The End Of The World

The End Of The World
Kedekatan Win Xie dan Hudson



"Apa? Kamu seorang Danseur? " Win Xie terkejut tidak menyangka sama sekali.


"Yah, melihat penampilanku sekarang? pasti kamu juga tidak akan percaya." Hudson tersenyum kecut sembari melemparkan pandangan jauh ke arah Timur.


"Lalu bagaimana ceritanya sehingga kamu meninggalkan dunia balet?" Win Xie bertanya sembari menduga-duga di dalam benaknya.


"Yah...sebuah cerita yang panjang." Hudson menghela nafas dengan berat dan kembali membuang nafas seakan terpaksa untuk bernafas.


"Oh, tidak apa-apa jika kamu tidak mau cerita. Toh, setiap kita memiliki masalah pribadi tersendiri." Jawab Win Xie cepat.


" Aku kehilangan kekasihku serta pasangan balet-ku untuk selamanya" Jawab Hudson singkat dan jelas.


"Ah...aku paham." Win Xie menjawab sembari menundukkan kepala sembari meremas ujung baju kausnya dengan erat.


Ya, Win Xie juga kehilangan kekasihnya Mortaq.


Apalah daya manusia yang tidak bisa melawan arus nasib yang menghempaskan mereka di kala mereka sedang menggapai impian? Hanya bisa pasrah dan menerima.


Kesedihan meliputi Hudson dan Win Xie, tapi bukan Hudson namanya jika dia tidak bisa merubah suasana.


"Lihat, ada sesuatu yang bergerak di sebelah timur" Tunjuk Hudson ke arah dia melemparkan pandangan sedari tadi.


"Astaga....apakah zombie?" Win Xie panik dan memegang lengan Hudson.


"Coba kulihat dengan teliti" Hudson memicingkan mata dan terus mengamati. " Sepertinya hanya angin yabg menggerakkan dedaunan"


"Ah, syukurlah. Sejak zombie dimana-mana, rasanya hidup menjadi penuh dengan tekanan dan ketakutan" Win Xie menarik nafas lega dan melepaskan tangannya dari lengan Hudson dengan malu-malu.


"Lengannya kekar sekali, bahkan lebih kekar daripada lengan Mortaq" Batin Win Xie.


Yah, begitulah kaum hawa. apa bedanya dengan kaum adam?


Mortaq juga sedikit tersipu malu karena lengannya dipegang oleh Win Xie. Maklum, dunia lajang sudah terlalu lama dia geluti, sehingga membuat dirinya lupa rasanya disentuh wanita.


"Ah, si*l*n kau Hudson. Kenapa harus tersipu dengan gadis yang baru saja kehilangan kekasih? Jernihkan pikiranmu" Batin Hudson.


"Berapa umur-mu sekarang?" Tanya Hudson mencoba memecahkan keheningan.


"22 Tahun" Jawab Win Xie cepat karena tersadar dari lamunannya membandingkan Mortaq dan Hudson.


"Win Xie...Win Xie...dasar otak kadalan, baru juga kekasihmu meninggal, malah tersipu malu dengan pria lain." Win Xie merutuk diri sendiri di dalam hati.


"Humm....jauh lebih muda dariku." Gumam Hudson.


"Memangnya berapa umurmu?" Selidik Win Xie lagi.


" 35 Tahun" Jawab Hudson singkat.


"Ah, tidak terlalu tua kok. Malah aku menyangka usiamu sekitar 45 tahun" Win Xie terkikik geli.


"Apa? Apakah aku terlihat setua itu?" Hudson meraba wajahnya sendiri merasa terkejut.


"Tidak...tidak...aku hanya bercanda. Karena kamu selalu terlihat serius dan begitu matang dalam menghadapai berbagai hal." Jelas Win Xie jujur.


"Sayang?" Tanya Win Xie heran


"Ups...salahku. Aku pikir lagi berbicara dengan anak belasan tahun yang selalu menangis" Kekeh Hudson sambil pura-pura membuang muka.


"What?????" Teriak Win Xie merasa diledek karena suka menangis.


" Hahahahahaha....maaf, maaf... aku bukan bermaksud menghinamu. Hanya sekedar membalas perkataanmu bahwa aku terlihat berumur 45 an tadi." Hudson tertawa lepas.


Win Xie pura- pura marah sambil membalikkan tubuh membelakangi Hudson. Sayang, Win Xie tidak hati-hati dan hampir jatuh ke tanah. Untung Hudson sigap dan memeluk Win Xie. Kali ini wajah mereka berhadapan dan dilatarbelakangi dengan semburat merah yang masih malu-malu untuk menerangi bumi.


