
Daniel dikurung di ruangan zombie itu. Mortaq masih merasa kesal, "Bagaimana mungkin dia bisa memberikan manusia sebagai makanan kepada makhluk itu." Geram Mortaq.
"Mungkin dia berharap ada kesembuhan bagi zombie wanita itu." Jawab Win Xie .
"Tidak ada kesembuhan, yang ada hanyalah kiamat." Ujar Mortaq marah.
"Pria itu tidak waras, menjebak kita sebagai stok makanan untuk zombie, rasanya rantai makanan berubah" Timpal Meghan dengan kesal.
"Aku akan coba menginterogerasi dia." Ujar Mortaq sambil masuk ke dalam kamar zombie itu.
Win Xie dan Meghan memilih ke dapur untuk minum dan menenangkan diri.
--------
Hudson dan Wolly menelusuri gedung Mall itu untuk melihat situasi dalamnya, sekalian mengambil barang yang diperlukan.
"Memang untuk saat ini, bersembunyi dalam mall adalah pilihan terbaik, kebutuhan kita tercukupi disini." Ujar Wolly
"Kita juga tidak selamanya bisa disini." Jawab Hudson.
"Kenapa?" Tanya Wolly.
"Jika kita terus bersembunyi, disaat bantuan tiba, kita akan tertinggal disini." Jelas Hudson.
Wolly mengangguk-angguk tanda mengerti.
Disaat mereka pergi menjelajah mall, Leon dan Micha sibuk memadu kasih. Melihat lampu mall dinyalakan, mereka memilih mencari tempat untuk berduaan.
"Micha, aku jatuh cinta saat pertamakali melihatmu." Ujar Leon
"Kamu gombal Leon." Jawab Micha malu-malu.
"Tidak ada kegombalan, baru sekali ini aku tidak bisa melepaskan pandangan dari seorang wanita." Ujar Leon lagi, dia lalu memeluk Micha.
Mereka sedang duduk di tempat penjualan furniture bagian temlat tidur. Suasana yang sepi, membuat mereka bisa merasakan dunia benar-benar milik berdua.
Leon lalu mulai mencium Micha dengan lembut, dan Micha membalas ciuman Leon. Ciuman lembut itu perlahan menjadi panas.
Tangan Leon mulai bergerak mejelajah, kali ini Micha membiarkan saja. Gejolak gairah yang besar membuat mereka saling membutuhkan.
Micha merasa basah, dan Leon merasa sesak. Tidak ada kata tunggu, semua harus diselesaikan. Bara-bara api menjalar keseluruh tubuh, jari jemari menari di indahnya kehalusan kulit. Rabaan demi rabaan membuat semua sensor tubuh memberi reaksi.
Helaian demi helaian kain tidak lagi menjadi penghalang ketika bara api berkobar dalam lautan cinta.
"Lanjutkan Leon." Pinta Micha
Leon merasakan kehangatan di kedalaman Micha dan Micha merasakan kesesakan yang menyenangkan. Mereka berpacu dalam bulir keringat yang mengalir deras.
Hentakan demi hentakan, irama demi irama dan teriakan demi teriakan, mengantarkan ke gerbang keindahan tiada tara.
Mereka kelelahan dengan peluh dimana-mana. "Micha, aku mencintaimu." Ucap Leon lembut sambil memeluk tubuh Micha.
"Aku juga mencintaimu Leon, kamu begitu lembut dan mengerti memperlakukan wanita." Ujar Micha sambil balas memeluk Leon.
Tak lama mereka keluar dari arena permainan itu, mereka semakin lengket satu sama lain.
------
"Daniel, katakan apa maksudmu membuat Meghan menjadi makanan zombie ini?" Ujar Mortaq sambil mengancungkan pistol ke arah Daniel.
"Hahahahahaha" Daniel tertawa terbahak-bahak." Kau tidak tahu?" Tanya Daniel kepada Mortaq.
"Zombie itu berubah karena ada virus yang masuk ke dalam tubuh. Aku akan melakukan ekpserimen agar anakku Megara bisa kembali sembuh." Ujar Daniel.
"Jadi kau mau kami jadi bahan eksperimen? Dasar gila." Jawab Mortaq.
"Harus, jika tidak ada percobaan. Maka hasilnya juga tidak ada." Jawab Daniel lagi.
"Kenapa, kau begitu yakin ada obatnya?" Tanya Mortaq
"Aku tahu mengenai virus yang akan dijadikan senjata biologis. Tapi ternyata malah diberikan kepada rakyat sendiri." Jawab Daniel.
