
"Hallo Captain Jhon? Senang melihat anda", ujar seorang pria kekar yang sedang berdiri tegap di hadapan Jhon.
"Ini tidak mungkin? Ba...Bagaimana bisa?", tanya Jhon terkejut.
Sambil tertawa, pria itu melepas Mecha yang dia pakai dan membuka bajunya sembari menunjukkan sebuah luka di punggungnya.
"Masih ingat dengan luka ini Captain?", ujar pria itu.
Betapa terkejutnya Jhon mengingat kembali bekas luka pria itu.
"Bagaimana kau bisa ada di sini? Bukankah kau sudah mati?", tanya Jhon sembari teriak.
Pria itu memasang senyuman terbaiknya. Kemudian dia kembali mengenakan baju dan Mecha nya.
"Masih ingatkah anda ketika pertempuran kita melawan pasukan Federal Country?", tanya pria itu.
Jhon kemudian tersedak udara yang dia hirup. Pada saat itulah dia kehilangan salah satu pasukan terbaiknya. Duke Peterson. Seroang ahli senjata terbaik yang di miliki oleh The JACKAL'S.
"Saat itu aku hampir mati. Pasukan kita di kepung dari segala arah dan tidak menemukan jalan keluar. Ingatan itu masih membekas di pikiranku",
-----------------
*Dua tahun yang lalu*
"JACKAL'S, mundur. Mereka terlalu banyak", ujar Jhon yang pada saat itu sebagai wakil pemimpin pasukan JACKAL'S sebelum di angkat menjadi pimpinan team.
"Yes Sir", ujar pasukan itu.
"Captain kita harus bergerak sekarang", ujar salah satu anggota JACKAL'S.
"Baiklah. Ayo", ujar Jhon.
Pada saat hendak bergerak, sebuah peluru menghantam kaki Jhon dan membuatnya tumbang seketika itu juga.
"Medic", ujar salah satu pasukan itu.
"Pergilah. kalian harus selamat", ujar Jhon yang kesakitan sembari memegang kakinya yang terluka.
"Tidak Captain. Kita pergi bersama, pulang pun bersama", ujar pria itu yang tidak lain adalah Duke Peterson.
Dengan sigap Duke mengangkat tubuh Jhon dan mencoba berlari ke arah pasukan JACKAL'S yang lain.
"Bertahan lah Captain. Kita hampir sampai", ujar Duke yang sedang berlari ke arah teman-temannya yang sedang baku tembak melindungi mereka.
Tetapi naas. Sebuah peluru melesat cepat langsung menembus Mecha yang di pakai Duke yang mengarah ke dadanya.
"Duke.....", teriak Jhon.
"Uagh..... Cap......Captain. Pergilah", ujar Duke lemas.
"Tidak akan. Akan menolongmu", ujar Jhon.
Miles dan Eduardo yang melihat kejadian itu, langsung sigap mendatangi Jhon dan Duke yang sedang terbaring di tanah.
"Captain kita harus pergi", ujar Eduardo
"Pergilah. Aku akan menahan mereka sebentar. Aku akan menyusul kalian", ujar Duke.
"Tidak.....", teriak Jhon.
Tampa basa-basi lagi, Eduardo langsung mengangkat tubuh Jhon dan meninggalkan Duke seorang diri menghadapi kepungan musuh.
"Setidaknya aku sudah membalas Budi waktu itu",ujar Duke sembari mengisi amunisinya dan bergerak menembak musuh di hadapannya.
Banyaknya musuh memaksa team JACKAL'S mudur dari Medan perang meninggalkan salah satu rekan terbaik mereka.
--------------
"Di saat itu, aku memang mati. Tetapi Miles kembali ke tempat aku mati dan membawa mayatku ke lab terdekat yang di miliki Federation", ujar Duke.
"Miles mengatakan bahwa kau adalah penghianat negara. yang dengan teganya mengorbankan pasukan mu sendiri demi harta dan jabatan. Aku sungguh menyesal telah menyelamatkanmu waktu itu", ujar Duke sembari mengepalkan tangannya.
"Tapi. Di tempat inilah. Kau akan mati Captain Jhon", ujar Duke yang dengan cepat langsung menyerang Jhon.
Dengan cepat Jhon juga bergerak menghalau serangan dari Duke yang menyebabkan suara dentuman keras.
"Apa yang kau pikirkan? Aku tidak pernah mengorbankan pasukan ku demi harta maupun jabatan", ujar Jhon.
"Jangan berpura-pura lagi Captain. Kalau kau memikirkan pasukanmu, tidak mungkin kau meninggalkan mayatku di tengah Medan perang seperti itu. Sekarang kau telah mendapat jabatan sebagai Mayor. Apa lagi yang ingin kau jelaskan", ujar Duke yang kembali melayangkan serangan kepada Jhon.
Jhon yang masih mencari kata-kata terkena serangan tersebut dan mundur beberapa langkah.
"Sial. Miles telah mencuci otaknya. Aku harus menyadarkan dia", ujar Jhon dalam hati.
"Aku tidak akan, mengampuni orang yang membuang temannya demi sebuah jabatan", ujar Duke yang kembali menyerang Jhon dengan membabi buta.
Jhon yang awalnya dalam posisi menyerang di paksa menjadi posisi bertahan. Serangan membabi butanya Duke membuat Jhon selalu mengambil jarak darinya.
"Aku harus mengakhiri semua ini", ujar Jhon yang merubah posisi bertarungnya.