
Hudson terbangun dari tidurnya. Matahari pagi mulai menyinari kamar mereka.
Hudson bergegas mandi dan bersiap untuk melihat keadaan di luar. Dia rindu akan kehidupan monoton yang dijalaninya sebelum mereka menghadapi zombie gila itu.
Hudson melangkah di sepanjang trotoar di depan tempat mereka menginap. Cuaca cukup cerah dan mulai banyak orang beraktivitas. Hudson terus melangkah hingga dia menuju sebuah tanah lapang yang tidak terpakai.
"Hei, kau mau uang dengan cepat? " Seorang tunawisma tua membujuk tunawisma muda yang sedang mendorong troli berisi barang bekas.
"Bagaimana caranya? " Tanya anak muda itu dengan antusias.
"Ikuti aku. " Pria tua itu menunjukkan jalan dan mereka mengarah ke sebuah bangunan tua.
"Astaga, apakah disini akan disebarkan virus zombie juga? " Gumam Hudson cemas, dan dia membuntuti kedua tunawisma yang sudah masuk ke area bangunan.
Dari kejauhan terlihat anak muda itu disuntik, selesai disuntik, dia mendapatkan sejumlah uang. Senyum lebar merekah di wajahnya.
"Gawat, sepertinya disini juga akan dimulai kisah yang sama. " Hudson bergegas kembali ke tempat mereka menginap.
Win Xie terbangun dan melihat disebelahnya sudah tidak ada orang, " Sepertinya Hudson bangun lebih pagi. " Gumam Win Xie sembari menuju kamar mandi.
Selesai mandi dan berpakaian, dia memilih menuju kamar Meghan dan mengetuk pintu. "Siapa? " Meghan bertanya dari dalam.
"Win Xie" Jawab Win Xie cepat dan tak lama pintu terbuka.
"Sudah bangun rupanya putri tidur kita" Gurau Meghan.
"Semalam aku bermimpi buruk. " Win Xie sedikit merasa bersalah, mengingat kejadian semalam.
"Aku sudah yakin, tapi bukan berarti aku juga bisa tidur nyenyak, ada manusia kereta api ternyata disebelah ku sepanjang malam. " Meghan menggerutu menunjuk Wolly yang masih enak tidur dengan dengkurnya.
Win Xie terkikik menahan tawa mendengar Meghan menggerutu, dia lalu menarik tangan Meghan dan mengajak dia keluar.
Disaat mereka melewati kamar Leon, pintu terbuka dan Leon serta Micha sedang menuju keluar juga. Akhirnya semua bersama -sama keluar dari penginapan itu tak lupa mereka bersikap seolah saling tidak kenal.
"Hei, bukankah itu Hudson. " Teriak Micha menunjuk sosok yang berlari menuju ke arah mereka.
" Ya, itu Hudson. Kenapa dia berlari begitu cepat? Apa orang Frimon Liang sudah disini? " Leon bertanya cemas.
"Tidak mungkin, banyak tempat yang harus mereka cari, jikalau mereka harus mengejar kita. " Micha membatah pertanyaan Leon.
Hudson tepat di depan mereka dan dengan nafas tersengal, " Hosh... hosh... cepat, kita keluar dari kota ini. " Dia berusaha mengatur nafasnya.
"Ada apa? tentara itu sudah sampai? " Tanya Leon langsung.
"Tidak, wabah zombie akan kembali menyebar. " Hudson menjawab dengan cepat.
"Tapi bagaimana mungkin? " Win Xie bingung dengan pernyataan Hudson.
"### Ya, ada tunawisma yang dibayar untuk disuntik. Aku akan menceritakan semuanya nanti. Sekarang kita berkemas dulu. keluar dari kota ini secepatnya. " Hudson masuk ke dalam penginapan dan langsung menuju kamar mengambil senjatanya yang tertinggal disana.
Tak lama mereka sudah berjalan menuju ke tempat truk mereka yang disembunyikan sebelumnya. Micha dan Leon sudah membeli makanan untuk bekal dijalan. Mereka harus berpindah kota lagi.
"Kita akan terus kabur?" Win Xie bertanya
"Tidak, kita harus memberitahukan hal ini. " Meghan menjawab Win Xie dengan pasti.