"Jadi, kau tahu asal usul zombie itu?" Tanya Mortaq
"Kau tahu, mereka mengharapkan pasukan yang tidak bisa mati, menyerang orang lain dan menjadikan orang itu pasukan mereka." Lanjut Daniel.
"Biadab, bagaimana mungkin manusia bisa begitu." Ujar Mortaq kesal. "Lalu bisakah kau menyembuhkan zombie itu?"
"Aku tidak bisa menjanjikan itu. Tapi sedang berusaha mendapatkan hasil untuk itu. Nyawa anakku dalam bahaya." Ujar Daniel.
"Bagaimana mungkin kau bisa menyelamatkan zombie yang dagingnya sudah seperti itu? Daging busuk digigit zombie, belatung ada disana. Jikalau dia kembali normal, pasti banyak tubuhnya yang rusak." Ujar Mortaq berlogika.
"Tubuh memiliki sistem regenerasi sendiri. Jika kita dengan telaten menjaga bagian tubuh yang digit tetap bersih, disaat dia normal dia akan mendapati tubuhnya hanya memiliki bekas luka, itupun jika lukanya tidak parah. Aku tidak menjamin jika itu terjadi kepada zombie yang bagian tubuhnya hilang, habis dimakan zombie lain." Jelas Daniel
"Artinya, hanya yang bisa merawat zombie dengan luka kecil yang bisa kembali normal?" Ujar Mortaq.
"Ya, tapi tidak menutup kemungkinan jika zombie yang tidak terawat juga bisa kembali normal." Lanjut Daniel.
"Baiklah, jika memang kau bisa membuat penyembuh untuk zombie gila diluar sana, apa yang kau butuhkan?" Tanya Mortaq
"Tentu saja zombie yang tidak banyak digigit." Jawab Daniel
"Dan Kau yakin bisa membuat penyembuhnya? Aku bahkan tidak melihat da laboratorium disini." Ujar Mortaq curiga.
"Biarkan aku menunjukkan padamu, lepaskan kakiku." Ujar Daniel
"Awas jika kau menipuku, aku akan menembak kepalamu." Ujar Mortaq mengancam lalu melepaskan kaki Daniel dari balutan kain yang diikat kencang itu.
Daniel berdiri dibantu Mortaq dan dia berjalan dahulu dengan Mortaq mengancungkan pistol ke kepala Daniel.
Daniel berjalan menuruni tangga ke bawah, lalu berbelok ke kanan menuju sebuah gang buntu.
"Tekan hidung patung itu." Ujar Daniel
Mortaq menekan hidung boneka kayu yang tergantung di dinding.
"Clak"
"Kriiiit"
"Tlangg"
Bunyi mesin dibalik pintu membuat dinding yang tadinya menghalang tiba-tiba tertarik ke atas. Terlihat sebuah ruangan gelap gulita.
"Tekan mata sebelah kirinya." Perintah Daniel
Mortaq menekan mata sebelah kiri boneka itu dan lampu dalam ruangan itu menyala.
Daniel melangkah masuk diikuti oleh Mortaq dengan tetap waspada. Di dalam ruangan itu semua peralatan laboratorium ada, begitu lengkap seakan-akan Mortaq memasuki suatu laboratorium resmi milik pemerintah.
"Jadi disini kau meneliti?" Ujar Mortaq
"Ya, sampai saat ini aku masih terhalang sedikit jalan buntu. Untuk itu aku memerlukan zombie lain. Bahkan sebisa mungkin mengharapkan mendapatkan zombie pertama." Ujar Daniel
"Apa maksudmu zombie pertama?" Tanya Mortaq heran.
"Zombie yang berubah karena suntikan virus di badannya. Itu lebih baik diteliti daripada yang berubah karena digigit." Jelas Daniel
"Darimana kita bisa mengetahui? Jika tidak ada bekas gigitan kah?" Tanya Mortaq
"Tepat sekali, tubuh mereka akan seperti biasa, tapi mereka menjadi zombie." Ujar Daniel.
"Dimana mau dicari zombie seperti itu? sebanyak itu manusia yang telah berubah seperti zombie." Keluh Mortaq.
"Aku rasa hal ini pasti dimulai dari orang-orang yang membutuhkan uang atau yang memilih mati mengatasi masalah hidupnya." Ujar Daniel berpikir.
"Begitu banyak manusia yang menghadapi masalah uang." Jawab Mortaq ikutan berpikir
Tiba-tiba Win Xie dan Meghan masuk ke ruangan itu.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Win Xie heran sambil melihat ke-sekeliling ruangan.
"Kenapa kamu ikuti pria ini kesini?" Tanya Meghan pada Mortaq.
"Dia menjelaskan sesuatu yang penting." Ujar Mortaq.