The Jackal's

The Jackal's
TJ 41:Sang Penyihir kuat



Jhon dan pasukannya akhirnya sampai di markas Federal Country. Betapa kagetnya Jhon setelah melihat seisi markas telah hancur dan tidak bersisa satu gedung pun.


"A-Apa-apaan ini?", tanya Jhon.


Pasukan yang melihat kejadian itu sontak terkaget. Markas yang di penuhi oleh prajurit terlatih telah hancur tidak bersisa.


"Hubungi markas komando. Tanyakan apakah mereka memerintahkan pesawat pengebom untuk menghancurkan tempat ini?", pintah Jhon.


Dengan wajah yang masih kaget, prajurit yang membawa radio segera melakukan apa yang di perintahkan Jhon.


Tidak lama setelah melaporkan kejadian di lokasi, prajurit itu angkat bicara.


"Maaf Mayor. Markas komando tidak pernah memerintahkan pesawat pengebom untuk meledakan tempat ini", jelas prajurit itu.


Jhon yang mendengar hal itu sontak berlutut lalu memukul tanah dengan keras.


"Maafkan aku Lian. Aku pemimpin yang gagal menjalankan tugas", ujar Jhon.


Tidak berselang lama, mobil yang membawa Eduardo dan Max datang. Mobil mereka mengalami kendala saat menuju markas itu. Saat turun dari mobil, Eduardo dan Max tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.


"Mayor. Apa yang telah terjadi di sini?", tanya Eduardo.


Jhon yang masih merasakan kesedihannya membalikkan badannya dan mulai membuka suara.


"Max, Ed maafkan aku. Saat tiba di sini, aku dan pasukan kita telah melihat kejadian ini." ujar Jhon.


Max dan Ed yang mendengar hal itu sontak terkejut dengan wajah yang hampir mengeluarkan air mata mereka. Saat mereka semua bersedih tiba-tiba saja terdengar suara dari radio komunikasi mereka.


"JACKAL'S 00 disini Markas Komando masuk lah",


"Di sini JACKAL'S 00. Ada apa jendral?", tanya Jhon.


"Kami mendapat pesan dari perbatasan. Letnan Lian telah selamat. Kalian bisa kembali ke markas komando sekarang. Prajurit yang di sandera dan Lian kembali dengan selamat",


Mendengar hal itu, Jhon sontak kegirangan akan kabar itu. Dia tidak peduli statusnya saat itu.


"Baiklah markas komando. Kami akan segera kembali ke markas. JACKAL'S 00 keluar", ujar Jhon.


Max dan Ed yang masih di Landa kesedihan merasakan kebingungan yang besar. Baru kali ini Ed melihat Jhon segembira ini.


"Kita akan kembali ke markas. Lian dan yang lain telah selamat. Kita harus bergegas", pintah Jhon.


Wajah yang penuh kesedihan sontak menjadi gembira berkat kabar selamatnya para rekan mereka. Tampa pikir panjang, mereka langsung bergegas kembali ke markas komando.


-------------------------


Setelah memakan waktu hampir 3 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di markas komando. Dengan cepat Jhon Ed dan Max mendatangi keberadaan Lian.


Mulut mereka bertiga terbuka lebar setelah melihat Lian masih sehat sehat saja Tampa luka sedikitpun. Mereka bertiga merasa kebingungan dengan hal itu lalu bertanya kepadanya.


"Apa yang terjadi di markas itu? bukannya kau sudah babak belur di hajar pimpinan mereka?", tanya Jhon.


Dengan wajah yang tersenyum, Lian mulai menjelaskan kondisi yang dia alami selama di tahan oleh pasukan Federal Country.


Saat lain menjelaskan kondisi dirinya saat di tahan pasukan Federal Country, ketiga orang itu memasang wajah serius.Setelah 40 menit Lian menjelaskan kondisinya, Jhon dan kedua orang itu memasang muka kaget. Mereka tidak percaya dengan cerita Lian.


Lian yang sudah merasakan mereka tidak percaya menyuruh Eduardo mengikat dirinya dengan sebuah rantai baja dan di kunci rapat.


Dengan cepat Eduardo pergi dan kembali membawa apa yang di minta Lian.


"Segeralah ikat aku Ed. Jangan ada yang kendor",ujar Lian.


Eduardo mulai melakukan apa yang di suruh oleh Lian. Dia mengikat Lian dengan sangat ketat sekali, tetapi lian tidak merasakan sakit sedikitpun. Saat Eduardo selesai mengikat dan mengunci Lian, Lian lalu melakukan seperti yang dia lakukan sewaktu di tahan.


Saat Lian mulai melelehkan rantai yang mengikat dirinya, Mata Jhon dan orang yang berada di ruangan itu melotot melihat aksi Lian. Rantai baja yang terkenal sangat kuat mampu meleleh dengan mudahnya di tangan Lian.


"Bagaimana Jhon? Masih tidak percaya?", tanya Lian mengejek.


"Lu-Luar biasa. Kekuatan sihir yang hebat.", ujar Jhon.


Sambil tersenyum puas, Lian kembali duduk dengan melihat raut wajah setiap orang yang melihat dirinya yang masih terbengong.


"Sekarang aku sudah menjadi kuat. aku tidak akan kalah dari kalian bertiga", ujar Lian sembari mengepalkan tangannya.


Mendengar perkataan Lian, Jhon merasa puas. Dia tidak akan khawatir dengan wanita muda itu lagi.