
Win Xie berusaha mengenakan pakaiandan mengusap air matanya. Dia lalu menguatkan hati dan mencoba berjalan kembali ke rumah. Perih sedikit terasa di bagian bawahnya. Dia menahannya dan tetap melangkah seperti biasa.
Sejak kejadian itu, Win Xie berusaha melalui jalan yang ramai dan tidak membuat celah untuk penculikan. Dia juga belajar Wing Chun demi keselamatannya. Beruntung Win Xie tidak hamil karena perbuatan Liang Long Fei.
Win Xie juga memilih memasuki sekolah balet selain karena kecintaannya, juga dia bisa aman di asrama. Sampai akhirnya Win Xie mendapatkan beasiswa bersekolah di luar negri.
Dan sekarang dia bertemu kembali dengan Liang Long Fei itu sebagai Frimon Liang.
"Aku akan terus menemani mu selama kita di kamp ini." Meghan membuyarkan lamunan Win Xie.
Win Xie mengangguk dan berterimakasih kepada Meghan. Hanya Meghan yang bisa dia andalkan saat ini.
"Tok.. Tok..Tok.."
Suara ketukan membuat Win Xie ketakutan, dia merasa Long Fei atau Frimon yang datang. Dia bersembunyi di balik selimut.
Meghan berdiri dan membuka pintu. Di depan pintu ternyata Hudson. Meghan menarik nafas lega.
"Ada apa?" Tanya Meghan cepat.
"Aku hanya ingin memastikan kalian tidak apa\-apa. Mana Win Xie?" Hudson sedikit heran dengan Meghan yang sepertinya sedikit takut diawal pintu dibuka.
"Ada sedikit masalah." Meghan menjawab sambil melihat ke arah Win Xie yang berada di bawah selimut.
Hudson seakan paham, " Frimon?"
Meghan mengangguk mengiyakan. Hudson langsung merasa ada hal yang cukup membuat trauma Win Xie dengan Frimon.
"Hubungi aku jika dia menganggu kalian." Hudson lalu berjalan menuju van disebelah mereka.
--------
Paginya, terdengar banyak tentara yang sibuk berjalan sembari mengangkat senjata mereka ke dalam truk tentara. Lalu salah seorang dari mereka menuju van Win Xie.
"Tok...tok..tok..."
"Permisi nona\-nona." Tentara itu memanggil penghuni di dalam van.
Win Xie membukakan pintu dan sedikit terkejut. "Ada apa ya?"
"Saya diperintahkan memanggil nona Win Xie ke barak Tuan Frimon." Pria itu menyampaikan tugasnya.
"Aku merasa tidak ada yang perlu kubicarakan denga tuan Frimon" Win Xie menjawab dengan sedikit marah.
"Tolong nona, Ini perintah dan saya tidak bisa melawannya. Saya mohon bekerja samalah." Tentara itu sedikit memohon kepada Win Xie.
Win Xie hanya bisa menarik nafas panjang dan akhirnya berjalan mengikuti tentara itu. Sepanjang jalan dia gemetar ketakutan. Kilasan masa lalu membayanginya.
Di dalam Barak, Frimon duduk di meja nya dengan senyum licik.
"Silakan duduk nona." Frimon berbasa basi di depan bawahannya.
"Tidak perlu, katakan saja apa mau mu." Win Xie bicara dengan nada marah.
Frimon berdiri dan mengarahkan sebuah kursi lalu sedikit memaksa Win Xie duduk. Dia lalu memberi tanda kepada tentara itu untuk pergi.
Win Xie gemetar ketika Frimon menekan pundaknya ke bawah untuk menyuruh Win Xie duduk. Win Xie bersikap waspada.
"Jangan takut sayang." Frimon mulai menyeringai. "Aku tahu kamu tidak akan melupakanku. Bagaimana mungkin kau bisa melupakan kenangan indah kita di gubuk itu?"
"Baji\*" Win Xie meledak tidak bisa menahan emosinya. "Tekutuklah kau binatang, manusia tidak bermoral."
"Aku akan membunuhmu biadab." Win Xie mulai bergerak maju hendak memukul Frimon.