"Ah, maaf" Win Xie cepat-cepat mendorong tubuh Hudson dan mencoba duduk kembali dengan baik. Win Xie sedikit tersipu malu.


" Hati-hati sayang. Jika jatuh dari atas sini, tentu saja bukan hal yang indah" Hudson berusaha menahan perasaan tersipu malunya. Ia lalu menyodorkan sebotol air minum untuk Win Xie.


"Minumlah, kamu pasti kaget." Hudson menyodorkan minuman yang sudah tidak penuh lagi itu kepada Win Xie.


Dasar Win Xie yang tidak sadar dan memang selalu ceroboh, dia menegak minuman itu begitu saja.


"Eits, jangan minum dulu. Itu botol minuman ku, ini yang baru " Hudson mencegah Win Xie, tapi terlambat. Mulut botol sudah menempel di bibir Win Xie dengan indahnya. Hudson terlihat menelan ludah melihat pemandangan yang begitu indah. Ya, bibir mungil merekah yang begitu menggoda.


"Astaga Hudson, apa isi otakmu? Setelah sekian lama tidak menjamah wanita? Kau jadi berpikiran tidak-tidak hanya karena sebotol air" Batin Hudson memaki dirinya.


" Uhuk...uhuk...." Di saat bersamaan Win Xie terbatuk karena tersedak mendengar larangan Hudson tadi. apalah dikata, dia sudah terlanjur meminumnya. Yah, ciuman tak langsung donk?


Hudson menepuk-nepuk punggung Win Xie dan menyuruhnya menarik nafas perlahan. Dia sadar, dirinya mulai tertarik kepada Win Xie, entah karena sifat gadis ini yang mengingatkan akan kekasih hatinya dulu. Atau karena dirinya merasa kasihan akan nasib gadis ini. Entahlah.


Tak terasa gelapnya malam menjadi saksi bisu kedua insan ini menjadi lebih dekat satu sama lain. Perlahan tapi pasti mentari menerangi langit malam dan sinarnya seakan memeluk erat kedua insan yang masih belum sadar akan isi hati masing-masing. Yah, selama masih sendiri dan belum dipersatukan dalam pernikahan, tentu mereka masih boleh mencintai orang lain.


Apalagi dimasa dimana ketakutan, keresahan dan kebimbangan begitu menekan insan, pastinya kita butuh seseorang di samping kita.


Mereka sadar waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi dan mereka perlahan mencoba turun dari atap mobil. Hudson memilih turun lebih dahulu, sehingga dia bisa menangkap Win Xie jika terjatuh.


"Yah, gadis ceroboh ini bisa saja melakukan kesalahan fatal" Batin Hudson mencoba mencari pembenaran atas sikapnya kepada Win Xie.


Dia akhirnya mencapai tanah dan memperhatikan Win Xie yang mencoba turun dengan sedikit keraguan. Hudson secara tidak sadar mengembangkan kedua lengannya seakan ingin menangkap Win Xie yang mulai gemetar turun. Hal ini dilihat oleh dua pasang mata sambil tersenyum simpul.


"Pegang tanganku" Hudson mengulurkan tangan kanannya untuk diraih Win Xie ketika dia akan mencoba melompat ke tanah.


Hup....Win Xie mencapai tanah sambil berpegang pada tangan Hudson yang besar dan kapalan.


"Benar-benar gambaran kerasnya hidup terasa di telapak tangan pria ini" Batin Win Xie. "Berbeda sekali dengan tangannya Mortaq."


"Ah, kenapa selalu memperhatikan pria ini sih? Aku masih berduka atas kematian Mortaq" Win Xie berusaha menyadarkan dirinya sendiri.


"Terimakasih" Ujar Win Xie sembari tersenyum kepada Hudson dan mencoba bergegas menuju ke dalam mobil. Hudson hanya membalas dengan anggukan dan memilih menjauh dari mobil. Mereka terlihat seperti anak SMP yang tersipu malu.




Maaf ya bagi pembaca novelku yang pertama ini, masih banyak kendala dalam menulis novel dikarenakan aku masih bekerja di kehidupan harian. Kadang terlalu lelah untuk sekedar mengetik, apalagi akhir-akhir ini jantungku sedikit mengalami masalah. Jadi akhirnya harus banyak istirahat dan mengurangi beban stress. Tapi aku usahakan coba menulis bab lainnya lagibper minggu sampai tamat. Terimakasih atas pengertiannya ya teman- teman pembaca.