
Ilustrasi Leon
Meghan membuka pintu perlahan dan mengintip ke arah bawah tangga. Tangga terletak di sebelah kiri mereka sedangkan 3 ruangan lagi di sebelah kanan. Tidak ada aktivitas, bahkan tidak ada suara.
"Sepertinya aman." Ujar Meghan berbisik.
"Apakah kita akan bergerak?" Bisik Tammy lagi.
"Ya, semakin cepat semakin baik."Ujar Mortaq menggenggam erat tangan Win Xie.
"Bagaimana jika mereka ada di ruang kostum?" Tanya Meghan
"Apakah pintu ruangan itu terbuka?" Tanya Mortaq
"Tidak. Tertutup rapat." Jawab Meghan yakin.
"Baiklah, Kita bergerak. Minimalisir suara." Ujar Mortaq.
Meghan membetulkan letak kain yang mereka potong untuk mengisi makanan dan minuman. Masing-masing orang membawa ransum sendiri.
Pintu terbuka lebih lebar. Setelah melihat dan memastikan lagi, mereka berjalan menuju ke arah pintu paling ujung. Tak lupa, Mortaq menutup kembali pintu ruangan itu. Berjaga-jaga jika mereka harus kembali ke ruangan tersebut.
"Arrrggghhhh" Suara zombie terdengar dari bawah tangga.
Mereka terkejut dan mempercepat langkah.
Saat hendak membuka pintu ruangan, ada sesuatu yang menghalangi.
"Astaga, tidak bisa dibuka." Ujar Meghan
"Bagaimana ini?" Ujar Tammy cemas.
"Dorong bersama-sama." Perintah Mortaq. Mereka berempat menggunakan berat tubuhnya, mendorong pintu itu.
"Bergeser." Ujar Tammy, celah itu cukup untuk mereka masuk.
"Cepat, suara itu semakin dekat." Ujar Win Xie takut.
Mereka masuk lewat celah pintu dan mendapati ada tubuh yang terkulai di balik pintu. Tubuh itu berdarah dan tidak sadarkan diri.
"Ya Tuhan, kenapa ini?" Meghan terkejut dan bergidik ngeri.
"Sepertinya dia tergigit." Ujar Mortaq memeriksa lehernya.
"Tutup dulu pintu ini, suara itu mendekat." Sahut Tammy sambil menutup pintu.
"Bagaimana dengan orang yang digigit ini?" Tanya Win Xie cemas "Dia bisa berubah menjadi zombie jika kita membiarkan dia disini."
"Ikat dia dulu." Ujar Mortaq sembari membawa tali. Dia langsung menuju sebuah kotak dan mendapatkan tali disana.
"Benar, ikat dia lalu pintu itu tutup dan beri penghalang." Ujar Meghan pada Tammy dan Win Xie.
Win Xie bergegas mengambil beberapa kotak yang cukup berat dan mendorong ke arah pintu. Sedangkan Mortaq mengikat orang itu bersama Meghan.
Setelah mereka menutup pintu, dan mengikat orang yang digigit itu, mereka terduduk di pojok ruangan, cukup jauh dari orang yang diikat.
"Hei, apa tidak lebih baik jika kita tutup saja wajahnya dengan sesuatu? Aku bergidik setiap kali melihat lehernya." Ujar Tammy ngeri.
"Boleh juga, berikan kain itu." Ujar Mortaq melihat sepotong kain yang cukup lebar untuk menutupi wajah yang basah oleh darah. Tepat disaat Mortaq mulai menaruh kain, orang itu bangun dan menatap dengan mata yang aneh, bola matanya tidak seperti manusia. Mortaq terperanjat, dan cepat2 melempar kain itu, beruntung kain tersebut langsung menutup muka berdarah itu.
"arrrghhhh.." geramnya sebelum terdiam karena tertutup kain.
Para gadis langsung beringsut menjauh dan ketakutan. Mortaq juga memilih menjauh, berjaga-jaga jika ikatan itu tidak kuat.
"Bagaimana ini? Dia berubah menjadi zombie dan sekarang bersama dengan kita di ruangan ini." Win Xie ketakutan.
"Ya, dia terdiam setelah kepalanya tertutup." Ujar Tammy.
"Sepertinya dia bisa melihat tapi ada sedikit penurunan intelektualitas" Ujar Mortaq menghampiri Win Xie dan duduk disebelah kekasihnya.
