
Hai sahabat manga. Trima kasih atas support kalian selama beberapa hari ini. Trima kasih banyak atas likenya,dan kritiknya.
Jika kalian suka silakan like. jika tidak juga ngak apa". kalian bisa kasih kritik dan saran, agar novel yg saya tulis ini semakin baik.
Selamat membaca.
Lian mendapat perintah agar pergi bersama Eduardo. Sedangkan Jhon berangkat bersama seorang Letnan Dua dari pasukan Federation yang bernama Brian. Setelah hampir 20 menit mereka berpencar, Eduardo dan Lian akhirnya menemukan beberapa prajurit yang menjaga perbatasan di garis depan.
Pada saat yang sama, saat itu juga Jhon yang sedang berpencar bertemu juga dengan pasukan Federation yang ada di garis depan.
Tetapi, saat Jhon hendak mendekati mereka, tiba-tiba saja datang sebuah serangan rudal yang tidak tau entah datang dari mana menyerang keempatnya secara bersamaan. Melihat hal itu keempatnya langsung menghindar dengan cepat. Serangan rudal tersebut menyerang mereka terus menerus.
"apa apaan ini? rudal ini sangat berbahaya. bahkan kita saja seperti tidak diperbolehkan mendekat",ujar Jhon.
"Mayor, bagaimana ini? mungkin markas mempunyai info tentang rudal-rudal yg menyerang barusan", kata Brian.
Jhon juga memikirkan hal yg sama, semenjak kedatangan mereka, selalu mendapatkan serangan dari pihak musuh. Setelah Jhon selesai berpikir Jhon meminta semua para prajuritnya untuk mematikan radio komunikasi yang mereka pakai. Mendengar hal itu, Eduardo, Lian, Brian dan para prajurit yang lain,Tampa pikir panjang langsung melakukan apa yang Jhon perintahkan. Benar saja, serangan tersebut langsung terhenti semenjak mereka mematikan radio mereka.
"Mungkin memang benar, Federal Country sangat kuat sampai memiliki alat seperti ini lagi", ujar Jhon.
"Alat seperti apa itu Mayor?",tanya Brian.
"Alat ini sebenarnya sudah hancur oleh team kami beberapa tahun silam. Entah kenapa, Federal Country masih memiliki alat ini lagi",jelas Jhon.
"alat ini sangat berbahaya. Kami saja yang sebelumnya melawan alat ini, malah kewalahan dan hampir membunuh kami semua. Banyak dari anggota Jackal's yang gugur akibat terkena serangan ini", sambung Jhon.
Mendegar hal itu Brian mengangguk pelan sembari menunggu perintah dari Jhon.
"Apa yang harus kita lakukan Mayor?", tanya Brian.
"Apakah Mecha mu bisa bergerak cepat Letnan?", tanya Jhon kembali.
Mendengar hal itu Brian mengangguk. Mungkin, Dirinya akan dijadikan umpan agar dapat menghancurkan alat tersebut.
"Saya akan menyerang bila kau bisa memancing tembakannya",
"Baiklah Pak. saya mengerti", ujar Brian.
"Baiklah. Sekarang kita pergi dulu ke lokasi alat tersebut. Prajurit yang lain silahkan bantu pasukan kita yang ada di garis depan. kami berdua akan menghancurkan alat Sialan ini", pintah Jhon kepada pasukannya.
"Siap Pak", teriak pasukannya itu.
Tampa pikir panjang, mereka berdua langsung berangkat menuju lokasi dimana alat itu berada. Selang beberapa menit, mereka akhirnya sampai di lokasi tempat alat itu berada. Mereka lalu mengambil jarak dari alat tersebut, sebab di perjalanan menuju ke alat itu, Jhon memberi tahu bahwa kelemahan alat itu berada di sensornya. Alat itu tidak dapat melacak musuh yang berada dekat dengannya.
"Baiklah pak. saya akan melakukan yang terbaik demi kemenangan kali ini", ujar Brian bersemangat.
"Baiklah. Maju Letnan", teriak Jhon.
Brian yang bersemangat, langsung menyalakan radionya dengan cepat. Benar saja rudal dari alat itu langsung mendeteksi pergerakan yang ada di sekitarnya lalu menembak lokasi Brian. Brian dengan cepat langsung menghindari serangan demi serangan rudal tersebut. Tidak mau menghilangkan kesempatan, Jhon langsung pergi menyerang alat tersebut.
"Meriam Balistik", teriak Jhon.
sebuah meriam muncul dari belakang pundak Mecha Jhon yang langsung memanjang membentuk sebuah meriam.
#Sebelumnya di markas...........
"Mayor Jhon. Aku telah menambahkan sebuah senjata di Mechamu ini. senjata itu bernama meriam Balistik", ujar dokter Stanley sebelum tiba-tiba sebuah senjata keluar dari balik pundak Rhino.
*Rhino adalah nama Mecha yang dipakai oleh Jhon saat pertama kali bertemu dengan dokter Stanley*
Tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, Jhon membatu sampai tak bisa berkata apa-apa. Senjata yang di berikan oleh Dokter Stanley kali ini sangat keren menurutnya.
"Tetapi Mayor Jhon. Senjata ini masih mempunyai kelemahan", ujar Dokter Stanley.
Mendegar hal itu Jhon tiba-tiba saja tersadar dari lamunannya. Sambil mengerutkan dahinya Jhon mulai bertanya hal penting tersebut kepada Dokter Stanley.
"Meriam ini, masih dalam proses pengembangan. Karena kalian membutuhkan nya dengan segera, maka aku bisa membutnya berfungsi sementara. Kelemahannya pada jarak tembak", jelas Dokter Stanley.
"Anda harus bisa mengambil jarak sedekat mungkin dengan target baru bisa melihat efek dari tembakan tersebut", ujar dokter Stanley.
Mendengar hal itu Jhon cuma bisa mengangguk pelan.
#Kembali ke lokasi perang..........
Jhon yang talah mengeluarkan senjata andalannya itu mulai mengunci targetnya.
"Doaammm...........", sebuah suara yang lumayan keras keluar dari alat tersebut.
Sebuah peluru Bulat padat melesat dengan cepat menyerang senjata rudal tersebut. Benar saja, Senjata yg meresahkan mereka langsung meledak dengan dahsyat hancur berkeping keping. Jhon merasa terkagum kagum melihat efek dari serangan tersebut.
"Misi Berhasil Brian, kita kembali ke pasukan kita", pintah Jhon.
Lalu kedua pimpinan pasukan itu kembali, untuk berkumpul dengan pasukan yang mereka tinggal demi menghancurkan alat yang menghambat mereka.