sekarang. kau bisa melakukannya saat aku kembali", ujar Kolonel Wilson.


Sambil melangkah pergi, sang Kolonel tersenyum pahit akan pernyataannya tersebut. Sebenarnya ia tidak mengetahui, bahwa ia akan kembali atau tidak.


"Ayah aku akan menunggu ayah sampai kembali ke sini", teriak Max.


Merasa terharu dengan perkataan Max, Kolonel Wilson meneteskan air mata kebahagiaan. Sambil melangkah lagi, kali ini dirinya tersenyum puas sambil melambaikan tangan.


Dimedan perang........


"Pak kita sudah menunggu terlalu lama. amunisi kita sudah menipis. Sebaiknya kita mundur pak", teriak salah satu prajurit.


"Baiklah. Kau team medis. Aku meminta tolong. selepasnya kalian selamat dari tempat ini. aku berharap kau bisa mengantar surat ini kepada anakku Max. Bisakah aku mengansalkanmu?", tanya Wilson tegas.


Mendengar perkataan dari komandannya. Si prajurit itu lalu memberi hormat dengan sangat bangga


"Kalian mudur lah. aku akan menjaga garis depan ini. Bila bantuan sudah datang, minta mereka untuk menghabisi musuh di sini", ujar Wilson lagi.


Tampa basa-basi, Kolonel Wilson lalu mengeluarkan bayonet dari kantong belakangnya. Sambil melempar bom asap, Kolonel Wilson berlari kearah musuh yang datang menyerang mereka. Tembakan demi tembakan bersarang di tubuh sang Kolonel. Bahkan sakit pun tidak terasa baginya.


"*Maafkan aku Max. Sepertinya aku mengingkari janjiku padamu",.


"aku berharap kau bisa tumbuh menjadi pria yang hebat. Menjadi kebanggaan bagiku menjadi seorang prajurit hebat",


"Saat kau memanggilku dengan sebutan ayah. Aku merasa sangat senang sampai tidak bisa berkata apa-apa",


"Kau adalah kebanggaanku",


"Jadilah prajurit yang hebat*", Gumam Jhon sembari menembak ke arah musuh ya.


Tembakan demi tembakan tidak memberhentikan langkahnya untuk maju menyerang walau tangannya sudah putus satu. Dengan cepat Kolonel Wilson langsung menusuk bagian jantung dari musuhnya.


"Kalian pikir bisa menghentikan ku? Terima ini", teriak nya sembari menari pin dari granatnya.


Ledakan besar terdengar sampai ke telinga bawahannya. Melihat sang Kolonel telah gugur, mereka menagis. Mereka merasa tidak berguna di hadapan kolonelnya.


"Resimen pasukan Kolonel Wilson. Pakai Bayonate" teriak aalah satu prajurit.


"Hurraaa.......", Teriak mereka serempak.


"Apa yang kalian lakukan?" ,teriak prajurit medis tersebut.


"Kolonel telah gugur. Kita sebagai bawahan hanya bisa seperti tikus yang akan di makan kucing. Tidak akan aku biarkan mereka melangkah lebih maju lagi. Kita akan menyerang dan membunuh mereka", teriak prajurit itu lagi.


Melihat semangat teman-teman nya, prajurit medis itu lalu melakukan hal yang sama tapi di berhentikan oleh temannya tersebut.


"Kau diperintahkan oleh Kolonel agar mengantar surat darinya kepada anaknya. jangan mengecewakan Kolonel", pintah prajurit itu.


Mendengar kata-kata itu, prajurit tersebut mengangguk pelan.


"SERANG", teriaknya.


Meraka langsung menyerang dari balik tebalnya asap. Mereka menyerang tampa berfikir untuk pulang lagi. Satu persatu prajurit-prajurit itu gugur. Sampai menyisakan prajurit medis itu. Tidak lama kemudian, Jhon dan pasukannya datang.


"Apa yang terjadi, dimana para prajurit lain?", tanya Jhon.


"Inilah mereka. Para pahlawan yang rela mati demi negara." ujarnya.


Mendengar hal itu, Jhon merasakan kesedihan luar biasa pada prajurit itu.


"Eduardo. panggilkan helikopter terbesar dan peti yang bagus. Bawa para pahlawan ini pulang", pintahnnya.


Mendengar Jhon berkata seperti itu, prajurit medis itu menangis terharu sembari berterima kasih kepada semua nya.


Lokasi Jhon dan Max.......


"perang sudah berakhir prajurit. Bergabung lah dengan kami",


Mendengar hal itu, Max bangkit dengan semangat yang membara. Tugas dari sang ayah telah selesai. Saatnya dirinya untuk membantu negara.


"Siap menjalankan perintah Pak", ujar Max.


"kita akan kembali ke markas pusat. Selamat datang di JACKAL'S." ujar Jhon sembari memberi hormat balas kepada Max.