"Pada siapa? Kalian tahu siapa dalangnya? Salah tempat tujuan, maka kalian akan mati. Dunia politik itu kejam. " Hudson menyanggah jawaban Meghan.
"Benar juga, lebih baik kita mencari siapa dalangnya dulu." Win Xie setuju
"Tapi bagaimana caranya? Sedangkan saat ini sudah ada orang yang disuntik. " Meghan sedikit ragu dengan rencana Hudson.
"Itu akan kita pikirkan nanti, sekarang kita pindah ke daerah lain dulu. Aku sudah melihat wajah orang yang melakukannya, dan aku yakin dia orang yang sama dengan pelaku di Florida" Hudson menjelaskan.
Mereka kembali berada di dalam truk menuju ke Mississippi via I-20W karena Hudson memilih menuju Tuscaloosa sebelum ke mississippi , ada teman lamanya yang bekerja sebagai polisi disana.
"Aku akan mencoba menceritakan hal ini kepada temanku. " Hudson berbincang dengan Leon di Truk.
"Jalur ini sedikit lebih jauh memutar, tapi jika benar temanmu bisa membantu, bukankah kita akan menjadi pahlawan?" Cengir Leon.
"Hei bung, kau terlalu banyak menonton film Marvel dan DC Comic." Hudson memukul kepala Leon.
"Aw, bukan berarti tidak mungkin kan? "Leon kembali terkekeh.
"Aku malah takut jika kita yang akan dijadikan kambing hitam. Jangan terlalu percaya dengan pemerintah, bung. " Hudson melemparkan pandangan ke arah jalan, kenangan masa lalu kembali muncul.
"Bro, lari cepat. Aku akan menghadang mereka" Tommy menyuruh Hudson lari saat mereka dikepung sejumlah pembunuh bayaran dari kelompok Mafia Rusia Attaqklof.
"Tidak, aku akan meminta bantuan dari pusat. " Hudson berkeras mencoba membuat sinyal lewat jam tangan canggih mereka. Tombol meminta bantuan sudah ditekan berkali-kalo, tapi tidak ada jawaban apalagi gerakan.
"Bodoh, kita ditipu. Kita hanya umpan bagi para pembunuh bayaran ini. " Tommy mengumpat kesal.
"Bagaimana bisa? Bos berjanji akan mengirimkan bantuan. Dan jam ini memang berfungsi sebelumnya." Hudson berusaha memencet terus tombol bantuan itu.
"Kau tahu? Inilah dunia yang sebenarnya. Jangan pikir karena kau berpihak pada kebenaran, maka mereka juga akan bertindak atas kebenaran." Tommy tersenyum sini.
"Larilah, aku akan menahan mereka disini." Tommy menyuruh Hudson lari dari gedung itu. Mereka telah memasang peledak di gedung itu dan akan diledakkan 5 menit lagi. Tapi apa daya, mereka dihadang kelompok Attaqklof.
"Kalian tidak akan keluar dari sini." Ketua kelompok itu masih belum sadar bahwa Hudson dan Tommy sudah memasang bom di gedung itu.
"Oh ya? Kita lihat saja." Tommy mulai menembaki para penyerangnya dan sembunyi di balik tiang besar dibelakang mereka. Pintu keluar ada di belakang musuh, jika dia bisa mengecoh musuh, Hudson bisa selamat.
"Sekarang nak, atau tidak sama sekali." Perintah Tommy kepada Hudson. "Kau tahu bahwa peluang kita kecil untuk bisa keluar berdua dengan selamat."
Hudson masih mencoba bertahan meskipun hati kecilnya sadar, peluang mereka hampir tidak ada untuk selamat.
"Dengar, hidupku hanya beberapa bulan lagi. Mati sekarang atau nanti tidak ada bedanya. Yang akan berbeda adalah, aku sudah menyelematkan nyawa seseorang." Tommy mendorong Hudson ke sebuah ruangan untuk bersembunyi dan dia berlari menuju arah lain untuk memancing musuh.
Ketika peluang terlihat, Hudson berlari keluar dari gedung itu. Tak lama bom yang ada serentak meledak dan menghancurkan gedung tersebut serta menjadi rata dengan tanah.