"Benar, seakan mereka hanya bisa melakukan hal sederhana, bisa dibilang bodoh." Ujar Tammy.
"Baiklah, sepertinya keadaan terkendali. Cepat cari pakaian untuk kalian. Berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk terjadi." Mortaq mengingatkan. Ketiga gadis itu mengangguk dan bergerak mencari pakaian yang lebih nyaman.
Tak lama mereka mendapatkan pakaian ganti untuk mereka. Celana pendek beserta kaos dengan merek sekolah mereka. Hanya itu pakaian yang bisa mereka pilih daripada kostum menari yang tidak nyaman itu. Mereka juga menemukan 3 ransel yang bisa digunakan untuk menyimpan ransum.
"Tidak buruk" Ujar Meghan "Daripada harus bergerak dengan tutu itu."
"Ya, ini lebih baik" ujar Tammy.
"Bagaimana dengan sepatu?" Tanya Win Xie sambil mengangkat sepasang sepatu.
"Aku mau" Ujar Meghan dan Tammy bersamaan.
"Sepatu hiking lebih baik daripada sepatu balet" Ujar Mortaq "Kita tidak tahu seberapa lama berjalan."
Mortaq juga sudah mengganti pakaiannya dan merasa lebih nyaman. "Sekarang memikirkan cara keluar dari gedung ini dan ruangan ini." batin Mortaq
--------
Hudson yang sudah menghabiskan sandwich, menuju bagian makanan kering. Dia memilih beberapa makanan yang bisa mengenyangkan dan memasukkan ke dalam tasnya. Leon dan Wolly juga melakukan hal yang sama.
"Ingat, bawa sebanyak yang kalian bisa." Ujar Hudson.
"Jika saja mereka tidak menerima bayaran itu, tentu hal ini tidak akan terjadi." Ujar Leon.
"Ya, aku bersyukur tidak mengikuti langkah mereka. Jika tidak mungkin aku bukan lagi Wolly." Ujar Wolly.
"Manusia membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Mereka memilih melakukan itu juga untuk bertahan hidup." Ujar Hudson tenang.
"Tolong!" Teriakan seorang wanita terdengar diujung lorong mall tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Hudson langsung bergerak menuju arah suara.
"Wapada, langsung pukul begitu kalian melihat zombie" Ujar Hudson
Mereka berlari dan mendapati seorang wanita ditindih oleh seorang pria. Pria itu merobek baju wanita tersebut. Sang wanita meronta berusaha menyelamatkan diri.
"Lepaskan aku brengsek." Ujar Micha berusaha memukul Prims
"Tidak usah berteriak sayang." Ujar Prims menarik pakaian Micha dan langsung sobek.
"Brengsek, manusia tidak punya perasaan." Micha masih berusaha lepas dari cengkraman lengan Prims, pakaiannya sudah sobek, sehingga hanya pakaian dalam yang tersisa.
"Aku akan membunuhmu." Ujar Micha dan tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di wajahnya.
"Hei, ja**** diam dan ikuti saja permainanku." Ujar Prims tersulut emosi.
Tepat saat dia mau merenggut pakaian dalam Micha sebuah tinju melayang ke arahnya. Prims terjatuh dan mengerang.
"Sial, siapa itu?" Ujarnya bangkit dan melihat Hudson.
Hudson yang memukul Prims, dia kesal melihat apa yang terjadi di depan matanya. "Disaat begini malah melecehkan wanita? Makhluk apa kau?" Ujar Hudson emosi
"Kenapa?Kau merasa rugi? mau ikut bergabung?" Tantang Prims sambil menyeka mulutnya yang berdarah. Tinju Hudson lumayan menyakitkan.
Tiba-tiba Hudson maju dan menendang perutnya, Prims terdorong mundur sambil menahan sakit di perutnya. Lalu sebuah tinju mendarat di rahang Prims, dia jatuh di lantai. "Masih berani bicara?" Ujar Hudson.
Leon dan Wolly bergerak menolong Micha, mereka memberikan jaket untuk menutupi tubuh dan kakinya. Micha lalu duduk dan memakai jaket Wolly yang lebih besar untuk menutup tubuhnya dan jaket Leon untuk bagian bawah tubuhnya.
Prims terkulai lemas di lantai, pukulan Hudson cukup keras dan membuat dia pusing. Dia tidak mau lagi melawan Hudson, lebih baik diam daripada kesakitan.