Serangan Win Xie dielakkan dengan cepat, dan sedetik kemudian lutut Win Xie berusaha menghantam perut Frimon, membuat pria itu menahan sakit.
"Wanita sialan, dari dulu kau selalu keras kepala. Kau sudah tidak suci lagi, untuk apa jual mahal?" Frimon terpancing emosi.
Win Xie kembali menghajar Frimon, dia mengincar ulu hati Frimon, tapi gagal ditangkis. Frimon menghantam wajah Win Xie dengan tinjunya.
"Puih" Win Xie meludahkan darah di mulutnya. "Dasar baji*****"
Tepat ketika Win Xie mulai menyerang Frimon, Hudson masuk ke ruangan dan langsung membuat Win Xie terdiam.
"Oh, kamu disini? Aku mau menanyakan resep ini." Hudson berpura-pura untuk menarik Win Xie keluar.
"Yang mana? Mari kita lihat." Win Xie langsung mengerti dan beranjak keluar.
"Hei nona, urusan kita belum selesai." Frimon merasa tidak dianggap.
"Aku tidak memiliki urusan apapun dengan anda." Win Xie menjawab dingin. Dia berlalu dan keluar dari barak itu.
"Cepat, segera ke vanmu" Win Xie menarik tangan Hudson.
Di van Win Xie menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur Hudson. "Terimakasih" Win Xie berkata lirih.
Hudson menyodorkan sebuah kain yang diisi batu es. "Ini akan mengurangi bengkaknya"
Win Xie mengambil kain itu dan mulai menekan ke arah pipinya.
Hudson membongkar lemari kecil dalam van dan menemukan salep untuk luka. Dia lalu memberikan kepada Win Xie. "Bisakah kau memakainya sendiri?"
"Kalau ada cermin bisa." Jawab Win Xie melihat sekeliling.
Win Xie lalu beranjak, menuju sebuah cermin kecil di belakang pintu. Dia mengoleskan salep sambil menahan perih.
"Salep itu lebih baik daripada obat luka yang lain. Aku heran, van ini seakan sudah dipersiapkan. Bahkan ada kulkas kecil berisi makanan dan minuman disini." Hudson memeriksa semua lemari.
Win Xie kembali duduk dan Hudson menyodorkan segelas minuman coklat hangat.
"Dia manusia yang paling aku benci di muka bumi ini." Win Xie memulai percakapan.
"Kamu bisa bercerita jika kamu ingin dan aku akan menyimpannya. Tapi jika tidak, jangan paksakan dirimu." Hudson menyeruput minumannya.
"Hufffttt.." Win Xie menghembuskan nafasnya dengan kuat.
"Aku percaya padamu dan mungkin kamu telah mendengar apa yang dia katakan." Win Xie menatap gelas di tangannya.
Sebutir air mata lolos dan jatuh di pipi Win Xie. Hudson menyodorkan tisue dan memilih tetap diam.
"Dia sudah menodaiku ketika usiaku 15 tahun Kau tahu? Wanita Asia sangat menjunjung tinggi kehormatan mereka." Win Xie terisak perlahan.
"Dia menculikku dan...." Win Xie tidak bisa lagi menahan tangisnya. "Aku memilih menutup rapat hal ini. Bahkan ibuku juga tidak tahu. Hanya Meghan yang tahu apa yang kualami."
"Bahkan....bahkan Mortaq juga tidak mengetahuinua." Win Xie bicara dengan tersedu dan bergetar. "Dia membuat hidupku hancur dan aku harus berjuang keluar dari trauma-trauma yang aku alami."
"Kamu cukup hebat bisa menghadapi tekanan trauma begitu besar." Hudson berangsur duduk di dekat Win Xie dan menepuk pundak Win Xie dengan lembut.
"Aku merasa duniaku runtuh ketika bertemu dia lagi kembali." Win Xie mengatupkan kedua lututnya dan membenamkan wajahnya.
"Tenanglah, aku akan membantumu. Jika ingin menangis, menangislah. Tapi setelah itu kamu harus bangkit, jangan perlihatkan bahwa dirimu lemah. Jangan biarkan dia mengintimidasimu." Hudson menasehati sembari tetap menepuk pundak Win Xie.